HARI INI MUNGKIN BERAT, TETAPI TUHAN BELUM SELESAI BERKARYA

(By : Dr. Samarel Telaumbanua, S.PAK, M.Pd)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kasih, karena hanya oleh anugerah, penyertaan, dan kekuatan-Nya tulisan yang berjudul “Hari Ini Mungkin Berat, tetapi Tuhan Belum Selesai Berkarya” ini dapat diselesaikan.

Tulisan ini lahir dari perenungan tentang kenyataan hidup yang tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ada saat ketika manusia merasa kuat dan penuh semangat, tetapi ada pula masa ketika hati menjadi lelah, doa terasa belum terjawab, jalan di depan tampak tidak jelas, dan keadaan seolah tidak segera berubah. Dalam situasi seperti itu, tidak sedikit orang mulai bertanya apakah Tuhan masih bekerja dan apakah masih ada alasan untuk berharap.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca untuk melihat bahwa kehidupan orang percaya tidak selalu bebas dari kesulitan. Iman bukan berarti kita harus selalu tampak kuat atau berpura-pura baik-baik saja. Kita dapat merasa sedih, kecewa, takut, lelah, bahkan mengalami kegagalan. Namun semua itu tidak berarti Tuhan telah meninggalkan kita.

Firman Tuhan dalam Filipi 1:6 menjadi salah satu dasar utama tulisan ini, yaitu keyakinan bahwa Dia yang telah memulai pekerjaan yang baik akan meneruskannya sampai selesai. Kebenaran ini memberikan pengharapan bahwa keadaan hari ini bukanlah kesimpulan akhir dari seluruh perjalanan hidup kita.

Di dalam tulisan ini dibahas berbagai sisi kehidupan iman, mulai dari keberanian mengakui bahwa kita bisa tidak baik-baik saja, keyakinan bahwa kesulitan bukan tanda Tuhan meninggalkan kita, kesetiaan Tuhan ketika hasil belum terlihat, pembentukan karakter melalui masa sulit, ketekunan dalam doa, keberanian untuk terus melangkah, hingga pentingnya tidak membandingkan perjalanan hidup kita dengan orang lain.

Tulisan ini juga mengajak pembaca untuk belajar melihat berkat di tengah kesulitan, menyadari bahwa Tuhan dapat membuka jalan yang tidak kita duga, menerima pertolongan melalui sesama, serta menempatkan pengharapan bukan hanya pada perubahan keadaan, tetapi terutama pada Kristus yang tetap setia.

Kisah-kisah Alkitab seperti Yusuf, Daud, Elia, Ayub, Habakuk, Petrus, serta berbagai bagian firman Tuhan menjadi pengingat bahwa banyak orang beriman pernah melewati perjalanan yang berat. Namun kegagalan, penantian, penjara, padang gurun, air mata, dan ketidakpastian bukanlah akhir dari karya Tuhan dalam kehidupan mereka.

Karena itu, pesan utama tulisan ini sederhana tetapi penting:

Jangan terlalu cepat menyerah hanya karena hari ini terasa berat.

Hari ini mungkin kita belum melihat jawaban.

Hari ini mungkin jalan masih tertutup.

Hari ini mungkin kita masih menangis.

Hari ini mungkin kita hanya mampu melangkah perlahan.

Namun selama Tuhan masih menyertai, selalu ada alasan untuk tetap berdoa, tetap percaya, tetap bersyukur, tetap berbuat baik, tetap melangkah, dan tetap berharap.

Saya menyadari bahwa tulisan ini masih memiliki berbagai keterbatasan. Karena itu, segala masukan, saran, dan pemikiran yang membangun sangatlah berharga untuk penyempurnaannya.

Harapan saya, tulisan ini tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi dapat menjadi teman perjalanan bagi siapa pun yang sedang mengalami hari-hari yang tidak mudah. Semoga setiap pembaca memperoleh kekuatan untuk melihat bahwa penderitaan bukan satu-satunya kenyataan, kegagalan bukan identitas terakhir, dan penantian bukan selalu waktu yang sia-sia.

Jika melalui tulisan ini ada satu hati yang kembali dikuatkan, satu orang yang memutuskan untuk tidak menyerah, satu jiwa yang kembali berdoa, atau satu pembaca yang kembali menemukan pengharapan kepada Tuhan, maka tulisan ini telah mencapai salah satu tujuannya.

Akhirnya, segala kemuliaan saya kembalikan kepada Tuhan, sumber kekuatan, pengharapan, dan kehidupan.

Hari ini mungkin berat, tetapi Tuhan belum selesai berkarya.

Banda Aceh,  26 Agustus 2026

Dr. Samarel Telaumbanua, S.PAK, M.Pd

PERNYATAAN HAK CIPTA DAN LARANGAN PENGUTIPAN TANPA IZIN

Judul:
Hari Ini Mungkin Berat, tetapi Tuhan Belum Selesai Berkarya

Penulis:
Dr. Samarel Telaumbanua, S.PAK, M.Pd

Hak Cipta Dilindungi.

Seluruh isi tulisan ini merupakan karya penulis dan dilindungi oleh ketentuan hak cipta yang berlaku.

Dilarang mengutip, menyalin, memperbanyak, mempublikasikan kembali, menyebarluaskan, mengubah, atau menggunakan sebagian maupun seluruh isi tulisan ini tanpa izin tertulis dari penulis.

Penggunaan materi untuk kepentingan akademik, pendidikan, pelayanan, publikasi, media sosial, website, buku, artikel, makalah, khotbah, maupun bentuk publikasi lainnya wajib memperoleh izin terlebih dahulu dari penulis dan tetap mencantumkan sumber secara jelas.

Pengutipan tanpa izin, penghilangan nama penulis, pengakuan karya sebagai milik sendiri, atau penggunaan isi tulisan tanpa mencantumkan sumber yang semestinya merupakan tindakan yang tidak dibenarkan secara etis dan dapat melanggar ketentuan hak cipta yang berlaku.

Hak moral atas karya ini tetap melekat pada:

Dr. Samarel Telaumbanua, S.PAK, M.Pd

Ketentuan Penggunaan

  1. Tidak diperkenankan memperbanyak sebagian maupun seluruh isi tulisan tanpa izin penulis.
  2. Tidak diperkenankan mengunggah kembali tulisan ini pada website, blog, media sosial, atau media lainnya tanpa izin.
  3. Tidak diperkenankan menggunakan tulisan ini atas nama pribadi atau pihak lain.
  4. Tidak diperkenankan mengubah isi tulisan kemudian menerbitkannya kembali tanpa persetujuan penulis.
  5. Setiap penggunaan atau pengutipan yang telah memperoleh izin wajib mencantumkan nama penulis dan sumber tulisan dengan benar.
  6. Kutipan ayat Alkitab yang terdapat dalam tulisan tetap mengikuti hak dan ketentuan penerbit atau lembaga pemegang hak atas terjemahan Alkitab yang digunakan.

© 2026 Dr. Samarel Telaumbanua, S.PAK, M.Pd  All Rights Reserved / Hak Cipta Dilindungi

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian maupun seluruh isi tulisan ini tanpa izin tertulis dari penulis.

HARI INI MUNGKIN BERAT, TETAPI TUHAN BELUM SELESAI BERKARYA

(By : Dr. Samarel Telaumbanua, S.PAK, M.Pd)

1. Pendahuluan: Ada Hari-Hari yang Tidak Mudah

Hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan. Ada hari ketika semuanya terasa ringan, pekerjaan berjalan baik, keluarga dalam keadaan damai, tubuh sehat, dan hati penuh sukacita. Namun ada juga hari-hari ketika kenyataan justru berlawanan dengan harapan. Kita sudah berusaha, tetapi hasilnya belum terlihat. Kita sudah berdoa, tetapi jawaban seakan belum datang. Kita ingin kuat, tetapi hati justru semakin lelah. Pada saat seperti itulah manusia sering mulai bertanya: “Tuhan, mengapa keadaan ini belum berubah?”

Tidak setiap pagi kita bangun dengan perasaan yang sama. Ada pagi ketika kita begitu bersemangat menyambut hari, tetapi ada juga pagi ketika membuka mata saja terasa berat. Pikiran sudah dipenuhi berbagai persoalan: kebutuhan keluarga, pekerjaan, ekonomi, kesehatan, hubungan dengan orang lain, masa depan anak-anak, pelayanan, atau berbagai tanggung jawab yang belum selesai. Tubuh mungkin tetap bergerak melakukan aktivitas, tetapi jauh di dalam hati ada beban yang tidak mudah diceritakan kepada orang lain.

Tidak Setiap Hari Berjalan Sesuai Harapan

Manusia mempunyai banyak rencana. Kita merencanakan pekerjaan, pendidikan, keluarga, pelayanan, keuangan, dan masa depan. Kita berharap sesuatu berjalan sesuai dengan apa yang telah kita persiapkan. Namun kehidupan sering membawa kita kepada situasi yang tidak pernah kita rencanakan.

Ada orang yang sudah bekerja keras tetapi belum memperoleh hasil sebagaimana yang diharapkan. Ada yang sudah menjaga hubungan dengan baik tetapi tetap mengalami kekecewaan. Ada yang telah menunggu bertahun-tahun untuk suatu jawaban, tetapi pintu yang diharapkan belum terbuka. Ada yang sudah memberikan yang terbaik dalam pelayanan, tetapi justru menerima kritik atau kesalahpahaman.

Dalam keadaan seperti ini, kita perlu mengingat firman Tuhan:

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.”
(Amsal 16:9)

Ayat ini tidak mengatakan bahwa manusia tidak boleh membuat rencana. Kita tetap harus merencanakan, bekerja, belajar, dan berusaha. Namun kita harus menyadari bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Ada banyak hal yang tidak dapat kita atur. Kita tidak dapat mengendalikan pikiran orang lain. Kita tidak dapat menentukan semua kejadian yang akan terjadi besok. Kita tidak dapat memastikan bahwa setiap usaha langsung berhasil. Tetapi di tengah segala keterbatasan itu, orang percaya memiliki satu keyakinan penting: Tuhan tetap memegang kendali.

Ketika rencana kita berubah, bukan berarti rencana Tuhan gagal.

Ada Masa Ketika Hati Menjadi Lelah

Kelelahan manusia tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang mungkin masih tersenyum, bekerja, melayani, berbicara dengan orang lain, bahkan menguatkan orang lain, tetapi di dalam hatinya ia sedang berjuang.

Ada kelelahan fisik karena banyak pekerjaan. Ada kelelahan pikiran karena terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Ada pula kelelahan rohani ketika seseorang merasa sudah lama berdoa tetapi belum melihat perubahan.

Alkitab tidak pernah menggambarkan bahwa orang beriman selalu berada dalam keadaan kuat. Bahkan tokoh-tokoh besar dalam Alkitab pernah mengalami kelelahan dan pergumulan yang sangat dalam.

Daud pernah berkata:

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” (Mazmur 13:2)

Ucapan Daud sangat manusiawi. Ia tidak menyembunyikan perasaannya di hadapan Tuhan. Ia berani mengakui bahwa dirinya sedang mengalami kesesakan.

Hal ini mengajarkan bahwa iman bukan berarti kita harus selalu berkata, “Saya baik-baik saja,” ketika sebenarnya hati sedang terluka.

Di hadapan Tuhan kita boleh berkata:

“Tuhan, aku sedang lelah.”

“Tuhan, aku sedang kecewa.”

“Tuhan, aku belum mengerti.”

“Tuhan, aku takut menghadapi hari esok.”

“Tuhan, aku membutuhkan pertolongan-Mu.”

Kejujuran seperti ini bukanlah tanda kurang iman. Justru ketika kita membawa seluruh pergumulan kepada Tuhan, kita sedang menunjukkan bahwa kita masih percaya kepada-Nya.

Ketika Doa Terasa Belum Terjawab

Salah satu pergumulan terbesar dalam kehidupan iman adalah menunggu jawaban doa.

Ada doa yang dijawab dengan cepat. Namun ada pula doa yang membutuhkan waktu panjang. Bahkan terkadang jawaban Tuhan berbeda dari yang kita harapkan.

Kita mungkin sudah berdoa berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Kita sudah meminta Tuhan membuka jalan, memulihkan keadaan, menyelesaikan persoalan, atau memberikan sesuatu yang sangat kita butuhkan.

Tetapi keadaan belum berubah.

Pada titik inilah manusia mudah berpikir:

“Apakah Tuhan mendengar doa saya?”

“Apakah Tuhan masih peduli?”

“Apakah saya melakukan sesuatu yang salah?”

Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi. Namun kita harus berhati-hati agar ketiadaan jawaban yang terlihat tidak kita artikan sebagai ketidakhadiran Tuhan.

Yesaya 55:8–9 mengingatkan:

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.”

Kadang Tuhan menjawab “ya.”

Kadang Tuhan menjawab “tidak.”

Kadang Tuhan berkata “belum.”

Dan dalam masa “belum” itulah iman kita sering dibentuk.

Menunggu bukan berarti Tuhan tidak bekerja. Bisa jadi Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang belum dapat kita lihat.

Kehidupan Orang Percaya Tidak Bebas dari Pergumulan

Ada pemahaman yang perlu diluruskan: menjadi orang percaya bukan berarti kehidupan akan selalu mudah.

Yesus sendiri berkata:

“Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33)

Yesus tidak menjanjikan kehidupan tanpa kesulitan. Tetapi Dia menjanjikan penyertaan dan kemenangan di tengah kesulitan.

Alkitab penuh dengan kisah orang-orang yang tetap mengalami pergumulan walaupun mereka hidup dekat dengan Tuhan.

Abraham harus menunggu lama untuk menerima anak yang dijanjikan.

Yusuf harus melewati sumur, perbudakan, fitnah, dan penjara sebelum menjadi pemimpin di Mesir.

Musa harus menghadapi Firaun dan memimpin bangsa yang sering bersungut-sungut.

Daud pernah dikejar-kejar oleh Saul walaupun ia sudah diurapi menjadi raja.

Ayub kehilangan harta, anak-anak, dan kesehatannya.

Paulus mengalami penjara, pukulan, penolakan, dan berbagai kesulitan dalam pelayanannya.

Jika orang-orang yang dipakai Tuhan pun mengalami kesulitan, maka pergumulan bukanlah bukti bahwa Tuhan meninggalkan kita.

Kadang justru di tengah pergumulanlah karakter, iman, dan ketekunan seseorang dibentuk.

Keadaan yang Berat Bukan Berarti Tuhan Berhenti Bekerja

Salah satu kesalahan manusia adalah menilai pekerjaan Tuhan hanya berdasarkan apa yang terlihat.

Jika keadaan membaik, kita berkata, “Tuhan bekerja.”

Jika pintu terbuka, kita berkata, “Tuhan menolong.”

Jika doa dijawab sesuai harapan, kita berkata, “Tuhan baik.”

Tetapi bagaimana ketika keadaan belum berubah?

Apakah Tuhan berhenti bekerja?

Tidak.

Yesus berkata dalam Yohanes 5:17:

“Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”

Tuhan dapat bekerja bahkan ketika kita tidak melihat apa pun berubah.

Bayangkan sebuah benih yang ditanam di dalam tanah. Beberapa hari pertama, kita tidak melihat apa-apa. Permukaan tanah tetap sama. Seolah-olah tidak terjadi sesuatu.

Tetapi di bawah tanah, proses kehidupan sedang berlangsung.

Akar mulai tumbuh.

Kulit benih mulai terbuka.

Kehidupan baru sedang dipersiapkan.

Kemudian suatu hari tunas kecil muncul ke permukaan.

Demikian juga karya Tuhan dalam kehidupan kita.

Ada masa ketika karya-Nya terlihat jelas. Namun ada masa ketika Dia bekerja dalam keheningan.

Kita mungkin belum melihat pintu terbuka, tetapi Tuhan sedang mempersiapkan jalan.

Kita mungkin belum memahami mengapa sesuatu terjadi, tetapi Tuhan sedang membentuk karakter kita.

Kita mungkin merasa kehilangan sesuatu, tetapi Tuhan dapat sedang mengarahkan kita menuju sesuatu yang berbeda.

Jangan Menganggap Hari yang Berat sebagai Akhir Cerita

Kesalahan lain yang sering kita lakukan adalah menjadikan keadaan hari ini sebagai kesimpulan seluruh kehidupan.

Karena hari ini gagal, kita berkata, “Saya selalu gagal.”

Karena satu pintu tertutup, kita berkata, “Tidak ada jalan lagi.”

Karena satu doa belum terjawab, kita berkata, “Tuhan tidak peduli.”

Padahal hidup terdiri dari banyak musim.

Pengkhotbah 3:1 berkata:

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.”

Ada waktu menangis dan ada waktu tertawa.

Ada waktu kehilangan dan ada waktu memperoleh.

Ada waktu menunggu dan ada waktu menerima.

Karena itu jangan memberikan kesimpulan akhir ketika Tuhan masih menulis perjalanan kita.

Yusuf mungkin pernah berpikir hidupnya berakhir ketika ia dimasukkan ke dalam penjara. Tetapi penjara ternyata bukan akhir ceritanya.

Daud mungkin merasa masa depannya tidak pasti ketika bersembunyi dari Saul. Tetapi padang gurun bukan akhir ceritanya.

Para murid mungkin mengira semuanya telah berakhir ketika Yesus mati di kayu salib. Tetapi tiga hari kemudian kebangkitan mengubah semuanya.

Maka ketika hidup kita sedang berada pada bagian yang sulit, jangan lupa: kita mungkin baru berada di tengah cerita.

Tuhan Dapat Menggunakan Masa Sulit untuk Mengerjakan Sesuatu dalam Diri Kita

Ketika menghadapi kesulitan, biasanya kita berdoa:

“Tuhan, ubahlah keadaan ini.”

Namun Tuhan kadang terlebih dahulu bekerja dalam diri kita.

Dia mengajar kita bersabar.

Dia menghancurkan kesombongan.

Dia melatih kita untuk bergantung kepada-Nya.

Dia mengajarkan kita menghargai hal-hal sederhana.

Dia membentuk hati kita agar lebih peka terhadap penderitaan orang lain.

Roma 5:3–4 berkata bahwa kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

Artinya, masa sulit tidak harus menjadi masa yang sia-sia.

Bahkan pengalaman yang menyakitkan dapat menjadi tempat pertumbuhan.

Orang yang pernah mengalami kesulitan sering kali menjadi orang yang lebih mampu memahami kesulitan orang lain.

Orang yang pernah ditolong Tuhan dari masa berat sering menjadi alat Tuhan untuk menguatkan orang yang sedang mengalami hal yang sama.

Hari Ini Mungkin Berat

Kita tidak perlu menyangkal kenyataan.

Mungkin hari ini memang berat.

Mungkin ada persoalan keluarga yang belum selesai.

Mungkin ada masalah pekerjaan.

Mungkin kondisi ekonomi sedang sulit.

Mungkin kesehatan sedang terganggu.

Mungkin ada hubungan yang sedang retak.

Mungkin ada seseorang yang sedang menunggu kabar penting.

Mungkin ada doa yang sudah lama dinaikkan tetapi belum terjawab.

Iman tidak meminta kita berpura-pura bahwa semua itu tidak ada.

Iman mengajarkan kita berkata:

“Keadaan ini memang berat, tetapi keadaan ini tidak lebih besar daripada Tuhan.”

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

“Tidak ada masalah.”

dan

“Ada masalah, tetapi Tuhan tetap bersama saya.”

Orang percaya tidak hidup dengan menyangkal kenyataan, tetapi dengan melihat kenyataan melalui iman.

Tetapi Tuhan Belum Selesai Berkarya

Inilah pusat pengharapan kita.

Filipi 1:6 berkata:

“Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”

Paulus mengatakan: “Ia yang memulai” dan “Ia akan meneruskannya.”

Artinya, Tuhan bukan hanya Tuhan yang memulai pekerjaan dalam kehidupan kita. Dia adalah Tuhan yang setia menyelesaikannya.

Ada hal-hal yang hari ini belum selesai.

Ada doa yang belum terjawab.

Ada impian yang belum terwujud.

Ada proses yang belum kita mengerti.

Ada luka yang masih membutuhkan pemulihan.

Ada jalan yang belum terbuka.

Tetapi kata yang penting adalah: belum.

Belum bukan berarti tidak akan pernah.

Belum melihat bukan berarti Tuhan tidak bekerja.

Belum memahami bukan berarti Tuhan kehilangan kendali.

Belum menerima jawaban bukan berarti Tuhan tidak mendengar doa.

Karena itu kita dapat berkata:

Hari ini mungkin berat, tetapi Tuhan belum selesai berkarya dalam hidup kita.

Makna Kalimat Kunci

Kalimat ini mengandung tiga pengakuan iman.

Pertama, “Hari ini mungkin berat.”

Kita menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu mudah. Kekristenan tidak mengajarkan kita melarikan diri dari kenyataan.

Kedua, “Tetapi Tuhan…”

Kata tetapi mengubah arah pandangan kita. Kita tidak berhenti pada masalah. Kita mengalihkan pandangan kepada Tuhan.

Masalah memang ada, tetapi Tuhan ada.

Kekuatan kita terbatas, tetapi kuasa Tuhan tidak terbatas.

Jalan mungkin belum terlihat, tetapi Tuhan mengetahui jalan.

Ketiga, “Tuhan belum selesai berkarya.”

Artinya masih ada proses.

Masih ada kesempatan.

Masih ada pertolongan.

Masih ada pemulihan.

Masih ada jalan.

Dan terutama, masih ada Tuhan yang bekerja.

Refleksi untuk Pembaca

Mungkin pagi ini kita tidak berada dalam keadaan terbaik.

Tetapi jangan biarkan keadaan hari ini merampas seluruh pengharapan kita.

Bangunlah.

Berdoalah.

Kerjakan apa yang masih dapat dikerjakan.

Lakukan tanggung jawab kita dengan setia.

Jika langkah besar terasa terlalu berat, ambillah satu langkah kecil.

Jika kita belum mampu melihat jalan jauh ke depan, mintalah Tuhan memberikan kekuatan untuk menjalani hari ini.

Yesus berkata:

“Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.” (Matius 6:34)

Kita tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan hidup dalam satu hari.

Kadang Tuhan hanya meminta kita setia menjalani satu hari demi satu hari.

Jika pagi ini hati kita sedang lelah, jangan buru-buru menyerah.

Jika doa kita belum terjawab, jangan berhenti berdoa.

Jika jalan di depan belum jelas, jangan kehilangan iman.

Jika apa yang kita rencanakan belum berhasil, jangan menganggap semuanya sudah berakhir.

Kita mungkin hanya sedang berada dalam satu bagian dari perjalanan yang panjang.

Hari ini mungkin berat, tetapi Tuhan belum selesai berkarya.

Kita belum melihat seluruh gambar.

Kita belum mengetahui bagaimana Tuhan akan menyusun kembali kepingan-kepingan kehidupan.

Kita belum mengetahui pintu apa yang akan Dia buka.

Tetapi kita mengenal Pribadi yang memegang kehidupan kita.

Karena itu, pagi ini kita dapat memilih untuk berkata:

“Tuhan, aku mungkin belum memahami apa yang sedang terjadi. Aku mungkin sedang lelah dan keadaan belum berubah. Tetapi aku percaya Engkau masih bekerja. Berikan aku kekuatan untuk menjalani hari ini, kesabaran untuk menunggu waktu-Mu, dan iman untuk percaya bahwa Engkau belum selesai berkarya dalam hidupku.”

2. Mengakui Bahwa Kita Bisa Tidak Baik-Baik Saja

Ada satu hal yang sering sulit diakui oleh banyak orang, termasuk orang percaya: kita tidak selalu baik-baik saja. Ada masa ketika hati terasa kuat, tetapi ada juga masa ketika pikiran penuh tekanan, semangat menurun, air mata mudah jatuh, dan kita tidak tahu harus berkata apa. Dalam keadaan seperti itu, kita tidak perlu berpura-pura seakan semuanya berjalan baik.

Iman Kristen tidak mengajarkan manusia untuk menyangkal rasa sakit. Iman juga tidak menuntut kita untuk selalu terlihat kuat di hadapan orang lain. Justru Alkitab menunjukkan bahwa orang-orang yang dekat dengan Tuhan tetap dapat mengalami ketakutan, kesedihan, kelelahan, kecewa, dan pergumulan yang sangat dalam.

Karena itu, mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja bukan berarti kehilangan iman. Kadang pengakuan itu justru menjadi langkah pertama untuk kembali datang kepada Tuhan dengan hati yang jujur.

Iman Bukan Berarti Berpura-pura Kuat

Ada kecenderungan dalam kehidupan manusia untuk menampilkan keadaan yang baik di depan orang lain. Kita mengatakan, “Saya baik-baik saja,” padahal hati sedang terluka. Kita tetap tersenyum, tetap bekerja, tetap melayani, tetapi sebenarnya ada pergumulan yang sedang kita simpan sendirian.

Dalam kehidupan rohani pun hal seperti ini dapat terjadi. Seseorang mungkin merasa bahwa karena ia percaya kepada Tuhan, ia tidak boleh terlihat lemah. Ia mungkin berpikir bahwa menangis adalah tanda kurang iman, mengeluh adalah tanda tidak bersyukur, atau mengakui kelelahan berarti tidak mempercayai Tuhan.

Padahal Alkitab tidak mengajarkan demikian.

Iman bukan kemampuan untuk menyembunyikan kelemahan.

Iman adalah keberanian untuk membawa kelemahan itu kepada Tuhan.

Iman bukan berkata, “Aku tidak mempunyai masalah.”

Iman berkata, “Aku mempunyai masalah, tetapi aku tahu kepada siapa aku harus datang.”

Ada perbedaan besar antara berpura-pura kuat dan tetap percaya di tengah kelemahan. Berpura-pura kuat berarti menyangkal apa yang sedang kita rasakan. Sedangkan iman berarti mengakui kenyataan, tetapi tidak membiarkan kenyataan itu memisahkan kita dari Tuhan.

Paulus bahkan pernah menyampaikan bahwa kuasa Tuhan menjadi sempurna dalam kelemahan. Dalam 2 Korintus 12:9, Tuhan berkata kepadanya bahwa kasih karunia-Nya cukup dan kuasa-Nya menjadi sempurna dalam kelemahan.

Artinya, kelemahan kita bukan selalu sesuatu yang harus disembunyikan. Kadang justru di dalam kelemahan itulah kita mengalami pertolongan Tuhan secara lebih nyata.

Alkitab Tidak Menyembunyikan Pergumulan Tokoh-Tokoh Iman

Keindahan Alkitab salah satunya adalah kejujurannya.

Alkitab tidak hanya menceritakan kemenangan orang-orang beriman. Alkitab juga menceritakan ketakutan mereka, kegagalan mereka, air mata mereka, dan pergumulan mereka.

Abraham pernah takut.

Musa pernah merasa tidak mampu.

Daud pernah menangis.

Elia pernah sangat lelah.

Yeremia pernah mengeluh.

Ayub pernah mempertanyakan penderitaannya.

Petrus pernah gagal.

Paulus pernah mengalami tekanan yang sangat berat.

Semua ini menunjukkan satu kenyataan penting: orang yang percaya kepada Tuhan tetap manusia.

Mereka mempunyai emosi.

Mereka dapat takut.

Mereka dapat kecewa.

Mereka dapat merasa sendiri.

Mereka dapat merasa bahwa beban hidup terlalu berat.

Tetapi perbedaan yang sangat penting adalah mereka tetap mempunyai tempat untuk kembali: Tuhan.

Karena itu, ketika kita sedang tidak baik-baik saja, kita tidak perlu merasa bahwa diri kita lebih buruk daripada orang beriman lainnya. Pergumulan bukan otomatis berarti iman kita gagal. Yang penting adalah bagaimana kita membawa pergumulan tersebut kepada Tuhan.

Daud Menangis dan Mengeluh kepada Tuhan

Daud adalah salah satu tokoh Alkitab yang sangat terbuka tentang perasaannya.

Ia dikenal sebagai seorang raja, seorang pejuang, seorang pemazmur, dan seorang yang berkenan di hati Tuhan. Namun kehidupan Daud jauh dari kehidupan tanpa masalah.

Ia pernah dikejar-kejar oleh Saul.

Ia pernah hidup dalam pelarian.

Ia pernah dikhianati.

Ia pernah kehilangan orang-orang yang dikasihinya.

Ia juga pernah mengalami konsekuensi berat dari kesalahannya sendiri.

Dalam Mazmur, Daud berulang kali mengungkapkan isi hatinya kepada Tuhan.

Dalam Mazmur 13:2 ia bertanya:

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?”

Dalam Mazmur 6:7 ia bahkan berkata bahwa ia lesu karena mengeluh dan membasahi tempat tidurnya dengan air mata.

Ini adalah ungkapan seorang yang sedang sangat terluka.

Tetapi perhatikan sesuatu yang penting: Daud tidak lari dari Tuhan. Ia justru membawa keluhannya kepada Tuhan.

Ia tidak mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Ia berkata kepada Tuhan apa yang benar-benar dirasakannya.

Dari sini kita belajar bahwa doa tidak harus selalu berisi kata-kata yang indah. Ada saatnya doa hanyalah air mata.

Ada saatnya kita tidak mempunyai kalimat panjang.

Kita hanya mampu berkata:

“Tuhan, aku lelah.”

“Tuhan, aku sakit.”

“Tuhan, aku tidak mengerti.”

“Tuhan, tolong aku.”

Dan doa seperti itu tetap didengar oleh Tuhan.

Kejujuran Daud menunjukkan bahwa hubungan yang sehat dengan Tuhan adalah hubungan yang terbuka.

Elia: Seorang Nabi yang Pernah Ingin Menyerah

Kisah Elia juga sangat penting.

Dalam 1 Raja-raja 18, Elia mengalami kemenangan besar di Gunung Karmel. Tuhan menjawab dengan api dari langit. Para nabi Baal dikalahkan. Itu adalah salah satu momen terbesar dalam pelayanan Elia.

Namun hanya satu pasal kemudian, dalam 1 Raja-raja 19, Elia berubah menjadi seorang yang sangat ketakutan.

Ketika Izebel mengancam akan membunuhnya, Elia melarikan diri.

Ia pergi ke padang gurun.

Ia duduk di bawah pohon arar.

Kemudian ia berkata:

“Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku.” (1 Raja-raja 19:4)

Ini menunjukkan betapa dalam kelelahan yang dialami Elia.

Seorang nabi yang baru saja menyaksikan mukjizat besar Tuhan ternyata dapat mengalami kelelahan emosional dan spiritual.

Hal ini mengajarkan bahwa pengalaman rohani yang kuat tidak membuat manusia kebal terhadap kelelahan.

Yang menarik adalah cara Tuhan menanggapi Elia.

Tuhan tidak langsung memarahinya.

Tuhan tidak berkata, “Mengapa imanmu begitu lemah?”

Sebaliknya, Tuhan memperhatikan kebutuhan Elia.

Elia diberi kesempatan untuk tidur.

Ia diberi makanan.

Ia diberi minuman.

Kemudian Tuhan berbicara kepadanya.

Ini mengandung pelajaran yang sangat indah: terkadang seseorang yang sedang lelah tidak pertama-tama membutuhkan ceramah panjang. Ia membutuhkan istirahat, perhatian, makanan, pendampingan, dan kehadiran.

Tuhan memahami bahwa manusia mempunyai keterbatasan.

Kisah Elia mengajarkan kepada kita untuk tidak terlalu keras terhadap diri sendiri ketika sedang lelah.

Kadang kita membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Kadang kita perlu berbicara dengan orang yang dapat dipercaya.

Kadang kita perlu mengambil jarak sejenak dari tekanan yang terus menerus.

Dan semua itu tidak membuat kita kurang beriman.

Ayub dan Penderitaan yang Sulit Dipahami

Ayub adalah contoh orang yang mengalami penderitaan luar biasa.

Dalam waktu yang sangat singkat, ia kehilangan harta kekayaannya.

Ia kehilangan anak-anaknya.

Ia kehilangan kesehatan.

Tubuhnya dipenuhi penyakit.

Bahkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya juga tidak selalu menolong.

Istrinya mengatakan agar ia mengutuki Allah.

Teman-temannya berusaha menjelaskan penderitaannya, tetapi banyak perkataan mereka justru menambah luka.

Ayub mengalami penderitaan fisik, emosional, sosial, dan rohani sekaligus.

Dalam pergumulannya, Ayub tidak selalu berbicara dengan tenang.

Ia mengeluh.

Ia bertanya.

Ia mempertanyakan mengapa dirinya harus mengalami semua itu.

Namun yang penting, Ayub tetap membawa pertanyaannya kepada Tuhan.

Kitab Ayub mengajarkan bahwa orang yang sedang menderita tidak selalu membutuhkan jawaban sederhana.

Kadang kita terlalu cepat berkata kepada orang yang sedang menderita:

“Harus bersyukur.”

“Harus kuat.”

“Jangan menangis.”

“Pasti ada maksud Tuhan.”

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin benar dalam konteks tertentu, tetapi jika disampaikan tanpa empati, justru dapat melukai.

Ada saatnya seseorang membutuhkan kita hanya untuk duduk bersamanya.

Mendengarkan.

Tidak menghakimi.

Tidak memberi jawaban terlalu cepat.

Karena tidak semua penderitaan dapat segera dijelaskan.

Tuhan Tidak Menolak Hati yang Hancur

Mazmur 34:19 mengatakan:

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

Ayat ini sangat penting untuk bagian ini.

Perhatikan bahwa ayat tersebut tidak mengatakan Tuhan hanya dekat kepada orang yang kuat.

Tidak dikatakan Tuhan hanya dekat kepada orang yang selalu tersenyum.

Tidak pula dikatakan Tuhan hanya dekat kepada orang yang hidupnya sedang berhasil.

Justru dikatakan:

Tuhan dekat kepada orang yang patah hati.

Ini berarti ketika hati kita sedang hancur, Tuhan tidak menjauh.

Ketika kita menangis, Tuhan tidak meninggalkan kita.

Ketika kita merasa tidak mampu lagi, Tuhan tidak memandang kita sebagai orang yang tidak berguna.

Ketika kita datang kepada-Nya dengan hati yang jujur, Dia menerima kita.

Mazmur 51:19 juga mengatakan bahwa hati yang patah dan remuk tidak akan dipandang hina oleh Allah.

Ada keindahan yang sangat besar di dalam kebenaran ini.

Kita boleh datang kepada Tuhan apa adanya.

Tidak perlu memakai topeng.

Tidak perlu menyembunyikan air mata.

Tidak perlu menyusun kata-kata sempurna.

Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang sebenarnya.

Mengakui Kelemahan Bukan Sama dengan Menyerah

Ada perbedaan antara mengakui bahwa kita sedang lelah dan memutuskan untuk menyerah.

Kita dapat berkata:

“Aku sedang lelah.”

Tetapi kemudian berkata:

“Namun aku tetap ingin berjalan bersama Tuhan.”

Kita dapat berkata:

“Aku sedang kecewa.”

Tetapi kemudian berkata:

“Namun aku tidak akan meninggalkan Tuhan.”

Kita dapat berkata:

“Aku sedang takut.”

Tetapi kemudian berdoa:

“Tuhan, berikan aku keberanian.”

Inilah iman yang nyata.

Iman bukan berarti kita tidak pernah takut.

Iman berarti kita memilih tetap mempercayai Tuhan di tengah ketakutan.

Keberanian pun bukan berarti tidak pernah merasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun rasa takut itu ada.

Tidak Semua Luka Harus Disimpan Sendiri

Ketika sedang tidak baik-baik saja, kita juga perlu memahami bahwa Tuhan dapat memakai orang lain untuk menolong kita.

Galatia 6:2 berkata:

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!”

Ada beban yang dapat kita tanggung sendiri.

Tetapi ada pula beban yang terlalu berat jika dipikul sendirian.

Karena itu kita membutuhkan komunitas.

Keluarga.

Sahabat.

Pelayan Tuhan.

Pendeta.

Rekan seiman.

Atau orang lain yang matang dan dapat dipercaya.

Tidak ada salahnya mengatakan:

“Saya sedang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.”

Kadang Tuhan menjawab doa kita bukan dengan menghilangkan persoalan seketika, tetapi dengan mengirim seseorang untuk berjalan bersama kita.

Karena itu, gereja juga seharusnya menjadi tempat di mana orang tidak takut mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Gereja bukan tempat orang sempurna.

Gereja adalah persekutuan orang-orang yang sama-sama membutuhkan kasih karunia Tuhan.

Jangan Cepat Menghakimi Orang yang Sedang Lemah

Bagian ini juga mengajak kita untuk mengubah cara melihat orang lain.

Kita tidak selalu mengetahui apa yang sedang diperjuangkan seseorang.

Orang yang terlihat pendiam mungkin sedang mengalami tekanan.

Orang yang mudah marah mungkin sedang membawa luka.

Orang yang tidak hadir dalam kegiatan mungkin sedang mengalami persoalan keluarga.

Orang yang terlihat kehilangan semangat mungkin sedang menghadapi beban yang tidak pernah diceritakannya.

Karena itu kita perlu lebih banyak berbelas kasih dan lebih sedikit menghakimi.

Yakobus 1:19 mengingatkan agar kita cepat mendengar, lambat berkata-kata, dan lambat marah.

Kadang pelayanan terbaik kepada seseorang bukanlah memberi banyak nasihat, tetapi menyediakan telinga untuk mendengar.

Yesus Sendiri Pernah Mengalami Kesedihan

Kita juga perlu melihat kepada Yesus.

Yesus adalah Anak Allah, tetapi dalam kemanusiaan-Nya Ia sungguh mengalami kesedihan.

Ketika Lazarus meninggal, Yohanes 11:35 mencatat dengan sangat singkat:

“Maka menangislah Yesus.”

Yesus tidak malu menangis.

Di taman Getsemani, Yesus juga berkata:

“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.” (Matius 26:38)

Jika Yesus sendiri mengungkapkan kesedihan-Nya, maka kita tidak perlu merasa bahwa air mata adalah tanda kelemahan iman.

Air mata adalah bagian dari kehidupan manusia.

Yang penting adalah ke mana kita membawa kesedihan itu.

Yesus membawa kesedihan-Nya kepada Bapa.

Demikian pula kita.

Belajar Jujur di Hadapan Tuhan

Kadang hubungan kita dengan Tuhan menjadi sangat formal.

Kita merasa harus memakai kata-kata tertentu ketika berdoa.

Padahal Tuhan sudah mengetahui isi hati kita sebelum kita mengucapkannya.

Karena itu kita dapat belajar berdoa dengan jujur:

“Tuhan, pagi ini aku tidak baik-baik saja.”

“Aku sedang kecewa.”

“Aku sedang takut.”

“Aku merasa sendirian.”

“Aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah ini.”

“Tetapi aku datang kepada-Mu.”

Doa seperti ini sangat berharga.

Karena Tuhan tidak mencari kalimat yang sempurna.

Tuhan melihat hati.

Tidak Baik-Baik Saja Bukan Berarti Tidak Ada Harapan

Inilah keseimbangan penting dalam iman Kristen.

Kita mengakui luka, tetapi tidak berhenti pada luka.

Kita mengakui kelemahan, tetapi tidak berhenti pada kelemahan.

Kita mengakui kesedihan, tetapi tidak menganggap kesedihan itu sebagai akhir.

Mazmur 42:6 menunjukkan bagaimana pemazmur berbicara kepada dirinya sendiri:

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah!”

Ia tidak menyangkal bahwa jiwanya tertekan.

Tetapi ia juga mengingatkan dirinya untuk berharap kepada Tuhan.

Inilah iman yang sehat.

Jujur terhadap keadaan, tetapi tetap berpegang kepada pengharapan.

Refleksi untuk Diri Sendiri

Bagian ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya sedang benar-benar baik-baik saja?

Atau selama ini saya hanya berusaha terlihat kuat?

Apakah ada beban yang terus saya simpan sendiri?

Apakah saya masih membawa pergumulan saya kepada Tuhan?

Apakah saya berani meminta pertolongan ketika saya membutuhkan?

Dan ketika melihat orang lain sedang lemah, apakah saya menjadi orang yang menguatkan atau justru menghakimi?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena kehidupan iman bukan hanya berbicara tentang bagaimana terlihat kuat, tetapi bagaimana kita belajar hidup jujur di hadapan Tuhan.

Jika hari ini kita sedang tidak baik-baik saja, jangan merasa bahwa Tuhan menjauh.

Mazmur 34:19 justru memberikan penghiburan:

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

Saat hati kita patah, Dia dekat.

Saat kita menangis, Dia dekat.

Saat kita merasa lemah, Dia dekat.

Saat kita tidak tahu harus berbuat apa, Dia tetap dekat.

Mungkin masalah belum selesai.

Mungkin keadaan belum berubah.

Mungkin air mata masih ada.

Tetapi kehadiran Tuhan tidak ditentukan oleh keadaan kita.

Karena itu kita dapat berkata:

“Hari ini aku mungkin tidak baik-baik saja, tetapi aku tidak sendirian. Tuhan dekat kepadaku. Aku boleh menangis, aku boleh mengakui kelemahanku, dan aku boleh datang kepada-Nya apa adanya. Aku percaya Tuhan masih bekerja, bahkan di tengah hati yang sedang hancur.”

Mengakui bahwa kita tidak baik-baik saja bukan akhir dari iman. Bisa jadi justru dari situlah perjalanan pemulihan dimulai.

3. Kesulitan Bukan Tanda Tuhan Meninggalkan Kita

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul ketika seseorang berada dalam penderitaan adalah: “Di mana Tuhan?” Pertanyaan ini biasanya muncul bukan karena seseorang tidak percaya kepada Tuhan, melainkan karena ia sedang berada dalam keadaan yang begitu berat sehingga sulit melihat karya Tuhan di balik semuanya.

Ketika doa belum terjawab, ketika masalah datang bertubi-tubi, ketika orang yang kita percaya justru mengecewakan, atau ketika jalan hidup berubah jauh dari harapan, kita dapat merasa seolah-olah Tuhan jauh. Namun Alkitab berulang kali menunjukkan bahwa kesulitan bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan umat-Nya.

Justru dalam banyak kisah Alkitab, Tuhan bekerja dengan sangat dalam pada masa ketika keadaan terlihat paling gelap.

Ketika Penderitaan Membuat Kita Bertanya, “Di Mana Tuhan?”

Pertanyaan “Di mana Tuhan?” adalah pertanyaan yang sangat manusiawi.

Kita mudah merasakan kehadiran Tuhan ketika semuanya berjalan baik. Ketika kesehatan baik, pekerjaan lancar, keluarga damai, kebutuhan tercukupi, dan doa dijawab, kita dengan mudah berkata, “Tuhan baik.”

Tetapi bagaimana ketika keadaan berbalik?

