
Burung perkutut dalam foto ini tampak sederhana. Warna bulunya tidak mencolok, tetapi coraknya tersusun begitu indah dan rapi. Ia bertengger tenang di atas ranting, tidak terburu-buru, tidak gelisah, dan tidak berusaha menarik perhatian. Justru dalam ketenangan itulah tersimpan pelajaran hidup yang sangat berharga.
Hidup tidak selalu harus dipenuhi gemerlap agar berarti. Seperti perkutut, nilai seseorang bukan ditentukan oleh penampilan luar, melainkan oleh ketenangan hati, kesetiaan menjalani proses, dan karakter yang baik. Orang yang rendah hati sering kali menjadi tempat yang nyaman bagi orang lain.
Perkutut juga mengajarkan tentang kesabaran. Ia tidak memaksa waktu, melainkan menunggu saat yang tepat untuk terbang, mencari makan, dan berkicau. Demikian pula dalam kehidupan, setiap orang memiliki musimnya sendiri. Jangan iri dengan keberhasilan orang lain. Percayalah bahwa Tuhan sedang mempersiapkan waktu yang terbaik bagi setiap orang yang tetap setia dan tekun.
Corak garis-garis pada bulunya mengingatkan bahwa kehidupan memiliki banyak pengalaman: ada suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan. Semua itu bukan untuk melemahkan, tetapi untuk membentuk pribadi yang semakin dewasa dan bijaksana.
Firman Tuhan berkata:
“Lebih baik panjang sabar dari pada tinggi hati.” Amsal 16:32a
Kiranya hari ini kita belajar menjadi pribadi yang tenang, rendah hati, sabar menanti waktu Tuhan, dan tetap setia menjalani setiap proses kehidupan. Sebab, seperti burung perkutut yang memancarkan keindahan melalui kesederhanaannya, demikian pula hidup yang dipenuhi kasih, kerendahan hati, dan kesabaran akan menjadi berkat bagi banyak orang.
By : Dr. Samarel Telaumbanua, S.PAK, M.Pd