Ketika kita sudah berdoa tetapi persoalan belum selesai.

Ketika kita sudah berusaha melakukan yang benar tetapi tetap diperlakukan tidak adil.

Ketika kita sudah setia tetapi justru mengalami kerugian.

Ketika kita sudah berharap tetapi kenyataan tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Pada saat seperti itu, iman kita diuji.

Pemazmur sendiri pernah bertanya kepada Tuhan:

“Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?” (Mazmur 10:1)

Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa bahkan orang beriman dapat mengalami masa ketika Tuhan terasa jauh.

Tetapi ada perbedaan antara Tuhan terasa jauh dan Tuhan benar-benar meninggalkan kita.

Perasaan manusia dapat berubah-ubah. Hari ini kita merasa dekat dengan Tuhan, besok kita mungkin merasa sebaliknya. Namun kesetiaan Tuhan tidak bergantung pada perasaan kita.

Kehadiran Tuhan Tidak Selalu Berarti Masalah Langsung Hilang

Ada pemahaman yang kadang keliru dalam kehidupan iman: kalau Tuhan menyertai kita, maka semua masalah harus segera selesai.

Padahal Alkitab menunjukkan hal yang berbeda.

Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, Tuhan menyertai mereka dengan tiang awan dan tiang api. Namun mereka tetap harus melewati padang gurun.

Daniel adalah orang yang setia kepada Tuhan, tetapi ia tetap dimasukkan ke gua singa.

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego percaya kepada Tuhan, tetapi mereka tetap dilemparkan ke dapur api.

Paulus adalah seorang rasul yang sangat setia, tetapi ia tetap mengalami penjara, penganiayaan, kapal karam, dan berbagai kesulitan.

Ini menunjukkan bahwa penyertaan Tuhan tidak selalu berarti kita dibebaskan dari setiap masalah.

Kadang Tuhan menyertai kita di dalam masalah.

Yesaya 43:2 memberikan gambaran yang sangat kuat:

“Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan.”

Perhatikan bahwa Tuhan tidak berkata kita tidak akan pernah melalui air atau api.

Dia berkata, “Aku akan menyertai engkau.”

Inilah salah satu inti iman Kristen: bukan janji bahwa hidup selalu mudah, tetapi janji bahwa kita tidak berjalan sendirian.

Kadang Tuhan Tidak Mengangkat Beban, tetapi Memberi Kekuatan untuk Memikulnya

Kita sering berdoa:

“Tuhan, hilangkan masalah ini.”

“Tuhan, keluarkan aku dari keadaan ini.”

“Tuhan, ubah semuanya sekarang.”

Tidak salah berdoa demikian.

Tetapi jawaban Tuhan kadang berbeda.

Alih-alih langsung menghilangkan masalah, Tuhan memberi kekuatan kepada kita untuk melewatinya.

Paulus pernah mengalami sesuatu yang ia sebut sebagai “duri dalam daging.” Ia tiga kali memohon supaya Tuhan mengambilnya.

Namun jawaban Tuhan adalah:

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9)

Tuhan tidak langsung menghilangkan “duri” itu.

Tetapi Tuhan memberikan kasih karunia yang cukup.

Ini adalah pelajaran besar bagi kita.

Kadang mujizat Tuhan adalah masalah yang langsung selesai.

Namun kadang mujizat Tuhan adalah kekuatan yang membuat kita tetap berdiri di tengah masalah yang belum selesai.

Kadang kita berharap Tuhan mengubah keadaan, tetapi Tuhan terlebih dahulu mengubah hati kita.

Dia memberi kesabaran.

Dia memberi ketekunan.

Dia memberi keberanian.

Dia memberi hikmat.

Dia memberi damai sejahtera yang tidak dapat dijelaskan oleh keadaan.

Dan semua itu juga merupakan bentuk pertolongan Tuhan.

Yusuf: Jalan Panjang dari Sumur Menuju Istana

Kehidupan Yusuf adalah salah satu contoh terbaik untuk memahami bahwa kesulitan bukan tanda Tuhan meninggalkan seseorang.

Yusuf adalah anak Yakub yang sangat dikasihi. Ia pernah menerima mimpi yang menunjukkan bahwa suatu hari ia akan berada dalam posisi yang tinggi.

Namun setelah menerima mimpi itu, hidup Yusuf tidak langsung menjadi mudah.

Justru ia mengalami perjalanan yang sangat berat.

Yusuf Dikhianati oleh Saudara-saudaranya

Saudara-saudara Yusuf iri kepadanya.

Mereka membenci Yusuf karena ayah mereka sangat mengasihinya dan karena mimpi-mimpi yang diceritakannya.

Akhirnya mereka berencana membunuh Yusuf.

Yusuf dimasukkan ke dalam sumur.

Kemudian ia dijual sebagai budak.

Bayangkan perasaan Yusuf.

Ia masih muda.

Ia jauh dari keluarganya.

Ia dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri.

Ia kehilangan rumah.

Ia kehilangan kebebasan.

Jika Yusuf bertanya, “Di mana Tuhan?”, pertanyaan itu sangat dapat dimengerti.

Namun Kejadian 39:2 mengatakan sesuatu yang sangat penting:

“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf.”

Perhatikan keadaan Yusuf saat itu.

Ia adalah seorang budak.

Namun Alkitab berkata Tuhan menyertainya.

Ini berarti penyertaan Tuhan tidak selalu dapat diukur dari keadaan luar.

Seseorang dapat berada dalam situasi yang sulit, tetapi Tuhan tetap menyertainya.

Yusuf Difitnah Padahal Ia Berusaha Hidup Benar

Di rumah Potifar, Yusuf bekerja dengan setia.

Karena Tuhan menyertainya, pekerjaannya berhasil dan Potifar mempercayakan banyak hal kepadanya.

Kemudian istri Potifar mencoba menggoda Yusuf.

Yusuf menolak karena ia ingin tetap setia kepada Tuhan.

Namun ironisnya, justru karena ia melakukan yang benar, ia difitnah.

Ia dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya.

Akhirnya Yusuf dimasukkan ke dalam penjara.

Ini adalah kenyataan pahit yang juga dapat terjadi dalam kehidupan.

Kadang kita berpikir:

“Kalau saya melakukan yang benar, seharusnya semuanya berjalan baik.”

Tetapi kenyataan tidak selalu demikian.

Ada orang yang melakukan yang benar tetapi tetap disalahpahami.

Ada yang jujur tetapi tetap dirugikan.

Ada yang setia tetapi tetap dikhianati.

Yusuf mengalami hal tersebut.

Namun sekali lagi Alkitab berkata:

“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya.”
(Kejadian 39:21)

Ini sangat penting.

Di rumah Potifar: Tuhan menyertai Yusuf.

Di penjara: Tuhan juga menyertai Yusuf.

Tempatnya berubah, tetapi penyertaan Tuhan tidak berubah.

Penjara Bukan Akhir Cerita Yusuf

Yusuf kemudian bertemu dengan juru minuman dan juru roti Firaun di penjara.

Ia menafsirkan mimpi mereka.

Yusuf meminta juru minuman untuk mengingat dirinya ketika dibebaskan.

Namun juru minuman itu melupakan Yusuf.

Yusuf kembali harus menunggu.

Bayangkan betapa mudahnya Yusuf menjadi kecewa.

Ia sudah dikhianati saudara-saudaranya.

Difitnah.

Dipenjara.

Kemudian dilupakan.

Tetapi sekali lagi, Tuhan belum selesai berkarya.

Pada waktunya Firaun mengalami mimpi yang tidak dapat dijelaskan oleh orang-orang bijaknya.

Barulah juru minuman mengingat Yusuf.

Yusuf dipanggil dari penjara.

Dalam waktu yang sangat singkat, hidupnya berubah.

Dari seorang tahanan, Yusuf menjadi orang kedua yang berkuasa di Mesir setelah Firaun.

Apa yang selama bertahun-tahun terlihat seperti perjalanan yang kacau ternyata sedang dipakai Tuhan untuk menempatkan Yusuf pada posisi tertentu.

Sumur bukan akhir.

Perbudakan bukan akhir.

Fitnah bukan akhir.

Penjara bukan akhir.

Tuhan masih bekerja.

Kejadian 50:20  Manusia Merancangkan Kejahatan, Tuhan Mengubahnya Menjadi Kebaikan

Puncak pemahaman Yusuf tentang perjalanan hidupnya terlihat dalam Kejadian 50:20.

Ia berkata kepada saudara-saudaranya:

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.”

Ayat ini tidak mengatakan bahwa kejahatan yang dilakukan saudara-saudara Yusuf menjadi sesuatu yang benar.

Mereka tetap melakukan kesalahan.

Pengkhianatan tetaplah pengkhianatan.

Ketidakadilan tetaplah ketidakadilan.

Fitnah tetaplah dosa.

Tetapi kuasa Tuhan begitu besar sehingga kejahatan manusia tidak dapat menggagalkan rencana-Nya.

Tuhan mampu mengambil situasi yang buruk dan mengarahkannya untuk menghasilkan sesuatu yang baik.

Dalam kasus Yusuf, Tuhan memakai seluruh perjalanan itu untuk menyelamatkan banyak orang dari kelaparan, termasuk keluarga Yusuf sendiri.

Ini tidak berarti setiap penderitaan langsung dapat kita pahami.

Kadang kita baru melihat maknanya setelah waktu yang panjang.

Bahkan mungkin ada hal-hal yang baru kita pahami sepenuhnya di hadapan Tuhan kelak.

Namun kisah Yusuf memberikan keyakinan bahwa Tuhan dapat bekerja bahkan melalui keadaan yang tidak kita pilih.

Apa yang Tampak Buruk Hari Ini Belum Tentu Menjadi Akhirnya

Manusia melihat satu bagian kecil dari kehidupan.

Tuhan melihat keseluruhannya.

Kita melihat apa yang terjadi hari ini.

Tuhan melihat bagaimana hari ini terhubung dengan hari esok.

Kita melihat pintu yang tertutup.

Tuhan mungkin sedang mengarahkan kita kepada jalan yang berbeda.

Kita melihat kegagalan.

Tuhan mungkin sedang membentuk kerendahan hati dan ketekunan.

Kita melihat penundaan.

Tuhan mungkin sedang mempersiapkan waktu yang tepat.

Kita melihat kehilangan.

Tuhan mungkin sedang mengajarkan kita bahwa dasar hidup tidak boleh diletakkan pada hal-hal yang dapat hilang.

Karena itu, kita perlu berhati-hati untuk tidak memberi kesimpulan terlalu cepat terhadap kehidupan kita.

Apa yang tampak buruk pada hari Senin belum tentu tetap terlihat buruk ketika kita melihatnya beberapa tahun kemudian.

Ada pengalaman yang ketika dijalani terasa sangat menyakitkan, tetapi setelah waktu berlalu, kita melihat bahwa melalui pengalaman itu Tuhan membentuk kita menjadi pribadi yang berbeda.

Tetapi Kita Tidak Boleh Menganggap Semua Penderitaan sebagai Sesuatu yang Baik

Di sini kita membutuhkan keseimbangan.

Kejadian 50:20 tidak mengajarkan bahwa kejahatan itu baik.

Firman Tuhan tidak berkata bahwa pengkhianatan, kekerasan, ketidakadilan, atau penderitaan harus dianggap baik.

Yang dikatakan adalah: Tuhan mampu bekerja di tengah keadaan yang buruk.

Ada perbedaan besar antara:

“Semua yang buruk sebenarnya baik.”

dan

“Tuhan mampu menghasilkan kebaikan bahkan dari keadaan yang buruk.”

Kita tetap harus menolak ketidakadilan.

Kita tetap harus menolong korban.

Kita tetap harus memperbaiki kesalahan jika itu berada dalam kemampuan kita.

Tetapi pada saat yang sama, kita percaya bahwa dosa dan kejahatan manusia tidak memiliki kata terakhir.

Tuhanlah yang mempunyai kata terakhir.

Kesulitan Dapat Menjadi Tempat Pembentukan

Jika Yusuf tidak pernah mengalami kesulitan, mungkin ia belum siap memegang tanggung jawab besar di Mesir.

Perjalanan hidupnya membentuk banyak hal dalam dirinya.

Ia belajar mengelola rumah Potifar.

Ia belajar mengelola keadaan di penjara.

Ia belajar menunggu.

Ia belajar tetap setia ketika tidak ada yang melihat.

Ia belajar memaafkan.

Ia belajar bahwa rencana Tuhan lebih besar daripada luka pribadinya.

Demikian juga dalam kehidupan kita.

Ada kualitas tertentu yang sering terbentuk justru melalui kesulitan.

Kesabaran biasanya tidak terbentuk ketika semuanya berjalan sesuai keinginan.

Ketekunan tidak terbentuk tanpa tantangan.

Keberanian tidak diperlukan jika tidak ada ketakutan.

Pengampunan tidak dapat dipraktikkan jika tidak pernah ada luka.

Iman yang tahan uji tidak muncul tanpa ujian.

Karena itu Yakobus 1:2–4 mengajarkan bahwa ujian terhadap iman menghasilkan ketekunan.

Kesulitan tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik. Namun ketika kita berjalan bersama Tuhan di dalamnya, kesulitan dapat menjadi tempat pembentukan.

Jangan Mengukur Kasih Tuhan dari Mudah atau Sulitnya Hidup

Ini adalah prinsip penting.

Jika kita mengukur kasih Tuhan dari keadaan, iman kita akan mudah naik turun.

Ketika hidup mudah, kita merasa Tuhan mengasihi kita.

Ketika hidup sulit, kita merasa Tuhan meninggalkan kita.

Padahal kasih Tuhan tidak berubah sesuai keadaan.

Bukti terbesar kasih Tuhan bukanlah hidup tanpa masalah.

Bukti terbesar kasih Tuhan adalah salib Kristus.

Roma 8:32 berkata bahwa Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita.

Jika kita ingin mengetahui apakah Tuhan mengasihi kita, lihatlah kepada Kristus.

Salib menunjukkan bahwa kasih Tuhan tetap nyata bahkan ketika kehidupan sulit dipahami.

Tuhan Menyertai, Bahkan Ketika Kita Tidak Merasakannya

Ada masa ketika kita merasakan kehadiran Tuhan dengan sangat kuat.

Namun ada juga masa ketika doa terasa kering dan hati terasa kosong.

Dalam keadaan seperti itu, kita harus belajar hidup berdasarkan janji Tuhan, bukan hanya berdasarkan perasaan.

Ibrani 13:5 mencatat janji Tuhan:

“Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Janji ini tidak berkata:

“Aku bersama kamu hanya ketika kamu merasa Aku dekat.”

Janji itu berdasarkan karakter Tuhan sendiri.

Perasaan kita dapat berubah.

Keadaan berubah.

Manusia dapat meninggalkan kita.

Tetapi kesetiaan Tuhan tetap.

Jangan Menjalani Kesulitan Sendirian

Percaya bahwa Tuhan menyertai kita bukan berarti kita harus menolak pertolongan orang lain.

Tuhan sering memakai manusia sebagai alat penyertaan-Nya.

Ketika seseorang sedang mengalami masa sulit, ia mungkin membutuhkan teman untuk mendengar.

Ia mungkin membutuhkan keluarga yang mendukung.

Ia mungkin membutuhkan gereja yang mendoakan.

Ia mungkin membutuhkan nasihat dari orang yang bijaksana.

Ada situasi tertentu yang juga membutuhkan pertolongan profesional atau pihak yang kompeten.

Menerima pertolongan bukan berarti tidak percaya kepada Tuhan.

Justru pertolongan itu dapat menjadi salah satu cara Tuhan menjaga kita.

Pertanyaan Refleksi

Ketika menghadapi kesulitan, kita dapat bertanya:

  • Apakah saya sedang menganggap bahwa Tuhan meninggalkan saya hanya karena keadaan belum berubah?
  • Apakah saya masih mampu melihat penyertaan Tuhan dalam hal-hal kecil?
  • Apa yang sedang Tuhan bentuk dalam karakter saya melalui proses ini?
  • Apakah ada luka yang harus saya serahkan kepada Tuhan?
  • Apakah ada orang yang perlu saya ampuni seperti Yusuf mengampuni saudara-saudaranya?
  • Apakah saya sedang memberi kesimpulan akhir terhadap cerita yang sebenarnya belum selesai?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu memberikan jawaban langsung terhadap penderitaan, tetapi dapat membantu kita melihat kehidupan dari sudut pandang iman.

Peneguhan: Tuhan Masih Ada di Tengah Cerita

Mungkin saat ini kita sedang berada dalam “sumur” seperti Yusuf.

Mungkin kita merasa dikhianati.

Mungkin kita sedang berada dalam “penjara” keadaan yang seolah membatasi langkah.

Mungkin kita merasa sudah berusaha melakukan yang benar tetapi justru diperlakukan tidak adil.

Mungkin kita sedang menunggu begitu lama sehingga mulai bertanya apakah Tuhan masih mengingat kita.

Ingatlah Yusuf.

Ketika ia berada di sumur, Tuhan belum selesai.

Ketika ia menjadi budak, Tuhan belum selesai.

Ketika ia difitnah, Tuhan belum selesai.

Ketika ia masuk penjara, Tuhan belum selesai.

Ketika ia dilupakan, Tuhan pun belum selesai.

Dan ketika waktunya tiba, Yusuf akhirnya melihat bahwa Tuhan telah menuntunnya melalui sebuah perjalanan yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.

Karena itu, jangan menilai seluruh karya Tuhan berdasarkan satu musim yang berat.

Kesulitan bukan bukti bahwa Tuhan meninggalkan kita.

Kadang kita tidak dibawa keluar dari masalah dengan segera, tetapi Tuhan berjalan bersama kita melewatinya.

Kadang Dia tidak langsung mengubah keadaan, tetapi Dia memberi kita kekuatan untuk bertahan.

Kadang kita belum memahami tujuan dari perjalanan ini, tetapi kita dapat tetap percaya kepada karakter-Nya.

Kejadian 50:20 memberi kita pengharapan bahwa apa yang dimaksudkan manusia untuk kejahatan pun tidak berada di luar kemampuan Tuhan untuk mengubah arah akhirnya menuju kebaikan.

Maka ketika hari ini terasa berat, kita dapat berdoa:

“Tuhan, aku belum memahami mengapa aku harus melewati keadaan ini. Aku mungkin belum melihat jalan keluar dan belum mengetahui apa yang sedang Engkau kerjakan. Tetapi aku percaya bahwa Engkau tidak meninggalkanku. Berikan aku kekuatan untuk tetap berjalan, hati untuk tetap percaya, dan mata iman untuk melihat bahwa cerita hidupku belum selesai. Pakailah bahkan masa sulit ini untuk membentuk dan menggenapi kehendak-Mu dalam hidupku.”

Hari ini mungkin berat, tetapi kesulitan ini bukan tanda Tuhan telah pergi. Tuhan masih menyertai, Tuhan masih bekerja, dan Tuhan belum selesai berkarya.

4. Tuhan Tetap Bekerja Ketika Kita Belum Melihat Hasilnya

Salah satu hal yang paling sulit dalam perjalanan iman adalah menunggu. Kita lebih mudah percaya ketika hasil sudah terlihat, ketika doa sudah dijawab, ketika pintu sudah terbuka, dan ketika persoalan sudah selesai. Tetapi bagaimana jika kita sudah berdoa, sudah berusaha, sudah berharap, namun belum ada perubahan yang nyata?

Pada titik seperti inilah iman sering diuji.

Kita mulai bertanya:

“Apakah Tuhan masih bekerja?”

“Apakah doa saya didengar?”

“Apakah ada sesuatu yang sedang Tuhan lakukan?”

“Berapa lama lagi saya harus menunggu?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini wajar. Namun firman Tuhan mengingatkan kita bahwa karya Tuhan tidak selalu langsung terlihat oleh mata manusia.

Yesus berkata dalam Yohanes 5:17:

“Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”

Ayat ini memberi pengharapan yang sangat kuat. Tuhan tidak berhenti bekerja hanya karena kita belum melihat hasil. Tuhan tidak menjadi diam hanya karena keadaan tampak sama. Dia tetap bekerja, bahkan ketika pekerjaan-Nya berlangsung di tempat dan dengan cara yang belum dapat kita lihat.

Tidak Semua Pekerjaan Tuhan Langsung Terlihat

Manusia cenderung menilai sesuatu berdasarkan apa yang terlihat.

Jika ada hasil, kita berkata ada kemajuan.

Jika ada perubahan, kita berkata ada pekerjaan.

Jika keadaan tetap sama, kita mudah menyimpulkan tidak terjadi apa-apa.

Tetapi cara Tuhan bekerja tidak selalu demikian.

Ada banyak proses dalam kehidupan yang sebenarnya sedang berlangsung walaupun belum terlihat di permukaan.

Seseorang berdoa untuk keluarganya bertahun-tahun, tetapi belum melihat perubahan.

Seorang orang tua terus mendidik anaknya dengan kasih dan firman Tuhan, tetapi hasilnya belum langsung tampak.

Seseorang bekerja dengan jujur dan setia, tetapi belum mendapatkan kesempatan yang diharapkan.

Seorang pelayan Tuhan terus menabur firman, tetapi belum melihat banyak buah.

Apakah semua usaha itu sia-sia?

Belum tentu.

Sering kali kita hanya melihat bagian yang kecil, sedangkan Tuhan sedang mengerjakan bagian yang lebih besar.

Dalam Yesaya 55:8–9 Tuhan berkata bahwa pikiran dan jalan-Nya lebih tinggi daripada pikiran dan jalan manusia.

Artinya, ada hal-hal yang Tuhan kerjakan yang belum dapat kita pahami pada saat ini.

Keterbatasan kita melihat bukan berarti Tuhan tidak bekerja.

Gambaran Benih: Ada Pertumbuhan yang Terjadi dalam Keheningan

Benih adalah salah satu gambaran terbaik untuk memahami pekerjaan Tuhan.

Ketika seseorang menanam benih ke dalam tanah, setelah ditanam ia tidak langsung melihat pohon.

Hari pertama, tanah masih terlihat sama.

Hari kedua, belum ada perubahan yang terlihat.

Hari ketiga, mungkin masih tidak ada apa-apa.

Jika kita hanya melihat permukaan tanah, kita dapat berkata:

“Tidak terjadi apa-apa.”

Padahal di dalam tanah sedang berlangsung proses yang sangat penting.

Kulit benih mulai pecah.

Akar mulai tumbuh.

Benih mulai menyerap air.

Kehidupan mulai bergerak.

Semua itu berlangsung di tempat yang tidak terlihat.

Kemudian, pada waktunya, tunas kecil muncul ke permukaan.

Demikian pula dengan pekerjaan Tuhan dalam hidup kita.

Ada masa ketika Tuhan bekerja “di bawah permukaan.”

Dia sedang membentuk sesuatu dalam diri kita.

Dia sedang mengatur keadaan.

Dia sedang menyiapkan orang-orang tertentu.

Dia sedang mempertemukan berbagai peristiwa.

Dia sedang membuka jalan yang belum kita ketahui.

Apa yang hari ini belum terlihat dapat saja sedang bertumbuh.

Karena itu, jangan mencabut “benih” hanya karena tunasnya belum muncul.

Jangan berhenti berdoa hanya karena jawaban belum datang.

Jangan berhenti berbuat baik hanya karena hasilnya belum terlihat.

Jangan berhenti setia hanya karena perubahan terasa lambat.

Masa Menunggu Bukan Berarti Tuhan Diam

Dalam Alkitab, banyak tokoh besar mengalami masa menunggu.

Abraham menerima janji bahwa ia akan mempunyai keturunan, tetapi ia harus menunggu bertahun-tahun sebelum Ishak lahir.

Yusuf menerima mimpi tentang masa depannya ketika masih muda, tetapi ia harus melewati perbudakan dan penjara sebelum mimpi itu mulai digenapi.

Daud diurapi menjadi raja, tetapi ia tidak langsung duduk di takhta. Ia harus melalui perjalanan panjang, bahkan hidup sebagai pelarian.

Bangsa Israel menunggu pembebasan dari Mesir selama generasi.

Para murid Yesus menunggu datangnya Roh Kudus setelah kenaikan Tuhan.

Masa menunggu selalu menjadi bagian penting dari perjalanan iman.

Masalahnya, manusia sering menganggap penundaan sebagai penolakan.

Ketika doa belum terjawab, kita berpikir Tuhan berkata “tidak.”

Padahal bisa jadi Tuhan sedang berkata, “Belum waktunya.”

Ketika kesempatan belum datang, kita berpikir pintu telah tertutup.

Padahal bisa jadi Tuhan sedang mempersiapkan kita sebelum membuka pintu itu.

Ketika keadaan belum berubah, kita berpikir Tuhan diam.

Padahal Tuhan mungkin sedang bekerja dalam proses yang belum selesai.

Ratapan 3:25–26 berkata:

“TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.”

Menunggu dalam iman bukan berarti pasif.

Menunggu berarti tetap percaya sambil tetap melakukan bagian kita.

Tuhan Dapat Sedang Mempersiapkan Jalan

Kadang kita meminta sesuatu, tetapi Tuhan belum memberikannya karena jalan menuju ke sana masih sedang dipersiapkan.

Bayangkan seseorang yang ingin memasuki sebuah ruangan, tetapi ruangan itu belum siap.

Ia mungkin berpikir pintunya sengaja ditutup.

Padahal di dalam ruangan sedang dilakukan persiapan.

Demikian juga dalam kehidupan.

Kita mungkin berdoa untuk pekerjaan baru.

Tuhan dapat sedang mempersiapkan tempat yang tepat.

Kita mungkin berdoa untuk kesempatan pelayanan.

Tuhan dapat sedang membuka hubungan dengan orang-orang yang belum kita kenal.

Kita mungkin berdoa untuk jalan keluar dari persoalan.

Tuhan dapat sedang mengatur keadaan yang belum kita lihat.

Salah satu contoh Alkitab yang menarik adalah kisah Ester.

Sebelum Ester mengetahui adanya ancaman terhadap bangsanya, Tuhan sudah menempatkannya sebagai ratu.

Sebelum masalah besar terjadi, persiapan Tuhan sudah berlangsung.

Ini mengajarkan bahwa Tuhan sering bekerja lebih dahulu daripada kesadaran kita.

Kita mungkin baru melihat masalah hari ini, tetapi Tuhan sudah mengetahui hari ini sejak lama.

Karena itu, Dia dapat mempersiapkan jawaban bahkan sebelum kita mengetahui bahwa kita membutuhkannya.

Tuhan Dapat Sedang Membentuk Karakter Kita

Sering kali fokus kita adalah perubahan keadaan.

Namun fokus Tuhan tidak hanya keadaan kita.

Tuhan juga memperhatikan siapa kita sedang menjadi.

Kita berdoa:

“Tuhan, ubah situasi ini.”

Tuhan mungkin bertanya:

“Apa yang sedang Kubentuk di dalam dirimu melalui situasi ini?”

Ada hal-hal yang tidak dapat dipelajari melalui kehidupan yang selalu mudah.

Kesabaran dibentuk ketika kita harus menunggu.

Ketekunan dibentuk ketika perjalanan panjang.

Iman dibentuk ketika kita belum melihat.

Kerendahan hati dibentuk ketika kita menyadari keterbatasan.

Pengampunan dibentuk ketika kita terluka.

Keberanian dibentuk ketika kita menghadapi ketakutan.

Roma 5:3–4 mengajarkan bahwa kesengsaraan menghasilkan ketekunan, tahan uji, dan pengharapan.

Karena itu, masa menunggu bukan hanya mengenai kapan sesuatu akan terjadi, tetapi juga mengenai siapa kita sedang dibentuk menjadi.

Kadang Tuhan lebih tertarik mempersiapkan orangnya sebelum memberikan jawabannya.

Sebab berkat yang besar tanpa karakter yang matang dapat justru menjadi beban.

Tanggung jawab yang besar membutuhkan kedewasaan.

Kesempatan yang besar membutuhkan kesiapan.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Tuhan, kapan?”

Sesekali kita juga perlu bertanya:

“Tuhan, apa yang sedang Engkau bentuk dalam diriku selama aku menunggu?”

Tuhan Dapat Sedang Membuka Kesempatan yang Belum Kita Ketahui

Kita sering membayangkan jawaban Tuhan hanya dalam satu bentuk.

Kita berkata:

“Kalau Tuhan menolong, pasti jalannya seperti ini.”

“Kalau Tuhan menjawab, pasti melalui orang ini.”

“Kalau doa saya dikabulkan, hasilnya harus seperti yang saya pikirkan.”

Tetapi Tuhan tidak terbatas pada cara berpikir kita.

Efesus 3:20 mengatakan bahwa Tuhan sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan.

Ini berarti Tuhan dapat membuka kesempatan melalui arah yang tidak pernah kita bayangkan.

Yusuf mungkin berpikir kebebasannya akan datang melalui juru minuman Firaun yang berjanji mengingatnya.

Tetapi juru minuman itu melupakannya.

Dari sudut pandang Yusuf, itu mungkin mengecewakan.

Namun kemudian Firaun bermimpi.

Pada saat itulah Yusuf dipanggil.

Bukan sekadar dibebaskan dari penjara, ia bahkan diangkat menjadi pemimpin.

Jika Yusuf keluar dari penjara terlalu cepat, mungkin ia hanya menjadi orang bebas biasa.

Tetapi ketika waktu Tuhan tiba, ia keluar dari penjara menuju tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Kita tidak selalu mengetahui mengapa satu kesempatan tertunda.

Bisa jadi karena Tuhan sedang mempersiapkan kesempatan lain yang lebih sesuai dengan tujuan-Nya.

Tuhan Dapat Sedang Mengubah Sesuatu dalam Diri Orang Lain

Kadang doa kita berkaitan dengan orang lain.

Kita berdoa agar seseorang berubah.

Kita berdoa untuk pasangan.

Untuk anak.

Untuk keluarga.

Untuk rekan kerja.

Untuk pemimpin.

Namun setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, kita belum melihat perubahan.

Pada masa seperti ini, kita mudah lelah.

Tetapi kita tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam hati orang tersebut.

Kita hanya melihat perilaku luar.

Tuhan melihat hati.

Ada orang yang kelihatannya tidak berubah, tetapi dalam batinnya mulai timbul pertanyaan.

Ada orang yang tampak menolak, tetapi sebenarnya mulai mempertimbangkan kebenaran.

Ada orang yang terlihat keras, tetapi perlahan mulai dilunakkan oleh pengalaman hidup.

Karena itu kita perlu terus berdoa tanpa mencoba mengambil alih pekerjaan Roh Kudus.

Tugas kita adalah menabur, mengasihi, menjadi teladan, dan berdoa.

Tuhanlah yang memberi pertumbuhan.

Paulus berkata dalam 1 Korintus 3:6:

“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”

Ini mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat memaksa hasil.

Kita dapat melakukan bagian kita.

Tetapi pertumbuhan berasal dari Tuhan.

Waktu Tuhan Tidak Selalu Sama dengan Waktu Kita

Manusia hidup berdasarkan jam, hari, bulan, dan tahun.

Kita membuat target.

Kita menetapkan batas waktu.

Kita berkata:

“Seharusnya tahun ini sudah terjadi.”

“Seharusnya sekarang sudah selesai.”

“Seharusnya pada usia ini saya sudah mencapai hal tersebut.”

Tetapi Tuhan tidak terikat oleh tekanan waktu manusia.

Pengkhotbah 3:11 berkata:

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”

Perhatikan kalimat: “pada waktunya.”

Tidak terlalu cepat.

Tidak terlalu lambat menurut hikmat Tuhan.

Masalahnya, waktu Tuhan sering berbeda dari waktu yang kita inginkan.

Kita menginginkan sekarang.

Tuhan melihat keseluruhan.

Kita melihat kebutuhan saat ini.

Tuhan melihat akibat lima, sepuluh, atau dua puluh tahun ke depan.

Karena itu menunggu membutuhkan kepercayaan terhadap hikmat Tuhan.

Bukan hanya percaya bahwa Tuhan sanggup.

Tetapi percaya bahwa Tuhan tahu kapan.

Jangan Memaksakan Pintu yang Belum Tuhan Buka

Masa menunggu sering menggoda kita untuk memaksakan keadaan.

Ketika jawaban belum datang, kita tergoda mencari jalan pintas.

Abraham dan Sara pernah mengalami hal ini.

Tuhan telah menjanjikan keturunan.

Namun karena menunggu terlalu lama, mereka mencoba menyelesaikan janji Tuhan dengan cara mereka sendiri melalui Hagar.

Hasilnya justru menimbulkan persoalan baru.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa ketidaksabaran dapat membuat kita mengambil keputusan yang tidak bijaksana.

Ada pintu yang memang harus diketuk.

Ada kesempatan yang harus diperjuangkan.

Tetapi ada pula saat ketika kita harus menunggu dengan bijaksana.

Jangan karena takut terlambat lalu kita memilih jalan yang salah.

Jangan karena tidak sabar lalu kita mengorbankan nilai-nilai iman.

Jangan karena hasil belum terlihat lalu kita berhenti hidup dalam kebenaran.

Lebih baik menunggu sedikit lebih lama bersama Tuhan daripada berjalan cepat tanpa arah-Nya.

Menunggu Bukan Berarti Tidak Melakukan Apa-apa

Ada perbedaan antara menunggu dalam iman dan hanya duduk pasif.

Petani yang menunggu panen tetap bekerja.

Ia membersihkan lahan.

Menjaga tanaman.

Memberikan air.

Mengendalikan hama.

Ia tidak dapat memaksa tanaman berbuah hari ini, tetapi ia tetap melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya.

Demikian juga kita.

Jika sedang menunggu pekerjaan, teruslah meningkatkan kemampuan.

Jika sedang menunggu kesempatan pelayanan, teruslah belajar dan melayani dengan setia di tempat yang ada.

Jika sedang menunggu jawaban doa tentang keluarga, teruslah mengasihi dan berkomunikasi dengan baik.

Jika sedang menunggu pemulihan ekonomi, tetaplah bekerja, mengatur keuangan, dan mengambil keputusan bijaksana.

Jika sedang menunggu kejelasan masa depan, tetaplah melakukan tugas hari ini dengan setia.

Mazmur 37:5 berkata:

“Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.”

Ada dua bagian di sana:

serahkan dan percayalah.

Kita melakukan bagian kita, lalu mempercayakan hasil kepada Tuhan.

Jangan Menggali Benih Setiap Hari untuk Memeriksa Apakah Sudah Bertumbuh

Ada sebuah gambaran sederhana.

Bayangkan seseorang menanam benih.

Setiap pagi ia menggali tanah untuk melihat apakah akar sudah tumbuh.

Lalu ia menanamnya kembali.

Besok ia menggali lagi.

Jika terus dilakukan, benih justru akan rusak.

Demikian pula dalam kehidupan iman.

Kadang kita terlalu sering memeriksa hasil:

“Sudah berubah belum?”

“Sudah dijawab belum?”

“Sudah ada tanda belum?”

“Kenapa belum?”

Kita menjadi lelah karena seluruh perhatian tertuju pada hasil.

Ada saatnya kita perlu berhenti menggali “benih” dan mulai mempercayai proses.

Berdoalah.

Kerjakan bagian kita.

Kemudian serahkan hasil kepada Tuhan.

Kepercayaan berarti memberikan ruang kepada Tuhan untuk bekerja menurut waktu dan cara-Nya.

Keheningan Tuhan Tidak Sama dengan Ketidakhadiran Tuhan

Dalam kehidupan rohani, ada masa ketika Tuhan terasa sangat dekat.

Ada juga masa ketika kita merasa tidak mendengar apa-apa.

Doa terasa biasa.

Tidak ada pengalaman yang luar biasa.

Tidak ada tanda khusus.

Keadaan tetap sama.

Tetapi keheningan Tuhan tidak berarti ketidakhadiran Tuhan.

Ketika seorang guru memberikan ujian, ia biasanya tidak terus-menerus memberi jawaban kepada murid.

Ia diam, tetapi tetap berada di ruangan.

Demikian pula, ada masa ketika Tuhan seolah diam, tetapi Dia tetap hadir.

Dalam Mazmur 46:11 dikatakan:

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”

Kadang iman membutuhkan kemampuan untuk tenang ketika kita belum memahami semuanya.

Ada Hal yang Baru Dipahami Setelah Kita Melewatinya

Yesus berkata kepada Petrus dalam Yohanes 13:7:

“Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.”

Ayat ini sangat cocok bagi orang yang sedang menunggu.

Ada hal yang tidak kita pahami sekarang.

Tetapi mungkin kita akan memahaminya kelak.

Ketika masih berada di tengah proses, kita hanya melihat potongan-potongan.

Setelah waktu berlalu, barulah kita dapat melihat bagaimana semuanya terhubung.

Mungkin kita pernah kecewa karena satu pintu tertutup, lalu beberapa tahun kemudian kita bersyukur karena ternyata pintu itu bukan yang terbaik.

Mungkin kita pernah kecewa terhadap penundaan, lalu kemudian memahami bahwa kita memang belum siap pada waktu itu.

Mungkin kita pernah kehilangan suatu kesempatan, lalu Tuhan membawa kita kepada arah yang ternyata jauh lebih sesuai.

Tidak semua hal akan kita pahami sepenuhnya.

Namun pengalaman hidup sering menunjukkan bahwa perspektif kita dapat berubah setelah kita melihat perjalanan dari jarak yang lebih jauh.

Yohanes 5:17 — Tuhan Masih Bekerja

Yesus berkata:

“Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”

Kalimat ini adalah dasar yang kuat bagi pengharapan kita.

Tuhan tidak pernah kehilangan perhatian terhadap ciptaan-Nya.

Dia bukan Allah yang menciptakan dunia lalu meninggalkannya.

Dia terus bekerja.

Dia memelihara.

Dia menuntun.

Dia menegur.

Dia membuka.

Dia menutup.

Dia membentuk.

Dia memulihkan.

Dia memanggil.

Dia mempersiapkan.

Dan banyak dari pekerjaan itu berlangsung tanpa kita sadari.

Karena itu, ketika kita belum melihat hasil, iman berkata:

“Aku belum melihat, tetapi Tuhan masih bekerja.”

Ketika belum ada jawaban:

“Aku belum mengetahui jawabannya, tetapi Tuhan masih bekerja.”

Ketika jalan belum terbuka:

“Aku belum melihat jalan, tetapi Tuhan masih bekerja.”

Ketika masa depan belum jelas:

“Aku belum tahu bagaimana akhirnya, tetapi Tuhan masih bekerja.”

Refleksi untuk Pembaca

Dalam masa menunggu, kita dapat merenungkan beberapa pertanyaan:

  • Apakah saya terlalu cepat menyimpulkan bahwa Tuhan tidak bekerja hanya karena belum ada hasil?
  • Apakah saya sedang menuntut Tuhan mengikuti jadwal saya?
  • Apa yang mungkin sedang Tuhan bentuk dalam karakter saya?
  • Apakah saya masih setia melakukan tanggung jawab saya selama menunggu?
  • Apakah saya sedang tergoda mengambil jalan pintas karena tidak sabar?
  • Adakah hal kecil yang sebenarnya menunjukkan Tuhan masih memelihara hidup saya?
  • Apakah saya mampu mempercayai Tuhan sekalipun belum mengetahui bagaimana akhirnya?

Jangan Berhenti Sebelum Waktunya

Jika hari ini kita belum melihat hasil, jangan langsung menyimpulkan bahwa perjuangan kita sia-sia.

Jika doa belum dijawab, jangan berhenti berdoa.

Jika perubahan belum terlihat, jangan berhenti menabur kebaikan.

Jika kesempatan belum datang, jangan berhenti mempersiapkan diri.

Jika Tuhan seolah diam, jangan menganggap Dia tidak hadir.

Benih tidak tumbuh menjadi pohon dalam satu malam.

Karakter tidak terbentuk dalam satu hari.

Rencana besar Tuhan tidak selalu dapat dipahami dalam satu musim kehidupan.

Ada proses yang harus dijalani.

Ada waktu yang harus dilewati.

Ada hal yang harus dibentuk.

Karena itu, teruslah melangkah.

Kita mungkin belum melihat buahnya, tetapi benih sedang bertumbuh.

Kita mungkin belum melihat jalannya, tetapi Tuhan dapat sedang mempersiapkannya.

Kita mungkin belum mendapatkan jawabannya, tetapi Tuhan belum berhenti bekerja.

Kita dapat berdoa:

“Tuhan, ketika aku belum melihat hasil dari doa, usaha, dan kesetiaanku, ajar aku untuk tidak kehilangan pengharapan. Tolong aku percaya bahwa Engkau tetap bekerja bahkan ketika aku belum melihat apa yang Engkau lakukan. Bentuklah aku selama masa menunggu ini. Jauhkan aku dari ketidaksabaran dan jalan pintas. Berikan aku kekuatan untuk tetap setia sampai waktu-Mu tiba.”

Dan kita dapat meneguhkan hati dengan kalimat ini:

Hari ini mungkin belum menunjukkan hasil yang kita harapkan, tetapi Tuhan masih bekerja. Apa yang belum terlihat bukan berarti tidak sedang terjadi. Tetaplah percaya, tetaplah setia, dan tetaplah melangkah, sebab Tuhan belum selesai berkarya.

5. Tuhan Memakai Masa Sulit untuk Membentuk Kita

Tidak seorang pun berharap hidupnya dipenuhi kesulitan. Pada dasarnya, kita semua menginginkan kehidupan yang tenang, keluarga yang harmonis, pekerjaan yang berhasil, kesehatan yang baik, pelayanan yang berkembang, dan masa depan yang jelas. Kita berdoa agar Tuhan membuka jalan dan menjauhkan berbagai persoalan dari kehidupan kita.

Namun kenyataan menunjukkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan demikian. Ada masa ketika kita harus menghadapi kegagalan, kehilangan, penolakan, kekecewaan, tekanan, penantian panjang, bahkan keadaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Ketika masa sulit itu datang, kita sering bertanya:

“Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi?”

“Mengapa masalah ini belum selesai?”

“Apa yang Tuhan inginkan dari perjalanan ini?”

Tidak semua penderitaan dapat kita jelaskan dengan mudah. Kita juga tidak boleh terburu-buru mengatakan bahwa setiap masalah merupakan hukuman Tuhan atau bahwa Tuhan sengaja memberikan penderitaan kepada seseorang. Namun Alkitab memberikan satu pengharapan penting: Tuhan sanggup memakai masa sulit untuk mengerjakan sesuatu yang baik dalam kehidupan kita.

Roma 5:3–5 menunjukkan suatu proses rohani yang sangat menarik:

Kesengsaraan menghasilkan ketekunan, ketekunan menghasilkan tahan uji, tahan uji menghasilkan pengharapan, dan pengharapan tidak mengecewakan.

Demikian juga Yakobus 1:2–4 mengajarkan bahwa ujian terhadap iman menghasilkan ketekunan, dan ketekunan itu membawa orang percaya menuju kedewasaan.

Karena itu, kita dapat melihat bahwa kesulitan tidak harus menjadi perjalanan yang sia-sia. Dalam tangan Tuhan, masa yang sulit dapat menjadi ruang pembentukan karakter, pendewasaan iman, dan pertumbuhan rohani.

Kesulitan Dapat Melatih Ketekunan

Roma 5:3 berkata:

“Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan.”

Paulus tidak mengatakan bahwa penderitaan itu menyenangkan. Ia tidak mengajarkan bahwa orang percaya harus mencari penderitaan.

Yang Paulus tekankan adalah bahwa di tengah kesengsaraan dapat lahir sesuatu yang sangat berharga, yaitu ketekunan.

Ketekunan berarti kemampuan untuk tetap bertahan, tetap berjalan, dan tetap setia meskipun keadaan belum berubah.

Kita dapat membandingkannya dengan seorang pelari jarak jauh. Ia tidak menjadi kuat hanya karena mampu berlari cepat beberapa meter. Kekuatan seorang pelari terbentuk melalui latihan panjang ketika tubuh mulai lelah tetapi ia terus bergerak.

Demikian juga kehidupan iman.

Ada masa ketika kita berdoa dan jawabannya datang dengan cepat.

Tetapi ada masa ketika kita harus berdoa berulang kali.

Ada masa ketika pekerjaan kita segera memberikan hasil.

Tetapi ada masa ketika kita harus bekerja bertahun-tahun sebelum melihat buahnya.

Ada masa ketika persoalan cepat selesai.

Tetapi ada pula keadaan yang membutuhkan perjalanan panjang.

Di situlah ketekunan dibentuk.

Kita belajar berkata:

“Aku belum melihat jawabannya, tetapi aku tetap berdoa.”

“Aku belum melihat hasilnya, tetapi aku tetap melakukan yang benar.”

“Aku sedang lelah, tetapi aku tidak akan menyerah.”

“Keadaan belum berubah, tetapi aku tetap percaya kepada Tuhan.”

Ketekunan seperti ini tidak muncul dalam satu malam. Ia tumbuh melalui perjalanan.

Ketekunan Bukan Berarti Tidak Pernah Lelah

Kadang kita salah memahami ketekunan.

Kita berpikir bahwa orang yang tekun adalah orang yang tidak pernah lelah, tidak pernah menangis, dan tidak pernah merasa ingin berhenti.

Padahal bukan demikian.

Orang yang tekun dapat merasa lelah.

Ia dapat menangis.

Ia dapat kecewa.

Ia dapat membutuhkan istirahat.

Namun setelah beristirahat, ia bangkit kembali.

Ketekunan bukan berarti berjalan tanpa berhenti.

Kadang ketekunan berarti beristirahat sebentar supaya kita dapat melanjutkan perjalanan.

Elia pernah mengalami kelelahan yang sangat dalam. Tuhan tidak langsung menyuruhnya bekerja lebih keras. Tuhan memberinya waktu untuk tidur dan makan sebelum berbicara kepadanya.

Karena itu, jangan merasa bersalah jika dalam masa sulit kita membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.

Yang penting adalah kita tidak kehilangan arah.

Istirahat bukan menyerah.

Menangis bukan menyerah.

Meminta bantuan bukan menyerah.

Mengakui kelemahan bukan menyerah.

Menyerah adalah ketika kita memutuskan tidak mau lagi berjalan.

Pergumulan Dapat Membuat Iman Semakin Dewasa

Yakobus 1:3 mengatakan:

“Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”

Ada perbedaan antara iman yang hanya diketahui melalui teori dan iman yang telah melewati ujian.

Kita dapat mengatakan:

“Tuhan setia.”

Namun kalimat itu mempunyai kedalaman yang berbeda setelah kita mengalami masa ketika semua sandaran lain mulai goyah dan kita menemukan bahwa Tuhan tetap menopang.

Kita dapat mengatakan:

“Tuhan mencukupkan.”

Tetapi perkataan itu menjadi lebih nyata setelah kita pernah mengalami kekurangan dan menyaksikan bagaimana pertolongan datang pada waktunya.

Kita dapat mengatakan:

“Tuhan memberikan kekuatan.”

Tetapi kita benar-benar memahami kalimat itu ketika pernah berada pada titik:

“Aku tidak sanggup lagi,”

namun ternyata kita masih dapat bangun dan melangkah.

Itulah sebabnya pergumulan dapat membawa iman dari sekadar pengetahuan menjadi pengalaman.

Dahulu kita mengetahui bahwa Tuhan setia.

Sekarang kita mengalami kesetiaan-Nya.

Dahulu kita membaca bahwa Tuhan menolong.

Sekarang kita mempunyai pengalaman bagaimana pertolongan itu diberikan.

Dahulu kita mendengar kesaksian orang lain.

Sekarang kita sendiri mempunyai kesaksian.

Iman Dewasa Tidak Bergantung pada Keadaan

Iman yang belum matang sering kali sangat bergantung pada keadaan.

Ketika hidup berjalan baik:

“Tuhan baik.”

Ketika doa dijawab:

“Tuhan mengasihiku.”

Ketika usaha berhasil:

“Tuhan menyertaiku.”

Tetapi ketika keadaan berubah:

“Apakah Tuhan masih baik?”

“Apakah Tuhan masih mengasihiku?”

“Apakah Tuhan masih bersamaku?”

Masa sulit dapat membawa kita kepada tingkat iman yang lebih dewasa.

Kita mulai belajar bahwa kebaikan Tuhan tidak berubah hanya karena keadaan kita berubah.

Habakuk memberikan contoh yang luar biasa.

Dalam Habakuk 3:17–18 ia menggambarkan keadaan yang sangat buruk: pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil zaitun mengecewakan, ladang tidak menghasilkan makanan, dan ternak lenyap dari kandang.

Dalam masyarakat agraris pada waktu itu, keadaan tersebut berarti krisis ekonomi yang sangat berat.

Namun Habakuk berkata bahwa ia tetap akan bersorak-sorak di dalam Tuhan.

Inilah iman yang matang.

Ia tidak berkata:

“Aku bersukacita karena keadaan baik.”

Ia berkata:

“Sekalipun keadaan tidak baik, aku tetap mempunyai Tuhan.”

Masa Sulit Mengajarkan Kerendahan Hati

Kesulitan juga dapat menghancurkan ilusi bahwa manusia dapat mengendalikan semuanya.

Ketika keadaan berjalan baik, kita mudah merasa bahwa kita mampu mengatur kehidupan sendiri.

Kita mempunyai pengetahuan.

Kita mempunyai pengalaman.

Kita mempunyai pekerjaan.

Kita mempunyai relasi.

Kita mempunyai rencana.

Kita mempunyai sumber daya.

Namun kemudian datang suatu keadaan yang tidak dapat kita kendalikan.

Pada saat itulah kita menyadari:

Ada batas kemampuan manusia.

Ada masalah yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan uang.

Ada penyakit yang tidak dapat kita kendalikan hanya dengan kemauan.

Ada hubungan yang tidak dapat dipulihkan hanya karena kita menginginkannya.

Ada masa depan yang tidak dapat kita pastikan.

Ada hati manusia yang tidak dapat kita ubah.

Kesadaran ini dapat membawa kita kepada kerendahan hati.

Amsal 3:5 berkata:

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Kerendahan hati berarti kita mampu berkata:

“Tuhan, aku tidak mengetahui semuanya.”

“Aku tidak mampu mengendalikan semuanya.”

“Aku membutuhkan hikmat-Mu.”

“Aku membutuhkan pertolongan-Mu.”

Kesulitan Mengajar Kita Bergantung kepada Tuhan

Ada perbedaan antara berkata “Saya membutuhkan Tuhan” dan benar-benar hidup dengan kesadaran bahwa kita membutuhkan-Nya.

Dalam keadaan nyaman, doa dapat berubah menjadi rutinitas.

Kita berdoa pagi dan malam.

Kita datang ke gereja.

Kita membaca firman.

Namun jauh di dalam hati mungkin kita masih merasa:

“Aku mampu mengurus semuanya.”

Kemudian datang suatu keadaan yang berada di luar kemampuan kita.

Doa berubah.

Kita tidak lagi datang kepada Tuhan sekadar menjalankan kewajiban.

Kita datang karena benar-benar membutuhkan-Nya.

Doa menjadi lebih jujur:

“Tuhan, aku tidak tahu harus berbuat apa.”

“Tuhan, aku membutuhkan kekuatan.”

“Tuhan, berikan aku hikmat.”

“Tuhan, tolong aku.”

Di sinilah kita belajar arti ketergantungan kepada Tuhan.

Yesus berkata dalam Yohanes 15:5:

“Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Ketergantungan kepada Tuhan bukan berarti kita tidak melakukan apa pun.

Kita tetap bekerja.

Kita tetap berpikir.

Kita tetap merencanakan.

Kita tetap mengambil keputusan.

Namun kita menyadari bahwa semua kemampuan itu mempunyai batas, dan kita membutuhkan tuntunan Tuhan.

Kita Meminta Tuhan Mengubah Keadaan

Ketika masalah datang, doa yang paling alami adalah:

“Tuhan, ubahlah keadaan ini.”

Tidak ada yang salah dengan doa itu.

Ketika sakit, kita berdoa untuk kesembuhan.

Ketika mengalami kesulitan ekonomi, kita berdoa untuk jalan keluar.

Ketika mempunyai masalah keluarga, kita berdoa untuk pemulihan.

Ketika menghadapi ketidakadilan, kita berdoa supaya ada keadilan.

Namun ada sesuatu yang menarik dalam perjalanan iman.

Kadang kita berdoa:

“Tuhan, ubahlah keadaan.”

Tetapi Tuhan terlebih dahulu mulai bekerja di dalam diri kita.

Kita berdoa supaya orang lain berubah.

Tuhan mulai mengubah cara kita melihat orang tersebut.

Kita meminta masalah segera selesai.

Tuhan mulai membentuk kesabaran kita.

Kita meminta pintu segera dibuka.

Tuhan mulai mempersiapkan karakter kita supaya ketika pintu itu dibuka kita siap memasukinya.

Kita meminta agar tekanan dihilangkan.

Tuhan mulai mengajarkan bahwa damai sejahtera tidak harus bergantung kepada situasi.

Kita meminta:

“Tuhan, keluarkan aku dari proses ini.”

Namun melalui proses itu Tuhan mungkin sedang berkata:

“Aku sedang membentukmu.”

Kadang Perubahan Terbesar Terjadi dalam Diri Kita

Bayangkan seseorang memasuki masa sulit dengan karakter tertentu.

Ia mudah marah.

Ia tidak sabar.

Ia sangat bergantung pada pujian orang lain.

Ia merasa dapat mengendalikan semuanya.

Ia sulit mengampuni.

Kemudian melalui perjalanan panjang bersama Tuhan, sesuatu mulai berubah.

Ia menjadi lebih sabar.

Lebih berhati-hati berbicara.

Lebih memahami penderitaan orang lain.

Lebih mudah bersyukur.

Lebih rendah hati.

Lebih bergantung kepada Tuhan.

Persoalannya mungkin tidak pernah ia pilih.

Namun ketika melihat ke belakang, ia dapat berkata:

“Aku tidak ingin mengalami masa itu lagi, tetapi melalui masa itu Tuhan mengubah hidupku.”

Ini tidak berarti kita menyebut penderitaan sebagai sesuatu yang baik.

Kita hanya mengakui bahwa Tuhan mampu menghasilkan sesuatu yang baik bahkan dari situasi yang buruk.

Tekanan Menunjukkan Apa yang Ada di Dalam Hati

Ada sebuah gambaran sederhana.

Jika sebuah gelas berisi kopi terguncang, yang keluar adalah kopi.

Mengapa?

Karena itulah yang ada di dalamnya.

Demikian juga tekanan kehidupan sering memperlihatkan apa yang sebenarnya berada di dalam hati kita.

Ketika mendapat kritik, bagaimana respons kita?

Ketika gagal, apa yang muncul?

Ketika orang lain mengecewakan kita, bagaimana kita bereaksi?

Ketika doa belum dijawab, apakah kita tetap percaya?

Tekanan tidak selalu menciptakan masalah dalam karakter kita.

Kadang tekanan hanya menyingkapkan sesuatu yang memang sudah ada.

Mungkin ada kemarahan yang belum selesai.

Ada kesombongan.

Ada ketakutan.

Ada kebutuhan berlebihan untuk mengendalikan keadaan.

Ada kepahitan.

Masa sulit dapat membawa semua itu ke permukaan sehingga Tuhan dapat mengerjakannya.

Dari Kepahitan Menuju Kedewasaan

Namun kita perlu memahami satu hal penting:

Penderitaan tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik.

Seseorang dapat mengalami kesulitan dan menjadi semakin matang.

Tetapi seseorang juga dapat mengalami kesulitan dan menjadi semakin pahit.

Karena itu respons kita sangat penting.

Kita dapat berkata:

“Karena aku pernah disakiti, aku tidak akan mempercayai siapa pun lagi.”

Atau kita dapat berkata:

“Aku akan belajar lebih bijaksana tetapi tidak kehilangan kemampuan mengasihi.”

Kita dapat berkata:

“Karena seseorang berbuat jahat kepadaku, aku akan membalas.”

Atau kita dapat berkata:

“Aku akan menyerahkan keadilan kepada Tuhan dan tidak membiarkan kebencian menguasai hidupku.”

Ibrani 12:15 mengingatkan kita agar tidak membiarkan akar pahit tumbuh.

Luka yang tidak diproses dapat berubah menjadi kepahitan.

Karena itu masa sulit perlu dibawa kepada Tuhan dengan jujur.

Kita boleh menangis.

Kita boleh mengakui kemarahan.

Kita boleh mengakui kekecewaan.

Tetapi jangan biarkan semua itu menjadi rumah permanen bagi jiwa kita.

Masa Sulit Dapat Membuat Kita Lebih Peka kepada Orang Lain

Salah satu hasil indah dari pengalaman sulit adalah munculnya empati.

Seseorang yang pernah mengalami kehilangan biasanya lebih memahami orang yang sedang berduka.

Seseorang yang pernah gagal lebih berhati-hati ketika berbicara kepada orang yang gagal.

Seseorang yang pernah mengalami kekurangan dapat lebih peka kepada mereka yang membutuhkan.

Seseorang yang pernah menunggu jawaban doa selama bertahun-tahun biasanya tidak mudah berkata kepada orang lain:

“Kurang iman.”

Ia memahami bahwa menunggu bisa sangat berat.

Paulus berkata dalam 2 Korintus 1:3–4 bahwa Allah menghibur kita dalam penderitaan supaya kita dapat menghibur orang lain.

Ini berarti pengalaman yang hari ini membuat kita menangis suatu saat dapat menjadi sumber penghiburan bagi orang lain.

Luka yang telah dipulihkan dapat menjadi tempat lahirnya pelayanan.

Air mata dapat menjadi bahasa empati.

Kesulitan dapat membuat kita menjadi manusia yang lebih lembut.

Masa Sulit Menata Kembali Prioritas Hidup

Ada hal-hal yang kelihatannya sangat penting ketika kehidupan berjalan lancar.

Tetapi saat mengalami kesulitan besar, perspektif kita dapat berubah.

Kita mulai menyadari bahwa:

hubungan yang baik lebih penting daripada gengsi,

kesehatan lebih berharga daripada banyak benda,

keluarga lebih penting daripada pujian manusia,

damai sejahtera lebih berharga daripada sekadar terlihat sukses,

dan berjalan bersama Tuhan lebih penting daripada memiliki semua yang kita inginkan.

Kesulitan kadang membawa kita kembali kepada pertanyaan mendasar:

“Apa yang sebenarnya penting dalam hidup saya?”

Yesus berkata:

“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.” (Matius 6:33)

Masa sulit dapat menolong kita menyusun kembali prioritas.

Hal yang dahulu berada di urutan pertama mungkin sebenarnya tidak terlalu penting.

Dan hal yang selama ini kita abaikan mungkin ternyata sangat berharga.

Tuhan Dapat Mempersiapkan Kita untuk Tanggung Jawab yang Lebih Besar

Sering kali sebelum Tuhan mempercayakan tanggung jawab besar kepada seseorang, ada proses pembentukan.

Yusuf tidak langsung menjadi penguasa di Mesir.

Ia belajar mengelola rumah Potifar.

Kemudian ia belajar bertanggung jawab di penjara.

Barulah kemudian ia mengelola kekayaan Mesir.

Daud tidak langsung menjadi raja setelah diurapi.

Ia melewati padang penggembalaan.

Menghadapi Goliat.

Menjadi panglima.

Kemudian hidup sebagai pelarian.

Proses itu membentuk dirinya.

Musa juga harus melewati puluhan tahun di padang Midian sebelum memimpin bangsa Israel.

Kadang kita berkata:

“Tuhan, berikan aku kesempatan yang lebih besar.”

Tetapi Tuhan mungkin sedang berkata:

“Aku sedang mempersiapkanmu untuk kesempatan itu.”

Karena tanggung jawab besar membutuhkan karakter yang kuat.

Karunia dapat membuka pintu.

Tetapi karakter menentukan apakah seseorang mampu bertahan ketika pintu itu terbuka.

Jangan Terlalu Cepat Meminta Proses Berakhir Tanpa Memahami Pelajarannya

Ketika berada dalam masa sulit, keinginan kita adalah segera keluar.

Kita berkata:

“Tuhan, kapan ini selesai?”

Itu sangat manusiawi.

Namun mungkin kita perlu menambahkan pertanyaan lain:

“Tuhan, apa yang perlu kupelajari sebelum masa ini selesai?”

“Apa yang perlu Engkau ubah dalam diriku?”

“Apa yang harus kulepaskan?”

“Apa yang harus kuperbaiki?”

“Karakter apa yang sedang Engkau bangun?”

Pertanyaan seperti ini tidak berarti kita menikmati penderitaan.

Tetapi kita tidak ingin penderitaan berlalu tanpa menghasilkan pertumbuhan.

Yakobus 1:4 berkata:

“Biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh.”

Kata “matang” menunjukkan proses.

Buah tidak menjadi matang dalam satu hari.

Demikian pula karakter.

Tuhan Memurnikan Seperti Emas

Alkitab juga menggunakan gambaran emas.

1 Petrus 1:6–7 berbicara tentang iman yang diuji seperti emas yang diuji dengan api.

Emas dimurnikan melalui panas.

Panas membantu memisahkan kotoran dari emas.

Demikian pula ujian kehidupan dapat menyingkapkan hal-hal yang perlu dibersihkan dalam diri kita.

Apakah iman kita bergantung kepada berkat?

Apakah pelayanan kita bergantung kepada pujian?

Apakah kasih kita hanya diberikan kepada orang yang memperlakukan kita dengan baik?

Apakah kita percaya kepada Tuhan hanya ketika doa dikabulkan?

Masa sulit membawa pertanyaan-pertanyaan ini ke permukaan.

Dan melalui proses itu iman dapat dimurnikan.

Kita mulai berkata:

“Tuhan, aku tidak hanya menginginkan pemberian-Mu. Aku menginginkan Engkau.”

Roma 5:3–5: Jalan dari Kesulitan Menuju Pengharapan

Mari memperhatikan kembali urutan yang diberikan Paulus.

Kesengsaraan → ketekunan → tahan uji → pengharapan.

Ada perjalanan.

Kesengsaraan tidak menjadi tujuan akhir.

Tuhan dapat memakainya untuk menghasilkan ketekunan.

Ketekunan membentuk karakter yang tahan uji.

Karakter yang telah diuji menghasilkan pengharapan.

Lalu Paulus berkata:

“Dan pengharapan tidak mengecewakan.”

Mengapa?

Karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus.

Artinya dasar pengharapan kita bukan:

“Semua pasti terjadi seperti yang saya inginkan.”

Dasar pengharapan adalah:

“Apa pun yang terjadi, kasih Tuhan tidak meninggalkan saya.”

Inilah iman yang matang.

Yakobus 1:2–4: Menjadi Dewasa melalui Ujian

Yakobus juga menggunakan kata yang penting:

“supaya kamu menjadi sempurna dan utuh.”

Yang dimaksud bukan manusia tanpa kesalahan.

Maksudnya adalah kedewasaan rohani.

Orang yang semakin dewasa tidak berarti tidak pernah menangis.

Ia menangis, tetapi masih mempunyai pengharapan.

Ia dapat kecewa, tetapi tidak membiarkan kekecewaan menghancurkan seluruh hidupnya.

Ia dapat gagal, tetapi bersedia bangkit kembali.

Ia dapat disakiti, tetapi tidak ingin hidup dikuasai kebencian.

Ia dapat menghadapi ketidakpastian, tetapi tetap mempunyai tempat untuk bersandar.

Itulah kedewasaan.

Jangan Membandingkan Proses Kita dengan Orang Lain

Kadang masa sulit terasa lebih berat karena kita melihat kehidupan orang lain.

Kita bertanya:

“Mengapa dia sudah berhasil sedangkan saya belum?”

“Mengapa doanya cepat dijawab?”

“Mengapa hidupnya terlihat lebih mudah?”

Namun kita tidak mengetahui keseluruhan perjalanan orang lain.

Setiap kehidupan mempunyai musim.

Setiap orang mempunyai proses.

Tuhan tidak membentuk semua orang dengan pola yang sama.

Karena itu fokuslah kepada perjalanan yang Tuhan percayakan kepada kita.

Jangan biarkan kemajuan orang lain membuat kita menganggap proses kita gagal.

Pertumbuhan rohani bukan perlombaan untuk melihat siapa yang lebih cepat.

Dari Pertanyaan “Mengapa?” Menuju “Untuk Apa?”

Dalam masa sulit, kita sering bertanya:

“Mengapa ini terjadi kepadaku?”

Kadang kita menemukan jawabannya.

Kadang tidak.

Tetapi ada pertanyaan lain yang dapat menolong:

“Tuhan, bagaimana aku dapat merespons keadaan ini dengan benar?”

“Untuk apa pengalaman ini dapat dipakai?”

“Bagaimana aku dapat menjadi lebih dewasa melalui ini?”

Pertanyaan “mengapa” melihat ke belakang.

Pertanyaan “untuk apa” membantu kita melihat ke depan.

Kita mungkin tidak pernah mengetahui semua alasan mengapa sesuatu terjadi.

Namun kita masih dapat memilih bagaimana menjalani hari berikutnya.

Refleksi Pribadi

Ketika berada dalam masa sulit, marilah bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah persoalan ini membuat saya semakin dekat atau semakin jauh dari Tuhan?
  • Apa yang sedang saya pelajari tentang kesabaran?
  • Apakah Tuhan sedang menunjukkan kelemahan karakter yang perlu diperbaiki?
  • Apakah saya terlalu bergantung kepada kemampuan sendiri?
  • Apakah ada kesombongan yang perlu dilepaskan?
  • Apakah ada luka yang mulai berubah menjadi kepahitan?
  • Apakah saya sedang belajar menjadi lebih peka terhadap penderitaan orang lain?
  • Apakah prioritas hidup saya perlu ditata kembali?
  • Apakah saya hanya meminta Tuhan mengubah keadaan, atau saya juga bersedia Tuhan mengubah diri saya?

Doa dalam Masa Pembentukan

“Tuhan, aku mengakui bahwa masa ini tidak mudah. Ada saat ketika aku lelah dan berharap semuanya segera selesai. Aku tetap memohon supaya Engkau membuka jalan dan mengubah keadaan yang sedang kuhadapi. Namun selama aku masih berada dalam proses ini, jangan biarkan proses ini berlalu tanpa mengubah hidupku. Ajarlah aku tekun, rendah hati, sabar, dan semakin bergantung kepada-Mu. Bersihkan hatiku dari kepahitan. Dewasakan imanku. Bentuklah aku menjadi pribadi yang lebih kuat tetapi tetap lembut, lebih bijaksana tetapi tetap rendah hati, dan lebih mampu memahami penderitaan orang lain. Pakailah bahkan masa yang sulit ini untuk kemuliaan-Mu.”

Peneguhan: Jangan Biarkan Masa Sulit Berlalu dengan Sia-Sia

Mungkin hari ini keadaan kita belum berubah.

Masalah masih ada.

Jawaban doa belum datang.

Jalan keluar belum sepenuhnya terlihat.

Tetapi ada satu pertanyaan penting:

Apakah kita sedang berubah?

Mungkin dahulu kita mudah panik, sekarang kita mulai belajar tenang.

Dahulu kita ingin mengendalikan semuanya, sekarang kita belajar menyerahkan kepada Tuhan.

Dahulu kita mudah menghakimi orang yang lemah, sekarang kita lebih memahami.

Dahulu doa hanyalah kebiasaan, sekarang doa menjadi kebutuhan.

Dahulu kita hanya mengetahui bahwa Tuhan setia, sekarang kita mulai mengalami kesetiaan-Nya.

Jika demikian, Tuhan sedang bekerja.

Kita mungkin meminta Tuhan mengubah situasi, tetapi Dia juga sedang mengubah hati.

Kita meminta pintu dibuka, tetapi Dia sedang mempersiapkan kita untuk memasuki pintu itu.

Kita meminta perjalanan dipercepat, tetapi Dia sedang memperkuat langkah kita.

Karena itu, jangan hanya berkata:

“Tuhan, keluarkan aku dari masa sulit ini.”

Belajarlah juga berdoa:

“Tuhan, bentuklah aku selama aku melewatinya.”

Roma 5:3–5 mengajarkan bahwa kesengsaraan dapat menghasilkan ketekunan, tahan uji, dan pengharapan.

Yakobus 1:2–4 mengajarkan bahwa ujian iman dapat membawa kita kepada kedewasaan.

Maka kita dapat meneguhkan hati:

Hari ini mungkin berat, tetapi hari yang berat tidak harus menjadi hari yang sia-sia. Tuhan dapat memakai proses ini untuk membangun ketekunan, mendewasakan iman, mengajarkan kerendahan hati, dan membawa kita semakin bergantung kepada-Nya. Kita mungkin sedang menunggu Tuhan mengubah keadaan, sementara tanpa kita sadari Tuhan sedang mengerjakan perubahan yang lebih dalam di dalam diri kita.

Tuhan belum selesai berkarya. Dia tidak hanya bekerja pada keadaan di sekitar kita; Dia juga sedang membentuk hati, karakter, dan iman kita menjadi semakin matang di dalam-Nya.

6. Jangan Menilai Seluruh Hidup dari Keadaan Hari Ini

Ada kecenderungan manusia untuk menilai seluruh perjalanan hidup berdasarkan apa yang sedang terjadi sekarang. Ketika hari ini terasa berat, kita mudah berkata, “Hidup saya selalu sulit.” Ketika mengalami kegagalan, kita mulai berpikir, “Mungkin saya memang tidak akan berhasil.” Ketika satu pintu tertutup, kita merasa seolah-olah semua jalan telah berakhir.

Padahal keadaan hari ini hanyalah satu bagian kecil dari keseluruhan perjalanan hidup kita.

Hari ini bukan keseluruhan cerita.

Kegagalan hari ini bukan kesimpulan akhir.

Air mata hari ini bukan gambaran seluruh masa depan.

Pintu yang tertutup hari ini bukan bukti bahwa Tuhan telah berhenti membuka jalan.

Kita hidup dalam waktu yang terbatas. Kita hanya dapat melihat apa yang terjadi sekarang dan mengingat apa yang telah terjadi kemarin. Tetapi Tuhan melihat seluruh perjalanan. Dia mengetahui apa yang sudah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan datang.

Itulah sebabnya Yesus berkata kepada Petrus dalam Yohanes 13:7:

“Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.”

Ayat ini mengandung satu kata yang sangat penting: “sekarang.”

Ada hal yang tidak kita mengerti sekarang.

Tetapi ketidakmengertian hari ini tidak berarti semuanya tidak mempunyai arti.

Satu Hari yang Buruk Bukan Berarti Seluruh Kehidupan Buruk

Ada hari-hari ketika segala sesuatu seolah datang bersamaan.

Pagi dimulai dengan persoalan.

Pekerjaan tidak berjalan sesuai rencana.

Ada perkataan seseorang yang melukai hati.

Kita menerima berita yang mengecewakan.

Tubuh terasa lelah.

Doa terasa berat.

Kemudian tanpa sadar kita berkata:

“Hidup saya benar-benar buruk.”

Tetapi kita perlu berhenti sejenak dan membedakan antara:

“Hari ini sedang sulit”

dan

“Seluruh hidup saya buruk.”

Keduanya tidak sama.

Satu halaman yang menyedihkan tidak menjadikan seluruh buku sebagai cerita kesedihan.

Satu musim hujan tidak berarti matahari tidak akan bersinar lagi.

Satu malam yang gelap tidak berarti pagi tidak akan datang.

Demikian pula satu hari yang berat tidak menentukan seluruh kehidupan.

Ratapan 3:22–23 memberikan pengharapan:

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi.”

Setiap pagi membawa kemungkinan yang baru.

Masalah kemarin mungkin belum sepenuhnya selesai, tetapi kasih setia Tuhan juga tidak berhenti.

Karena itu, ketika mengalami hari yang buruk, kita dapat berkata:

“Hari ini memang berat, tetapi hidupku lebih besar daripada hari ini.”

Jangan Membuat Keputusan Permanen Berdasarkan Emosi Sementara

Salah satu bahaya ketika berada dalam keadaan sulit adalah membuat kesimpulan besar ketika hati sedang sangat lelah.

Ketika kecewa, kita berkata:

“Aku tidak akan mencoba lagi.”

Ketika dikhianati, kita berkata:

“Aku tidak akan percaya siapa pun lagi.”

Ketika gagal, kita berkata:

“Aku tidak akan pernah berhasil.”

Ketika doa belum dijawab, kita berkata:

“Tuhan tidak peduli kepadaku.”

Padahal perasaan yang sedang kita alami sangat nyata, tetapi perasaan tidak selalu memberikan gambaran lengkap tentang kenyataan.

Kita dapat merasa tidak mempunyai harapan, sementara sebenarnya masih ada jalan yang belum kita lihat.

Kita dapat merasa sendirian, sementara sebenarnya Tuhan sedang mempersiapkan pertolongan.

Kita dapat merasa gagal total, padahal kita baru mengalami satu kegagalan dalam perjalanan panjang.

Karena itu, ketika hati sedang sangat lelah, jangan terlalu cepat membuat keputusan yang permanen.

Beristirahatlah.

Berdoalah.

Berbicaralah dengan orang yang dapat dipercaya.

Berikan waktu supaya pikiran menjadi lebih tenang.

Kadang apa yang terlihat sangat gelap pada malam hari terlihat berbeda setelah matahari terbit.

Satu Kegagalan Bukan Berarti Masa Depan Berakhir

Kegagalan merupakan salah satu pengalaman yang paling sulit diterima manusia.

Kita sudah mempersiapkan diri.

Sudah bekerja keras.

Sudah berdoa.

Sudah berharap.

Tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Kemudian kegagalan itu mulai berubah menjadi identitas.

Kita tidak lagi berkata:

“Saya gagal dalam hal ini.”

Kita mulai berkata:

“Saya adalah orang gagal.”

Ini sangat berbeda.

Kegagalan adalah sebuah peristiwa.

Kegagalan bukan identitas.

Petrus memberikan contoh yang sangat kuat.

Ia pernah dengan percaya diri mengatakan kepada Yesus bahwa ia siap mati bersama-Nya.

Tetapi ketika Yesus ditangkap, Petrus menyangkal-Nya tiga kali.

Bayangkan betapa berat rasa bersalah Petrus.

Lukas 22:62 mengatakan bahwa Petrus keluar dan menangis dengan sedih.

Jika Petrus menilai seluruh hidupnya berdasarkan malam itu, ia mungkin akan berkata:

“Aku sudah selesai.”

“Aku tidak layak lagi.”

“Aku telah gagal menjadi murid.”

Namun kebangkitan Kristus menunjukkan bahwa cerita Petrus belum berakhir.

Dalam Yohanes 21, Yesus memulihkan Petrus.

Yesus kembali mempercayakan pelayanan kepadanya:

“Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Petrus yang pernah gagal kemudian menjadi salah satu pemimpin penting gereja mula-mula.

Kegagalannya nyata.

Tetapi kegagalan itu bukan kata terakhir atas hidupnya.

Demikian pula kita.

Satu kegagalan tidak menentukan seluruh masa depan.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang kita lakukan setelah gagal.

Apakah kita belajar?

Apakah kita bangkit?

Apakah kita memperbaiki kesalahan?

Apakah kita kembali kepada Tuhan?

Kegagalan Dapat Menjadi Guru

Tidak semua kegagalan harus dianggap sebagai kehancuran.

Kadang kegagalan memberikan pelajaran yang keberhasilan tidak dapat berikan.

Keberhasilan dapat menunjukkan apa yang sudah kita lakukan dengan benar.

Kegagalan dapat menunjukkan apa yang masih perlu diperbaiki.

Melalui kegagalan kita dapat belajar:

lebih mempersiapkan diri,

lebih rendah hati,

lebih berhati-hati mengambil keputusan,

lebih menghargai nasihat,

lebih memahami keterbatasan,

dan lebih bergantung kepada Tuhan.

Amsal 24:16 berkata:

“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali.”

Ayat ini tidak berkata orang benar tidak pernah jatuh.

Ia dapat jatuh.

Bahkan berulang kali.

Tetapi cirinya adalah:

ia bangun kembali.

Kehidupan bukan mengenai berapa kali kita tidak pernah jatuh, tetapi juga mengenai kesediaan untuk bangkit ketika jatuh.

Satu Pintu Tertutup Bukan Berarti Semua Jalan Tertutup

Ada saat ketika kita sangat yakin terhadap suatu rencana.

Kita berharap mendapatkan suatu pekerjaan.

Kita berharap diterima di suatu tempat.

Kita berharap suatu hubungan berjalan seperti yang diinginkan.

Kita berharap sebuah rencana pelayanan berhasil.

Kita sudah membayangkan masa depan melalui pintu tersebut.

Kemudian pintunya tertutup.

Kekecewaan bisa sangat besar.

Karena dalam pikiran kita, itulah satu-satunya jalan.

Tetapi apa yang kita anggap sebagai satu-satunya jalan belum tentu merupakan satu-satunya jalan dalam rencana Tuhan.

Paulus pernah mengalami pintu yang tertutup.

Dalam Kisah Para Rasul 16:6–10, Paulus dan rekan-rekannya ingin memberitakan Injil di wilayah tertentu, tetapi Roh Kudus mencegah mereka.

Mereka kemudian mencoba arah lain.

Sekali lagi mereka tidak diizinkan.

Jika hanya melihat pintu yang tertutup, Paulus mungkin dapat merasa pelayanannya terhambat.

Tetapi kemudian ia mendapat penglihatan tentang seorang Makedonia.

Pintu yang tertutup di satu tempat mengarahkan Paulus ke tempat lain.

Dan dari perjalanan itu Injil memasuki wilayah Makedonia.

Kadang pintu tertutup bukan akhir.

Kadang pintu tertutup adalah arah baru.

Kita Tidak Selalu Mengetahui Mengapa Satu Pintu Ditutup

Kita harus berhati-hati untuk tidak mengklaim bahwa setiap pintu tertutup pasti langsung berasal dari Tuhan. Kadang pintu tertutup karena keputusan manusia, keterbatasan, kurangnya persiapan, atau faktor lain.

Namun bahkan ketika kita tidak memahami penyebabnya, kita masih dapat meminta Tuhan memberikan hikmat untuk menentukan langkah berikutnya.

Daripada terus berdiri di depan pintu yang tertutup sambil bertanya:

“Kenapa pintu ini tidak dibuka?”

mungkin kita juga perlu bertanya:

“Tuhan, ke mana aku harus melangkah sekarang?”

Ada saat ketika kita harus mengetuk lagi.

Ada saat ketika kita perlu memperbaiki diri dan mencoba kembali.

Tetapi ada pula saat ketika kita harus menerima bahwa jalan itu memang sudah berakhir dan mulai melihat kesempatan yang lain.

Hikmat rohani diperlukan untuk membedakannya.

Jangan Memaksakan Diri Masuk Melalui Pintu yang Sudah Tertutup

Kadang kesulitan kita bertambah karena kita tidak mau melepaskan satu rencana.

Kita sudah menetapkan:

“Hidup saya harus seperti ini.”

“Jawaban Tuhan harus seperti ini.”

“Saya harus berhasil melalui jalan ini.”

Kemudian ketika tidak terjadi, kita menjadi marah, kecewa, bahkan merasa Tuhan tidak adil.

Padahal mungkin ada saat ketika Tuhan meminta kita membuka tangan.

Selama tangan kita menggenggam terlalu erat satu rencana, kita sulit menerima sesuatu yang berbeda.

Amsal 16:9 berkata:

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.”

Kita boleh mempunyai rencana.

Bahkan kita perlu mempunyai rencana.

Tetapi orang percaya belajar berkata:

“Tuhan, inilah rencanaku, tetapi aku bersedia Engkau mengarahkan langkahku.”

Kita Hanya Melihat Sebagian Kecil Perjalanan

Bayangkan seseorang melihat bagian belakang sebuah sulaman.

Yang terlihat hanyalah benang-benang yang saling bersilang.

Ada simpul.

Ada warna yang tampaknya tidak teratur.

Sulit memahami gambar apa yang sedang dibuat.

Tetapi ketika sulaman itu dibalik, barulah terlihat gambar yang utuh.

Kadang kehidupan terasa seperti melihat bagian belakang sulaman.

Kita melihat potongan-potongan:

kegagalan,

penundaan,

kehilangan,

pertemuan,

perpisahan,

kesempatan,

pintu tertutup,

pintu terbuka.

Kita bertanya:

“Apa hubungan semua ini?”

Kita belum melihat gambar lengkap.

Tetapi Tuhan melihat keseluruhannya.

Mazmur 139:16 berkata:

“Dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya.”

Ini menunjukkan pengetahuan Tuhan yang melampaui keterbatasan kita.

Kita hanya mengetahui hari ini.

Tuhan mengetahui keseluruhan.

Karena itu iman berarti mempercayakan bagian yang belum kita lihat kepada Dia yang melihat seluruh perjalanan.

Yusuf Tidak Memahami Keseluruhan Cerita ketika Berada di Sumur

Kita kembali dapat belajar dari Yusuf.

Ketika saudara-saudaranya memasukkannya ke dalam sumur, Yusuf belum mengetahui bahwa suatu hari ia akan memegang kekuasaan di Mesir.

Ketika dijual menjadi budak, ia tidak mengetahui bahwa rumah Potifar akan menjadi tempat ia belajar mengelola tanggung jawab.

Ketika difitnah dan dipenjara, ia tidak mengetahui bahwa penjara akan mempertemukannya dengan juru minuman Firaun.

Ketika juru minuman melupakannya, ia tidak mengetahui bahwa penundaan itu akan berakhir pada waktu ketika Firaun membutuhkan seseorang untuk menafsirkan mimpi.

Jika Yusuf menilai seluruh hidupnya hanya dari satu bagian, kesimpulannya mungkin sangat berbeda.

Di sumur:

“Hidupku hancur.”

Dalam perbudakan:

“Masa depanku selesai.”

Di penjara:

“Tuhan telah melupakan aku.”

Tetapi setelah bertahun-tahun, Yusuf mampu berkata dalam Kejadian 50:20 bahwa apa yang dirancang manusia sebagai kejahatan dipakai Allah menuju kebaikan.

Ia baru memahami cerita itu setelah melihat perjalanan dari sudut pandang yang lebih jauh.

Yohanes 13:7 — “Engkau Akan Mengertinya Kelak”

Dalam Yohanes 13, Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya.

Petrus tidak memahami tindakan itu.

Dalam pikirannya, seorang Guru dan Tuhan seharusnya tidak membasuh kaki murid.

Karena itu Petrus bertanya.

Lalu Yesus berkata:

“Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.”

Secara langsung ayat ini berbicara tentang tindakan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Namun prinsipnya memberikan pelajaran yang lebih luas tentang keterbatasan pemahaman manusia.

Ada perbedaan antara:

“Aku tidak memahami sekarang”

dan

“Ini tidak mempunyai arti.”

Kita sering menyamakan keduanya.

Karena kita tidak mengerti, kita berpikir tidak ada tujuan.

Karena kita tidak melihat jalan, kita berpikir tidak ada jalan.

Karena jawaban belum datang, kita berpikir Tuhan tidak bekerja.

Tetapi Yesus mengingatkan bahwa ada hal yang baru dipahami kelak.

Tidak Semua Hal Akan Kita Mengerti dalam Hidup Ini

Namun kita juga perlu realistis.

Tidak setiap pertanyaan akan mendapat jawaban lengkap selama kita hidup.

Ada penderitaan yang mungkin tetap menjadi misteri.

Ada kehilangan yang mungkin tidak pernah dapat kita jelaskan sepenuhnya.

Ada kejadian yang kita bawa sebagai pertanyaan sampai akhir hidup.

Karena itu iman bukan berarti kita akan selalu menerima penjelasan.

Iman juga berarti kita belajar mempercayai Tuhan ketika penjelasan belum tersedia.

Ulangan 29:29 berkata:

“Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita.”

Ada hal yang Tuhan nyatakan.

Ada hal yang tetap tersembunyi.

Kedewasaan rohani berarti kita dapat hidup dengan kenyataan bahwa kita tidak mengetahui semuanya.

Jangan Biarkan Keadaan Sementara Memberi Nama Permanen kepada Diri Kita

Ada orang yang mengalami satu kegagalan lalu menyebut dirinya:

“Gagal.”

Seseorang ditolak lalu berkata:

“Aku tidak berharga.”

Seseorang ditinggalkan lalu berkata:

“Aku tidak layak dicintai.”

Seseorang kehilangan pekerjaan lalu berkata:

“Aku tidak berguna.”

Kita harus berhati-hati.

Keadaan bukan identitas.

Apa yang terjadi kepada kita tidak selalu menjelaskan siapa kita sebenarnya.

Identitas orang percaya berakar pada hubungan dengan Tuhan.

Efesus 2:10 menyebut kita sebagai buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik.

Karena itu kegagalan tidak mempunyai kuasa untuk memberikan definisi terakhir tentang siapa diri kita.

Jangan Membandingkan Bab Kita dengan Bab Orang Lain

Salah satu alasan kita mudah menilai hidup buruk adalah karena membandingkannya dengan orang lain.

Kita melihat seseorang sedang berada dalam “bab keberhasilan.”

Kita sendiri sedang berada dalam “bab penantian.”

Kemudian kita bertanya:

“Mengapa hidupnya lebih baik?”

Tetapi kita tidak membaca keseluruhan bukunya.

Kita tidak tahu pergumulan yang pernah ia alami.

Kita tidak mengetahui tantangan yang masih akan ia hadapi.

Membandingkan satu bagian kehidupan kita dengan bagian terbaik yang terlihat dari kehidupan orang lain hanya akan menghasilkan tekanan.

Yesus pernah berkata kepada Petrus mengenai Yohanes:

“Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” (Yohanes 21:22)

Dengan kata lain:

Fokuslah pada perjalananmu bersama Tuhan.

Masa Depan Tidak Ditentukan Hanya oleh Masa Lalu

Ada orang yang terus hidup di bawah bayang-bayang masa lalu.

Kesalahan dahulu.

Kegagalan dahulu.

Pilihan buruk.

Kesempatan yang hilang.

Kemudian mereka berpikir:

“Masa depan saya sudah ditentukan oleh masa lalu.”

Memang setiap keputusan mempunyai konsekuensi.

Kita tidak boleh menganggap masa lalu tidak penting.

Tetapi anugerah Tuhan berarti masa lalu tidak harus menjadi penguasa mutlak atas masa depan.

Paulus mempunyai masa lalu yang sangat berat.

Sebelum menjadi rasul, ia menganiaya gereja.

Jika manusia hanya menilai Paulus dari masa lalunya, tidak seorang pun akan membayangkan ia akan menjadi pemberita Injil yang besar.

Tetapi Tuhan mengubah arah kehidupannya.

Dalam Filipi 3:13–14 Paulus berkata bahwa ia melupakan apa yang telah di belakangnya dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapannya.

Ini bukan berarti ia kehilangan ingatan tentang masa lalu.

Artinya, ia tidak membiarkan masa lalu menghentikan panggilannya ke depan.

Terkadang Kita Baru Mengerti Setelah Bertahun-tahun

Ada pengalaman yang dahulu membuat kita marah.

Bertahun-tahun kemudian kita berkata:

“Sekarang saya mengerti.”

Kita pernah kecewa tidak diterima di satu tempat.

Kemudian ternyata kita masuk ke tempat lain yang lebih sesuai.

Kita pernah kecewa karena sesuatu tertunda.

Kemudian kita menyadari bahwa pada waktu sebelumnya kita sebenarnya belum siap.

Kita pernah kehilangan satu kesempatan.

Namun kehilangan itu memaksa kita mengembangkan kemampuan yang akhirnya membuka kesempatan berbeda.

Inilah sebabnya perspektif waktu sangat penting.

Jangan memberi keputusan akhir pada peristiwa yang masih terlalu dekat.

Ada hal-hal yang hanya dapat dipahami setelah kita melihatnya dari jarak tertentu.

Tetapi Jangan Menggunakan “Rencana Tuhan” untuk Mengabaikan Tanggung Jawab

Percaya bahwa Tuhan melihat keseluruhan bukan berarti kita pasif.

Jika kegagalan terjadi karena kurang persiapan, kita harus memperbaikinya.

Jika pintu tertutup karena keterampilan kita belum cukup, kita perlu belajar.

Jika hubungan rusak karena kesalahan kita, kita perlu meminta maaf.

Jika masalah muncul karena keputusan yang tidak bijaksana, kita perlu mengambil tanggung jawab.

Iman tidak menggantikan tanggung jawab.

Sebaliknya, iman memberi keberanian untuk menghadapi kenyataan dan belajar darinya.

Kita dapat percaya kepada Tuhan sambil berkata:

“Apa yang dapat saya perbaiki?”

“Apa yang perlu saya pelajari?”

“Apa langkah yang dapat saya lakukan hari ini?”

Ketika Hidup Terasa Berantakan, Lakukan Langkah Hari Ini

Kadang masa depan terasa terlalu besar untuk dipikirkan.

Kita belum tahu bagaimana menyelesaikan semuanya.

Dalam keadaan seperti ini, jangan memaksakan diri menyelesaikan seluruh kehidupan dalam satu hari.

Tanyakan:

“Apa satu hal yang dapat saya lakukan hari ini?”

Hari ini saya dapat berdoa.

Hari ini saya dapat menyelesaikan satu tanggung jawab.

Hari ini saya dapat meminta maaf.

Hari ini saya dapat menghubungi seseorang.

Hari ini saya dapat belajar satu hal baru.

Hari ini saya dapat beristirahat dengan cukup.

Hari ini saya dapat berhenti memikirkan sesuatu yang belum terjadi.

Yesus berkata dalam Matius 6:34:

“Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Kita menjalani kehidupan satu hari demi satu hari.

Jangan Memberi Titik ketika Tuhan Baru Memberi Koma

Ada sebuah ungkapan yang sangat sesuai dengan tema ini:

Jangan memberi titik pada cerita yang Tuhan baru beri koma.

Kadang kita berkata:

“Selesai.”

Tuhan berkata:

“Belum.”

Kita berkata:

“Tidak mungkin.”

Tuhan mungkin sedang membuka kemungkinan yang belum terlihat.

Kita berkata:

“Tidak ada jalan.”

Tuhan melihat jalan yang belum kita kenal.

Kita berkata:

“Ini akhir.”

Tuhan mungkin sedang membawa kita memasuki bab berikutnya.

Namun ungkapan ini bukan jaminan bahwa semua keinginan kita pasti akan terwujud. Yang dijanjikan bukan bahwa setiap rencana kita akan berhasil, tetapi bahwa Tuhan tetap dapat memimpin hidup kita bahkan ketika rencana berubah.

Hari Ini Adalah Bagian dari Proses, Bukan Kesimpulan

Jika hari ini kita menangis, itu adalah bagian perjalanan.

Jika hari ini kita kecewa, itu bagian perjalanan.

Jika hari ini kita gagal, itu bagian perjalanan.

Jika hari ini kita sedang menunggu, itu bagian perjalanan.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada halaman berikutnya.

Karena itu jangan menutup buku terlalu cepat.

Filipi 1:6 mengingatkan bahwa Dia yang memulai pekerjaan yang baik akan meneruskannya sampai selesai.

Tuhan masih bekerja.

Pertanyaan Refleksi

Mari bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah saya sedang menilai seluruh hidup berdasarkan satu masa sulit?
  • Apakah satu kegagalan telah saya jadikan identitas?
  • Apakah saya menganggap satu pintu tertutup berarti semua kemungkinan telah habis?
  • Adakah kegagalan yang sebenarnya dapat menjadi pelajaran?
  • Apakah saya sedang memaksakan satu rencana yang mungkin perlu saya serahkan kepada Tuhan?
  • Apa yang belum saya mengerti sekarang tetapi perlu saya percayakan kepada Tuhan?
  • Apakah saya sedang membandingkan perjalanan saya dengan perjalanan orang lain?
  • Apa satu langkah kecil yang dapat saya lakukan hari ini?

Doa Penyerahan

“Tuhan, ketika keadaan hari ini berat, jagalah aku supaya tidak menilai seluruh hidupku hanya berdasarkan apa yang sedang kualami sekarang. Ketika aku gagal, ingatkan aku bahwa kegagalan bukan identitasku. Ketika satu pintu tertutup, berikan aku hikmat untuk mengetahui apakah aku harus mencoba kembali atau berjalan menuju arah yang baru. Ketika aku tidak mengerti pekerjaan-Mu, ajarlah aku mempercayai-Mu. Aku hanya melihat sebagian kecil dari perjalanan ini, tetapi Engkau melihat keseluruhannya. Berikan aku kekuatan untuk menjalani bagian yang ada di hadapanku hari ini.”

Peneguhan: Cerita Belum Selesai

Jika hari ini adalah hari yang buruk, jangan menyebut seluruh kehidupan buruk.

Jika hari ini kita gagal, jangan berkata masa depan sudah berakhir.

Jika hari ini satu pintu tertutup, jangan langsung berkata Tuhan tidak mempunyai jalan lain.

Jika hari ini kita tidak memahami apa yang terjadi, jangan menganggap semuanya tidak mempunyai makna.

Ingat perkataan Yesus dalam Yohanes 13:7:

“Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.”

Ada kata sekarang.

Ada juga kata kelak.

Di antara sekarang dan kelak terdapat perjalanan iman.

Kita mungkin hanya melihat satu halaman.

Tuhan melihat seluruh buku.

Kita melihat satu kepingan.

Tuhan melihat keseluruhan gambar.

Kita melihat satu pintu tertutup.

Tuhan mengetahui semua jalan.

Maka jangan membuat kesimpulan akhir terlalu cepat.

Hari ini mungkin berat, tetapi hari ini bukan seluruh hidup kita. Satu kegagalan bukan akhir masa depan. Satu pintu tertutup bukan akhir perjalanan. Apa yang belum kita mengerti sekarang dapat menjadi lebih jelas kemudian.

Dan sekalipun tidak semua hal akhirnya dapat kita pahami, kita tetap dapat mempercayai Tuhan yang memegang seluruh perjalanan.

Jangan menilai seluruh hidup dari keadaan hari ini, sebab Tuhan belum selesai berkarya.

7. Belajar Tetap Percaya di Tengah Ketidakpastian

Salah satu ujian terbesar dalam kehidupan iman bukan ketika semuanya berjalan baik, melainkan ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketidakpastian dapat membuat manusia gelisah karena kita secara alami ingin mengetahui arah, hasil, dan akhir dari setiap perjalanan. Kita ingin tahu apakah usaha kita akan berhasil, apakah keadaan akan membaik, apakah doa akan dijawab, dan apakah masa depan akan berjalan sesuai dengan harapan.

Namun kehidupan tidak selalu memberikan kepastian seperti itu.

Ada masa ketika kita sudah berdoa, tetapi belum mengetahui jawabannya.

Ada masa ketika kita sudah berusaha, tetapi hasilnya belum terlihat.

Ada masa ketika kita berdiri di persimpangan dan belum mengetahui jalan mana yang harus ditempuh.

Ada masa ketika keadaan ekonomi tidak menentu, pekerjaan belum pasti, kesehatan menjadi perhatian, hubungan mengalami tekanan, dan masa depan terasa seperti tertutup kabut.

Dalam keadaan seperti inilah iman memperoleh maknanya yang paling dalam.

Percaya kepada Tuhan bukan hanya ketika kita mengetahui apa yang akan terjadi. Percaya berarti tetap berpegang kepada Tuhan ketika kita belum mengetahui bagaimana akhirnya.

Habakuk 3:17–19 memberikan gambaran yang sangat kuat tentang iman seperti ini.

Percaya kepada Tuhan Bukan Hanya Ketika Keadaan Baik

Sangat mudah berkata, “Tuhan baik,” ketika kehidupan berjalan sesuai keinginan.

Ketika doa dijawab, kita bersyukur.

Ketika kesehatan baik, kita memuji Tuhan.

Ketika pekerjaan berjalan lancar, kita berkata Tuhan memberkati.

Ketika keluarga berada dalam keadaan baik, hati kita tenang.

Namun pertanyaan iman yang lebih dalam adalah:

Apakah Tuhan tetap baik ketika keadaan kita tidak baik?

Apakah kita tetap mempercayai-Nya ketika doa belum dijawab?

Apakah kita tetap beribadah ketika persoalan belum selesai?

Apakah kita tetap bersyukur ketika hasil yang kita harapkan belum datang?

Apakah kita tetap percaya ketika kita tidak memahami jalan Tuhan?

Iman yang hanya hidup ketika keadaan baik akan sangat mudah berubah mengikuti situasi.

Hari ini percaya karena semuanya berjalan lancar.

Besok kecewa kepada Tuhan karena sesuatu tidak sesuai keinginan.

Tetapi iman yang dewasa perlahan-lahan belajar membedakan antara keadaan yang berubah dan karakter Tuhan yang tidak berubah.

Keadaan berubah.

Perasaan berubah.

Manusia berubah.

Rencana berubah.

Tetapi Tuhan tetap setia.

Ibrani 13:8 mengatakan:

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”

Karena itu dasar iman kita bukan keadaan yang stabil, melainkan Tuhan yang setia.

Ketidakpastian Membuka Pertanyaan tentang Dasar Kepercayaan Kita

Ketika masa depan jelas, kita mudah merasa aman.

Kita tahu pendapatan kita.

Kita tahu pekerjaan kita.

Kita tahu rencana bulan depan.

Kita sudah mempersiapkan beberapa tahun ke depan.

Semua itu baik. Perencanaan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia.

Namun hidup terkadang berubah begitu cepat.

Sesuatu yang kita anggap pasti ternyata berubah.

Pekerjaan dapat berubah.

Kondisi ekonomi dapat berubah.

Kesehatan dapat berubah.

Hubungan manusia dapat berubah.

Rencana perjalanan dapat berubah.

Pada saat itu kita disadarkan bahwa kepastian terbesar dalam kehidupan bukanlah keadaan.

Kepastian terbesar orang percaya adalah kehadiran Tuhan.

Amsal 3:5–6 berkata:

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Percaya kepada Tuhan tidak berarti kita berhenti berpikir.

Bukan berarti kita tidak merencanakan.

Bukan berarti kita mengabaikan kenyataan.

Percaya berarti setelah menggunakan hikmat, pengetahuan, dan usaha terbaik kita, kita mengakui bahwa hidup tetap berada dalam tangan Tuhan.

Iman Justru Diuji Ketika Jawaban Belum Terlihat

Jika seseorang sudah melihat hasil, ia tidak lagi membutuhkan iman untuk mempercayai bahwa hasil itu ada.

Tetapi ketika hasil belum terlihat, di situlah kepercayaan diuji.

Ibrani 11:1 berkata bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Abraham memberikan contoh penting.

Tuhan menjanjikan keturunan kepadanya.

Namun janji tersebut tidak langsung digenapi.

Tahun demi tahun berlalu.

Usianya bertambah.

Sara juga semakin tua.

Secara manusiawi, kemungkinan itu semakin kecil.

Tetapi Roma 4 menggambarkan Abraham tetap berharap sekalipun secara manusiawi keadaan tampak tidak mendukung.

Itulah iman.

Bukan menyangkal kenyataan.

Abraham mengetahui usianya.

Ia mengetahui keadaan Sara.

Tetapi ia juga mengetahui siapa yang memberikan janji.

Di sinilah perbedaan antara iman dan sekadar optimisme.

Optimisme berkata:

“Saya yakin semuanya akan berjalan seperti yang saya inginkan.”

Iman berkata:

“Saya tidak tahu bagaimana semuanya akan berjalan, tetapi saya mempercayai Tuhan.”

Iman Tidak Selalu Memberikan Kita Semua Jawaban

Kadang kita berpikir bahwa semakin kuat iman seseorang, semakin banyak ia mengetahui jawaban atas semua persoalan.

Padahal sering kali kedewasaan iman justru terlihat ketika seseorang mampu berkata:

“Saya tidak tahu.”

“Saya tidak tahu mengapa ini terjadi.”

“Saya tidak tahu kapan keadaan berubah.”

“Saya tidak tahu bagaimana persoalan ini akan selesai.”

“Tetapi saya tahu kepada siapa saya percaya.”

Paulus berkata dalam 2 Timotius 1:12:

“Aku tahu kepada siapa aku percaya.”

Perhatikan, Paulus tidak berkata:

“Aku mengetahui seluruh rencana masa depanku.”

Ia mengetahui Pribadi yang dipercayainya.

Ada perbedaan antara mengetahui masa depan dan mengenal Tuhan yang memegang masa depan.

Orang percaya tidak selalu diberikan peta lengkap.

Sering kali kita hanya diberikan terang yang cukup untuk langkah berikutnya.

Mazmur 119:105 berkata:

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Pelita pada zaman Alkitab tidak menerangi jalan beberapa kilometer ke depan.

Ia menerangi langkah dekat.

Demikian pula Tuhan kadang tidak menunjukkan seluruh perjalanan.

Dia memberi terang untuk langkah hari ini.

Habakuk Hidup dalam Situasi yang Tidak Baik-Baik Saja

Habakuk adalah nabi yang hidup dalam masa penuh pergumulan.

Ia melihat ketidakadilan.

Ia melihat kekerasan.

Ia melihat keadaan bangsanya yang memburuk.

Ia bertanya kepada Tuhan mengapa semua itu terjadi.

Habakuk 1 menunjukkan bahwa nabi ini tidak diam terhadap kebingungannya.

Ia berseru:

“Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar?”

Habakuk adalah orang beriman.

Namun ia mempunyai pertanyaan.

Ini kembali mengingatkan kita bahwa iman dan pertanyaan tidak selalu bertentangan.

Kita dapat mempercayai Tuhan sekaligus mengatakan:

“Tuhan, aku belum mengerti.”

Perjalanan kitab Habakuk sangat menarik karena pada awal kitab kita menemukan nabi yang banyak bertanya.

Tetapi di akhir kitab kita menemukan nabi yang tetap percaya.

Situasinya belum tentu menjadi lebih mudah.

Yang berubah adalah cara Habakuk melihat Tuhan dan keadaan.

Habakuk 3:17 — Ketika Semua Sumber Kehidupan Gagal

Habakuk berkata:

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang…”

Untuk pembaca modern, ayat ini dapat terdengar seperti daftar masalah pertanian.

Tetapi bagi masyarakat pada zaman Habakuk, ini adalah gambaran kehancuran ekonomi yang sangat serius.

Pohon ara tidak berbunga berarti sumber makanan terganggu.

Pohon anggur tidak berbuah berarti hasil pertanian gagal.

Zaitun gagal berarti minyak yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari tidak tersedia.

Ladang tidak menghasilkan makanan berarti ancaman kelaparan.

Kambing domba dan lembu tidak ada berarti kekayaan dan sumber kehidupan juga hilang.

Dengan bahasa masa kini, kita dapat membayangkannya seperti:

pendapatan hilang,

tabungan menipis,

usaha gagal,

harga kebutuhan meningkat,

pekerjaan tidak pasti,

dan sumber ekonomi keluarga terganggu.

Habakuk tidak sedang berbicara tentang satu masalah kecil.

Ia sedang menggambarkan keadaan ketika hampir semua penopang ekonomi runtuh.

“Namun Aku Akan Bersorak-sorak di dalam TUHAN”

Setelah menggambarkan keadaan yang sangat buruk, Habakuk mengatakan sesuatu yang mengejutkan:

“Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.”
(Habakuk 3:18)

Kata yang sangat penting adalah:

“Namun.”

Keadaan buruk, namun…

Hasil tidak ada, namun…

Masa depan belum jelas, namun…

Habakuk tidak mengatakan:

“Aku bersukacita karena tanaman gagal.”

Ia tidak bersukacita karena ekonomi hancur.

Ia tidak berpura-pura bahwa masalah tidak ada.

Ia berkata:

“Aku tetap mempunyai alasan untuk bersukacita karena aku masih mempunyai Tuhan.”

Inilah salah satu bentuk iman yang paling matang.

Sukacita Habakuk tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada apa yang ada di ladang.

Ia bergantung kepada siapa yang menjadi Tuhan dalam hidupnya.

Sukacita Kristen Bukan Berarti Selalu Merasa Senang

Kita perlu membedakan sukacita dengan perasaan senang.

Perasaan senang biasanya muncul karena keadaan yang menyenangkan.

Kita menerima berita baik, kita senang.

Kita bertemu keluarga, kita senang.

Kita berhasil, kita senang.

Sukacita rohani lebih dalam.

Seseorang dapat menangis tetapi tetap mempunyai sukacita dalam Tuhan.

Seseorang dapat sedang mengalami persoalan tetapi masih memiliki pengharapan.

Seseorang dapat sedang berduka tetapi tetap percaya bahwa dirinya tidak ditinggalkan Tuhan.

Karena itu, ketika Habakuk berkata ia akan bersukacita, bukan berarti ia tertawa seolah-olah tidak ada masalah.

Sukacita yang ia miliki adalah keyakinan batin bahwa Allah tetap menjadi keselamatannya.

Filipi 4:4 berkata:

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!”

Perhatikan: dalam Tuhan.

Bukan selalu dalam keadaan.

Keadaan belum tentu menyenangkan.

Tetapi Tuhan tetap menjadi dasar sukacita.

Jika Sukacita Bergantung Sepenuhnya pada Keadaan, Kita Akan Mudah Goyah

Bayangkan jika ketenangan kita sepenuhnya bergantung kepada kondisi di sekitar.

Ketika ekonomi baik, kita tenang.

Ketika ekonomi turun, kita kehilangan damai.

Ketika orang memuji, kita bahagia.

Ketika dikritik, kita hancur.

Ketika rencana berhasil, kita percaya Tuhan.

Ketika gagal, kita meragukan Tuhan.

Hidup akan menjadi seperti perahu kecil yang terus diombang-ambingkan ombak.

Tuhan ingin memberikan dasar yang lebih kuat.

Yesus menggambarkannya dalam Matius 7 sebagai rumah yang dibangun di atas batu.

Hujan tetap turun.

Banjir tetap datang.

Angin tetap menerpa.

Perbedaannya bukan bahwa rumah tersebut bebas dari badai.

Perbedaannya adalah fondasinya.

Demikian juga iman.

Iman tidak selalu menghilangkan badai.

Iman memberikan fondasi ketika badai datang.

Habakuk 3:19 — Tuhan Memberikan Kekuatan untuk Berjalan

Habakuk melanjutkan:

“ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.”

Ini sangat penting.

Habakuk bukan hanya berkata Tuhan memberi sukacita.

Ia berkata Tuhan adalah kekuatannya.

Kaki rusa merupakan gambaran kemampuan untuk berjalan di tempat yang sulit dan berbatu.

Jadi Habakuk tidak berkata bahwa Tuhan langsung mengubah jalan berbatu menjadi jalan datar.

Ia berkata Tuhan memberinya kaki yang mampu melewati tempat sulit.

Ini sesuai dengan kenyataan kehidupan iman.

Kadang kita berdoa:

“Tuhan, ratakan jalan ini.”

Tetapi Tuhan memberikan kekuatan:

“Aku akan membuatmu mampu berjalan di atasnya.”

Kadang keadaan belum berubah.

Tetapi kita berubah.

Dahulu kita mudah panik.

Sekarang kita lebih tenang.

Dahulu sedikit masalah membuat kita ingin menyerah.

Sekarang kita mulai belajar bertahan.

Dahulu ketidakpastian membuat kita kehilangan arah.

Sekarang kita belajar berkata:

“Satu hari demi satu hari, aku akan berjalan bersama Tuhan.”

Ketidakpastian Tidak Sama dengan Ketiadaan Tuhan

Kita sering menyamakan ketidakpastian dengan ketidakhadiran Tuhan.

Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi, kita berpikir Tuhan tidak bekerja.

Padahal dua hal itu berbeda.

Bangsa Israel ketika keluar dari Mesir tidak mengetahui seluruh rute perjalanan mereka.

Namun Tuhan tetap memimpin dengan tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari.

Mereka tidak memiliki peta perjalanan empat puluh tahun.

Tetapi mereka memiliki kehadiran Tuhan.

Inilah pelajaran penting.

Kita mungkin tidak mempunyai kepastian mengenai segala sesuatu.

Tetapi kita dapat mempunyai kepastian mengenai satu hal:

Tuhan menyertai.

Mazmur 23:4 berkata:

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

Daud tidak berkata:

“Aku tidak pernah memasuki lembah.”

Ia berkata:

“Aku melewati lembah, tetapi Engkau bersamaku.”

Percaya Tidak Berarti Tidak Membuat Persiapan

Percaya kepada Tuhan di tengah ketidakpastian bukan berarti kita menjadi ceroboh.

Jika keadaan ekonomi tidak pasti, kita tetap perlu mengatur keuangan.

Jika pekerjaan tidak pasti, kita dapat meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan pilihan lain.

Jika kesehatan menjadi perhatian, kita perlu mencari pemeriksaan dan pertolongan yang tepat.

Jika ada keputusan penting, kita perlu mencari informasi dan nasihat yang bijaksana.

Iman bukan lawan dari perencanaan.

Yakobus 4:15 mengajarkan bahwa kita dapat membuat rencana dengan sikap:

“Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”

Kita merencanakan.

Tetapi kita tidak menjadikan rencana sebagai ilah.

Kita mempersiapkan diri.

Tetapi kita menyerahkan hasil kepada Tuhan.

Jangan Membiarkan Ketidakpastian Hari Esok Merampas Kekuatan Hari Ini

Salah satu bahaya terbesar dari ketidakpastian adalah kecemasan mengenai hal yang belum terjadi.

Kita mulai membayangkan:

“Bagaimana kalau ini terjadi?”

“Bagaimana kalau gagal?”

“Bagaimana kalau saya kehilangan ini?”

“Bagaimana kalau keadaan semakin buruk?”

Kemudian tubuh kita berada di hari ini, tetapi pikiran kita hidup di puluhan kemungkinan buruk masa depan.

Yesus berkata dalam Matius 6:34:

“Janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.”

Yesus bukan melarang perencanaan.

Ia memperingatkan agar kekhawatiran tentang hari esok tidak menghancurkan kemampuan kita menjalani hari ini.

Ada hal yang belum perlu kita selesaikan hari ini.

Hari ini kita hanya perlu melakukan bagian hari ini.

Besok kita akan menerima kekuatan untuk besok.

Percaya Berarti Melakukan yang Kita Bisa dan Menyerahkan yang Tidak Bisa

Dalam ketidakpastian, ada hal yang berada dalam kendali kita dan ada yang tidak.

Kita dapat mengendalikan usaha kita.

Tetapi kita tidak dapat mengendalikan seluruh hasil.

Kita dapat mengendalikan cara kita berbicara.

Tetapi kita tidak dapat mengendalikan respons semua orang.

Kita dapat merencanakan.

Tetapi kita tidak dapat mengetahui setiap kejadian masa depan.

Kita dapat menjaga kesehatan.

Tetapi kita tidak dapat mengendalikan semua hal yang mungkin terjadi.

Kedewasaan rohani membantu kita membedakan keduanya.

Lakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh.

Lalu serahkan kepada Tuhan apa yang tidak dapat kita kendalikan.

Mazmur 37:5 berkata:

“Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.”

Penyerahan bukan pasif.

Penyerahan adalah berhenti mencoba mengendalikan sesuatu yang memang berada di luar kemampuan kita.

Dari “Bagaimana Nanti?” Menjadi “Tuhan Ada Bersamaku”

Ketidakpastian sering membuat pertanyaan kita berpusat pada:

“Bagaimana nanti?”

Tetapi iman perlahan-lahan mengubah pusat perhatian.

Dari:

“Bagaimana nanti?”

menjadi:

“Siapa yang akan bersamaku nanti?”

Dan jawabannya:

Tuhan.

Kita mungkin belum mengetahui bentuk perjalanan.

Tetapi kita mengetahui siapa yang menemani.

Kita belum mengetahui semua tantangan.

Tetapi kita mengetahui sumber kekuatan.

Kita belum mengetahui bagaimana akhirnya.

Tetapi kita mengetahui bahwa hidup kita berada dalam tangan Tuhan.

Ada Perbedaan antara Kepastian dan Kepercayaan

Kita sering menginginkan kepastian.

“Tuhan, tunjukkan apa yang akan terjadi.”

“Tuhan, beritahu kapan selesai.”

“Tuhan, beri tanda bahwa semuanya akan baik.”

Tetapi Tuhan kadang tidak memberikan semua kepastian yang kita inginkan.

Sebaliknya, Dia mengundang kita untuk percaya.

Kepastian berkata:

“Saya percaya karena saya sudah mengetahui hasilnya.”

Kepercayaan berkata:

“Saya tetap berjalan walaupun belum mengetahui hasilnya.”

Di sinilah iman menjadi nyata.

Seorang anak kecil yang berjalan sambil menggenggam tangan ayahnya mungkin tidak mengetahui ke mana mereka akan pergi.

Tetapi ia merasa aman karena mengetahui siapa yang memegang tangannya.

Demikian juga hubungan kita dengan Tuhan.

Kita tidak selalu memerlukan seluruh peta jika kita sungguh mempercayai Sang Penuntun.

Jangan Mengukur Kesetiaan Tuhan dari Kecepatan Jawaban

Kadang kita mulai meragukan Tuhan karena jawaban terlalu lama.

Kita berpikir:

“Kalau Tuhan peduli, mengapa belum berubah?”

Namun kesetiaan Tuhan tidak dapat diukur hanya dari cepat atau lambatnya suatu jawaban.

Abraham menunggu.

Yusuf menunggu.

Daud menunggu.

Hana menunggu.

Bangsa Israel menunggu.

Para murid menunggu.

Masa menunggu merupakan bagian yang berulang kali muncul dalam Alkitab.

Mazmur 27:14 berkata:

“Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!”

Menunggu Tuhan bukan tanda bahwa iman kita tidak bekerja.

Kadang justru dalam menunggu iman sedang diperkuat.

Sukacita yang Tidak Dapat Dirampas Keadaan

Jika sukacita kita berakar pada Tuhan, dunia tidak mudah mengambilnya.

Keadaan dapat mengambil kenyamanan.

Tetapi tidak harus mengambil pengharapan.

Manusia dapat mengecewakan.

Tetapi tidak harus menghancurkan kepercayaan kita kepada Tuhan.

Pekerjaan dapat berubah.

Tetapi identitas kita di hadapan Tuhan tetap.

Rencana dapat gagal.

Tetapi hidup tidak kehilangan makna.

Inilah sebabnya Paulus dapat menulis tentang sukacita dari dalam penjara.

Ia tidak mempunyai keadaan ideal.

Tetapi ia mempunyai Kristus.

Refleksi Pribadi

Dalam menghadapi ketidakpastian, kita dapat bertanya:

  • Apakah iman saya hanya kuat ketika keadaan berjalan baik?
  • Apa yang paling membuat saya takut tentang masa depan?
  • Apakah saya sedang mencoba mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kemampuan saya?
  • Apakah saya masih melakukan tanggung jawab hari ini dengan setia?
  • Apakah sukacita saya terlalu bergantung kepada keberhasilan, harta, jabatan, atau penilaian manusia?
  • Bisakah saya tetap berkata Tuhan baik sekalipun jawaban belum datang?
  • Apakah saya lebih membutuhkan kepastian tentang masa depan atau hubungan yang semakin dalam dengan Tuhan?
  • Apa satu langkah yang dapat saya lakukan hari ini sambil tetap mempercayakan hasil kepada Tuhan?

Doa di Tengah Ketidakpastian

“Tuhan, ada banyak hal yang belum kuketahui tentang hari esok. Ada pertanyaan yang belum mempunyai jawaban, ada rencana yang belum jelas, dan ada keadaan yang membuat hatiku gelisah. Ajarlah aku untuk tidak membangun iman hanya berdasarkan keadaan. Berikan aku keberanian untuk tetap percaya ketika aku belum melihat jawaban. Seperti Habakuk, ajar aku menemukan sukacita di dalam Engkau, bukan hanya dalam berkat-Mu. Berikan aku kekuatan untuk melakukan tanggung jawab hari ini dan kerendahan hati untuk menyerahkan kepada-Mu hal-hal yang tidak dapat kukendalikan.”

Sekalipun, Namun Aku Tetap Percaya

Ada dua kata yang dapat merangkum iman Habakuk:

“Sekalipun” dan “namun.”

Sekalipun keadaan belum membaik,

namun aku tetap percaya.

Sekalipun jawaban belum terlihat,

namun aku tetap berdoa.

Sekalipun jalan belum jelas,

namun aku tetap melangkah.

Sekalipun hasil belum datang,

namun aku tetap setia.

Sekalipun apa yang kuharapkan tidak terjadi,

namun Tuhan tetap menjadi sumber pengharapanku.

Habakuk tidak mendapatkan sukacita karena semua persoalannya telah selesai. Ia mendapatkan sukacita karena menemukan bahwa di atas segala ketidakpastian, Tuhan tetaplah Tuhan.

Dan inilah iman yang kita perlukan ketika hidup tidak baik-baik saja.

Kita tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk mengambil langkah berikutnya.

Kita tidak harus memahami seluruh rencana Tuhan untuk tetap mempercayai-Nya.

Kita tidak harus melihat hasil untuk terus melakukan yang benar.

Hari ini mungkin penuh ketidakpastian, tetapi Tuhan tidak berubah. Keadaan dapat berguncang, tetapi Tuhan tetap menjadi dasar yang teguh. Sukacita kita tidak harus menunggu sampai semua masalah selesai, sebab kita masih memiliki Tuhan yang menyertai dan memberi kekuatan.

Maka bersama Habakuk kita belajar berkata:

“Sekalipun keadaan tidak seperti yang kuharapkan, namun aku akan tetap bersukacita di dalam Tuhan. Aku belum mengetahui bagaimana akhirnya, tetapi aku mengetahui siapa yang memegang hidupku. Karena itu aku akan tetap percaya, tetap berharap, dan tetap melangkah. Tuhan belum selesai berkarya.”

8. Jangan Berhenti Berdoa

Ketika hidup sedang berat, salah satu hal yang sering mulai melemah adalah kehidupan doa. Bukan karena kita tidak percaya kepada Tuhan, tetapi karena hati sudah terlalu lelah. Kita mungkin sudah berdoa berkali-kali, tetapi keadaan belum berubah. Kita sudah memohon, tetapi jawaban belum terlihat. Pada titik tertentu, muncul pertanyaan di dalam hati:

“Untuk apa saya terus berdoa jika keadaan tetap sama?”

Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi.

Ada masa ketika doa terasa mengalir dengan mudah. Kata-kata datang tanpa kesulitan. Hati penuh keyakinan. Kita merasa dekat dengan Tuhan.

Namun ada juga masa ketika doa terasa berat.

Kita membuka mulut, tetapi tidak tahu harus berkata apa.

Kita ingin berdoa, tetapi hati terlalu penuh.

Kita sudah mengucapkan permohonan yang sama berulang kali.

Dan ketika jawaban belum datang, kita mulai kehilangan semangat.

Justru pada masa seperti inilah firman Tuhan mengingatkan:

“Tetaplah berdoa.”
(1 Tesalonika 5:17)

Perintah ini sederhana, tetapi sangat dalam. Tuhan tidak berkata kita hanya perlu berdoa ketika keadaan baik. Kita dipanggil untuk tetap berdoa dalam segala musim kehidupan.

Ketika Keadaan Berat, Doa Sering Menjadi Hal Pertama yang Melemah

Ketika masalah datang, pikiran manusia mudah dipenuhi kekhawatiran.

Kita memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk.

Kita mencoba mencari jalan keluar.

Kita berbicara dengan banyak orang.

Kita menghitung kekuatan sendiri.

Semua itu tidak selalu salah. Memikirkan solusi dan mencari pertolongan adalah bagian dari tanggung jawab.

Namun ada bahaya ketika kita melakukan semuanya kecuali datang kepada Tuhan.

Kita terlalu sibuk memikirkan masalah sehingga tidak lagi mempunyai ketenangan untuk berdoa.

Padahal doa bukan aktivitas tambahan setelah semua cara manusia gagal.

Doa adalah bagian utama dari hubungan kita dengan Tuhan.

Filipi 4:6 berkata:

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Perhatikan perkataan:

“Dalam segala hal.”

Artinya tidak ada persoalan yang terlalu kecil untuk dibawa kepada Tuhan.

Tidak ada persoalan yang terlalu besar sehingga Tuhan tidak sanggup mendengarnya.

Apa pun yang sedang memenuhi hati, kita dapat membawanya dalam doa.

Doa Bukan Berarti Kita Tidak Boleh Merasa Lelah

Ada orang yang merasa bersalah karena ketika sedang mengalami masa sulit, kehidupan doanya tidak sekuat biasanya.

Kita perlu memahami bahwa kelelahan dapat memengaruhi tubuh, pikiran, dan kehidupan rohani.

Kadang kita begitu lelah sehingga hanya mampu berkata:

“Tuhan, tolong aku.”

Dan itu adalah doa.

Kadang kita hanya mampu menangis.

Air mata pun dapat menjadi bentuk doa ketika hati diarahkan kepada Tuhan.

Roma 8:26 mengatakan bahwa Roh membantu kita dalam kelemahan kita ketika kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa.

Ini memberikan penghiburan besar.

Tuhan tidak hanya mendengar doa-doa yang panjang dan indah.

Dia juga memahami:

doa yang terputus-putus,

doa yang hanya beberapa kata,

doa yang disertai air mata,

bahkan keluhan hati yang sulit diungkapkan.

Karena itu, jangan berhenti datang kepada Tuhan hanya karena kita merasa doa kita tidak sempurna.

Tuhan tidak menilai doa berdasarkan keindahan kalimat.

Dia melihat hati.

Justru dalam Masa Sulit Kita Perlu Semakin Mendekat kepada Tuhan

Ketika seseorang terluka, naluri manusia kadang adalah menarik diri.

Hal ini juga dapat terjadi dalam hubungan dengan Tuhan.

Karena kecewa, kita mulai jarang berdoa.

Karena tidak memahami keadaan, kita merasa jauh dari Tuhan.

Karena permohonan belum dijawab, kita berhenti berharap.

Tetapi masa sulit seharusnya bukan menjadi alasan untuk menjauh dari Tuhan.

Justru itulah masa ketika kita paling membutuhkan kehadiran-Nya.

Mazmur 62:9 berkata:

“Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya.”

Perhatikan kata:

“Curahkanlah.”

Ini bukan doa yang dibuat-buat.

Ini adalah doa yang jujur.

Kita boleh berkata:

“Tuhan, aku sedang kecewa.”

“Tuhan, aku tidak mengerti.”

“Tuhan, aku merasa doaku belum dijawab.”

“Tuhan, aku takut.”

“Tuhan, aku mulai lelah.”

Hubungan yang sehat dengan Tuhan membutuhkan kejujuran.

Tuhan sudah mengetahui isi hati kita.

Karena itu kita tidak perlu berpura-pura di hadapan-Nya.

Doa Bukan Sekadar Meminta Masalah Selesai

Kita sering mendefinisikan doa terutama sebagai permintaan:

“Tuhan, sembuhkan.”

“Tuhan, buka jalan.”

“Tuhan, berikan pekerjaan.”

“Tuhan, pulihkan keluarga.”

“Tuhan, selesaikan masalah.”

Semua permohonan ini sah.

Yesus sendiri mengajarkan kita untuk meminta kebutuhan sehari-hari.

Namun doa lebih luas daripada sekadar daftar permintaan.

Doa adalah perjumpaan dengan Tuhan.

Dalam doa kita bukan hanya membawa masalah kepada Tuhan.

Kita juga membawa diri kita.

Doa adalah tempat kita:

mencurahkan hati,

meminta hikmat,

menerima kekuatan,

menata kembali pikiran,

mengakui kesalahan,

mengucap syukur,

mendengarkan firman,

dan menyerahkan kehendak kita kepada Tuhan.

Karena itu, terkadang setelah berdoa masalah masih tetap ada, tetapi hati kita berubah.

Dan perubahan hati itu juga merupakan jawaban yang sangat penting.

Kadang Tuhan Tidak Langsung Mengubah Masalah, tetapi Memberi Damai

Filipi 4:6–7 memberikan urutan yang sangat menarik.

Pertama:

“Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah.”

Kemudian ayat berikutnya berkata:

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Perhatikan apa yang dijanjikan.

Paulus tidak berkata:

“Setelah kamu berdoa, semua masalah langsung hilang.”

Ia berkata:

Damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiran.

Ini sangat penting.

Kadang kita berdoa dengan harapan pertama:

“Tuhan, ubah keadaan.”

Namun Tuhan memberi sesuatu yang kita tidak duga:

ketenangan untuk menghadapi keadaan.

Masalah belum hilang, tetapi kepanikan mulai berkurang.

Jawaban belum terlihat, tetapi hati tidak lagi dikuasai ketakutan.

Masa depan belum jelas, tetapi kita mulai mampu berkata:

“Aku akan menjalani hari ini bersama Tuhan.”

Itulah damai yang melampaui akal.

Damai Tuhan Bukan Berarti Tidak Ada Masalah

Damai sejahtera Allah berbeda dari ketenangan yang dihasilkan oleh keadaan.

Ketenangan manusia sering berkata:

“Aku tenang karena semuanya sudah selesai.”

Damai Tuhan dapat berkata:

“Aku tenang meskipun semuanya belum selesai.”

Kita masih mempunyai persoalan.

Kita masih harus mengambil keputusan.

Kita masih perlu bekerja.

Kita masih menunggu.

Tetapi hati tidak lagi sepenuhnya dikuasai ketakutan.

Ini bukan sesuatu yang selalu terjadi secara instan. Kadang kita harus berulang kali membawa kekhawatiran yang sama kepada Tuhan.

Hari ini kita menyerahkan.

Besok rasa takut muncul lagi.

Kita menyerahkan lagi.

Itulah bagian dari perjalanan doa.

Doa Mengubah Cara Kita Melihat Masalah

Ketika kita terlalu dekat dengan masalah, masalah itu dapat terlihat sangat besar.

Ia memenuhi seluruh pandangan.

Seolah-olah tidak ada apa pun selain masalah tersebut.

Doa menolong kita mengubah perspektif.

Masalah mungkin tetap besar.

Tetapi dalam doa kita kembali melihat bahwa Tuhan lebih besar.

Kita diingatkan bahwa hidup kita tidak hanya terdiri dari keadaan hari ini.

Doa membawa kita keluar dari pusat diri dan membawa kita kembali kepada pusat yang benar: Tuhan.

Mazmur banyak menunjukkan pola ini.

Pemazmur sering memulai dengan keluhan.

Ia berbicara tentang musuh.

Tentang ketakutan.

Tentang penderitaan.

Tetapi setelah berbicara dengan Tuhan, nada doanya sering berubah.

Masalah belum tentu selesai.

Namun perspektifnya berubah.

Ia kembali mengingat siapa Tuhan.

Inilah salah satu karya doa.

Doa Bukan Cara Memaksa Tuhan

Ada pemahaman lain yang perlu diluruskan.

Doa bukan alat untuk memaksa Tuhan melakukan semua yang kita inginkan.

Kita tidak berdoa supaya kehendak Tuhan harus mengikuti kehendak kita.

Yesus memberikan teladan paling kuat di Getsemani.

Ia berdoa:

“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.”

Yesus mengungkapkan keinginan-Nya secara jujur.

Tetapi Dia melanjutkan:

“Namun janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
(Matius 26:39)

Inilah kedalaman doa.

Kita boleh meminta dengan sungguh-sungguh.

Kita boleh mengatakan apa yang kita inginkan.

Tetapi pada akhirnya doa membawa kita kepada penyerahan:

“Tuhan, aku menginginkan ini, tetapi aku mempercayai kehendak-Mu.”

Penyerahan seperti ini tidak mudah.

Tetapi di sinilah iman menjadi matang.

Doa Membentuk Kehendak Kita

Sering kali kita berpikir tujuan doa adalah mengubah pikiran Tuhan.

Padahal dalam proses doa, Tuhan juga sedang mengubah kita.

Kita datang dengan keinginan tertentu.

Setelah berdoa, kita mulai melihat keadaan dari sudut yang berbeda.

Kita mulai menyadari:

“Mungkin yang saya inginkan bukan yang paling baik.”

“Mungkin saya perlu bersabar.”

“Mungkin saya harus meminta maaf.”

“Mungkin saya harus berhenti memaksakan sesuatu.”

“Mungkin saya perlu mengambil langkah berbeda.”

Doa yang sehat bukan hanya berkata:

“Tuhan, lakukan apa yang saya mau.”

Doa juga berkata:

“Tuhan, ubahlah apa yang harus diubah dalam diriku.”

Tuhan Mendengar Doa

Salah satu pergumulan terbesar ketika doa belum dijawab adalah keraguan:

“Apakah Tuhan mendengar?”

Alkitab berkali-kali menyatakan bahwa Tuhan mendengar seruan umat-Nya.

Mazmur 34:18 berkata:

“Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar.”

Namun mendengar tidak selalu berarti memberikan persis seperti yang kita minta pada saat yang kita tentukan.

Orang tua dapat mendengar permintaan anaknya tanpa selalu mengatakan “ya.”

Demikian pula jawaban Tuhan dapat berbeda-beda.

Ada doa yang dijawab:

Ya.

Ada doa yang jawabannya:

Tidak.

Ada yang:

Belum.

Ada pula jawaban yang berbeda dari apa yang kita pikir paling baik.

Kita tidak selalu memahami keputusan Tuhan.

Tetapi kita dapat percaya bahwa mendengar dan mengabulkan dengan cara kita adalah dua hal yang berbeda.

Jawaban yang Tertunda Bukan Berarti Doa Diabaikan

Alkitab memperlihatkan banyak orang yang harus menunggu.

Hana berdoa untuk seorang anak.

Abraham menunggu janji keturunan.

Daniel pernah mengalami jawaban yang tertunda.

Zakharia dan Elisabet menunggu begitu lama.

Masa menunggu ini menunjukkan bahwa doa bukan transaksi:

“Saya berdoa hari ini, Tuhan harus menjawab besok.”

Tuhan bekerja berdasarkan hikmat dan waktu-Nya.

Mazmur 27:14 berkata:

“Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!”

Menunggu jawaban doa membutuhkan ketekunan.

Dan justru dalam penantian itu iman dapat semakin dalam.

1 Tesalonika 5:17 — “Tetaplah Berdoa”

Ayat ini hanya terdiri dari kalimat yang sangat pendek:

“Tetaplah berdoa.”

Bukan berarti kita harus berada dalam posisi berlutut dua puluh empat jam sehari.

Maksudnya adalah hidup dalam hubungan yang terus terbuka kepada Tuhan.

Doa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Saat bangun pagi:

“Tuhan, pimpin aku hari ini.”

Saat mengambil keputusan:

“Tuhan, beri hikmat.”

Saat menerima kabar baik:

“Terima kasih, Tuhan.”

Saat menghadapi kesulitan:

“Tuhan, tolong aku.”

Saat melakukan kesalahan:

“Tuhan, ampuni aku.”

Saat melihat orang membutuhkan:

“Tuhan, tolong dia dan pakailah aku jika aku dapat menolong.”

Dengan demikian doa bukan hanya kegiatan pada jam tertentu.

Doa menjadi cara hidup.

Berdoa Tidak Menggantikan Tindakan

Ada prinsip penting lainnya.

Kita tidak boleh memakai doa sebagai alasan untuk tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya dapat kita lakukan.

Jika kita berdoa untuk pekerjaan, kita tetap perlu mencari pekerjaan.

Jika kita berdoa untuk kesehatan, kita tetap perlu menjaga tubuh dan mencari pertolongan medis ketika dibutuhkan.

Jika kita berdoa agar hubungan dipulihkan, kita tetap perlu membangun komunikasi, meminta maaf jika salah, dan mengambil langkah yang sehat.

Jika kita berdoa untuk kebutuhan orang miskin, kita juga perlu bersedia berbagi.

Yakobus 2 mengingatkan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati.

Doa dan tindakan bukan musuh.

Doa memberi arah dan kekuatan bagi tindakan.

Kita berdoa seolah-olah semuanya bergantung kepada Tuhan, dan kita melakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh.

Doa Juga Membutuhkan Keheningan

Doa sering hanya dipahami sebagai berbicara kepada Tuhan.

Tetapi hubungan tidak hanya terdiri dari berbicara.

Ada saatnya kita perlu diam.

Merenungkan firman.

Membiarkan pikiran tenang.

Memeriksa hati.

Mazmur 46:11 berkata:

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”

Dalam kehidupan yang penuh suara, berita, pesan, pekerjaan, dan kekhawatiran, keheningan rohani menjadi sangat penting.

Kadang kita tidak membutuhkan lebih banyak kata.

Kita membutuhkan ketenangan untuk mengingat bahwa Tuhan adalah Tuhan dan kita bukan.

Ketika Tidak Tahu Harus Berdoa Apa

Ada masa ketika seseorang berkata:

“Saya tidak tahu lagi harus berdoa apa.”

Dalam keadaan seperti ini, beberapa hal sederhana dapat dilakukan.

Kita dapat memakai Mazmur sebagai doa.

Kita dapat membaca satu ayat perlahan-lahan.

Kita dapat berdoa dengan satu kalimat:

“Tuhan, kasihanilah aku.”

“Tuhan, berikan aku kekuatan hari ini.”

“Tuhan, aku menyerahkan keluargaku kepada-Mu.”

Kita juga dapat meminta orang lain mendoakan kita.

Tidak ada keharusan bahwa kita selalu harus kuat sendirian.

Dalam Markus 2, orang lumpuh dibawa kepada Yesus oleh teman-temannya.

Ada masa ketika iman komunitas sangat penting untuk menopang seseorang yang sedang lemah.

Doa Syukur di Tengah Kesulitan

Filipi 4:6 tidak hanya menyebut doa dan permohonan.

Paulus menambahkan:

“dengan ucapan syukur.”

Mengucap syukur dalam kesulitan bukan berarti kita berpura-pura bahwa masalah itu baik.

Kita tidak bersyukur karena mengalami ketidakadilan.

Kita tidak harus menyebut kehilangan sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Namun kita dapat menemukan sesuatu yang tetap dapat disyukuri.

“Tuhan, masalah ini belum selesai, tetapi aku bersyukur karena masih ada orang yang mendukungku.”

“Tuhan, jalannya belum terlihat, tetapi aku bersyukur karena Engkau memberikan kekuatan hari ini.”

“Tuhan, aku sedang menangis, tetapi aku bersyukur karena aku masih dapat datang kepada-Mu.”

Ucapan syukur menolong hati kita tidak hanya melihat apa yang hilang, tetapi juga melihat apa yang masih Tuhan berikan.

Jangan Menjadikan Perasaan sebagai Ukuran Apakah Doa Didengar

Kadang setelah berdoa kita merasa sangat damai.

Tetapi kadang kita tidak merasakan apa pun.

Jangan menyimpulkan bahwa doa yang tidak disertai perasaan tertentu berarti tidak didengar.

Hubungan dengan Tuhan tidak dibangun hanya berdasarkan emosi.

Ada hari ketika kita berdoa dengan penuh sukacita.

Ada hari ketika doa terasa kering.

Tetapi kesetiaan berarti tetap datang.

Seperti hubungan manusia, kedekatan yang sehat dibentuk bukan hanya melalui momen emosional yang besar, tetapi melalui kesetiaan sehari-hari.

Ketekunan dalam Doa Membentuk Ketahanan Rohani

Setiap kali kita memilih kembali berdoa di tengah kesulitan, kita sedang membangun kebiasaan rohani:

daripada panik, kita belajar berdoa;

daripada menyimpan semuanya sendiri, kita belajar menyerahkan;

daripada langsung bereaksi, kita belajar mencari hikmat;

daripada menyerah, kita belajar berharap.

Proses ini tidak berarti kita tidak lagi pernah takut.

Namun kita mempunyai tempat untuk membawa ketakutan tersebut.

Doa tidak membuat kita selalu bebas dari pergumulan.

Doa membuat kita tidak harus menghadapi pergumulan sendirian.

Pertanyaan Refleksi

Mari kita merenungkan:

  • Apakah ketika keadaan semakin sulit, kehidupan doa saya justru semakin melemah?
  • Apakah saya hanya berdoa ketika membutuhkan sesuatu?
  • Apakah saya mampu datang kepada Tuhan dengan jujur tentang ketakutan dan kekecewaan?
  • Apakah saya sedang menganggap doa tidak berguna hanya karena jawabannya belum terlihat?
  • Apakah saya bersedia menerima kehendak Tuhan yang mungkin berbeda dari keinginan saya?
  • Adakah kekhawatiran yang perlu saya serahkan kembali kepada Tuhan hari ini?
  • Apakah ada tindakan nyata yang perlu saya lakukan setelah berdoa?
  • Apakah saya masih mampu menemukan sesuatu untuk disyukuri di tengah keadaan yang sulit?

Doa Penyerahan

“Tuhan, ketika keadaan menjadi berat, jangan biarkan aku menjauh dari-Mu. Ketika aku lelah berdoa, ingatkan aku bahwa Engkau tetap mendengar. Ketika aku tidak tahu harus berkata apa, ajarlah aku datang kepada-Mu dengan hati yang jujur. Aku membawa kekhawatiran, ketakutan, kebutuhan, dan harapanku kepada-Mu. Jika keadaan belum berubah, berikan aku kekuatan untuk tetap berjalan. Jika jawaban-Mu berbeda dari keinginanku, berikan aku kerendahan hati untuk menerima kehendak-Mu. Peliharalah hati dan pikiranku dengan damai sejahtera-Mu.”

Tetaplah Berdoa

Jika doa hari ini belum dijawab, jangan berhenti berdoa.

Jika hati sedang lelah, jangan berhenti datang kepada Tuhan.

Jika tidak mempunyai banyak kata, datanglah dengan beberapa kata.

Jika tidak mampu berkata apa-apa, datanglah dengan air mata.

Jika masalah belum selesai, mintalah kekuatan untuk menjalani hari ini.

Jika Tuhan membuka jalan, bersyukurlah.

Jika Tuhan meminta kita menunggu, tetaplah setia.

Filipi 4:6–7 mengingatkan bahwa ketika kekhawatiran dibawa kepada Allah dalam doa, permohonan, dan ucapan syukur, damai sejahtera-Nya akan memelihara hati dan pikiran kita.

Dan 1 Tesalonika 5:17 memberikan panggilan sederhana:

“Tetaplah berdoa.”

Doa mungkin tidak selalu langsung mengubah keadaan.

Namun doa membawa kita kepada Tuhan yang mampu mengubah keadaan, mengubah perspektif, memberi hikmat, menguatkan hati, dan menolong kita menerima kehendak-Nya.

Hari ini mungkin berat. Jawaban mungkin belum terlihat. Tetapi jangan biarkan kesulitan memutus hubungan kita dengan sumber kekuatan. Tetaplah berdoa, sebab Tuhan masih mendengar, Tuhan masih menyertai, dan Tuhan belum selesai berkarya.

9. Tetap Melangkah Meski Perlahan

Dalam kehidupan, kita sering mengukur kemajuan berdasarkan sesuatu yang besar. Kita merasa baru disebut berhasil apabila sudah mencapai target tertentu, memperoleh hasil yang terlihat, menyelesaikan masalah besar, atau mengalami perubahan yang cepat. Akibatnya, ketika kemajuan kita terasa lambat, kita mudah kecewa dan menganggap diri tidak berkembang.

Padahal tidak semua kemajuan harus besar.

Ada masa ketika langkah kecil justru merupakan bentuk keberanian yang sangat besar.

Kadang keberhasilan hari ini bukan memenangkan sesuatu yang besar, tetapi mampu bangun dari tempat tidur, berdoa, menjalankan tanggung jawab, bekerja sebaik mungkin, dan memilih untuk tidak menyerah.

Ada orang yang sedang berada dalam keadaan kuat sehingga mampu berlari. Ada yang hanya mampu berjalan. Ada pula yang hanya sanggup mengambil satu langkah kecil.

Namun selama seseorang masih bergerak ke arah yang benar, ia tetap sedang maju.

Galatia 6:9 berkata:

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehidupan iman membutuhkan ketekunan. Tidak semua yang kita tanam langsung memberikan hasil. Ada proses. Ada waktu menunggu. Ada masa ketika kita harus terus melangkah meskipun belum melihat buahnya.

Tidak Semua Kemajuan Harus Besar

Dunia sering mengajarkan kita untuk mengagumi pencapaian besar.

Kita melihat orang yang berhasil dalam pekerjaan.

Kita melihat seseorang mencapai posisi tertentu.

Kita melihat pelayanan berkembang.

Kita melihat orang mencapai target yang besar.

Kemudian kita membandingkan diri sendiri.

Kita berkata:

“Kenapa saya masih di sini?”

“Kenapa kemajuan saya lambat?”

“Kenapa orang lain sudah jauh di depan?”

Tetapi kehidupan bukan perlombaan yang mengharuskan semua orang berjalan dengan kecepatan yang sama.

Setiap orang mempunyai perjalanan yang berbeda.

Ada musim untuk berlari.

Ada musim untuk berjalan.

Ada masa ketika kita harus berhenti sebentar untuk memulihkan kekuatan.

Yang penting bukan seberapa cepat kita bergerak dibandingkan orang lain.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah saya masih bergerak ke arah yang benar?”

Satu langkah ke arah yang benar lebih baik daripada sepuluh langkah ke arah yang salah.

Langkah Kecil Tetaplah Kemajuan

Bayangkan seseorang menaiki sebuah gunung.

Ia tidak dapat mencapai puncak dengan satu langkah.

Ia harus mengambil ribuan langkah kecil.

Setiap langkah mungkin terlihat tidak berarti jika dilihat sendirian.

Tetapi ketika semua langkah itu dikumpulkan, akhirnya ia sampai ke tempat yang tinggi.

Demikian pula kehidupan.

Sebuah kebiasaan baik dimulai dengan tindakan kecil.

Iman yang kuat dibangun melalui doa sehari-hari.

Pengetahuan bertumbuh melalui belajar sedikit demi sedikit.

Hubungan dipulihkan melalui percakapan-percakapan yang jujur.

Karakter dibentuk melalui keputusan kecil yang dilakukan berulang kali.

Pelayanan berkembang melalui kesetiaan yang sering kali tidak dilihat banyak orang.

Jangan meremehkan langkah kecil.

Apa yang kecil hari ini dapat menjadi sesuatu yang besar setelah dilakukan dengan setia dalam waktu yang panjang.

Kadang Keberhasilan Hari Ini Hanyalah Mampu Bangun

Ada hari ketika kita mempunyai energi yang besar.

Kita mampu menyelesaikan banyak pekerjaan.

Namun ada pula masa ketika hidup terasa begitu berat sehingga hal-hal sederhana menjadi perjuangan.

Pada masa seperti itu, standar keberhasilan kita mungkin perlu berubah.

Mungkin hari ini kita belum mampu menyelesaikan semuanya.

Tetapi kita bangun.

Itu langkah.

Kita membersihkan diri dan mempersiapkan hari.

Itu langkah.

Kita berdoa meskipun hanya beberapa kalimat.

Itu langkah.

Kita pergi bekerja atau menjalankan tanggung jawab.

Itu langkah.

Kita menahan diri agar tidak membalas seseorang dengan kemarahan.

Itu langkah.

Kita memilih tidak menyerah.

Itu langkah.

Jangan meremehkan keberhasilan-keberhasilan kecil seperti itu.

Kadang orang lain tidak tahu betapa beratnya kita melakukan hal-hal sederhana.

Namun Tuhan mengetahui perjuangan hati kita.

Tuhan Melihat Kesetiaan, Bukan Hanya Hasil Besar

Manusia cenderung memperhatikan hasil.

Berapa banyak?

Seberapa besar?

Seberapa cepat?

Seberapa terkenal?

Tetapi Alkitab berulang kali menekankan kesetiaan.

Yesus berkata dalam Lukas 16:10:

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”

Tuhan memperhatikan bagaimana kita menjalani hal-hal kecil.

Apakah kita tetap jujur ketika tidak ada yang melihat?

Apakah kita tetap berdoa ketika tidak ada jawaban yang langsung terlihat?

Apakah kita tetap mengasihi ketika tidak mendapat balasan?

Apakah kita tetap melakukan pekerjaan dengan baik walaupun tidak dipuji?

Apakah kita tetap berbuat benar ketika jalan pintas terlihat lebih menguntungkan?

Kesetiaan seperti ini mungkin tidak menghasilkan tepuk tangan.

Namun Tuhan melihatnya.

Jangan Menganggap Kecil Apa yang Tuhan Anggap Berharga

Kadang kita terlalu cepat mengatakan:

“Ini hanya hal kecil.”

“Doa saya hanya sebentar.”

“Saya hanya membantu sedikit.”

“Saya hanya melakukan pekerjaan biasa.”

Tetapi dalam kerajaan Allah, hal kecil yang dilakukan dengan kasih dan kesetiaan dapat memiliki nilai besar.

Yesus bahkan mengatakan bahwa memberikan secangkir air kepada seseorang tidak akan kehilangan upahnya.

Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya memperhatikan tindakan yang besar.

Dia memperhatikan hati di balik tindakan.

Sebuah kata penguatan dapat menyelamatkan semangat seseorang.

Sebuah doa singkat dapat menjadi awal perubahan.

Satu tindakan pengampunan dapat memutus rantai permusuhan.

Satu keputusan untuk jujur dapat menjaga integritas.

Satu langkah kecil hari ini dapat menentukan arah kehidupan beberapa tahun ke depan.

Jangan Berhenti Hanya Karena Perjalanan Terasa Lambat

Salah satu godaan terbesar dalam perjalanan panjang adalah keinginan untuk berhenti.

Kita berkata:

“Saya sudah mencoba lama.”

“Tidak ada perubahan.”

“Hasilnya terlalu kecil.”

“Sepertinya tidak ada gunanya.”

Tetapi Galatia 6:9 berkata:

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik.”

Kata “jemu” menggambarkan kelelahan yang muncul karena melakukan sesuatu terlalu lama tanpa melihat hasil yang diharapkan.

Paulus tahu bahwa orang percaya dapat lelah.

Karena itu ia tidak berkata:

“Kamu tidak boleh pernah merasa lelah.”

Ia berkata:

“Jangan berhenti.”

Ada perbedaan antara lelah dan menyerah.

Lelah berarti kita membutuhkan kekuatan.

Menyerah berarti kita berhenti berjalan.

Jika lelah, beristirahatlah.

Jika membutuhkan bantuan, mintalah bantuan.

Jika perlu menata ulang rencana, lakukan.

Tetapi jangan meninggalkan jalan yang benar hanya karena prosesnya panjang.

Panen Membutuhkan Waktu

Galatia 6:9 menggunakan gambaran pertanian:

“Pada waktunya kita akan menuai.”

Tidak ada petani yang menanam pagi hari dan menuntut panen pada sore hari.

Ada proses.

Benih ditanam.

Tanah dirawat.

Air diberikan.

Gulma dibersihkan.

Tanaman bertumbuh.

Barulah panen tiba.

Demikian juga banyak hal dalam kehidupan.

Kita menanam nilai-nilai baik kepada anak-anak.

Hasilnya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Kita membangun reputasi melalui kejujuran.

Butuh waktu sebelum orang benar-benar mempercayai kita.

Kita memperbaiki kesehatan melalui kebiasaan sehari-hari.

Perubahan tidak selalu terlihat dalam beberapa hari.

Kita belajar sesuatu sedikit demi sedikit.

Suatu hari pengetahuan itu menjadi kemampuan.

Karena itu, jangan mengharapkan panen dari benih yang baru ditanam kemarin.

Berikan waktu kepada proses.

Jangan Membandingkan Kecepatan dengan Orang Lain

Perjalanan terasa semakin lambat ketika kita terus melihat orang lain.

Kita berkata:

“Dia sudah sampai.”

“Saya masih jauh.”

“Dia sudah berhasil.”

“Saya masih berjuang.”

Namun perbandingan seperti ini sering tidak adil.

Kita membandingkan seluruh pergumulan kita dengan bagian kehidupan orang lain yang terlihat.

Kita tidak mengetahui berapa lama mereka berproses.

Kita tidak mengetahui kesulitan yang mereka alami.

Kita tidak mengetahui kesempatan yang mereka miliki.

Yesus berkata kepada Petrus dalam Yohanes 21:22:

“Engkau: ikutlah Aku.”

Pesannya sederhana.

Fokuslah pada perjalananmu bersama Tuhan.

Ada orang yang bergerak cepat.

Ada orang yang memerlukan waktu lebih panjang.

Yang Tuhan tanyakan bukan:

“Apakah kamu lebih cepat daripada dia?”

Tetapi:

“Apakah kamu tetap setia mengikuti Aku?”

Lambat Tidak Sama dengan Gagal

Ini adalah hal yang perlu kita tanamkan dalam hati:

Lambat bukan berarti gagal.

Sebuah pohon besar tidak tumbuh dalam satu minggu.

Karakter yang matang tidak dibentuk dalam satu bulan.

Hubungan yang sehat tidak dibangun dalam satu percakapan.

Keahlian tidak diperoleh melalui satu latihan.

Iman yang kuat juga membutuhkan perjalanan.

Kadang kita frustrasi karena perubahan kita terasa terlalu lambat.

Kita berkata:

“Kenapa saya masih takut?”

“Kenapa saya masih mudah kecewa?”

“Kenapa saya masih belum seperti yang saya harapkan?”

Tetapi mungkin sebenarnya kita sudah berubah.

Dahulu kita jatuh dan membutuhkan berbulan-bulan untuk bangkit.

Sekarang hanya beberapa hari.

Dahulu kita langsung membalas ketika disakiti.

Sekarang kita mulai belajar menahan diri.

Dahulu kita tidak berdoa ketika masalah datang.

Sekarang kita mulai mencari Tuhan.

Itu kemajuan.

Mungkin belum sempurna.

Tetapi ada pertumbuhan.

Kemajuan Tidak Selalu Berjalan Lurus

Kita sering membayangkan pertumbuhan seperti garis lurus yang terus naik.

Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Ada hari baik.

Ada hari buruk.

Ada kemajuan.

Ada kemunduran.

Ada keberhasilan.

Ada kegagalan.

Seseorang dapat merasa sangat kuat minggu ini dan kembali lelah minggu berikutnya.

Itu tidak selalu berarti semua kemajuan sebelumnya hilang.

Perjalanan manusia sering berbentuk naik turun.

Yang penting kita kembali ke arah yang benar setiap kali menyadari telah menyimpang.

Amsal 24:16 berkata:

“Tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali.”

Orang benar bukan orang yang tidak pernah jatuh.

Ia adalah orang yang terus bangkit.

Jika Jatuh, Bangkitlah Satu Langkah demi Satu Langkah

Ketika mengalami kegagalan, kita sering ingin langsung memulihkan semuanya.

Tetapi terkadang kita perlu memulai dari kecil.

Jika kehidupan doa melemah, mulailah kembali dengan doa sederhana.

Jika kesehatan terabaikan, mulai dari satu kebiasaan baik.

Jika hubungan rusak, mungkin langkah pertama adalah mengirim pesan atau meminta kesempatan berbicara.

Jika pekerjaan menumpuk, mulailah dari satu tugas.

Jika hati sangat lelah, mungkin langkah hari ini hanyalah meminta pertolongan.

Tidak perlu menyelesaikan seluruh masalah sekaligus.

Kadang kehidupan dipulihkan melalui satu keputusan baik yang diulang setiap hari.

Kesetiaan dalam Hal Kecil Mempersiapkan Hal yang Lebih Besar

Daud sebelum menjadi raja menjaga domba.

Tugas itu mungkin terlihat sederhana.

Namun di sana ia belajar keberanian.

Ia melindungi kawanan dari singa dan beruang.

Kemampuan yang diasah di tempat yang sepi kemudian dipakai ketika menghadapi Goliat.

Yusuf mengelola rumah Potifar.

Kemudian ia mengelola urusan di penjara.

Kelak ia mengelola Mesir.

Ada pola:

kesetiaan kecil → tanggung jawab lebih besar.

Karena itu, jangan terlalu cepat meremehkan tempat kita sekarang.

Mungkin tempat itu bukan tujuan akhir.

Mungkin itu adalah tempat latihan.

Apa yang kita lakukan hari ini dapat menjadi persiapan untuk sesuatu yang belum kita lihat.

Tuhan Tidak Terburu-buru Seperti Kita

Manusia sering ingin hasil cepat.

Kita ingin cepat pulih.

Cepat berhasil.

Cepat melihat perubahan.

Cepat keluar dari masalah.

Namun Tuhan sering bekerja melalui proses.

Musa membutuhkan waktu panjang sebelum memimpin Israel.

Yusuf membutuhkan perjalanan panjang sebelum menjadi penguasa.

Daud menunggu sebelum menjadi raja.

Para murid Yesus membutuhkan waktu untuk dibentuk.

Tuhan tidak hanya tertarik membawa kita menuju tujuan.

Dia juga membentuk siapa diri kita selama perjalanan menuju tujuan itu.

Jika semuanya terlalu cepat, mungkin ada pelajaran yang kita lewatkan.

Langkah Kecil Dapat Menjadi Bentuk Iman

Ketika kita belum melihat seluruh jalan, mengambil satu langkah berikutnya adalah tindakan iman.

Abraham meninggalkan negerinya tanpa mengetahui seluruh detail perjalanan.

Bangsa Israel melangkah menuju laut sebelum melihat jalan terbuka sepenuhnya.

Petrus keluar dari perahu untuk berjalan kepada Yesus.

Iman sering dimulai dengan langkah.

Kita mungkin belum tahu lima tahun ke depan.

Tetapi kita dapat taat hari ini.

Kita belum tahu seluruh jawaban.

Tetapi kita dapat melakukan hal benar berikutnya.

Tuhan tidak selalu meminta kita mengetahui semua langkah.

Kadang Dia hanya meminta:

“Ambil langkah berikutnya bersama-Ku.”

Jangan Menunggu Motivasi Besar untuk Melakukan Hal Baik

Ada hari ketika kita tidak merasa termotivasi.

Jika kita hanya bergerak ketika mempunyai semangat besar, banyak hal tidak akan selesai.

Kesetiaan sering berarti melakukan yang benar meskipun perasaan tidak mendukung.

Kita berdoa meskipun tidak merasa sangat rohani.

Kita bekerja meskipun tidak merasa bersemangat.

Kita tetap berbuat baik meskipun tidak ada yang memuji.

Kita tetap belajar meskipun hasil ujian sebelumnya mengecewakan.

Disiplin membantu kita terus bergerak ketika motivasi turun.

Beristirahat Boleh, Berhenti Jangan

Ada saatnya tubuh dan pikiran membutuhkan istirahat.

Yesus sendiri pernah mengajak murid-murid-Nya pergi ke tempat yang sunyi untuk beristirahat.

Karena itu, “tetap melangkah” tidak berarti memaksakan diri tanpa batas.

Jika lelah, istirahat.

Jika tubuh membutuhkan tidur, tidurlah.

Jika pikiran terlalu penuh, ambil waktu tenang.

Jika beban terlalu berat, mintalah bantuan.

Istirahat dapat menjadi bagian dari perjalanan.

Seorang pelari maraton pun membutuhkan pengaturan tenaga.

Yang perlu dihindari adalah menjadikan kelelahan sebagai kesimpulan:

“Karena aku lelah, berarti aku harus menyerah.”

Tidak.

Mungkin kita hanya membutuhkan pemulihan untuk kemudian melangkah kembali.

Kemajuan Kadang Baru Terlihat ketika Kita Menoleh ke Belakang

Ketika berjalan setiap hari, kita mungkin merasa tidak banyak berubah.

Tetapi cobalah melihat kembali enam bulan atau satu tahun sebelumnya.

Mungkin kita akan menyadari:

“Aku ternyata sudah melewati banyak hal.”

“Dulu aku sangat takut menghadapi ini. Sekarang aku lebih kuat.”

“Dulu masalah itu terasa mustahil.”

“Dulu aku tidak tahu bagaimana akan bertahan.”

Namun kita masih di sini.

Kadang Tuhan bekerja begitu perlahan sehingga kita baru menyadarinya setelah melihat perjalanan dari belakang.

Karena itu, jangan hanya melihat seberapa jauh lagi perjalanan.

Sesekali lihatlah seberapa jauh Tuhan sudah menolong kita berjalan.

Galatia 6:9 dan Janji tentang Waktu Panen

Paulus berkata:

“Karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”

Ada tiga kebenaran penting dalam ayat ini.

Pertama, ada proses menabur.

Kita harus melakukan bagian kita.

Kedua, ada waktu Tuhan.

Panen tidak selalu mengikuti jadwal kita.

Ketiga, ada panggilan untuk bertahan.

“Jika kita tidak menjadi lemah.”

Artinya, salah satu tantangan terbesar bukan apakah benih akan bertumbuh, tetapi apakah kita akan bertahan cukup lama untuk melihat hasilnya.

Jangan berhenti menabur kebaikan hanya karena belum melihat panen.

Apakah Semua Usaha Pasti Menghasilkan Apa yang Kita Inginkan?

Kita perlu jujur: Galatia 6:9 bukan janji bahwa setiap usaha manusia akan menghasilkan persis seperti yang ia inginkan.

Kita dapat bekerja keras tetapi masih gagal dalam suatu rencana.

Kita dapat berbuat baik tetapi tidak selalu menerima kebaikan dari orang lain.

Panen yang dimaksud Paulus terutama berkaitan dengan hidup yang menabur dalam Roh dan berbuat baik.

Artinya, kesetiaan kepada Tuhan tidak pernah sia-sia, walaupun hasilnya tidak selalu berbentuk seperti harapan kita.

Kadang hasilnya adalah karakter yang matang.

Kadang hubungan yang dipulihkan.

Kadang kesempatan baru.

Kadang damai sejahtera.

Kadang buah pelayanan yang baru terlihat jauh kemudian.

Tugas kita adalah setia.

Hasil akhirnya berada di tangan Tuhan.

Rayakan Kemajuan Kecil

Kita juga perlu belajar bersyukur atas kemajuan kecil.

Jangan hanya merayakan ketika mencapai garis akhir.

Jika kita berhasil mempertahankan kebiasaan baik selama seminggu, bersyukurlah.

Jika hari ini kita mampu merespons dengan lebih sabar daripada sebelumnya, bersyukurlah.

Jika kita berani mencoba lagi setelah gagal, bersyukurlah.

Jika kita dapat mengampuni sedikit demi sedikit, bersyukurlah.

Ucapan syukur atas langkah kecil memberikan kekuatan untuk melanjutkan langkah berikutnya.

Pertanyaan Refleksi

Mari bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah saya terlalu meremehkan kemajuan kecil dalam hidup saya?
  • Apakah saya sedang membandingkan kecepatan perjalanan saya dengan orang lain?
  • Adakah hal baik yang hampir saya tinggalkan hanya karena hasilnya lambat?
  • Apakah saya membutuhkan istirahat, atau sebenarnya saya sedang tergoda untuk menyerah?
  • Apa satu langkah kecil yang dapat saya lakukan hari ini?
  • Apakah saya masih setia dalam hal-hal yang tidak dilihat orang?
  • Sudahkah saya melihat kembali perjalanan dan mensyukuri sejauh mana Tuhan menolong saya?
  • Benih kebaikan apa yang harus terus saya tanam walaupun panennya belum terlihat?

Doa untuk Tetap Melangkah

“Tuhan, ada saat ketika perjalanan ini terasa terlalu panjang dan kemajuanku terasa sangat kecil. Aku sering ingin hasil yang cepat dan perubahan yang besar. Ajarlah aku menghargai proses. Berikan aku kekuatan untuk mengambil langkah berikutnya. Ketika aku lelah, ajarlah aku beristirahat tanpa menyerah. Ketika aku gagal, berikan aku keberanian untuk bangkit. Ketika aku membandingkan diriku dengan orang lain, ingatkan aku untuk kembali mengikuti jalan yang Engkau percayakan kepadaku. Tolong aku tetap setia dalam perkara kecil dan percaya bahwa tidak ada ketaatan yang sia-sia di hadapan-Mu.”

Peneguhan: Satu Langkah Lagi

Mungkin kita belum sampai.

Tidak apa-apa.

Mungkin kemajuan terasa lambat.

Tidak berarti kita gagal.

Mungkin hari ini kita tidak mampu melakukan sesuatu yang besar.

Lakukan yang kecil dengan setia.

Bangun.

Berdoa.

Kerjakan satu tanggung jawab.

Berbuat satu kebaikan.

Ambil satu keputusan yang benar.

Kemudian besok, lakukan lagi.

Jangan meremehkan kekuatan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Gunung tidak selalu didaki dengan lompatan besar.

Sering kali puncak dicapai melalui ribuan langkah kecil.

Demikian pula kehidupan iman.

Jika hari ini kita hanya mampu mengambil satu langkah, ambillah satu langkah itu bersama Tuhan.

Galatia 6:9 mengingatkan:

Jangan jemu berbuat baik, sebab pada waktunya akan ada panen jika kita tidak menyerah.

Hari ini mungkin berat.

Langkah kita mungkin lambat.

Tetapi lambat bukan berarti berhenti.

Kecil bukan berarti tidak berarti.

Dan belum sampai bukan berarti gagal.

Tetaplah melangkah meski perlahan. Tuhan menghargai kesetiaan dalam langkah-langkah kecil. Selama kita masih berjalan bersama-Nya, perjalanan itu belum selesai. Tuhan belum selesai berkarya.

10. Jangan Membandingkan Perjalanan Hidup dengan Orang Lain

Salah satu sumber kelelahan yang sering tidak kita sadari adalah kebiasaan membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Kita melihat pencapaian orang lain, keberhasilan mereka, keluarga mereka, pekerjaan mereka, pelayanan mereka, atau kemajuan mereka, lalu diam-diam mulai menilai diri sendiri.

Kita berkata:

“Kenapa dia sudah sampai sejauh itu, sedangkan saya masih di sini?”

“Kenapa doanya cepat dijawab, sedangkan saya masih menunggu?”

“Kenapa hidupnya terlihat lebih mudah?”

“Kenapa dia mendapat kesempatan itu, sedangkan saya tidak?”

Pertanyaan seperti ini dapat perlahan-lahan menggerus rasa syukur dan membuat kita merasa tertinggal, padahal mungkin sebenarnya kita sedang berada di jalur yang berbeda.

Yohanes 21:21–22 memberikan pelajaran yang sangat kuat. Petrus bertanya kepada Yesus tentang Yohanes. Tetapi Yesus menjawab dengan tegas:

“Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.”

Kalimat ini sangat sederhana, tetapi dalam: fokuslah pada perjalananmu sendiri bersama Tuhan.

Media Sosial Membuat Perbandingan Semakin Mudah

Pada zaman sekarang, membandingkan diri menjadi jauh lebih mudah karena kita terus-menerus melihat kehidupan orang lain melalui media sosial.

Kita melihat seseorang sedang berlibur.

Kita melihat orang lain mendapatkan promosi.

Ada yang membagikan pencapaian pendidikan.

Ada yang memamerkan rumah baru.

Ada yang menunjukkan pelayanan yang berkembang.

Ada yang memperlihatkan keluarga yang tampak harmonis.

Semua itu mungkin memang nyata.

Namun kita perlu mengingat bahwa media sosial sering menampilkan potongan terbaik, bukan keseluruhan cerita.

Kita melihat foto keberhasilan, tetapi tidak melihat malam-malam ketika orang tersebut menangis.

Kita melihat hasil akhir, tetapi tidak melihat tahun-tahun perjuangan.

Kita melihat panggung, tetapi tidak melihat latihan.

Kita melihat senyum, tetapi tidak mengetahui luka yang disimpan.

Kita melihat panen, tetapi tidak melihat musim menabur.

Karena itu, sangat tidak adil jika kita membandingkan seluruh kehidupan kita—termasuk luka, kegagalan, ketakutan, dan pergumulan—dengan bagian terbaik yang orang lain tunjukkan.

Kita Sering Membandingkan “Belakang Panggung” Kita dengan “Panggung Depan” Orang Lain

Ini salah satu kesalahan paling umum.

Kita mengenal semua kelemahan diri sendiri.

Kita tahu kegagalan kita.

Kita tahu ketakutan kita.

Kita tahu masalah keluarga kita.

Kita tahu doa-doa yang belum terjawab.

Tetapi ketika melihat orang lain, kita hanya melihat apa yang tampak dari luar.

Akibatnya perbandingan menjadi tidak seimbang.

Kita membandingkan realitas penuh diri sendiri dengan tampilan sebagian hidup orang lain.

Lalu kita menyimpulkan:

“Hidup saya lebih buruk.”

Padahal belum tentu demikian.

Setiap orang mempunyai pertempuran yang tidak terlihat.

Karena itu, daripada membandingkan, lebih baik kita belajar memiliki belas kasih dan rasa syukur.

Setiap Orang Memiliki Waktu yang Berbeda

Kehidupan bukan perlombaan serentak di mana semua orang harus mencapai hal yang sama pada usia yang sama.

Ada orang yang berhasil lebih cepat.

Ada yang membutuhkan waktu lebih lama.

Ada yang menemukan panggilannya sejak muda.

Ada yang baru menemukan arah hidup setelah perjalanan panjang.

Ada yang menikah muda.

Ada yang menikah kemudian.

Ada yang mencapai kemajuan besar dalam pekerjaan pada usia tertentu.

Ada yang justru mengalami keberhasilan setelah bertahun-tahun melalui kegagalan.

Tuhan tidak bekerja dengan satu jadwal yang sama untuk semua orang.

Pengkhotbah 3:1 berkata:

“Untuk segala sesuatu ada masanya.”

Ada waktu menanam.

Ada waktu menuai.

Ada waktu menunggu.

Ada waktu bergerak.

Ada musim untuk belajar.

Ada musim untuk memimpin.

Karena itu, fakta bahwa orang lain sedang berada dalam musim panen tidak berarti kita gagal karena masih berada dalam musim menanam.

Musim berbeda bukan berarti nilai kita berbeda.

Jangan Memaksa Jadwal Orang Lain Menjadi Jadwal Kita

Salah satu bentuk perbandingan yang berbahaya adalah ketika kita mulai merasa hidup kita harus mengikuti pola orang lain.

Kita berpikir:

“Kalau dia sudah mencapai ini pada usia tertentu, saya juga harus.”

“Kalau pelayanannya berkembang seperti itu, pelayanan saya juga harus.”

“Kalau keluarganya seperti itu, keluarga saya juga harus.”

Padahal Tuhan dapat memberikan jalan yang berbeda.

Panggilan yang berbeda.

Kesempatan yang berbeda.

Proses yang berbeda.

Kita tidak perlu memaksa perjalanan orang lain menjadi cetak biru hidup kita.

Apa yang baik bagi orang lain belum tentu merupakan jalan yang Tuhan percayakan kepada kita.

Yohanes 21: Petrus Juga Sempat Membandingkan

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus berbicara dengan Petrus dan memulihkannya.

Yesus kemudian memberi gambaran bahwa Petrus akan menghadapi perjalanan yang sulit.

Setelah mendengar itu, Petrus melihat Yohanes dan bertanya:

“Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?”

Pertanyaan Petrus sangat manusiawi.

Kurang lebih ia bertanya:

“Kalau saya harus melewati ini, bagaimana dengan dia?”

Kita sering melakukan hal yang sama.

“Tuhan, kenapa saya harus menunggu, sedangkan dia tidak?”

“Kenapa saya harus melalui kesulitan ini?”

“Kenapa hidup saya lebih berat?”

Yesus tidak menjelaskan seluruh perjalanan Yohanes kepada Petrus.

Sebaliknya Ia berkata:

“Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.”

Pesannya sangat jelas.

Petrus tidak dipanggil untuk menjalani hidup Yohanes.

Ia dipanggil untuk mengikuti Kristus.

Fokus Kita Bukan “Apa yang Terjadi pada Dia?”, tetapi “Apakah Saya Tetap Mengikuti Tuhan?”

Perbandingan mengalihkan perhatian.

Kita seharusnya bertanya:

“Apa yang Tuhan ingin saya lakukan?”

Namun kita malah bertanya:

“Kenapa dia mendapat lebih banyak?”

Kita seharusnya bertanya:

“Bagaimana saya dapat bertumbuh?”

Namun kita malah bertanya:

“Kenapa dia lebih maju?”

Kita seharusnya bersyukur atas apa yang Tuhan berikan.

Namun perbandingan membuat kita hanya melihat apa yang tidak kita miliki.

Karena itu perkataan Yesus kepada Petrus juga relevan bagi kita:

“Engkau: ikutlah Aku.”

Fokuslah kepada Tuhan.

Fokuslah pada panggilan.

Fokuslah pada langkah yang ada di depan.

Tuhan Tidak Menulis Cerita yang Sama untuk Semua Orang

Bayangkan sebuah perpustakaan.

Setiap buku memiliki judul, alur, tokoh, konflik, dan akhir yang berbeda.

Jika semua buku mempunyai cerita yang sama, tidak ada keunikan.

Demikian pula kehidupan manusia.

Tuhan tidak menulis cerita yang identik bagi setiap orang.

Ada yang dipanggil menjadi pemimpin.

Ada yang dipanggil melayani di tempat yang tidak terlihat.

Ada yang memiliki pengaruh publik.

Ada yang memberikan dampak besar dalam keluarga.

Ada yang bekerja di kantor.

Ada yang mengajar.

Ada yang melayani masyarakat.

Ada yang menolong satu orang pada satu waktu.

Nilai suatu kehidupan tidak ditentukan oleh seberapa mirip perjalanan kita dengan orang lain.

Nilainya ditentukan oleh apakah kita setia menjalani apa yang Tuhan percayakan kepada kita.

Tidak Semua Berkat Berbentuk Sama

Perbandingan sering muncul karena kita mempunyai definisi berkat yang sempit.

Kita menganggap berkat harus berarti:

jabatan tinggi,

pendapatan besar,

rumah bagus,

pelayanan dikenal banyak orang,

atau pencapaian yang mudah terlihat.

Padahal berkat Tuhan dapat hadir dalam banyak bentuk.

Damai dalam keluarga adalah berkat.

Kesehatan adalah berkat.

Sahabat yang setia adalah berkat.

Kesempatan melayani adalah berkat.

Kemampuan untuk mengampuni adalah berkat.

Hati yang tenang adalah berkat.

Iman yang bertahan adalah berkat.

Kadang kita begitu sibuk melihat berkat orang lain sehingga tidak menyadari apa yang Tuhan sudah letakkan dalam tangan kita.

Perbandingan Dapat Melahirkan Iri Hati

Jika tidak dijaga, perbandingan dapat berubah menjadi iri hati.

Kita tidak lagi sekadar berkata:

“Saya juga ingin berhasil.”

Kita mulai berkata dalam hati:

“Kenapa harus dia?”

Kita sulit bersukacita ketika orang lain berhasil.

Keberhasilan mereka terasa seperti ancaman.

Padahal keberhasilan orang lain tidak mengurangi nilai kita.

Jika seseorang menerima berkat, itu bukan berarti persediaan Tuhan untuk kita habis.

Kita tidak perlu melihat kehidupan sebagai persaingan terus-menerus.

Roma 12:15 berkata:

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita.”

Ini adalah tanda kedewasaan.

Kita dapat merayakan keberhasilan orang lain tanpa merasa diri lebih kecil.

Iri Hati Membuat Kita Kehilangan Sukacita atas Apa yang Sudah Kita Miliki

Iri hati selalu mengarahkan pandangan kepada milik orang lain.

Akibatnya, kita tidak lagi mampu menikmati apa yang ada dalam tangan kita.

Kita mempunyai keluarga, tetapi melihat keluarga orang lain.

Kita mempunyai pekerjaan, tetapi terus melihat posisi orang lain.

Kita mempunyai kemampuan, tetapi merasa kurang karena orang lain mempunyai kemampuan berbeda.

Kita mempunyai pelayanan, tetapi merasa kecil karena pelayanan orang lain lebih besar.

Akhirnya hidup menjadi perlombaan yang tidak pernah selesai.

Selalu ada orang yang lebih kaya.

Lebih terkenal.

Lebih cepat.

Lebih berpendidikan.

Lebih populer.

Jika sukacita kita bergantung pada menjadi lebih dari orang lain, kita tidak akan pernah benar-benar tenang.

Rasa Syukur adalah Penawar Perbandingan

Salah satu cara melawan perbandingan adalah belajar bersyukur.

Bersyukur mengubah pertanyaan:

dari “Apa yang tidak saya miliki?”

menjadi:

“Apa yang sudah Tuhan percayakan kepada saya?”

Kita mulai melihat:

“Aku masih mempunyai kesempatan.”

“Aku masih memiliki orang-orang yang mengasihi.”

“Aku masih dapat belajar.”

“Aku masih dapat melayani.”

“Aku masih mempunyai hari ini.”

1 Tesalonika 5:18 berkata:

“Mengucap syukurlah dalam segala hal.”

Ucapan syukur tidak membuat kita berhenti berkembang.

Kita tetap boleh mempunyai impian.

Kita tetap boleh mempunyai target.

Tetapi kita mengejarnya tanpa membenci keadaan sekarang.

Perjalanan Orang Lain Dapat Menjadi Inspirasi, Bukan Ancaman

Tidak semua perbandingan harus menghasilkan hal buruk.

Kita dapat melihat orang lain dan belajar.

Kita dapat berkata:

“Kalau dia mampu melalui proses itu, saya juga ingin belajar tekun.”

Kita dapat mempelajari kebiasaan baik orang lain.

Kita dapat meminta nasihat.

Kita dapat terinspirasi.

Yang membedakan inspirasi dengan iri hati adalah respons hati.

Inspirasi berkata:

“Saya dapat belajar dari dia.”

Iri hati berkata:

“Saya ingin menjadi dia.”

Inspirasi mendorong pertumbuhan.

Iri hati mengikis identitas.

Belajarlah dari orang lain, tetapi jangan kehilangan diri sendiri.

Panggilan Tuhan kepada Setiap Orang Berbeda

Paulus memakai gambaran tubuh Kristus dalam 1 Korintus 12.

Tubuh memiliki banyak anggota.

Mata mempunyai fungsi.

Tangan mempunyai fungsi.

Kaki mempunyai fungsi.

Telinga mempunyai fungsi.

Paulus bertanya: jika seluruh tubuh adalah mata, di manakah pendengaran?

Pesannya jelas.

Perbedaan bukan kelemahan.

Perbedaan diperlukan.

Tidak semua orang harus mempunyai karunia yang sama.

Tidak semua orang harus melayani dengan cara yang sama.

Tidak semua orang harus mempunyai tingkat keterlihatan yang sama.

Ada pelayanan yang dilakukan di depan ribuan orang.

Ada pelayanan yang dilakukan kepada satu anak.

Keduanya dapat bernilai di hadapan Tuhan jika dilakukan dengan setia.

Jangan Menganggap yang Terlihat Lebih Besar Berarti Lebih Berharga

Dalam budaya modern, sesuatu yang besar sering dianggap lebih penting.

Lebih banyak pengikut.

Lebih besar organisasi.

Lebih terkenal nama.

Lebih luas pengaruh.

Namun ukuran Tuhan tidak selalu sama dengan ukuran manusia.

Yesus memuji janda yang memberikan dua peser karena Ia melihat hati, bukan jumlah.

Allah menyuruh Samuel tidak melihat paras dan tinggi badan ketika memilih raja, sebab manusia melihat apa yang di depan mata tetapi Tuhan melihat hati.

Maka jangan meremehkan kehidupan yang sederhana namun setia.

Nilai kita tidak diukur oleh berapa banyak orang mengenal kita.

Yang lebih penting adalah apakah Tuhan menemukan kesetiaan.

Perbandingan Juga Dapat Membuat Kita Sombong

Biasanya kita membahas perbandingan sebagai penyebab minder.

Namun ada sisi lain.

Kita dapat membandingkan diri dan berkata:

“Saya lebih baik daripada dia.”

“Saya lebih rohani.”

“Saya lebih berhasil.”

“Saya lebih berpendidikan.”

Ini juga berbahaya.

Perbandingan dapat menghasilkan iri hati ketika merasa di bawah, dan kesombongan ketika merasa di atas.

Yesus menceritakan perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi membandingkan dirinya dan merasa lebih benar.

Karena itu solusi terbaik bukan mencari posisi lebih tinggi dalam perbandingan.

Solusinya adalah berhenti menjadikan orang lain sebagai ukuran utama.

Ukuran kita adalah kehendak Tuhan bagi hidup kita.

Bandingkan Diri dengan Diri Kita yang Dahulu

Jika ingin melihat kemajuan, ada perbandingan yang lebih sehat.

Tanyakan:

“Apakah saya lebih sabar daripada beberapa tahun lalu?”

“Apakah kehidupan doa saya semakin baik?”

“Apakah saya lebih mampu mengampuni?”

“Apakah saya semakin bijaksana?”

“Apakah saya lebih bertanggung jawab?”

“Apakah kasih saya kepada Tuhan dan sesama bertumbuh?”

Ini jauh lebih bermanfaat daripada bertanya:

“Apakah saya lebih berhasil daripada orang itu?”

Pertumbuhan sejati bukan mengalahkan orang lain.

Pertumbuhan adalah menjadi semakin serupa dengan karakter Kristus.

Jangan Biarkan Keberhasilan Orang Lain Membuat Kita Terburu-buru

Ketika melihat orang lain maju, kita kadang mulai mengambil keputusan tergesa-gesa.

Kita mengejar pekerjaan tertentu hanya karena orang lain berhasil di sana.

Kita memulai sesuatu bukan karena panggilan, tetapi karena takut tertinggal.

Kita mengambil keputusan keuangan agar terlihat setara.

Kita berusaha membangun citra yang tidak sesuai kenyataan.

Inilah bahaya perbandingan.

Ia dapat membuat kita keluar dari ritme kehidupan yang sehat.

Pengkhotbah 4:4 mengamati bahwa banyak jerih payah manusia muncul dari persaingan satu dengan yang lain.

Tidak salah mempunyai ambisi.

Tetapi kita perlu bertanya:

“Apakah saya mengejar ini karena panggilan, atau karena ingin membuktikan diri?”

Tuhan Bekerja dalam Waktu yang Berbeda

Lihat beberapa tokoh Alkitab.

Samuel mulai melayani sejak muda.

Musa dipanggil memimpin Israel pada usia yang jauh lebih tua.

Daud diurapi ketika muda tetapi harus menunggu sebelum menjadi raja.

Abraham menunggu lama untuk menerima Ishak.

Yusuf mengalami perjalanan panjang sebelum melihat mimpinya digenapi.

Tidak ada satu pola usia.

Tidak ada satu jadwal.

Ini membebaskan kita dari tekanan bahwa sesuatu harus terjadi pada waktu tertentu hanya karena terjadi demikian pada orang lain.

Jika Tuhan masih memberi kita hidup, masih ada kesempatan untuk bertumbuh dan menjalani panggilan.

Panggilan Kita adalah Setia, Bukan Menjadi Salinan Orang Lain

Ada godaan untuk meniru seseorang yang kita kagumi.

Belajar dari orang lain itu baik.

Tetapi kita tidak dipanggil menjadi salinan mereka.

Daud tidak dapat memakai baju zirah Saul untuk melawan Goliat.

Ia mencoba, tetapi akhirnya melepaskannya karena tidak terbiasa.

Ia maju dengan apa yang Tuhan telah latih dalam dirinya: tongkat, umban, dan batu.

Ada pelajaran di sana.

Jangan memaksakan “baju zirah” orang lain atas hidup kita.

Gunakan karunia yang Tuhan berikan.

Kembangkan kemampuan kita.

Layani dari keaslian.

Media Sosial Perlu Digunakan dengan Bijaksana

Jika suatu akun atau konten terus-menerus membuat kita merasa tidak cukup, iri, atau kehilangan damai, kita boleh mengatur jarak.

Bukan berarti kita membenci orang tersebut.

Kita sedang menjaga hati.

Amsal 4:23 berkata:

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan.”

Kita dapat mengurangi waktu media sosial.

Berhenti mengikuti konten tertentu jika memang mengganggu.

Menggunakan waktu untuk sesuatu yang lebih membangun.

Media sosial seharusnya menjadi alat.

Jangan biarkan ia menjadi alat untuk terus mengukur nilai diri.

Bertanya: “Apa yang Tuhan Percayakan kepada Saya Hari Ini?”

Ini adalah pertanyaan yang sangat praktis.

Daripada bertanya:

“Kenapa saya belum seperti dia?”

Tanyakan:

“Apa yang dapat saya lakukan dengan apa yang saya miliki sekarang?”

Mungkin kita belum memiliki posisi besar.

Tetapi kita dapat setia dalam posisi sekarang.

Mungkin kesempatan masih kecil.

Tetapi kita dapat menggunakannya dengan baik.

Mungkin pelayanan belum luas.

Tetapi kita dapat melayani orang yang Tuhan tempatkan di depan kita.

Yesus berkata dalam perumpamaan talenta:

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.”

Yang dipuji adalah kesetiaan.

Keberhasilan Menurut Tuhan Bisa Berbeda dari Keberhasilan Menurut Dunia

Dunia sering bertanya:

“Seberapa banyak yang kamu punya?”

“Seberapa besar yang kamu capai?”

“Seberapa dikenal kamu?”

Tetapi Tuhan lebih dalam bertanya:

“Apakah kamu setia?”

“Apakah kamu mengasihi?”

“Apakah kamu hidup benar?”

“Apakah kamu menggunakan apa yang Kupercayakan?”

Seseorang dapat terlihat sukses menurut dunia tetapi kehilangan damai dan integritas.

Sebaliknya, seseorang mungkin hidup sederhana tetapi sangat kaya dalam iman, kasih, keluarga, dan pelayanan.

Karena itu kita perlu hati-hati menentukan ukuran keberhasilan.

Belajar Merayakan Keberhasilan Orang Lain

Ini adalah latihan rohani yang penting.

Ketika seorang teman berhasil, ucapkan selamat.

Ketika rekan mendapat kesempatan, doakan.

Ketika orang lain diberkati, bersyukurlah bersama mereka.

Jika hati terasa iri, jangan menyangkalnya.

Bawalah kepada Tuhan.

Berdoalah:

“Tuhan, ajar aku bersukacita melihat kebaikan yang Engkau berikan kepada orang lain.”

Semakin kita belajar merayakan orang lain, semakin bebas hati kita dari kompetisi yang tidak sehat.

Jika Kita Merasa Tertinggal

Ada saat ketika perasaan tertinggal sangat nyata.

Teman-teman sudah maju.

Kita masih berjuang.

Dalam keadaan itu, ingat:

Tertinggal dari orang lain tidak selalu berarti tertinggal dari rencana Tuhan.

Kecepatan bukan satu-satunya ukuran.

Kadang Tuhan sedang membangun dasar sebelum membangun sesuatu yang terlihat.

Sebuah gedung tinggi membutuhkan fondasi yang dalam.

Fondasi tidak terlihat, tetapi tanpa fondasi bangunan tidak akan bertahan.

Mungkin musim hidup kita sedang menjadi musim fondasi.

Jangan membenci musim itu.

Yohanes 21:22 — “Engkau: Ikutlah Aku”

Kita perlu kembali kepada perkataan Yesus.

Petrus ingin mengetahui perjalanan Yohanes.

Yesus mengembalikan perhatian Petrus kepada satu tugas:

“Engkau: ikutlah Aku.”

Inilah jawaban untuk banyak kecemasan akibat perbandingan.

Dia lebih sukses?

Engkau ikutlah Aku.

Dia lebih cepat?

Engkau ikutlah Aku.

Dia mendapat kesempatan yang berbeda?

Engkau ikutlah Aku.

Hidupnya terlihat lebih mudah?

Engkau ikutlah Aku.

Tujuan utama bukan mengejar hidup orang lain.

Tujuan utama adalah berjalan setia bersama Kristus.

Pertanyaan Refleksi

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah saya sering merasa hidup saya kurang setelah melihat media sosial?
  • Dengan siapa saya paling sering membandingkan diri?
  • Apakah keberhasilan orang lain membuat saya kehilangan sukacita?
  • Apakah saya sedang memaksakan jadwal orang lain menjadi jadwal saya?
  • Apa yang Tuhan sudah percayakan kepada saya saat ini?
  • Karunia apa yang saya miliki tetapi selama ini saya abaikan?
  • Apakah saya dapat bersukacita ketika orang lain berhasil?
  • Apakah saya sedang mengejar sesuatu karena panggilan atau hanya karena takut tertinggal?
  • Bagaimana pertumbuhan saya dibandingkan dengan diri saya sendiri beberapa tahun yang lalu?
  • Apakah saya masih fokus mengikuti Kristus?

Doa untuk Bebas dari Perbandingan

“Tuhan, ampuni aku ketika aku terlalu sering mengukur hidupku berdasarkan kehidupan orang lain. Ajarlah aku bersyukur atas perjalanan yang Engkau percayakan kepadaku. Ketika melihat keberhasilan orang lain, tolong aku untuk bersukacita bersama mereka, bukan iri hati. Ketika aku merasa tertinggal, ingatkan aku bahwa waktu dan panggilan setiap orang berbeda. Berikan aku hikmat untuk menggunakan karunia, kesempatan, dan tanggung jawab yang ada dalam tanganku. Jagalah hatiku dari iri hati maupun kesombongan. Arahkan mataku kembali kepada-Mu dan ajar aku mendengar panggilan-Mu: ‘Engkau, ikutlah Aku.’”

Jalani Cerita yang Tuhan Percayakan kepada Kita

Kita tidak harus mempunyai cerita yang sama dengan orang lain.

Tidak harus mencapai hal yang sama.

Tidak harus bergerak pada kecepatan yang sama.

Tidak harus mempunyai karunia yang sama.

Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi salinan orang lain.

Dia memanggil kita untuk hidup setia dalam panggilan kita sendiri.

Mungkin orang lain sedang menuai dan kita masih menanam.

Tetaplah menanam.

Mungkin orang lain sedang berlari dan kita hanya mampu berjalan.

Tetaplah berjalan.

Mungkin perjalanan orang lain tampak lebih terang, sementara jalan kita masih penuh pertanyaan.

Tetaplah mengikuti Tuhan.

Ingatlah Yohanes 21:22:

“Engkau: ikutlah Aku.”

Kita tidak perlu mengetahui seluruh rencana Tuhan bagi orang lain.

Kita perlu setia pada apa yang Tuhan sedang kerjakan dalam hidup kita.

Hari ini mungkin terasa berat karena kita melihat orang lain sudah jauh di depan. Tetapi hidup bukan perlombaan untuk mengalahkan perjalanan orang lain. Setiap orang mempunyai waktu, proses, dan panggilan yang berbeda. Fokuslah pada apa yang Tuhan percayakan kepada kita.

Jangan kehilangan sukacita karena sibuk menghitung berkat orang lain. Syukuri perjalanan kita, kembangkan apa yang Tuhan berikan, dan teruslah mengikuti Kristus. Tuhan belum selesai berkarya dalam hidup orang lain—dan Dia juga belum selesai berkarya dalam hidup kita.

11. Belajar Melihat Berkat di Tengah Kesulitan

Ketika hidup sedang berat, perhatian kita sangat mudah tertuju pada apa yang hilang, apa yang belum kita miliki, apa yang gagal, dan apa yang belum berubah. Pikiran kita seolah memiliki kemampuan untuk memperbesar masalah sampai seluruh kehidupan terlihat gelap.

Kita mungkin berkata:

“Yang saya lihat hanya masalah.”

“Tidak ada yang berjalan baik.”

“Saya sudah kehilangan terlalu banyak.”

Perasaan seperti itu dapat muncul ketika seseorang sedang berada dalam tekanan yang berat. Namun firman Tuhan mengajak kita untuk belajar melihat kehidupan secara lebih utuh.

Kesulitan memang nyata.

Kehilangan memang nyata.

Air mata memang nyata.

Tetapi semua itu bukan satu-satunya kenyataan dalam hidup kita.

Di tengah kesulitan, masih ada kasih Tuhan.

Masih ada pemeliharaan.

Masih ada orang-orang yang peduli.

Masih ada kesempatan untuk melangkah.

Masih ada hal-hal kecil yang dapat disyukuri.

Karena itu Paulus berkata dalam 1 Tesalonika 5:18:

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Ayat ini tidak mengajarkan kita untuk menyangkal penderitaan. Paulus tidak berkata bahwa semua keadaan harus dianggap menyenangkan. Ia mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: di dalam segala keadaan, kita tetap dapat menemukan alasan untuk bersyukur kepada Tuhan.

Dalam Masa Berat, Pikiran Mudah Terpusat pada Apa yang Hilang

Ketika seseorang mengalami kehilangan, sangat wajar jika pikirannya terus kembali kepada apa yang tidak lagi ia miliki.

Jika kehilangan pekerjaan, pikiran tertuju pada pekerjaan yang hilang.

Jika mengalami kegagalan, perhatian tertuju pada kegagalan itu.

Jika seseorang mengecewakan kita, pikiran terus mengulang perkataan atau tindakan yang melukai.

Jika ada doa yang belum dijawab, kita terus memikirkan apa yang belum diberikan.

Masalahnya bukan karena kita menyadari kehilangan.

Kita memang harus jujur terhadap kenyataan.

Masalah muncul ketika kehilangan menjadi satu-satunya hal yang kita lihat.

Bayangkan seseorang memegang selembar kertas putih yang mempunyai satu titik hitam kecil.

Jika ditanya, “Apa yang kamu lihat?”

Kemungkinan besar ia menjawab:

“Sebagian besar saya melihat titik hitam.”

Padahal hampir seluruh kertas itu masih putih.

Demikian juga kehidupan.

Satu persoalan yang besar dapat membuat kita tidak lagi melihat banyak hal baik yang sebenarnya masih ada.

Karena itu bersyukur adalah latihan untuk melihat seluruh kertas, bukan hanya titik hitamnya.

Bersyukur Bukan Berarti Menganggap Masalah Tidak Ada

Ini sangat penting.

Kadang seseorang yang sedang mengalami penderitaan diberi nasihat:

“Sudah, bersyukur saja.”

Jika disampaikan tanpa empati, perkataan seperti itu dapat terdengar seolah-olah orang tersebut tidak boleh sedih.

Padahal Alkitab tidak mengajarkan demikian.

Yesus sendiri menangis ketika Lazarus meninggal.

Daud menangis dalam kesesakan.

Ayub meratap dalam penderitaannya.

Karena itu bersyukur bukan berarti kita tidak boleh menangis.

Bersyukur bukan berarti mengatakan:

“Tidak ada masalah.”

Bersyukur berarti berkata:

“Masalah ini memang ada, tetapi masalah ini bukan satu-satunya hal yang ada dalam hidupku.”

Kita dapat berkata:

“Aku sedang berduka, tetapi aku bersyukur karena masih ada orang yang berjalan bersamaku.”

“Aku sedang menghadapi masalah ekonomi, tetapi aku bersyukur karena masih mempunyai kekuatan untuk berusaha.”

“Aku belum melihat jawaban doa, tetapi aku bersyukur karena Tuhan masih memberiku hari ini.”

Rasa syukur dan kesedihan dapat hadir bersamaan.

1 Tesalonika 5:18 — “Dalam Segala Hal”, Bukan “Untuk Segala Hal”

Paulus berkata:

“Mengucap syukurlah dalam segala hal.”

Perhatikan kata “dalam.”

Kita tidak harus bersyukur untuk kejahatan.

Kita tidak bersyukur karena seseorang menyakiti kita.

Kita tidak bersyukur karena terjadi ketidakadilan.

Kita tidak bersyukur karena kehilangan orang yang dikasihi.

Kita tidak menyebut penyakit sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Tetapi di dalam semua keadaan itu, kita masih dapat bersyukur karena Tuhan tetap hadir dan kasih-Nya tidak berakhir.

Kita dapat berkata:

“Tuhan, aku tidak bersyukur karena mengalami luka ini. Tetapi aku bersyukur karena Engkau tidak meninggalkanku di dalam luka ini.”

Inilah syukur yang jujur.

Nafas Kehidupan adalah Berkat yang Sering Dilupakan

Ada banyak berkat yang begitu dekat sehingga kita tidak lagi menyadarinya.

Salah satunya adalah nafas.

Kita bangun pagi.

Membuka mata.

Menghirup udara.

Mungkin semuanya terasa biasa.

Namun ketika kesehatan terganggu, barulah kita menyadari betapa berharganya hal-hal sederhana tersebut.

Mazmur 150:6 berkata:

“Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN!”

Selama kita masih diberi kehidupan, masih ada kesempatan.

Kesempatan memperbaiki kesalahan.

Kesempatan mengasihi keluarga.

Kesempatan berdoa.

Kesempatan bekerja.

Kesempatan meminta maaf.

Kesempatan memulai kembali.

Karena itu setiap pagi sebenarnya membawa pesan sederhana:

Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk menjalani satu hari lagi.

Keluarga adalah Berkat yang Jangan Dianggap Biasa

Kita sering baru menyadari nilai seseorang ketika ia tidak lagi bersama kita.

Padahal selama masih mempunyai keluarga, kita dapat belajar bersyukur.

Keluarga memang tidak selalu sempurna.

Ada perbedaan pendapat.

Ada konflik.

Ada keterbatasan.

Namun keberadaan orang-orang yang dapat kita sebut keluarga adalah anugerah.

Mungkin mereka tidak selalu mampu menyelesaikan masalah kita.

Tetapi kehadiran mereka dapat memberikan kekuatan.

Sebuah telepon sederhana.

Pertanyaan:

“Bagaimana keadaanmu?”

Makan bersama.

Duduk bersama tanpa banyak bicara.

Semua itu dapat menjadi bentuk kasih Tuhan yang hadir melalui manusia.

Karena itu jangan menunggu kehilangan untuk menghargai kehadiran.

Sahabat dan Orang yang Peduli adalah Bentuk Pemeliharaan Tuhan

Dalam masa sulit, satu orang yang benar-benar mendengarkan dapat terasa sangat berharga.

Mungkin orang itu tidak mempunyai solusi.

Ia tidak dapat mengubah keadaan.

Namun ia hadir.

Ia mendengarkan.

Ia berdoa.

Ia mengirim pesan.

Ia berkata:

“Aku ada di sini.”

Tindakan sederhana seperti itu dapat menjadi cara Tuhan menguatkan kita.

Pengkhotbah 4:9–10 berkata bahwa dua orang lebih baik daripada seorang diri karena jika seorang jatuh, yang lain dapat mengangkatnya.

Jangan meremehkan keberadaan orang-orang yang berjalan bersama kita.

Dan jangan lupa bahwa kita juga dapat menjadi berkat seperti itu bagi orang lain.

Pekerjaan adalah Berkat, Sekalipun Tidak Selalu Mudah

Kita sering mengeluh tentang pekerjaan.

Tugas banyak.

Tekanan tinggi.

Target besar.

Hubungan dengan rekan tidak selalu mudah.

Namun pekerjaan juga dapat menjadi berkat.

Melalui pekerjaan kita mempunyai kesempatan menggunakan kemampuan.

Melayani orang lain.

Mendapat penghasilan.

Belajar.

Bertumbuh.

Memberi kontribusi.

Bersyukur atas pekerjaan tidak berarti kita menutup mata terhadap masalah di tempat kerja.

Jika ada ketidakadilan, itu tetap perlu ditangani.

Jika lingkungan tidak sehat, kita perlu mengambil langkah yang bijaksana.

Tetapi selama masih mempunyai kesempatan bekerja, ada sesuatu yang dapat disyukuri.

Kesehatan adalah Berkat yang Sering Baru Terasa ketika Terganggu

Ketika tubuh sehat, kita jarang memikirkannya.

Kita berjalan.

Makan.

Tidur.

Bekerja.

Beraktivitas.

Semuanya terasa normal.

Tetapi ketika tubuh sakit, hal sederhana menjadi sangat berarti.

Karena itu bersyukur atas kesehatan bukan hanya ketika semuanya sempurna.

Mungkin kita mempunyai beberapa keterbatasan, tetapi masih ada bagian tubuh yang bekerja dengan baik.

Kita masih dapat bergerak.

Masih dapat berpikir.

Masih dapat melihat.

Masih dapat mendengar.

Masih dapat berkomunikasi.

Rasa syukur membuat kita lebih menghargai tubuh dan mendorong kita untuk merawatnya dengan bertanggung jawab.

Kesempatan adalah Berkat

Tidak semua berkat berbentuk benda.

Kesempatan juga merupakan berkat.

Kesempatan belajar.

Kesempatan memperbaiki kesalahan.

Kesempatan mencoba kembali.

Kesempatan melayani.

Kesempatan bertemu orang baru.

Kesempatan memulai sesuatu.

Kesempatan bertumbuh.

Ada pintu yang hari ini belum terbuka, tetapi mungkin masih ada pintu lain yang belum kita lihat.

Selama masih ada kesempatan, cerita belum selesai.

Karena itu jangan hanya melihat apa yang sudah hilang.

Tanyakan juga:

“Kesempatan apa yang masih ada di hadapanku?”

Pertolongan Kecil Sering Menjadi Besar ketika Kita Membutuhkannya

Dalam masa sulit, Tuhan tidak selalu menolong melalui sesuatu yang spektakuler.

Kadang pertolongan datang dalam bentuk kecil.

Seseorang mengirim pesan tepat ketika kita sedang lemah.

Ada orang yang menawarkan bantuan.

Sebuah kebutuhan terpenuhi pada waktu yang tepat.

Kita menemukan informasi yang kita perlukan.

Kita mendapatkan kesempatan berbicara dengan seseorang yang bijaksana.

Hal-hal seperti itu mudah dianggap kebetulan.

Namun orang percaya dapat menerimanya dengan rasa syukur sebagai bagian dari pemeliharaan Tuhan.

Tidak semua pertolongan harus besar untuk berarti.

Kadang secangkir air sangat berharga bagi orang yang sedang kehausan.

Berkat Tidak Selalu Berarti Hidup Tanpa Masalah

Kita juga perlu memperbaiki pemahaman tentang berkat.

Sering kali kita menganggap seseorang diberkati hanya jika:

hidupnya mudah,

uangnya banyak,

kariernya berhasil,

semua doanya cepat dijawab.

Padahal Alkitab menunjukkan bahwa orang yang diberkati Tuhan tetap dapat mengalami kesulitan.

Paulus sangat dipakai Tuhan tetapi mengalami banyak penderitaan.

Daud diberkati tetapi pernah hidup sebagai pelarian.

Yusuf disertai Tuhan tetapi pernah berada di penjara.

Berkat Tuhan bukan jaminan bahwa tidak ada masalah.

Kadang berkat Tuhan adalah:

kekuatan untuk bertahan,

hikmat mengambil keputusan,

damai di tengah kekacauan,

orang-orang yang mendukung,

dan iman yang tidak padam.

Rasa Syukur Mengubah Cara Kita Melihat Kehidupan

Rasa syukur mungkin tidak langsung mengubah keadaan.

Tetapi rasa syukur dapat mengubah cara kita memandang keadaan.

Dua orang dapat mengalami kondisi yang hampir sama.

Yang satu hanya melihat apa yang kurang.

Yang lain tetap melihat apa yang masih ada.

Hasilnya dapat sangat berbeda.

Orang yang terus berfokus pada kekurangan mudah menjadi pahit.

Orang yang belajar bersyukur memiliki ruang bagi pengharapan.

Ini bukan pemikiran positif yang menyangkal realitas.

Ini adalah latihan melihat realitas secara lebih lengkap.

Kita melihat masalah.

Tetapi juga melihat pemeliharaan.

Kita melihat air mata.

Tetapi juga melihat kasih.

Kita melihat pintu tertutup.

Tetapi masih mencari kesempatan yang terbuka.

Rasa Syukur Menjaga Hati dari Kepahitan

Ketika masalah berlangsung lama, ada risiko hati menjadi pahit.

Kita mulai menghitung semua hal yang tidak berjalan sesuai keinginan.

Lalu muncul pikiran:

“Tuhan tidak adil.”

“Orang lain lebih beruntung.”

“Hidup saya selalu buruk.”

Rasa syukur tidak menghapus pertanyaan, tetapi membantu menjaga hati agar tidak tenggelam dalam kepahitan.

Kita mulai berkata:

“Ada banyak hal yang belum saya pahami, tetapi saya tidak ingin melupakan kebaikan Tuhan yang sudah saya alami.”

Mazmur 103:2 berkata:

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!”

Perintah “janganlah lupakan” menunjukkan bahwa manusia memang mudah lupa.

Terutama ketika sedang mengalami kesulitan.

Karena itu kita perlu sengaja mengingat.

Belajar Mengingat Pertolongan Tuhan di Masa Lalu

Ketika hari ini terasa berat, ingatlah perjalanan sebelumnya.

Pernahkah kita menghadapi situasi yang dahulu terasa mustahil?

Namun kita sudah melewatinya.

Pernahkah ada masa ketika kita berkata:

“Aku tidak tahu bagaimana akan bertahan?”

Tetapi kita masih ada sampai hari ini.

Mengingat pertolongan Tuhan di masa lalu dapat menjadi bahan bakar pengharapan untuk hari ini.

Bangsa Israel berulang kali diminta mengingat bagaimana Tuhan membebaskan mereka dari Mesir.

Bukan sekadar nostalgia.

Ingatan rohani membantu mereka percaya kepada Tuhan untuk masa depan.

Kita juga perlu mempunyai “batu peringatan” dalam hati.

Ingat saat Tuhan membuka jalan.

Ingat saat pertolongan datang.

Ingat saat doa dijawab.

Ingat saat kita diberi kekuatan melewati masa sulit.

Jika Tuhan pernah menyertai dahulu, ada alasan untuk mempercayai-Nya hari ini.

Buatlah Kebiasaan Menghitung Berkat

Rasa syukur perlu dilatih.

Salah satu cara sederhana adalah setiap hari mencatat beberapa hal yang dapat disyukuri.

Tidak harus besar.

Misalnya:

“Hari ini aku masih diberi kesehatan.”

“Aku menerima kabar dari seorang sahabat.”

“Aku dapat menyelesaikan satu pekerjaan.”

“Aku dapat makan bersama keluarga.”

“Aku mempunyai tempat untuk beristirahat.”

“Aku memperoleh kekuatan untuk tidak menyerah.”

Kebiasaan seperti ini melatih pikiran melihat apa yang sering terlewat.

Setelah beberapa minggu, kita mungkin terkejut menyadari bahwa di tengah masa sulit ternyata masih ada banyak kasih Tuhan.

Jangan Membandingkan Berkat Kita dengan Berkat Orang Lain

Kadang kita sulit bersyukur karena melihat hidup orang lain.

Kita berkata:

“Dia punya lebih banyak.”

“Dia lebih berhasil.”

“Dia hidup lebih nyaman.”

Tetapi rasa syukur tidak bertanya:

“Apakah aku punya sebanyak dia?”

Rasa syukur bertanya:

“Apa yang Tuhan percayakan kepadaku?”

Perbandingan membuat berkat kita terasa kecil.

Syukur mengembalikan nilainya.

Segelas air mungkin terlihat biasa bagi orang yang memiliki banyak minuman.

Tetapi bagi orang yang sangat haus, itu sangat berharga.

Nilai suatu berkat sering bergantung pada kemampuan kita untuk menyadarinya.

Bersyukur Tidak Membuat Kita Berhenti Berjuang

Ada kekhawatiran bahwa jika terlalu bersyukur, seseorang menjadi puas dan tidak mau memperbaiki keadaan.

Tidak demikian.

Kita dapat bersyukur sekaligus mempunyai cita-cita.

Kita dapat bersyukur atas pekerjaan sekarang sambil mencari kesempatan lebih baik.

Kita dapat bersyukur atas kesehatan yang ada sambil melakukan perawatan.

Kita dapat bersyukur atas hubungan yang masih ada sambil memperbaiki konflik.

Syukur bukan pasrah terhadap keadaan buruk.

Syukur adalah menjalani perjuangan tanpa kehilangan kemampuan melihat kebaikan Tuhan.

Bersyukur Dapat Menjadi Bentuk Perlawanan terhadap Keputusasaan

Ketika hidup berkata:

“Tidak ada lagi yang baik,”

rasa syukur menjawab:

“Masih ada.”

Ketika kesulitan berkata:

“Kamu sudah kehilangan semuanya,”

rasa syukur berkata:

“Tidak semuanya.”

Ketika hati berkata:

“Tuhan tidak melakukan apa-apa,”

rasa syukur mengingat:

“Ada banyak pemeliharaan yang mungkin selama ini kuanggap biasa.”

Dalam pengertian ini, syukur adalah tindakan iman.

Kita memilih untuk tidak membiarkan masalah mempunyai monopoli atas perhatian kita.

Yesus Juga Mengucap Syukur

Menariknya, Yesus sendiri memberikan teladan bersyukur.

Sebelum memberi makan lima ribu orang, Ia mengambil roti dan mengucap syukur.

Jumlah roti sangat sedikit dibandingkan kebutuhan yang ada.

Namun Ia mengucap syukur atas apa yang tersedia.

Ada pelajaran penting:

Kadang kita terlalu berfokus pada apa yang kurang sehingga tidak menghargai apa yang sudah ada.

Yesus memulai dari apa yang ada.

Lima roti dan dua ikan terlihat kecil.

Tetapi ketika diserahkan kepada Tuhan, yang kecil dapat menjadi berkat besar.

Maka daripada selalu berkata:

“Yang saya miliki tidak cukup,”

kita dapat bertanya:

“Apa yang sudah ada dalam tanganku yang dapat saya syukuri dan gunakan?”

Rasa Syukur Mengubah Atmosfer Hati

Ketika hati terus mengeluh, segala sesuatu terasa semakin berat.

Keluhan dapat membuat pikiran berputar-putar pada masalah yang sama.

Sebaliknya, ucapan syukur membuka ruang bagi ketenangan.

Bukan karena masalah hilang.

Tetapi hati tidak lagi sepenuhnya dikuasai oleh masalah.

Filipi 4:6 juga menghubungkan doa dengan ucapan syukur.

Kita membawa permohonan kepada Tuhan sambil tetap mengingat kebaikan-Nya.

Doa seperti ini berkata:

“Tuhan, aku masih membutuhkan pertolongan-Mu, tetapi aku juga tidak mau melupakan semua yang telah Engkau lakukan.”

Jangan Memaksa Orang yang Sedang Berduka untuk Cepat Bersyukur

Ada keseimbangan pastoral yang penting.

Jika seseorang baru saja mengalami kehilangan besar, mungkin ia belum siap mendengar daftar alasan mengapa ia harus bersyukur.

Ada waktu untuk menangis.

Ada waktu untuk diam bersama orang yang berduka.

Ada waktu untuk mendengarkan.

Roma 12:15 berkata:

“Menangislah dengan orang yang menangis.”

Rasa syukur yang sehat tidak dipaksakan.

Ia bertumbuh perlahan dalam proses pemulihan.

Tugas kita bukan memaksa orang segera berkata “Saya bersyukur.”

Tugas kita adalah mendampingi sampai ia perlahan-lahan dapat melihat bahwa meskipun terluka, ia tidak sendirian.

Rasa Syukur Membawa Kita Kembali kepada Sang Pemberi

Tujuan utama syukur bukan hanya supaya kita merasa lebih baik.

Syukur mengarahkan kita kepada Tuhan.

Setiap berkat mengingatkan kita kepada Sang Pemberi.

Nafas mengingatkan kita bahwa hidup adalah anugerah.

Keluarga mengingatkan kita bahwa kasih adalah pemberian.

Pekerjaan mengingatkan kita kepada kesempatan.

Makanan mengingatkan kita kepada pemeliharaan.

Pengampunan mengingatkan kita kepada anugerah.

Pada akhirnya, berkat terbesar orang percaya bukan hanya apa yang Tuhan berikan.

Berkat terbesar adalah Tuhan sendiri.

Mazmur 73:25–26 berkata bahwa sekalipun tubuh dan hati habis lenyap, Allah tetap menjadi bagian kita selama-lamanya.

Inilah tingkat rasa syukur yang paling dalam.

Bukan hanya:

“Terima kasih Tuhan karena Engkau memberiku sesuatu.”

Tetapi:

“Terima kasih Tuhan karena aku memiliki Engkau.”

Pertanyaan Refleksi

Mari merenungkan beberapa pertanyaan:

  • Apakah masalah saat ini telah membuat saya lupa melihat hal-hal baik yang masih ada?
  • Apa tiga hal sederhana yang dapat saya syukuri hari ini?
  • Siapa orang yang Tuhan pakai untuk menguatkan saya?
  • Apakah saya terlalu fokus pada apa yang hilang daripada apa yang masih dipercayakan?
  • Apakah saya sering membandingkan berkat saya dengan orang lain?
  • Pertolongan Tuhan apa di masa lalu yang perlu saya ingat kembali?
  • Apakah saya dapat bersyukur tanpa menyangkal bahwa saya sedang terluka?
  • Bagaimana saya dapat menjadi berkat kecil bagi orang lain hari ini?

Doa Syukur di Tengah Kesulitan

“Tuhan, aku mengakui bahwa keadaan ini tidak mudah. Ada hal yang hilang, ada keinginan yang belum terpenuhi, dan ada pertanyaan yang belum terjawab. Namun bukalah mataku supaya aku tidak hanya melihat apa yang tidak kumiliki. Ajarlah aku melihat kasih dan pemeliharaan-Mu dalam hal-hal sederhana. Terima kasih untuk kehidupan, untuk orang-orang yang masih berjalan bersamaku, untuk kekuatan menjalani hari ini, dan untuk setiap pertolongan yang sering tidak kusadari. Aku tidak menyangkal penderitaanku, tetapi aku juga tidak ingin membiarkan penderitaan menutup mataku terhadap kebaikan-Mu.”

Masalah Bukan Satu-Satunya Kenyataan

Mungkin hari ini ada sesuatu yang hilang.

Tetapi belum tentu semuanya hilang.

Mungkin satu pintu tertutup.

Tetapi masih ada kehidupan di depan kita.

Mungkin satu doa belum terjawab.

Tetapi masih ada pemeliharaan Tuhan yang dapat kita lihat hari ini.

Mungkin hati sedang sedih.

Tetapi masih ada orang yang mengasihi.

Masih ada nafas.

Masih ada kesempatan.

Masih ada firman Tuhan.

Masih ada doa.

Masih ada harapan.

Karena itu 1 Tesalonika 5:18 mengajak kita:

“Mengucap syukurlah dalam segala hal.”

Bersyukur bukan berkata bahwa penderitaan tidak nyata.

Bersyukur adalah menolak membiarkan penderitaan menjadi satu-satunya cerita tentang kehidupan kita.

Kita dapat menangis dan tetap bersyukur.

Kita dapat berduka dan tetap berharap.

Kita dapat menghadapi masalah dan tetap melihat pemeliharaan.

Hari ini mungkin berat, tetapi masih ada kasih Tuhan yang dapat ditemukan. Jangan hanya menghitung apa yang hilang. Hitung juga apa yang masih ada, siapa yang masih bersama kita, dan berapa banyak cara Tuhan telah memelihara kehidupan kita.

Ketika kita belajar melihat berkat di tengah kesulitan, kita akan menemukan bahwa meskipun keadaan belum sepenuhnya berubah, hati kita mulai mempunyai alasan untuk berkata:

“Tuhan, aku belum memiliki semua yang kuinginkan, tetapi aku bersyukur untuk semua yang masih Engkau percayakan. Aku percaya Engkau tetap baik, tetap memelihara, dan belum selesai berkarya dalam hidupku.”

12. Tuhan Dapat Membuka Jalan yang Tidak Kita Duga

Ada saat dalam kehidupan ketika kita benar-benar merasa tidak memiliki jalan keluar. Semua kemungkinan yang kita pikirkan tampaknya sudah dicoba. Pintu yang kita harapkan terbuka justru tertutup. Pertolongan yang kita nantikan belum datang. Keadaan terasa sempit, dan kita mulai berkata dalam hati:

“Sepertinya tidak ada jalan lagi.”

Namun Alkitab berkali-kali menunjukkan bahwa jalan buntu menurut manusia tidak selalu menjadi jalan buntu bagi Tuhan.

Tuhan tidak dibatasi oleh apa yang membatasi kita.

Manusia melihat berdasarkan kemungkinan yang ada di depan mata. Tuhan melihat jauh lebih luas. Manusia melihat sumber daya yang terbatas. Tuhan tidak bergantung pada keterbatasan manusia. Manusia berkata, “Tidak mungkin,” tetapi Tuhan dapat bekerja melalui cara yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya.

Yesaya 43:19 berkata:

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”

Ayat ini mengandung pengharapan yang sangat kuat: Tuhan sanggup menciptakan jalan bahkan di tempat yang menurut manusia tidak mempunyai jalan.

Tuhan Tidak Terbatas oleh Keadaan

Manusia hidup dalam banyak keterbatasan.

Kita terbatas oleh waktu.

Terbatas oleh kemampuan.

Terbatas oleh pengetahuan.

Terbatas oleh keuangan.

Terbatas oleh kesempatan.

Terbatas oleh kekuatan tubuh.

Karena itu, ketika semua sumber daya yang kita miliki terasa tidak cukup, kita mudah merasa bahwa persoalan sudah tidak dapat diselesaikan.

Tetapi Tuhan tidak berada dalam keterbatasan yang sama.

Yeremia 32:27 berkata:

“Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk-Ku?”

Pertanyaan ini bukan berarti Tuhan akan selalu melakukan persis apa yang kita inginkan. Namun ayat ini mengingatkan bahwa kita tidak boleh membatasi pekerjaan Tuhan hanya berdasarkan apa yang dapat kita lihat atau pikirkan.

Kita sering berkata:

“Tidak mungkin orang itu berubah.”

“Tidak mungkin keadaan ini pulih.”

“Tidak mungkin ada kesempatan baru.”

“Tidak mungkin saya dapat keluar dari masalah ini.”

Tetapi kata “tidak mungkin” sering kali sebenarnya berarti:

“Saya belum melihat bagaimana caranya.”

Tidak mengetahui caranya berbeda dengan tidak adanya jalan.

Jalan Buntu Menurut Manusia Bukan Jalan Buntu bagi Tuhan

Bayangkan seseorang memasuki sebuah lorong dan menemukan tembok besar di depannya.

Dari sudut pandangnya, perjalanan berakhir.

Ia hanya melihat tembok.

Namun seseorang yang melihat dari atas mungkin mengetahui bahwa beberapa meter di sampingnya terdapat jalan lain.

Demikian juga hidup kita.

Kita melihat dari satu sudut.

Tuhan melihat keseluruhan.

Kita hanya melihat:

“Pintu ini tertutup.”

Tuhan melihat berbagai kemungkinan yang belum kita ketahui.

Karena itu iman mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat berkata:

“Selesai.”

Ada kalanya Tuhan memang mengizinkan satu jalan berakhir supaya kita bergerak menuju jalan yang lain.

Ada kalanya rencana kita gagal supaya kita berhenti bergantung pada rencana tersebut.

Ada kalanya Tuhan bekerja melalui sesuatu yang awalnya terlihat seperti kemunduran.

Laut Merah: Ketika Tidak Ada Jalan di Depan

Kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir adalah salah satu gambaran paling kuat tentang Tuhan membuka jalan yang tidak terduga.

Dalam Keluaran 14, bangsa Israel berada dalam keadaan yang sangat sulit.

Di depan mereka ada Laut Merah.

Di belakang mereka ada pasukan Firaun.

Secara manusiawi, hampir tidak ada pilihan.

Maju tidak bisa karena laut.

Mundur berarti menghadapi tentara Mesir.

Di tengah situasi itu, bangsa Israel menjadi takut dan mulai mengeluh kepada Musa.

Mereka melihat keadaan dan menyimpulkan:

“Kita terjebak.”

Tetapi Tuhan mempunyai jalan yang tidak pernah mereka bayangkan.

Tuhan berkata kepada Musa supaya mengulurkan tongkatnya.

Laut terbelah.

Tempat yang semula menjadi penghalang justru berubah menjadi jalan.

Ini adalah pelajaran yang sangat dalam.

Kadang hal yang kita lihat sebagai hambatan dapat menjadi bagian dari jalan Tuhan.

Laut yang tampaknya menghentikan perjalanan Israel justru menjadi sarana pembebasan.

Tuhan Tidak Selalu Menyingkirkan Hambatan, Kadang Dia Membuat Jalan Melaluinya

Ketika menghadapi masalah, kita biasanya berdoa:

“Tuhan, singkirkan masalah ini.”

Tetapi kisah Laut Merah memperlihatkan sesuatu yang berbeda.

Tuhan tidak memindahkan Laut Merah.

Dia membuka jalan melalui Laut Merah.

Kadang Tuhan bekerja dengan cara yang sama dalam kehidupan kita.

Kita meminta supaya tidak perlu menghadapi suatu persoalan.

Namun Tuhan memberi hikmat dan kekuatan untuk melewatinya.

Kita meminta supaya tidak ada tantangan.

Tetapi Tuhan memakai tantangan untuk membawa kita ke tahap berikutnya.

Kita meminta agar jalan menjadi mudah.

Tetapi Tuhan memberi kemampuan untuk berjalan di jalan yang sulit.

Karena itu pertolongan Tuhan tidak selalu berbentuk:

“Masalahnya hilang.”

Kadang pertolongan Tuhan berbentuk:

“Ada jalan melewati masalah.”

Jangan Panik Hanya karena Belum Melihat Jalan

Ketika Israel berdiri di depan Laut Merah, jalan itu memang belum terlihat.

Laut masih tertutup.

Tetapi jalan yang belum terlihat bukan berarti jalan itu tidak akan dibuka.

Dalam kehidupan, kita juga sering panik karena kita menuntut melihat seluruh solusi sekaligus.

Kita berkata:

“Bagaimana saya keluar dari keadaan ini?”

“Bagaimana kebutuhan bulan depan?”

“Bagaimana masa depan?”

Kita ingin seluruh peta terbuka.

Namun Tuhan kadang hanya memberikan langkah berikutnya.

Musa harus bergerak berdasarkan perintah Tuhan sebelum ia melihat seluruh hasilnya.

Iman sering berarti:

melangkah berdasarkan firman Tuhan sebelum seluruh jalan terlihat.

Yusuf: Penjara yang Menjadi Bagian dari Jalan

Kehidupan Yusuf memberikan contoh lain tentang jalan Tuhan yang tidak terduga.

Jika kita melihat perjalanan Yusuf secara sepintas, banyak hal tampak seperti kemunduran.

Ia dijual sebagai budak.

Kemudian difitnah.

Lalu masuk penjara.

Dari sudut manusia, setiap tahap itu terlihat semakin menjauhkan Yusuf dari mimpi yang pernah Tuhan berikan.

Bagaimana seseorang yang bermimpi menjadi pemimpin justru menjadi budak dan tahanan?

Tetapi kemudian kita melihat bahwa penjara menjadi tempat Yusuf bertemu dengan juru minuman Firaun.

Pertemuan itu kelak menjadi penghubung yang membawa Yusuf ke istana.

Penjara yang terlihat seperti tempat penghentian perjalanan justru menjadi bagian dari jalur menuju kepemimpinan.

Ini mengajarkan bahwa kita tidak selalu dapat menentukan makna suatu peristiwa ketika sedang menjalaninya.

Ada peristiwa yang hari ini kita sebut:

“kegagalan,”

tetapi beberapa tahun kemudian kita melihatnya sebagai:

“pengalihan.”

Ada yang hari ini kita sebut:

“penundaan,”

tetapi kemudian kita melihatnya sebagai:

“persiapan.”

Jangan Terlalu Cepat Memberi Nama pada Keadaan

Kita sering memberi label terlalu cepat.

“Ini bencana.”

“Ini akhir.”

“Ini kehilangan yang sia-sia.”

Padahal kita belum mengetahui keseluruhan perjalanan.

Yusuf mungkin saja menyebut penjaranya sebagai kehancuran.

Namun ketika akhirnya berdiri di hadapan Firaun, ia dapat melihat cerita dari sudut yang berbeda.

Ini bukan berarti kita harus berpura-pura bahwa penderitaan menyenangkan.

Penjara tetap penjara.

Pengkhianatan tetap menyakitkan.

Tetapi makna akhir sebuah pengalaman belum tentu terlihat saat pengalaman itu sedang berlangsung.

Karena itu, lebih bijaksana berkata:

“Aku belum tahu apa yang Tuhan akan lakukan melalui keadaan ini.”

Tuhan Dapat Memakai Orang yang Tidak Kita Duga

Kadang kita mengharapkan pertolongan datang dari sumber tertentu.

Kita berkata:

“Orang ini pasti yang akan membantu.”

“Jalur ini pasti yang akan membuka kesempatan.”

Tetapi Tuhan sering bekerja melalui orang yang tidak kita perkirakan.

Dalam Alkitab, Tuhan memakai banyak orang yang tidak terduga.

Dia memakai Rahab, seorang perempuan dari Yerikho, untuk menolong pengintai Israel.

Dia memakai seorang gadis kecil Israel untuk memberi informasi kepada Naaman mengenai nabi Elisa.

Dia memakai Koresh, seorang raja Persia, untuk mengizinkan bangsa Israel kembali dan membangun kembali Yerusalem.

Ini mengingatkan kita:

Jangan menentukan terlebih dahulu dari mana pertolongan Tuhan harus datang.

Tuhan mempunyai kebebasan untuk memakai siapa pun.

Tuhan Dapat Membuka Kesempatan dari Tempat yang Tidak Kita Perhatikan

Kadang kita terlalu fokus mengetuk satu pintu sehingga tidak melihat jendela yang terbuka.

Kita berharap kesempatan datang melalui satu jalan tertentu.

Ketika jalan itu tertutup, kita merasa semuanya selesai.

Padahal mungkin ada kemungkinan lain.

Karena itu, dalam masa sulit kita membutuhkan dua hal:

iman dan kepekaan.

Iman untuk percaya Tuhan masih bekerja.

Kepekaan untuk melihat kesempatan baru.

Ada kalanya jawaban Tuhan tidak berbentuk membuka kembali pintu lama.

Jawabannya adalah menunjukkan pintu lain.

Yesaya 43:19 — Tuhan Membuat Sesuatu yang Baru

Yesaya 43:19 berkata:

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru.”

Kata “baru” berarti Tuhan tidak selalu mengulangi cara yang sama.

Bangsa Israel pernah melihat Tuhan membelah Laut Merah pada masa Musa.

Tetapi dalam Yesaya, Tuhan mengajak mereka tidak hanya hidup dari kenangan masa lalu.

Dia berkata bahwa Dia sedang melakukan sesuatu yang baru.

Ini merupakan pesan penting bagi kita.

Kadang kita terlalu terikat pada cara Tuhan menolong kita di masa lalu.

Kita berpikir:

“Dulu Tuhan menolong melalui cara ini, jadi sekarang pasti sama.”

Belum tentu.

Tuhan yang sama dapat bekerja dengan cara yang berbeda.

Jangan membatasi metode Tuhan.

“Belumkah Kamu Mengetahuinya?”

Yesaya melanjutkan:

“Yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?”

Ada sesuatu yang menarik.

Tuhan berkata bahwa pekerjaan baru itu sudah mulai tumbuh, tetapi umat belum menyadarinya.

Bukankah sering demikian?

Kadang Tuhan sudah mulai bekerja tetapi kita terlalu terfokus pada masalah sehingga tidak menyadarinya.

Mungkin sebuah kesempatan kecil sudah muncul.

Mungkin ada hubungan baru yang Tuhan buka.

Mungkin ada kemampuan baru yang sedang berkembang.

Mungkin suatu perubahan kecil sudah dimulai.

Tetapi karena kita mengharapkan sesuatu yang besar dan dramatis, kita tidak melihat tunas kecil tersebut.

Karena itu kita perlu berdoa:

“Tuhan, berikan aku mata untuk melihat apa yang sedang Engkau mulai.”

Jalan di Padang Gurun

Tuhan berkata:

“Aku hendak membuat jalan di padang gurun.”

Padang gurun adalah tempat yang sangat sulit untuk perjalanan.

Jalan tidak jelas.

Sumber air terbatas.

Panas.

Bahaya.

Tetapi Tuhan berkata Dia dapat membuat jalan di sana.

Secara rohani, ada masa ketika hidup kita seperti padang gurun.

Kita merasa kering.

Tidak ada arah.

Tidak banyak pertolongan.

Namun Tuhan dapat membuka jalan bahkan di tengah musim seperti itu.

Yang penting bukan apakah lingkungan terlihat ideal.

Yang penting adalah apakah Tuhan sedang memimpin.

Sungai di Padang Belantara

Ayat tersebut juga berkata:

“dan sungai-sungai di padang belantara.”

Bukan hanya jalan.

Tuhan menyediakan sumber kehidupan.

Padang belantara yang kering dapat menerima aliran air.

Gambaran ini berbicara mengenai kemampuan Tuhan menyediakan sesuatu di tempat yang manusia anggap mustahil.

Ketika sumber yang kita andalkan habis, Tuhan dapat membuka sumber lain.

Ketika satu cara tidak berhasil, Tuhan dapat memberikan hikmat untuk cara yang berbeda.

Ketika semangat mengering, Tuhan dapat memberikan kekuatan baru.

Salib: Kekalahan yang Tampaknya Menjadi Kemenangan

Puncak terbesar dari prinsip ini terlihat dalam salib Kristus.

Pada hari Yesus disalibkan, apa yang terlihat?

Seorang Guru ditangkap.

Murid-murid melarikan diri.

Yesus dihina.

Dia dipaku di kayu salib.

Dia mati.

Jika seseorang hanya melihat hari Jumat itu, kesimpulannya mungkin:

“Semua sudah berakhir.”

Para murid pun tampaknya merasa demikian.

Orang yang mereka harapkan sebagai Mesias sudah mati.

Salib terlihat seperti kekalahan.

Tetapi rencana Tuhan jauh lebih besar.

Apa yang tampak sebagai kekalahan justru menjadi pusat karya keselamatan.

Melalui salib, dosa ditebus.

Melalui kematian Kristus, jalan menuju rekonsiliasi dengan Allah dibuka.

Dan pada hari ketiga, kebangkitan menunjukkan bahwa kematian tidak memiliki kata terakhir.

Jumat Agung Mengajarkan Kita untuk Tidak Menilai Cerita pada Hari Jumat

Ada sebuah pelajaran rohani yang sangat indah.

Jika kita berhenti pada Jumat Agung, kita hanya melihat salib dan kubur.

Tetapi kita tahu bahwa Minggu Paskah datang.

Dalam kehidupan, kita sering hidup di “hari Jumat.”

Kita melihat kehilangan.

Kita melihat kegagalan.

Kita melihat akhir.

Namun kita belum mengetahui apa yang akan terjadi pada “hari Minggu.”

Kita tentu tidak boleh menjanjikan bahwa setiap masalah hidup akan berubah secara dramatis seperti kebangkitan Yesus. Namun salib dan kebangkitan mengajarkan prinsip besar:

Tuhan dapat bekerja melalui keadaan yang tampaknya seperti kekalahan.

Tuhan Sanggup Membalikkan Arah Cerita

Alkitab penuh dengan pembalikan.

Yusuf: dari penjara menuju istana.

Musa: dari pelarian menjadi pemimpin.

Ester: dari seorang perempuan muda biasa menjadi ratu yang dipakai menyelamatkan bangsa.

Daud: dari penggembala menjadi raja.

Petrus: dari seorang yang menyangkal Yesus menjadi pemberita Injil.

Salib: dari lambang hukuman menjadi lambang keselamatan.

Ini menunjukkan satu pola:

Tuhan dapat mengambil keadaan yang tampak kecil, rusak, atau gagal dan menggunakannya untuk sesuatu yang lebih besar.

Sekali lagi, ini bukan jaminan bahwa semua keinginan kita akan terjadi.

Tetapi ini memberi alasan untuk tidak putus asa terlalu cepat.

Jangan Mencoba Menentukan Bentuk Jawaban Tuhan

Kadang kita berdoa dengan jawaban yang sudah kita tentukan.

“Tuhan, tolong saya melalui cara ini.”

“Tuhan, kirim orang ini.”

“Tuhan, buka pintu itu.”

Kita boleh menyampaikan keinginan secara spesifik.

Tetapi kita juga perlu menyediakan ruang bagi Tuhan untuk bekerja dengan cara lain.

Doa yang dewasa berkata:

“Tuhan, inilah yang kuharapkan, tetapi aku terbuka terhadap cara-Mu.”

Jika kita terlalu terpaku pada satu bentuk jawaban, kita mungkin tidak menyadari jawaban Tuhan ketika datang dalam bentuk berbeda.

Jalan Baru Kadang Membutuhkan Kita Melepaskan Jalan Lama

Ada masa ketika Tuhan membuka jalan baru, tetapi kita terlalu sibuk melihat ke belakang.

Kita masih memikirkan:

“Seandainya dulu tidak gagal.”

“Seandainya pintu lama masih terbuka.”

“Seandainya orang itu tidak pergi.”

Yesaya 43:18–19 didahului perkataan agar umat tidak hanya mengingat hal-hal yang dahulu.

Ini bukan berarti melupakan pelajaran masa lalu.

Tetapi jangan sampai masa lalu membuat kita tidak dapat melihat apa yang sedang Tuhan lakukan sekarang.

Ada kalanya kita harus menerima:

“Bab itu sudah selesai.”

Kemudian bertanya:

“Tuhan, apa yang sedang Engkau buka sekarang?”

Jalan Tuhan Tidak Selalu Jalan Termudah

Kita juga tidak boleh beranggapan bahwa jika Tuhan membuka jalan, jalan itu pasti mudah.

Israel berjalan melewati Laut Merah, tetapi perjalanan mereka belum selesai.

Yusuf menjadi pemimpin, tetapi tanggung jawabnya sangat besar.

Paulus mengalami banyak pintu pelayanan terbuka, tetapi juga banyak tantangan.

Pintu yang dibuka Tuhan bukan selalu pintu menuju kenyamanan.

Kadang itu adalah pintu menuju tanggung jawab.

Karena itu ketika jalan terbuka, kita membutuhkan keberanian untuk melangkah.

Bedakan Iman dengan Kecerobohan

Percaya Tuhan akan membuka jalan bukan berarti mengambil keputusan tanpa pertimbangan.

Iman bukan berarti:

“Saya tidak perlu membuat rencana.”

“Saya tidak perlu mencari nasihat.”

“Saya akan bertindak sembarangan karena Tuhan pasti menolong.”

Tidak.

Alkitab juga mengajarkan hikmat.

Amsal menekankan pentingnya pertimbangan dan nasihat.

Tuhan dapat membuka jalan melalui:

perencanaan yang baik,

informasi,

nasihat,

kerja keras,

pembelajaran,

dan keputusan yang bijaksana.

Mujizat Tuhan tidak membuat tanggung jawab manusia menjadi tidak penting.

Ada Saatnya Kita Harus Mengetuk Lagi

Satu pintu yang tertutup tidak selalu berarti Tuhan berkata “tidak selamanya.”

Kadang jawabannya:

“Belum.”

Mungkin kita perlu lebih siap.

Lebih terampil.

Lebih matang.

Ada saat kita perlu mencoba kembali.

Namun ada pula saat kita harus melepaskan.

Karena itu kita membutuhkan hikmat untuk membedakan antara:

ketekunan dan memaksakan diri.

Doa sangat penting dalam proses ini.

“Tuhan, apakah aku harus mencoba lagi?”

“Atau apakah Engkau sedang mengarahkan aku ke jalan yang berbeda?”

Jangan Biarkan Kekecewaan Membuat Kita Buta terhadap Jalan Baru

Ketika satu rencana gagal, kekecewaan bisa begitu besar sehingga kita tidak melihat kemungkinan lain.

Kita duduk di depan pintu yang tertutup terlalu lama.

Sementara mungkin ada pintu lain yang terbuka beberapa langkah di belakang.

Karena itu kita perlu memberikan diri kesempatan untuk pulih.

Setelah kecewa, jangan terburu-buru.

Tetapi ketika hati mulai tenang, lihat kembali sekitar.

Tanyakan:

“Apa yang masih mungkin dilakukan?”

“Apa yang dapat saya pelajari?”

“Apakah ada arah baru?”

Tuhan Dapat Memakai Apa yang Kita Anggap Kecil

Musa hanya memegang tongkat.

Daud membawa umban dan batu.

Seorang anak mempunyai lima roti dan dua ikan.

Namun dalam tangan Tuhan, hal kecil menjadi bagian dari pekerjaan besar.

Ini berarti jalan baru tidak selalu datang dengan sesuatu yang besar.

Kadang jawaban dimulai dari sumber daya yang sudah ada dalam tangan kita.

Tanyakan:

“Apa yang masih saya miliki?”

Kemampuan.

Pengalaman.

Relasi.

Waktu.

Kesempatan kecil.

Jangan meremehkan itu.

Ketika Tidak Ada Jalan, Tunggu Arahan Sebelum Memaksa

Ada juga saat ketika kita belum melihat jalan karena memang waktunya belum tiba.

Tidak semua jalan buntu harus langsung kita dobrak.

Kadang Tuhan meminta kita menunggu.

Mazmur 27:14 berkata:

“Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!”

Menunggu bukan berarti Tuhan tidak bekerja.

Mungkin Dia sedang mempersiapkan jalan.

Mungkin Dia sedang mempersiapkan kita.

Karena itu jangan mengambil jalan yang salah hanya karena kita takut menunggu.

Lebih baik menunggu bersama Tuhan daripada berlari ke arah yang tidak tepat.

Pertanyaan Refleksi

Mari merenungkan beberapa hal:

  • Apakah saya sedang menganggap tidak ada jalan hanya karena belum melihat caranya?
  • Apakah saya membatasi Tuhan hanya pada satu bentuk jawaban?
  • Adakah pintu lama yang perlu saya lepaskan agar dapat melihat pintu baru?
  • Apakah ada kesempatan kecil yang selama ini saya abaikan?
  • Apakah saya membutuhkan keberanian untuk melangkah atau kesabaran untuk menunggu?
  • Apakah saya sedang memaksakan kehendak, atau sungguh mencari arah Tuhan?
  • Pengalaman sulit apa dalam masa lalu yang ternyata dipakai Tuhan untuk sesuatu yang lebih baik?
  • Apakah saya percaya Tuhan tetap mampu bekerja bahkan ketika keadaan terlihat seperti kegagalan?

Doa Ketika Jalan Belum Terlihat

“Tuhan, ada saat ketika aku merasa tidak melihat jalan di depanku. Aku sudah mencoba memahami keadaan ini, tetapi banyak hal masih belum jelas. Ingatkan aku bahwa Engkau tidak dibatasi oleh apa yang membatasi diriku. Jika ada jalan baru, bukalah mataku supaya aku dapat melihatnya. Jika aku harus menunggu, berikan aku kesabaran. Jika aku harus melangkah, berikan keberanian. Jika ada rencana lama yang harus kulepaskan, berikan hati yang rela. Tolong aku tidak memaksakan cara sendiri, tetapi pimpin aku menurut hikmat-Mu.”

Tuhan Masih Dapat Membuat Jalan

Mungkin hari ini kita berdiri seperti bangsa Israel di depan Laut Merah.

Di depan ada penghalang.

Di belakang ada tekanan.

Kita tidak tahu harus ke mana.

Tetapi jangan terlalu cepat berkata:

“Tidak ada jalan.”

Tuhan pernah membuat jalan melalui laut.

Mungkin kita merasa seperti Yusuf di penjara.

Tempat kita sekarang terlihat jauh dari harapan.

Tetapi jangan terlalu cepat berkata:

“Masa depanku selesai.”

Penjara dapat menjadi bagian dari jalan menuju sesuatu yang belum terlihat.

Mungkin hidup terasa seperti Jumat Agung.

Ada kehilangan.

Ada luka.

Ada sesuatu yang tampak berakhir.

Tetapi salib mengingatkan kita bahwa Tuhan sanggup bekerja bahkan melalui apa yang tampak sebagai kekalahan.

Yesaya 43:19 berkata:

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru.”

Karena itu buka mata.

Jangan hanya melihat apa yang tertutup.

Perhatikan juga apa yang mungkin sedang tumbuh.

Jangan hanya menghitung jalan yang tidak dapat dilewati.

Mintalah Tuhan menunjukkan jalan yang belum pernah kita pikirkan.

Hari ini mungkin terasa seperti jalan buntu, tetapi keterbatasan kita bukan keterbatasan Tuhan. Dia sanggup membuat jalan di padang gurun dan sungai di padang belantara. Dia dapat memakai hambatan, penundaan, bahkan kegagalan sebagai bagian dari perjalanan yang lebih besar.

Kita mungkin belum melihat jalannya.

Namun kita dapat tetap percaya kepada Dia yang mengetahui jalan.

Tuhan belum selesai berkarya. Dan ketika kita merasa tidak ada jalan lagi, justru pada saat itulah kita perlu membuka hati terhadap kemungkinan bahwa Tuhan sedang mempersiapkan jalan yang tidak pernah kita duga.

13. Pertolongan Tuhan Sering Datang Melalui Sesama

Ketika menghadapi masa sulit, kita sering berharap pertolongan Tuhan datang melalui sesuatu yang luar biasa: masalah tiba-tiba selesai, jalan terbuka secara ajaib, atau keadaan berubah dalam waktu singkat. Tuhan tentu sanggup menolong dengan cara-cara yang tidak kita duga. Namun dalam banyak pengalaman kehidupan, pertolongan Tuhan justru datang melalui cara yang sangat sederhana: melalui manusia yang Dia tempatkan di sekitar kita.

Melalui keluarga yang tetap mendampingi.

Melalui seorang sahabat yang bersedia mendengarkan.

Melalui anggota gereja yang mendoakan.

Melalui rekan kerja yang membantu menyelesaikan persoalan.

Melalui seseorang yang memberikan nasihat pada waktu yang tepat.

Bahkan terkadang melalui orang yang sebelumnya sama sekali tidak kita kenal.

Karena itu, jangan membatasi pertolongan Tuhan hanya pada sesuatu yang spektakuler. Tangan Tuhan sering bekerja melalui tangan manusia.

Galatia 6:2 berkata:

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

Ayat ini memperlihatkan bahwa kehidupan Kristen memang tidak dirancang untuk dijalani sendirian. Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam persekutuan, saling menopang, saling mendengarkan, saling mendoakan, dan saling menolong ketika beban kehidupan terasa terlalu berat.

Tuhan Sering Memakai Manusia untuk Menjawab Doa

Ada kalanya kita berdoa:

“Tuhan, tolonglah aku.”

Kemudian seseorang datang menawarkan pertolongan.

Kita berdoa:

“Tuhan, berikan aku kekuatan.”

Lalu seorang sahabat menelepon dan memberikan kata-kata penguatan.

Kita berdoa:

“Tuhan, aku tidak tahu harus berbuat apa.”

Kemudian kita bertemu seseorang yang memberikan nasihat yang sangat tepat.

Kita berdoa:

“Tuhan, aku sedang merasa sendirian.”

Lalu seseorang datang dan berkata:

“Aku ada di sini. Ceritakanlah kalau kamu mau.”

Sering kali kita menunggu sesuatu yang besar sehingga hampir tidak menyadari bahwa jawaban doa sudah hadir dalam bentuk sederhana.

Tuhan dapat menggunakan manusia sebagai saluran kasih-Nya.

Karena itu, ketika seseorang menolong kita pada saat yang tepat, kita dapat menerimanya bukan hanya sebagai kebaikan manusia, tetapi juga sebagai salah satu bentuk pemeliharaan Tuhan.

Alkitab Penuh dengan Kisah Pertolongan Melalui Sesama

Jika kita memperhatikan Alkitab, banyak pekerjaan Tuhan dilakukan melalui manusia.

Ketika bangsa Israel membutuhkan pemimpin, Tuhan memakai Musa.

Ketika Musa membutuhkan pertolongan dalam memimpin bangsa yang besar, Tuhan memberikan Harun dan orang-orang lain untuk mendampinginya.

Ketika Rut kehilangan suaminya dan menghadapi masa depan yang tidak pasti, Tuhan memakai Naomi dan kemudian Boas dalam perjalanan kehidupannya.

Ketika Daud berada dalam masa sulit karena Saul ingin membunuhnya, Tuhan memakai Yonatan sebagai sahabat yang menguatkan.

Ketika Paulus menjalankan pelayanan, ia tidak bekerja sendirian. Ada Barnabas, Silas, Timotius, Lukas, Priskila, Akwila, dan banyak rekan pelayanan lainnya.

Bahkan Yesus sendiri dalam pelayanan-Nya memilih dua belas murid untuk berjalan bersama-Nya.

Semua ini menunjukkan bahwa kehidupan iman bukanlah perjalanan individual yang terpisah dari orang lain.

Kita membutuhkan Tuhan.

Dan Tuhan sering memenuhi sebagian kebutuhan kita melalui kehadiran sesama.

Musa Belajar Bahwa Ia Tidak Bisa Melakukan Semuanya Sendirian

Keluaran 18 memberikan pelajaran yang sangat menarik.

Musa memimpin bangsa Israel dan setiap hari banyak orang datang kepadanya membawa berbagai persoalan.

Musa mencoba menyelesaikan semuanya sendiri.

Dari pagi sampai petang ia mendengarkan dan mengadili perkara bangsa itu.

Yitro, mertuanya, melihat keadaan tersebut dan berkata bahwa apa yang dilakukan Musa tidak baik.

Mengapa?

Karena Musa akan menjadi sangat lelah.

Yitro kemudian menyarankan agar Musa memilih orang-orang yang dapat dipercaya untuk membantu menangani sebagian tanggung jawab.

Ini adalah pelajaran penting.

Bahkan seorang pemimpin besar seperti Musa tidak dipanggil untuk melakukan semuanya sendirian.

Ada beban yang harus dibagi.

Ada tanggung jawab yang perlu didelegasikan.

Ada saat kita membutuhkan pertolongan.

Kemampuan menerima bantuan bukan tanda bahwa kita gagal.

Kadang justru itu adalah tanda kebijaksanaan.

Elia Juga Tidak Dibiarkan Sendirian

Ketika Elia mengalami kelelahan berat dalam 1 Raja-raja 19, ia merasa seolah-olah hanya dirinya yang tersisa.

Ia berkata kepada Tuhan bahwa hanya dirinya seorang diri yang masih setia.

Tetapi Tuhan menunjukkan bahwa sebenarnya masih ada tujuh ribu orang yang tidak menyembah Baal.

Selain itu, Tuhan juga mempersiapkan Elisa untuk berjalan bersama Elia.

Ini menunjukkan sesuatu yang penting:

Ketika kita sedang sangat lelah, kita dapat merasa:

“Tidak ada seorang pun yang memahami saya.”

Namun perasaan tidak selalu menggambarkan kenyataan sepenuhnya.

Mungkin ada orang yang sebenarnya bersedia membantu, tetapi kita belum membuka diri.

Mungkin ada komunitas yang dapat mendampingi.

Mungkin ada seseorang yang Tuhan sedang persiapkan untuk berjalan bersama kita.

Kita Tidak Diciptakan untuk Menanggung Semua Beban Sendirian

Sejak awal penciptaan, Allah mengatakan:

“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.” (Kejadian 2:18)

Ayat itu secara langsung berkaitan dengan penciptaan pasangan bagi Adam, tetapi prinsip yang lebih luas juga menunjukkan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk relasional.

Kita membutuhkan hubungan.

Kita membutuhkan komunitas.

Pengkhotbah 4:9–10 berkata:

“Berdua lebih baik dari pada seorang diri… Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya.”

Ada masa ketika kita mampu berjalan sendiri.

Tetapi ada masa ketika kita jatuh dan membutuhkan seseorang yang mengangkat.

Tidak ada manusia yang selalu kuat.

Karena itu, salah satu karunia Tuhan dalam kehidupan adalah kehadiran orang lain.

Galatia 6:2 — Menanggung Beban Bersama

Paulus mengatakan:

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!”

Kata “beban” menunjukkan sesuatu yang berat.

Bayangkan seseorang membawa sebuah barang yang terlalu berat.

Jika ia memaksakan mengangkat sendirian, ia dapat jatuh atau terluka.

Tetapi jika beberapa orang ikut memegang, beban itu menjadi lebih ringan.

Masalah kita mungkin tidak langsung hilang ketika diceritakan kepada seseorang.

Tetapi sering kali beban terasa lebih ringan karena kita tidak lagi memikulnya sendiri.

Kesedihan yang dibagikan tidak otomatis hilang.

Namun kita mendapatkan teman untuk menangis.

Kekhawatiran mungkin belum selesai.

Namun seseorang membantu kita melihat persoalan dari sudut yang lebih jernih.

Inilah kekuatan persekutuan.

Meminta Pertolongan Bukan Tanda Kelemahan

Ada orang yang sangat sulit meminta bantuan.

Mereka berpikir:

“Saya harus kuat.”

“Saya tidak ingin merepotkan orang lain.”

“Saya harus mampu menyelesaikan semuanya sendiri.”

Kadang sikap ini berasal dari rasa malu.

Kadang dari pengalaman pernah dikecewakan.

Kadang dari kesombongan yang tidak disadari.

Namun meminta pertolongan ketika memang membutuhkan bukanlah kelemahan.

Justru dibutuhkan kerendahan hati untuk mengatakan:

“Saya tidak sanggup melakukan ini sendiri.”

Ada perbedaan antara bergantung secara tidak sehat kepada orang lain dan menerima pertolongan dengan bijaksana.

Kita tetap bertanggung jawab terhadap kehidupan kita sendiri.

Namun kita juga mengakui bahwa pada waktu tertentu kita membutuhkan orang lain.

Bahkan Yesus Menerima Kehadiran Orang Lain

Di taman Getsemani, ketika Yesus menghadapi penderitaan yang sangat berat, Ia membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes bersama-Nya.

Yesus berkata:

“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”
(Matius 26:38)

Ini sangat menyentuh.

Yesus tidak menyembunyikan kesedihan-Nya.

Ia mengatakan apa yang dirasakan-Nya.

Dan Ia meminta murid-murid untuk tinggal bersama-Nya.

Tentu para murid kemudian gagal berjaga karena tertidur.

Namun kisah ini tetap menunjukkan bahwa kebutuhan akan kehadiran orang lain bukan sesuatu yang memalukan.

Jika Yesus dalam kemanusiaan-Nya dapat mengungkapkan kesedihan dan meminta murid-murid menemani-Nya, kita pun tidak perlu merasa bahwa membuka diri adalah tanda kegagalan iman.

Membuka Diri Membutuhkan Keberanian dan Kebijaksanaan

Walaupun penting untuk berbagi beban, bukan berarti kita harus menceritakan setiap persoalan kepada semua orang.

Kita membutuhkan kebijaksanaan.

Pilihlah orang yang dapat dipercaya.

Orang yang mampu menjaga kerahasiaan.

Orang yang tidak cepat menghakimi.

Orang yang memiliki kedewasaan.

Orang yang mampu mendengarkan.

Amsal 11:13 memperingatkan tentang orang yang membuka rahasia, sedangkan orang yang dapat dipercaya mampu menyimpan perkara.

Jadi membuka diri bukan berarti kehilangan batas.

Kita dapat memilih kepada siapa kita bercerita.

Kadang Kita Tidak Membutuhkan Nasihat, Hanya Kehadiran

Ketika seseorang bercerita tentang masalahnya, kita sering merasa harus segera memberikan solusi.

Padahal tidak semua orang yang sedang terluka membutuhkan jawaban pada saat itu.

Kadang ia hanya membutuhkan seseorang berkata:

“Aku mendengarkan.”

Ayub mempunyai tiga sahabat yang datang ketika mendengar penderitaannya.

Menariknya, pada awalnya mereka duduk bersama Ayub selama tujuh hari tanpa berkata apa-apa.

Bagian terbaik dari pendampingan mereka justru mungkin saat mereka diam.

Masalah mulai muncul ketika mereka terlalu banyak mencoba menjelaskan alasan penderitaan Ayub.

Pelajarannya sangat penting.

Tidak semua kesedihan perlu segera dijawab.

Ada luka yang membutuhkan telinga sebelum membutuhkan nasihat.

Ada orang yang membutuhkan pelukan sebelum membutuhkan teori.

Kehadiran Bisa Menjadi Pelayanan yang Sangat Besar

Kadang kita merasa tidak dapat membantu karena tidak mempunyai uang atau solusi.

Tetapi kehadiran adalah bentuk pelayanan.

Datang menjenguk.

Menghubungi seseorang.

Duduk bersama.

Mengantar makanan.

Mengantarkan ke suatu tempat.

Menjaga anak beberapa jam.

Mendengarkan cerita.

Mendoakan.

Tindakan sederhana seperti itu dapat menjadi sangat berarti.

Ketika seseorang mengalami kehilangan, kita mungkin tidak dapat mengembalikan apa yang hilang.

Tetapi kita dapat memastikan bahwa ia tidak berjalan sendirian.

Pertolongan Tuhan Dapat Datang dari Orang yang Tidak Kita Duga

Kita juga tidak boleh membatasi Tuhan hanya pada lingkaran orang yang kita kenal.

Alkitab menunjukkan Tuhan sering memakai orang yang tidak terduga.

Dalam perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati, orang yang menolong korban perampokan justru seorang Samaria.

Orang yang secara sosial dianggap berada di luar kelompoknya.

Imam lewat.

Orang Lewi lewat.

Tetapi orang Samaria berhenti.

Ia merawat luka.

Mengangkat korban ke atas keledainya.

Membawanya ke tempat penginapan.

Membayar biaya perawatannya.

Yesus memakai cerita ini untuk menunjukkan makna kasih kepada sesama.

Pelajarannya bagi kita:

Pertolongan dapat datang dari arah yang tidak kita duga.

Jangan terlalu cepat menolak orang hanya karena ia berbeda dari yang kita bayangkan sebagai penolong.

Gereja Seharusnya Menjadi Tempat untuk Memikul Beban Bersama

Gereja bukan hanya tempat datang hari Minggu, bernyanyi, mendengar khotbah, kemudian pulang.

Gereja adalah tubuh Kristus.

1 Korintus 12 menggambarkan bahwa jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita.

Artinya gereja dipanggil menjadi komunitas yang peduli.

Ketika seseorang sakit, ada yang mengunjungi.

Ketika seseorang berduka, ada yang mendampingi.

Ketika seseorang mengalami kesulitan ekonomi, gereja mencari cara membantu secara bijaksana.

Ketika seseorang lemah secara rohani, ada yang mendoakan dan menguatkan.

Gereja seharusnya menjadi tempat seseorang dapat berkata:

“Saya sedang tidak baik-baik saja,”

tanpa takut langsung dihakimi.

Gereja Bukan Tempat Orang Berpura-pura Sempurna

Kadang budaya dalam komunitas dapat membuat orang merasa harus selalu terlihat kuat.

Ketika ditanya:

“Bagaimana kabar?”

jawabannya selalu:

“Puji Tuhan, baik.”

Padahal sebenarnya hati sedang sangat berat.

Tentu tidak semua masalah perlu diumumkan kepada seluruh jemaat.

Tetapi gereja perlu membangun ruang yang aman agar orang dapat mempunyai beberapa orang terpercaya untuk berbagi pergumulan.

Komunitas Kristen yang sehat bukan komunitas tanpa masalah.

Komunitas Kristen yang sehat adalah komunitas yang tahu bagaimana membawa masalah bersama kepada Tuhan.

Keluarga Sering Menjadi Saluran Pertolongan Pertama

Dalam banyak keadaan, keluarga adalah orang pertama yang berada di dekat kita.

Mungkin mereka tidak sempurna.

Kadang ada perbedaan pendapat.

Tetapi keluarga dapat menjadi sumber dukungan yang sangat penting.

Kita perlu belajar berkomunikasi.

Daripada memendam semuanya, kita dapat berkata:

“Aku sedang mengalami masa sulit.”

“Aku membutuhkan waktu untuk berbicara.”

“Aku membutuhkan dukungan.”

Sebaliknya, kita juga perlu lebih peka melihat anggota keluarga yang mungkin sedang membutuhkan pertolongan.

Kadang seseorang tidak akan mengatakan:

“Tolong aku.”

Tetapi perubahan sikapnya dapat menunjukkan bahwa ia sedang membawa beban.

Sahabat Sejati Hadir dalam Masa Sulit

Amsal 17:17 berkata:

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”

Sahabat sejati tidak hanya hadir ketika kehidupan menyenangkan.

Ia hadir ketika kita sedang berjuang.

Mungkin ia tidak mampu menghilangkan persoalan.

Namun ia tidak pergi hanya karena hidup kita sedang berantakan.

Hubungan seperti ini adalah anugerah.

Karena itu, jika Tuhan memberikan sahabat yang setia, jangan anggap biasa.

Peliharalah hubungan tersebut.

Dan jadilah sahabat seperti itu bagi orang lain.

Rekan Kerja Pun Dapat Menjadi Alat Tuhan

Tuhan dapat memakai pertolongan dalam ruang yang sangat sehari-hari.

Seorang rekan kerja membantu menyelesaikan tugas.

Atasan memberikan kesempatan.

Seseorang membagikan informasi.

Teman membantu ketika kita belum memahami sesuatu.

Kita mungkin tidak menyebut semua itu sebagai “mukjizat.”

Namun pertolongan Tuhan sering hadir melalui kerja sama manusia.

Tidak perlu setiap pertolongan memiliki bentuk spektakuler agar layak disyukuri.

Kita Juga Dipanggil Menjadi Jawaban bagi Doa Orang Lain

Ini adalah sisi lain yang sangat penting.

Kita sering berdoa:

“Tuhan, tolong orang yang sedang mengalami kesulitan.”

Lalu mungkin Tuhan bertanya kepada hati kita:

“Apa yang dapat kamu lakukan?”

Yakobus 2:15–16 memberikan contoh seseorang yang kekurangan pakaian dan makanan. Tidak cukup hanya berkata:

“Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang,”

tanpa memberikan apa yang dibutuhkan.

Doa penting.

Tetapi doa dapat mendorong tindakan.

Jika kita mampu membantu, lakukan.

Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan seluruh masalah seseorang.

Tetapi kita dapat melakukan bagian kecil.

Jangan Menunggu Menjadi Kaya untuk Menolong

Menolong tidak selalu membutuhkan uang banyak.

Kita dapat memberi waktu.

Perhatian.

Tenaga.

Pengetahuan.

Jaringan.

Kata-kata penguatan.

Doa.

Kadang satu telepon mempunyai nilai lebih besar daripada pemberian materi.

Kadang seseorang membutuhkan informasi pekerjaan.

Kadang membutuhkan orang yang mengantarnya.

Kadang hanya membutuhkan teman minum kopi dan berbicara.

Setiap orang memiliki sesuatu yang dapat diberikan.

Menolong Harus Disertai Kebijaksanaan

Kasih tidak berarti kita harus memenuhi setiap permintaan.

Ada pertolongan yang benar-benar membantu.

Ada juga bentuk pertolongan yang tanpa sengaja membuat seseorang semakin tidak bertanggung jawab.

Karena itu kita membutuhkan hikmat.

Kadang menolong berarti memberi sesuatu.

Kadang berarti mendampingi seseorang belajar menyelesaikan masalahnya.

Kadang berarti berkata “tidak” terhadap permintaan yang tidak sehat.

Kasih yang benar bukan hanya ingin membuat seseorang merasa nyaman hari ini.

Kasih juga memikirkan kebaikan jangka panjang.

Menanggung Beban Tidak Sama dengan Mengambil Alih Seluruh Tanggung Jawab

Galatia 6:2 berkata menanggung beban bersama.

Namun beberapa ayat kemudian, Galatia 6:5 mengatakan setiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.

Kedua ayat ini saling melengkapi.

Ada beban berat yang memang membutuhkan bantuan.

Tetapi setiap orang juga mempunyai tanggung jawab pribadi.

Kita menolong orang tanpa membuat mereka sepenuhnya bergantung kepada kita.

Kita mendukung tanpa mengambil alih seluruh kehidupannya.

Kita berjalan bersama tanpa hidup menggantikan mereka.

Inilah pertolongan yang sehat.

Jangan Malu Menerima Pertolongan

Ada orang yang senang membantu, tetapi sulit menerima bantuan.

Mereka merasa:

“Kalau saya menerima, berarti saya berutang.”

“Atau orang akan menganggap saya lemah.”

Padahal kehidupan adalah perjalanan saling memberi dan menerima.

Hari ini kita mungkin ditolong.

Besok kita mungkin menolong orang lain.

Dalam tubuh Kristus, tidak ada seorang pun yang selalu berada pada posisi memberi.

Paulus sendiri menerima pertolongan dari banyak jemaat dalam pelayanannya.

Menerima bantuan dengan rasa syukur juga merupakan bentuk kerendahan hati.

Pertolongan Sesama Tidak Menggantikan Tuhan

Kita juga perlu menjaga keseimbangan.

Manusia adalah alat, bukan sumber utama.

Jika seluruh harapan kita diletakkan pada seseorang, kita akan mudah kecewa.

Orang dapat gagal.

Sahabat dapat tidak memahami.

Keluarga dapat terbatas.

Pemimpin rohani juga manusia.

Mazmur 121 berkata bahwa pertolongan datang dari Tuhan.

Namun Tuhan dapat menyampaikan pertolongan itu melalui manusia.

Jadi ketika seseorang menolong kita, kita bersyukur kepadanya, tetapi hati tetap berakar kepada Tuhan.

Ada Saat Kita Memerlukan Pertolongan yang Lebih Khusus

Tidak setiap masalah cukup diselesaikan dengan percakapan bersama sahabat.

Ada situasi yang memerlukan orang dengan keahlian tertentu.

Masalah hukum membutuhkan pendampingan yang tepat.

Masalah keuangan tertentu mungkin memerlukan nasihat profesional.

Konflik yang berat dapat membutuhkan mediator.

Persoalan emosional yang sangat berat dapat membutuhkan dukungan dari tenaga yang kompeten.

Mencari bantuan yang sesuai bukan tanda kurang iman.

Tuhan juga memberikan pengetahuan, keterampilan, dan profesi untuk menolong manusia.

Kita dapat berdoa sekaligus mencari pertolongan yang tepat.

Jadilah Orang yang Aman bagi Mereka yang Sedang Terluka

Jika seseorang mempercayakan cerita kepada kita, jangan mudah menyebarkannya.

Jangan menjadikan penderitaannya bahan percakapan.

Jangan langsung menghakimi.

Jangan membandingkan penderitaannya dengan pengalaman kita.

Kalimat seperti:

“Ah, itu belum seberapa.”

dapat sangat menyakitkan.

Lebih baik berkata:

“Saya ikut prihatin. Apa yang dapat saya lakukan?”

Menjadi orang yang aman adalah pelayanan besar.

Belajar Bertanya, “Apa yang Kamu Butuhkan?”

Kadang kita salah menolong karena menganggap tahu apa yang dibutuhkan orang lain.

Padahal kebutuhan setiap orang berbeda.

Seseorang mungkin membutuhkan nasihat.

Yang lain hanya ingin didengarkan.

Seseorang membutuhkan bantuan praktis.

Yang lain membutuhkan waktu sendiri.

Karena itu pertanyaan sederhana sangat membantu:

“Apa yang paling kamu butuhkan saat ini?”

Pertanyaan ini menghormati orang lain dan membuat pertolongan lebih tepat.

Membawa Beban Orang Lain dalam Doa

Jika tidak dapat melakukan banyak hal, kita masih dapat mendoakan.

Paulus berulang kali meminta jemaat mendoakannya.

Doa syafaat berarti kita membawa kebutuhan orang lain di hadapan Tuhan.

Kadang orang yang sangat lelah sulit berdoa untuk dirinya sendiri.

Pada saat itu komunitas dapat menjadi orang-orang yang berkata:

“Kami akan berdoa bersamamu.”

Betapa indahnya jika gereja dan keluarga menjadi tempat di mana seseorang yang kehilangan kekuatan masih mempunyai orang-orang yang menopangnya dalam doa.

Pertolongan Kecil Dapat Mengubah Hari Seseorang

Kita sering menunggu kesempatan besar untuk menjadi berkat.

Padahal sebuah pesan sederhana dapat mengubah hari seseorang:

“Bagaimana kabarmu?”

“Saya ingat kamu dalam doa hari ini.”

“Kalau perlu berbicara, saya siap mendengarkan.”

“Bolehkah saya membantu sesuatu?”

Kita tidak tahu seberapa berat beban orang lain.

Mungkin kata-kata kecil itu datang tepat ketika ia hampir menyerah.

Karena itu, jangan menunda kebaikan yang dapat kita lakukan hari ini.

Amsal 3:27 berkata:

“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.”

Pertanyaan Refleksi

Mari kita merenungkan:

  • Apakah saya sedang mencoba membawa terlalu banyak beban sendirian?
  • Mengapa saya sulit meminta pertolongan?
  • Siapa orang yang dapat saya percaya untuk mendengar pergumulan saya?
  • Apakah Tuhan selama ini sudah mengirim pertolongan melalui seseorang tetapi saya tidak menyadarinya?
  • Apakah saya menghargai keluarga, sahabat, gereja, dan orang-orang yang mendampingi saya?
  • Adakah seseorang di sekitar saya yang sedang mengalami hari berat?
  • Apa yang dapat saya lakukan untuk meringankan bebannya?
  • Apakah saya lebih cepat memberi nasihat daripada mendengarkan?
  • Apakah saya menjadi orang yang aman bagi orang yang mempercayakan cerita?
  • Apakah pertolongan saya membuat orang lain semakin kuat dan bertanggung jawab?

Doa untuk Menerima dan Menjadi Pertolongan

“Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak menciptakan aku untuk menjalani kehidupan sendirian. Bukalah mataku untuk melihat orang-orang yang Engkau pakai sebagai saluran pertolongan-Mu. Berikan aku kerendahan hati untuk meminta bantuan ketika aku tidak sanggup menanggung semuanya sendiri. Berikan aku kebijaksanaan memilih orang yang dapat dipercaya. Dan jangan biarkan aku hanya menjadi orang yang ingin ditolong. Pakailah hidupku juga untuk meringankan beban orang lain. Berikan kepadaku hati yang peka, telinga yang mau mendengar, tangan yang mau menolong, dan mulut yang mengucapkan penguatan.”

Kita Tidak Harus Berjalan Sendirian

Mungkin hari ini kita sedang mengalami perjalanan yang berat.

Mungkin kita sudah terlalu lama mencoba terlihat kuat.

Mungkin kita merasa bahwa semua beban harus kita selesaikan sendiri.

Namun ingatlah:

kita tidak harus berjalan sendirian.

Tuhan dapat memakai keluarga.

Tuhan dapat memakai sahabat.

Tuhan dapat memakai gereja.

Tuhan dapat memakai rekan kerja.

Tuhan bahkan dapat memakai seseorang yang tidak pernah kita duga.

Jangan menolak pertolongan hanya karena pertolongan itu datang melalui manusia.

Bisa jadi tangan yang terulur kepada kita adalah salah satu cara Tuhan berkata:

“Aku masih peduli kepadamu.”

Dan ketika kita sendiri sedang berada dalam keadaan yang lebih kuat, lihatlah sekeliling.

Mungkin ada seseorang yang sedang membutuhkan kita.

Mungkin ia tidak membutuhkan jawaban besar.

Mungkin hanya membutuhkan seseorang yang mau tinggal di sampingnya.

Galatia 6:2 berkata:

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!”

Inilah panggilan kehidupan bersama.

Hari ini kita mungkin menjadi orang yang ditolong.

Besok kita dapat menjadi orang yang menolong.

Hari ini mungkin berat, tetapi Tuhan tidak selalu mengirim pertolongan dari langit dalam bentuk yang spektakuler. Kadang Dia mengirim seorang manusia—sebuah keluarga, seorang sahabat, seorang saudara seiman, seorang rekan, atau bahkan orang asing—untuk mengatakan melalui kehadirannya: “Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”

Dan mungkin hari ini Tuhan juga ingin memakai kita untuk menyampaikan pesan yang sama kepada orang lain.

Tuhan belum selesai berkarya. Salah satu cara Dia berkarya adalah ketika kita saling memikul beban dan menjadi saluran kasih-Nya bagi sesama.

14. Harapan Orang Percaya Tidak Berakhir pada Keadaan Sekarang

Salah satu kekuatan terbesar dalam kehidupan orang percaya adalah pengharapan. Bukan pengharapan yang dibangun atas dugaan bahwa semua persoalan akan segera selesai, bukan pula keyakinan bahwa kehidupan akan selalu berjalan sesuai keinginan kita, melainkan pengharapan yang berakar pada Tuhan yang setia.

Keadaan hidup dapat berubah dengan sangat cepat.

Hari ini seseorang dapat berada dalam keadaan baik, besok menghadapi persoalan.

Hari ini pekerjaan berjalan lancar, besok muncul ketidakpastian.

Hari ini tubuh terasa sehat, besok kita dapat menghadapi kelemahan.

Hari ini hubungan berjalan baik, besok muncul konflik atau kesalahpahaman.

Karena itu, jika pengharapan kita hanya dibangun di atas keadaan yang nyaman, pengharapan itu akan mudah runtuh ketika keadaan berubah.

Orang percaya membutuhkan dasar yang lebih kuat.

Dasar itu adalah Kristus.

Paulus berkata dalam Roma 8:38–39 bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan orang percaya dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus.

Inilah alasan kita dapat tetap berharap ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Bukan karena kita mengetahui seluruh jawabannya.

Bukan karena kita yakin semua rencana akan berjalan seperti yang kita inginkan.

Tetapi karena kita mengetahui bahwa kasih dan kesetiaan Tuhan tidak berubah bersama perubahan keadaan.

Keadaan Dunia Selalu Berubah

Kita hidup di dunia yang penuh perubahan.

Ekonomi berubah.

Teknologi berubah.

Situasi sosial berubah.

Hubungan antarmanusia berubah.

Kesehatan berubah.

Pekerjaan berubah.

Bahkan pikiran dan perasaan kita sendiri dapat berubah.

Apa yang hari ini terlihat pasti dapat menjadi tidak pasti besok.

Karena itu Alkitab berulang kali mengingatkan manusia agar tidak meletakkan dasar kehidupan hanya pada hal-hal yang sementara.

Mazmur 46 menggambarkan keadaan yang sangat ekstrem: bumi berubah, gunung-gunung goncang, dan laut bergelora. Namun di tengah semua itu pemazmur berkata:

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan.”

Artinya, di tengah dunia yang berubah, orang percaya mempunyai tempat berpijak yang tidak berubah.

Ibrani 13:8 berkata:

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”

Inilah kontras iman Kristen:

dunia berubah, tetapi Kristus tetap.

Masalah Datang dan Pergi

Jika kita melihat kembali perjalanan hidup, kita akan menyadari bahwa banyak masalah yang dahulu terasa sangat besar ternyata sudah berlalu.

Mungkin dahulu ada persoalan yang membuat kita sulit tidur.

Pada saat itu kita berpikir:

“Bagaimana saya akan melewati ini?”

Namun akhirnya masa itu berlalu.

Kemudian datang persoalan lain.

Demikianlah kehidupan.

Ada musim tenang.

Ada musim penuh tekanan.

Pengkhotbah 3 mengatakan bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya.

Ada waktu menangis dan ada waktu tertawa.

Ada waktu meratap dan ada waktu menari.

Ini berarti satu musim tidak berlangsung selamanya.

Maka ketika sekarang kita berada dalam masa berat, jangan langsung berpikir bahwa keadaan ini akan menjadi seluruh masa depan.

Masalah dapat datang, tetapi masalah juga dapat berlalu.

Dan bahkan ketika satu persoalan berlangsung lama, kita tetap tidak boleh membiarkan persoalan itu menjadi satu-satunya definisi tentang kehidupan kita.

Kesulitan Hari Ini Bukan Identitas Kita

Ada bahaya ketika kita mulai menyamakan keadaan dengan identitas.

Kita gagal lalu berkata:

“Saya orang gagal.”

Kita kehilangan pekerjaan lalu berkata:

“Saya tidak berguna.”

Kita ditolak lalu berkata:

“Saya tidak berharga.”

Kita mengalami masa berat lalu berkata:

“Hidup saya selalu buruk.”

Padahal keadaan bukan identitas.

Roma 8 berbicara kepada orang-orang percaya yang menghadapi penderitaan, tetapi Paulus tidak mendefinisikan mereka berdasarkan penderitaan tersebut.

Mereka tetap adalah orang-orang yang dikasihi Allah.

Demikian pula kita.

Keadaan dapat berubah.

Jabatan dapat berubah.

Keuangan dapat berubah.

Kemampuan fisik dapat berubah.

Tetapi identitas orang percaya berakar dalam Kristus.

Kesetiaan Tuhan Tetap di Tengah Perubahan

Ratapan 3:22–23 berkata:

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”

Ayat ini menjadi lebih kuat ketika kita memahami konteksnya.

Ratapan lahir dari keadaan yang sangat menyedihkan. Yerusalem mengalami kehancuran. Bangsa itu mengalami penderitaan besar.

Namun di tengah ratapan, masih muncul pernyataan:

“Besar kesetiaan-Mu.”

Ini bukan ucapan orang yang hidupnya sedang nyaman.

Ini adalah pengakuan iman di tengah kehancuran.

Di situlah kita belajar:

Kesetiaan Tuhan tidak hanya dapat ditemukan ketika keadaan baik.

Kadang kita justru mengenal kesetiaan Tuhan paling dalam ketika kita berada dalam keadaan sulit.

Pengharapan Kristen Lebih Besar daripada Keinginan agar Masalah Cepat Selesai

Ketika menghadapi masalah, sangat wajar jika kita berharap:

“Semoga cepat selesai.”

Kita berdoa untuk pemulihan.

Kita meminta jalan keluar.

Kita berharap keadaan kembali nyaman.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun jika pengharapan Kristen hanya berarti:

“Saya berharap masalah segera hilang,”

maka pengharapan itu terlalu kecil.

Pengharapan orang percaya jauh lebih besar.

Pengharapan kita adalah bahwa apa pun yang terjadi, Tuhan tetap bersama kita dan hidup kita tetap berada dalam tangan-Nya.

Jika Tuhan membuka jalan, kita bersyukur.

Jika kita harus menunggu, kita tetap percaya.

Jika rencana berubah, kita tetap mengikuti-Nya.

Jika keadaan tidak kembali seperti dahulu, kita percaya Tuhan masih dapat memberikan makna dan arah baru.

Itulah pengharapan yang tidak bergantung sepenuhnya pada kenyamanan.

Roma 8:28 — Allah Turut Bekerja dalam Segala Sesuatu

Roma 8:28 merupakan salah satu ayat yang paling sering dikutip ketika orang menghadapi kesulitan:

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.”

Ayat ini sangat menguatkan, tetapi harus dipahami dengan hati-hati.

Paulus tidak berkata:

“Segala sesuatu adalah baik.”

Ada hal yang memang buruk.

Kehilangan menyakitkan.

Ketidakadilan adalah salah.

Pengkhianatan adalah luka.

Penderitaan tidak harus disebut baik.

Namun Paulus berkata:

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu.

Artinya, Tuhan sanggup bekerja bahkan di tengah sesuatu yang buruk untuk menghasilkan tujuan yang baik menurut kehendak-Nya.

Inilah perbedaan penting.

Bukan semua pengalaman kita baik.

Tetapi tidak ada pengalaman yang berada di luar kemampuan Tuhan untuk bekerja di dalamnya.

“Kebaikan” Tidak Selalu Berarti Kenyamanan

Kita juga perlu memahami kata “kebaikan” dalam Roma 8:28.

Kita sering mengartikannya:

“Semua akan berakhir menjadi keadaan yang lebih nyaman.”

Tetapi ayat berikutnya, Roma 8:29, berbicara tentang menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.

Ini berarti salah satu kebaikan terbesar yang Tuhan kerjakan adalah membentuk kita semakin menyerupai Kristus.

Kadang kebaikan itu berupa jalan yang terbuka.

Kadang berupa perlindungan.

Kadang berupa kesempatan baru.

Tetapi kadang kebaikan itu berupa:

iman yang lebih matang,

karakter yang lebih kuat,

kerendahan hati,

pengampunan,

ketekunan,

dan kasih yang lebih dalam.

Kita mungkin berdoa:

“Tuhan, buat hidupku lebih mudah.”

Tetapi Tuhan dapat sedang mengerjakan sesuatu yang lebih dalam:

“Aku sedang membentuk hidupmu menjadi lebih matang.”

Roma 8 Lahir dari Konteks Penderitaan

Kita perlu melihat bahwa Roma 8 bukan pasal yang menyangkal penderitaan.

Paulus berbicara tentang penderitaan zaman sekarang.

Ia berbicara tentang keluhan seluruh ciptaan.

Ia berbicara tentang kelemahan manusia.

Ia bahkan bertanya:

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?”

Lalu ia menyebut:

penindasan,

kesesakan,

penganiayaan,

kelaparan,

ketelanjangan,

bahaya,

dan pedang.

Jadi pengharapan Roma 8 bukan pengharapan orang yang tidak pernah mengalami masalah.

Justru pengharapan itu muncul di tengah realitas penderitaan.

Roma 8:38–39 — Tidak Ada yang Dapat Memisahkan Kita dari Kasih Allah

Paulus berkata:

“Aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang… tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus.”

Perhatikan betapa luasnya pernyataan itu.

Maut maupun hidup.

Artinya bahkan batas paling besar dalam pengalaman manusia tidak dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan.

Yang ada sekarang maupun yang akan datang.

Artinya bukan hanya persoalan hari ini.

Bahkan ketidakpastian masa depan tidak berada di luar kasih Allah.

Inilah dasar pengharapan.

Kita mungkin tidak tahu apa yang akan datang.

Tetapi kita tahu bahwa apa pun yang datang tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.

Pengharapan Tidak Sama dengan Optimisme

Optimisme berkata:

“Saya yakin semuanya akan menjadi lebih baik.”

Pengharapan Kristen berkata:

“Apa pun yang terjadi, Tuhan tetap setia.”

Optimisme sering dibangun pada prediksi.

Pengharapan dibangun pada Pribadi.

Kita boleh berharap keadaan membaik.

Tetapi iman tidak berhenti di sana.

Jika keadaan tidak berubah sesuai keinginan kita, Kristus tetap menjadi dasar kehidupan.

Ini membuat pengharapan Kristen lebih kuat daripada sekadar berpikir positif.

Kita Tidak Selalu Dijanjikan Kehidupan Nyaman

Yesus sendiri berkata:

“Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33)

Yesus tidak menjanjikan murid-murid-Nya bebas dari kesulitan.

Dia justru realistis.

Tetapi setelah mengatakan akan ada kesesakan, Yesus berkata:

“Kuatkanlah hatimu.”

Mengapa?

Karena kemenangan terakhir berada pada Kristus.

Inilah pengharapan yang lebih besar daripada kenyamanan.

Kita bukan sekadar berharap hidup selalu mudah.

Kita berharap karena Kristus telah mengalahkan dosa dan maut.

Salib dan Kebangkitan adalah Dasar Pengharapan

Jika kita ingin memahami pengharapan Kristen, lihatlah salib dan kebangkitan.

Pada Jumat Agung, semuanya terlihat seperti kekalahan.

Yesus ditangkap.

Dihina.

Disalibkan.

Mati.

Dikuburkan.

Namun hari Minggu menunjukkan bahwa cerita belum selesai.

Kristus bangkit.

Karena itu orang percaya mempunyai dasar untuk berkata:

kegelapan tidak mempunyai kata terakhir.

Dosa tidak mempunyai kata terakhir.

Penderitaan tidak mempunyai kata terakhir.

Bahkan maut tidak mempunyai kata terakhir.

Kebangkitan Kristus adalah pusat pengharapan kita.

1 Petrus 1:3 menyebutnya sebagai pengharapan yang hidup melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati.

Pengharapan yang Hidup Berbeda dari Harapan Kosong

Kadang manusia berkata:

“Semoga saja.”

Mungkin terjadi.

Mungkin tidak.

Tetapi pengharapan Kristen disebut pengharapan yang hidup karena dasarnya adalah peristiwa nyata: Kristus bangkit.

Kita berharap bukan hanya karena kita ingin merasa lebih baik.

Kita berharap karena Tuhan telah bertindak dalam sejarah.

Kristus telah bangkit.

Maka hidup orang percaya mempunyai arah yang melampaui keadaan sementara.

Harapan Kita Tidak Berakhir pada Dunia Sekarang

Inilah bagian yang sangat penting.

Jika seluruh pengharapan kita hanya berada dalam kehidupan sekarang, kita akan sangat kecewa ketika ada hal yang tidak pernah pulih sepenuhnya.

Tidak semua penderitaan selesai dengan cara yang kita inginkan selama hidup.

Tidak semua penyakit berakhir dengan kesembuhan.

Tidak semua keadilan ditegakkan dengan sempurna.

Tidak setiap kehilangan dikembalikan.

Karena itu pengharapan Kristen juga mempunyai dimensi kekekalan.

Wahyu 21:4 memberikan gambaran bahwa Allah akan menghapus segala air mata dan maut tidak akan ada lagi.

Inilah harapan terakhir orang percaya.

Bukan hanya kehidupan yang lebih nyaman sekarang.

Tetapi pembaruan sempurna dalam kerajaan Allah.

Pengharapan Kekal Tidak Membuat Kita Mengabaikan Dunia Sekarang

Namun berharap kepada kekekalan bukan berarti kita tidak peduli kepada dunia sekarang.

Justru karena kita percaya Tuhan adalah Allah yang adil, penuh kasih, dan memulihkan, kita dipanggil menghadirkan nilai-nilai itu sekarang.

Kita menolong orang menderita.

Membela keadilan.

Merawat yang sakit.

Mendampingi yang lemah.

Menghibur yang berduka.

Membangun perdamaian.

Harapan kekal tidak membuat kita melarikan diri dari kehidupan.

Harapan itu memberi alasan untuk tetap bekerja bagi kebaikan sekalipun dunia belum sempurna.

Pengharapan Membuat Kita Tidak Mudah Menyerah

Orang yang kehilangan harapan akan bertanya:

“Untuk apa terus mencoba?”

Tetapi orang yang mempunyai pengharapan berkata:

“Cerita belum selesai.”

Karena itu ia masih dapat berdoa.

Masih dapat bekerja.

Masih dapat mengampuni.

Masih dapat mencoba lagi.

Masih dapat berbuat baik.

Pengharapan memberikan energi untuk melanjutkan perjalanan.

Roma 12:12 berkata:

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”

Ada hubungan yang sangat kuat antara pengharapan, ketekunan, dan doa.

Ketika Harapan pada Manusia Gagal

Ada masa ketika kita kecewa kepada manusia.

Seseorang yang kita percaya berubah.

Janji tidak ditepati.

Pertolongan yang kita harapkan tidak datang.

Pada saat itu kita belajar bahwa manusia mempunyai keterbatasan.

Mazmur 146 mengingatkan agar kita tidak menaruh kepercayaan mutlak kepada manusia.

Ini bukan berarti kita tidak boleh mempercayai siapa pun.

Kita tetap membutuhkan hubungan.

Tetapi dasar pengharapan terakhir tidak boleh diletakkan pada manusia.

Manusia adalah alat.

Tuhan adalah sumber.

Ketika Harapan pada Rencana Sendiri Gagal

Kadang bukan orang lain yang mengecewakan.

Rencana kita sendiri yang gagal.

Kita sudah menyusun semuanya.

Namun keadaan berubah.

Dalam situasi seperti ini, pengharapan Kristen menolong kita berkata:

“Rencanaku dapat gagal, tetapi Tuhan tidak kehilangan kendali.”

Amsal 16:9 berkata manusia merencanakan jalannya, tetapi Tuhan menentukan langkahnya.

Ini bukan alasan untuk tidak merencanakan.

Justru kita merencanakan sambil tetap membuka tangan.

“Tuhan, ini rencanaku. Jika ada jalan yang lebih baik menurut-Mu, tuntun aku.”

Harapan Kita Berakar pada Siapa Tuhan, Bukan pada Apa yang Kita Miliki

Apa yang kita miliki dapat hilang.

Uang dapat berkurang.

Jabatan dapat berakhir.

Kekuatan fisik dapat menurun.

Namun jika seluruh harapan kita berakar pada semua itu, kita akan kehilangan dasar ketika hal-hal tersebut berubah.

Mazmur 73:26 berkata:

“Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.”

Ini adalah pengakuan yang sangat dalam.

Allah sendiri menjadi bagian utama kehidupan.

Bukan sekadar pemberian-Nya.

Pengharapan Membantu Kita Menanggung Ketidakpastian

Kita tidak mengetahui seluruh masa depan.

Tetapi pengharapan memberi kita keberanian untuk berjalan tanpa mengetahui semuanya.

Seperti seseorang yang berjalan pada malam hari dengan pelita.

Ia tidak melihat seluruh jalan.

Tetapi cahaya cukup untuk beberapa langkah.

Pengharapan Kristen berkata:

“Aku mungkin tidak tahu besok, tetapi aku tahu Tuhan ada di sana.”

Itu cukup untuk mengambil langkah hari ini.

Jangan Menaruh Harapan pada Keadaan yang Sempurna

Kadang kita berkata:

“Saya akan bahagia kalau masalah ini selesai.”

“Saya akan tenang kalau mencapai target ini.”

“Saya akan bersukacita setelah mendapatkan itu.”

Tanpa sadar kita menunda hidup sampai keadaan sempurna.

Padahal selalu ada persoalan baru.

Jika damai hanya boleh datang setelah semua masalah selesai, mungkin kita tidak pernah benar-benar damai.

Paulus belajar merasa cukup dalam berbagai keadaan.

Filipi 4:12–13 menunjukkan ia pernah berkekurangan dan berkelimpahan.

Kekuatan utamanya bukan keadaan.

Ia berkata:

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Pengharapan Memungkinkan Kita Menangis tanpa Putus Asa

Orang percaya tetap dapat berduka.

Kita tetap menangis ketika kehilangan.

Tetapi Paulus mengatakan dalam 1 Tesalonika 4:13 bahwa orang percaya tidak berdukacita seperti mereka yang tidak mempunyai pengharapan.

Ia tidak berkata:

“Jangan berduka.”

Ia berkata:

“Berduka, tetapi dengan pengharapan.”

Ini sangat indah.

Iman Kristen tidak menghapus air mata.

Tetapi memberikan konteks bagi air mata.

Kita menangis, tetapi tidak percaya bahwa kegelapan adalah akhir.

Pengharapan Memberikan Perspektif yang Lebih Panjang

Ketika sedang berada dalam masalah, kita hanya melihat hari ini.

Pengharapan mengajak kita melihat lebih jauh.

Paulus berkata dalam 2 Korintus 4:17 bahwa penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan kemuliaan kekal yang jauh lebih besar.

Ini tidak berarti semua penderitaan terasa ringan.

Paulus sendiri mengalami penderitaan berat.

Ia sedang membandingkan penderitaan sekarang dengan kemuliaan kekal.

Artinya perspektif kekekalan mengubah cara kita menilai kesulitan.

Hari ini penting.

Tetapi hari ini bukan seluruh cerita.

Pengharapan Melahirkan Ketahanan

Seorang yang memiliki pengharapan dapat mengalami pukulan tetapi bangkit.

Bukan karena ia lebih kuat dari orang lain.

Tetapi karena ia mempunyai alasan untuk melanjutkan.

Amsal 24:16 berkata orang benar jatuh tujuh kali tetapi bangun kembali.

Mengapa bangun?

Karena masih ada harapan.

Karena masih ada Tuhan.

Karena masih ada hari esok.

Karena cerita belum selesai.

Harapan Kita Juga Melahirkan Kasih kepada Sesama

Jika kita sudah menerima pengharapan dalam Kristus, kita dipanggil membagikannya.

Bukan dengan memberikan jawaban sederhana kepada semua orang.

Kadang orang yang sedang menderita tidak membutuhkan kita berkata:

“Semua akan baik-baik saja.”

Karena kita sebenarnya tidak selalu tahu apakah keadaan akan sesuai keinginannya.

Lebih baik mengatakan:

“Saya tidak tahu bagaimana akhirnya, tetapi saya percaya Tuhan tetap menyertai. Saya juga akan berjalan bersamamu.”

Ini adalah pengharapan yang jujur.

Jangan Menjanjikan Apa yang Tuhan Tidak Janjikan

Dalam menguatkan orang lain, kita perlu berhati-hati.

Jangan berkata:

“Pasti minggu depan selesai.”

“Pasti Tuhan memberikan persis seperti yang kamu minta.”

“Pasti semuanya kembali seperti semula.”

Kita tidak mempunyai otoritas menjanjikan hal-hal tersebut.

Yang dapat kita katakan berdasarkan firman adalah:

Tuhan setia.

Tuhan menyertai.

Kasih-Nya tidak berakhir.

Dia dapat bekerja dalam segala keadaan.

Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya dalam Kristus.

Itulah janji yang kokoh.

Roma 8:28 dan Roma 8:38–39 Harus Dibaca Bersama

Roma 8:28 memberi kita keyakinan:

Tuhan bekerja.

Roma 8:38–39 memberi kita keyakinan:

Tuhan mengasihi dan tidak meninggalkan.

Ketika kedua kebenaran ini disatukan, lahirlah pengharapan yang kuat.

Saya belum memahami semuanya.

Tetapi Tuhan bekerja.

Saya belum melihat hasil.

Tetapi Tuhan bekerja.

Saya sedang menghadapi penderitaan.

Tetapi tidak ada yang dapat memisahkan saya dari kasih Kristus.

Masa depan belum jelas.

Tetapi kasih Tuhan sudah pasti.

Pertanyaan Refleksi

Mari merenungkan:

  • Apakah pengharapan saya terlalu bergantung kepada keadaan yang nyaman?
  • Apa yang paling saya takut kehilangan?
  • Jika rencana saya berubah, apakah saya masih dapat mempercayai Tuhan?
  • Apakah saya memahami Roma 8:28 sebagai janji bahwa Tuhan bekerja, bukan bahwa semua kejadian adalah baik?
  • Apakah saya sedang menunggu masalah selesai sebelum mengizinkan diri saya mempunyai sukacita?
  • Apakah saya sungguh percaya bahwa tidak ada keadaan yang dapat memisahkan saya dari kasih Kristus?
  • Bagaimana kebangkitan Kristus mengubah cara saya melihat penderitaan sekarang?
  • Siapa yang sedang membutuhkan pengharapan dan dapat saya dampingi?

Doa Pengharapan

“Tuhan, ketika keadaan berubah dan masa depan terasa tidak pasti, ajarlah aku menaruh pengharapan bukan pada kenyamanan, kekuatan sendiri, atau manusia, tetapi pada-Mu. Aku percaya Engkau sanggup bekerja bahkan dalam hal-hal yang belum kupahami. Ketika aku takut terhadap masa depan, ingatkan aku bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan aku dari kasih-Mu dalam Kristus. Berikan aku kekuatan untuk tetap berdoa, bekerja, mengasihi, dan melangkah. Biarlah pengharapanku berakar pada salib dan kebangkitan Kristus.”

Keadaan Sekarang Bukan Akhir Pengharapan

Mungkin keadaan hari ini belum berubah.

Mungkin masalah belum selesai.

Mungkin kita masih menunggu.

Mungkin ada sesuatu yang tidak pernah kembali seperti dahulu.

Namun pengharapan orang percaya tidak berhenti di sana.

Kita mempunyai Kristus.

Kristus yang disalibkan.

Kristus yang bangkit.

Kristus yang menyertai.

Kristus yang kasih-Nya tidak dapat dipisahkan dari kita.

Roma 8:28 mengingatkan:

Tuhan masih bekerja.

Roma 8:38–39 mengingatkan:

Tuhan masih mengasihi.

Maka sekalipun kita tidak dapat mengendalikan apa yang akan terjadi, kita dapat mengetahui siapa yang memegang hidup kita.

Keadaan dapat berubah.

Masalah datang dan pergi.

Rencana manusia dapat gagal.

Tetapi kesetiaan Tuhan tetap.

Hari ini mungkin berat, tetapi keadaan hari ini bukan batas pengharapan kita. Pengharapan kita jauh lebih besar daripada sekadar hidup menjadi nyaman. Pengharapan kita berakar pada Kristus, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya.

Karena itu kita dapat berkata:

“Aku mungkin belum melihat bagaimana semuanya akan berakhir, tetapi aku tetap berharap. Bukan karena hidup selalu mudah, melainkan karena Kristus tetap setia. Selama aku berada dalam kasih-Nya, cerita hidupku belum kehilangan makna. Tuhan masih bekerja, Tuhan masih mengasihi, dan Tuhan belum selesai berkarya.”

15. Refleksi Pribadi: Menemukan Makna di Tengah Hari yang Berat

Setelah membahas tentang kesulitan, penantian, doa, ketekunan, pertolongan sesama, dan pengharapan di dalam Kristus, bagian refleksi pribadi menjadi ruang bagi pembaca untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri.

Refleksi bukan sekadar memikirkan masalah.

Refleksi adalah keberanian untuk bertanya:

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam diriku?”

“Bagaimana aku sedang merespons keadaan ini?”

“Apa yang sedang Tuhan ajarkan?”

Sering kali kita begitu sibuk menghadapi masalah sehingga tidak sempat memahami apa yang sedang berlangsung dalam hati. Kita terus berjalan, terus bekerja, terus melayani, terus mencoba terlihat kuat, tetapi di dalam diri ada rasa takut, kecewa, marah, lelah, atau bingung yang belum pernah benar-benar kita hadapi.

Karena itu, refleksi pribadi penting.

Melalui refleksi, kita tidak hanya bertanya bagaimana masalah dapat selesai, tetapi juga bagaimana kita dapat bertumbuh di tengah proses tersebut.

Mazmur 139:23–24 berkata:

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”

Doa ini menunjukkan bahwa kehidupan rohani membutuhkan keberanian membuka hati di hadapan Tuhan.

Apa yang Sedang Membuat Hidup Saya Terasa Berat Hari Ini?

Ini adalah pertanyaan pertama dan sangat mendasar.

Kadang kita tahu bahwa diri kita sedang lelah, tetapi tidak tahu persis penyebabnya.

Kita berkata:

“Saya sedang tidak baik-baik saja.”

Tetapi apa yang sebenarnya sedang menekan hati?

Apakah masalah keluarga?

Pekerjaan?

Keuangan?

Kesehatan?

Hubungan dengan seseorang?

Pelayanan?

Kekecewaan terhadap diri sendiri?

Doa yang belum terjawab?

Ketakutan terhadap masa depan?

Atau mungkin semuanya datang bersamaan?

Menamai masalah dengan jujur adalah langkah yang penting.

Selama semuanya hanya terasa sebagai “beban besar”, kita sulit melihat apa yang sebenarnya perlu ditangani.

Kadang setelah direnungkan, kita menemukan bahwa yang paling berat bukan masalahnya sendiri, tetapi ketakutan tentang apa yang mungkin terjadi.

Atau mungkin bukan kegagalan itu yang paling menyakitkan, tetapi rasa malu setelah gagal.

Mungkin bukan kehilangan kesempatan yang paling berat, tetapi perasaan bahwa diri kita tertinggal dari orang lain.

Karena itu, tanyakan dengan jujur:

“Apa sebenarnya yang sedang membuat hatiku berat?”

Jangan Takut Mengakui Jawaban yang Tidak Indah

Ketika melakukan refleksi, kita tidak harus memberikan jawaban yang terdengar rohani.

Mungkin jawaban kita:

“Aku marah kepada seseorang.”

“Aku kecewa kepada Tuhan.”

“Aku iri melihat keberhasilan orang lain.”

“Aku takut gagal.”

“Aku sangat lelah.”

“Aku merasa tidak dihargai.”

“Aku merasa sendiri.”

Tidak perlu menyembunyikannya dari Tuhan.

Dia sudah mengetahuinya.

Kejujuran bukan musuh iman.

Justru doa yang jujur dapat menjadi awal pemulihan.

Daud berkali-kali membawa keluhan dan emosinya kepada Tuhan melalui Mazmur.

Ia tidak selalu datang dengan kalimat:

“Semuanya baik.”

Ia datang dengan hati apa adanya.

Bedakan Masalah yang Dapat Kita Ubah dan yang Tidak Dapat Kita Kendalikan

Setelah mengetahui apa yang membuat hidup berat, pertanyaan berikutnya adalah:

“Apakah ada bagian dari keadaan ini yang dapat saya lakukan sesuatu?”

Ada persoalan yang membutuhkan tindakan.

Jika pekerjaan menumpuk, mungkin kita perlu menyusun prioritas.

Jika hubungan rusak karena kesalahan kita, mungkin kita perlu meminta maaf.

Jika keadaan keuangan sulit, mungkin perlu membuat perencanaan yang lebih baik.

Namun ada juga hal yang berada di luar kendali.

Kita tidak dapat mengendalikan keputusan orang lain.

Kita tidak dapat mengubah masa lalu.

Kita tidak dapat memastikan semua orang menyukai kita.

Kita tidak dapat mengetahui seluruh masa depan.

Di sinilah doa penyerahan menjadi penting.

Kita belajar membedakan:

Apa yang harus saya kerjakan?

dan

Apa yang harus saya serahkan?

Apakah Saya Mulai Menyimpulkan bahwa Tuhan Tidak Bekerja Hanya karena Belum Melihat Jawaban?

Ini adalah pertanyaan yang sangat penting dalam perjalanan iman.

Manusia cenderung mempercayai apa yang terlihat.

Jika ada perubahan:

“Tuhan bekerja.”

Jika tidak ada perubahan:

“Tuhan diam.”

Padahal pekerjaan Tuhan tidak selalu terlihat.

Kembali ingat gambaran benih.

Ketika benih ditanam, permukaan tanah terlihat tidak berubah.

Namun proses kehidupan sedang berlangsung di bawah tanah.

Demikian pula dengan karya Tuhan.

Kadang kita belum melihat hasil, tetapi bukan berarti tidak terjadi apa-apa.

Mungkin Tuhan sedang membentuk hati kita.

Mungkin Dia sedang mempersiapkan orang lain.

Mungkin Dia sedang mengatur waktu.

Mungkin Dia sedang menutup satu jalan untuk mengarahkan ke jalan lain.

Atau mungkin jawabannya belum terlihat karena proses memang belum selesai.

Kita Perlu Memeriksa Kesimpulan-Kesimpulan yang Muncul dalam Pikiran

Ketika lelah, pikiran mudah membuat kesimpulan yang terlalu besar.

“Doaku belum dijawab, berarti Tuhan tidak mendengar.”

“Saya gagal, berarti Tuhan tidak menyertai.”

“Pintu tertutup, berarti tidak ada masa depan.”

“Orang lain lebih berhasil, berarti Tuhan lebih memberkati mereka.”

Refleksi menolong kita bertanya:

“Apakah kesimpulan ini benar?”

Mungkin fakta sebenarnya hanya:

“Doa saya belum dijawab seperti yang saya harapkan.”

Itu berbeda dengan:

“Tuhan tidak mendengar.”

Mungkin fakta sebenarnya:

“Satu rencana gagal.”

Itu berbeda dengan:

“Seluruh hidup saya gagal.”

Belajar membedakan fakta dan kesimpulan emosional sangat membantu menjaga hati.

Iman Tidak Selalu Berarti Mengetahui Jawaban

Kadang pertanyaan kita belum mempunyai jawaban.

Dalam keadaan itu, kita dapat berkata:

“Tuhan, aku belum memahami, tetapi aku memilih tetap percaya.”

Inilah inti iman.

Bukan karena semua sudah jelas.

Tetapi karena kita percaya kepada Tuhan meskipun masih ada bagian yang gelap.

Amsal 3:5 berkata:

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Ada masa kita membutuhkan pengertian.

Tetapi ada masa kita harus berjalan dengan kepercayaan sebelum pengertian datang.

Pelajaran Apa yang Mungkin Sedang Tuhan Bentuk melalui Pergumulan Ini?

Pertanyaan ini mengubah fokus.

Biasanya kita hanya bertanya:

“Kapan masalah ini selesai?”

Tetapi refleksi rohani mengajak kita menambahkan:

“Apa yang sedang Tuhan bentuk?”

Mungkin kesabaran.

Mungkin ketekunan.

Mungkin kerendahan hati.

Mungkin kemampuan mengampuni.

Mungkin keberanian.

Mungkin kebiasaan berdoa.

Mungkin pengendalian diri.

Mungkin rasa syukur.

Tidak semua masalah datang dengan alasan tertentu yang dapat kita ketahui. Namun dalam setiap situasi, kita dapat bertanya bagaimana kita dapat bertumbuh di dalamnya.

Kadang Masalah Menunjukkan Bagian Diri yang Belum Dewasa

Tekanan dapat memperlihatkan kondisi hati.

Ketika keadaan tidak sesuai keinginan, apakah kita langsung marah?

Ketika dikritik, apakah kita langsung menyerang?

Ketika gagal, apakah kita kehilangan seluruh harga diri?

Ketika orang lain berhasil, apakah kita menjadi iri?

Hal-hal seperti ini dapat menjadi cermin.

Bukan supaya kita menghukum diri.

Tetapi supaya kita mengetahui bagian mana yang membutuhkan pertumbuhan.

Kita dapat berdoa:

“Tuhan, tunjukkan apa yang sedang Engkau perbaiki dalam diriku.”

Pelajaran Terkadang Baru Terlihat Setelah Waktu Berlalu

Tidak semua pelajaran langsung dapat kita pahami.

Ada pengalaman yang baru kita mengerti setelah beberapa tahun.

Pada saat menjalaninya, kita hanya melihat rasa sakit.

Kemudian ketika melihat ke belakang, kita berkata:

“Ternyata pengalaman itu membuatku lebih bijaksana.”

“Ternyata kegagalan itu mengajarkanku mempersiapkan diri.”

“Ternyata masa menunggu itu mengajarkanku sabar.”

Karena itu jangan memaksa diri memahami semuanya sekarang.

Kadang refleksi terbaik adalah berkata:

“Aku belum tahu pelajarannya, tetapi aku bersedia belajar.”

Apa Satu Langkah Kecil yang Masih Dapat Saya Lakukan Hari Ini?

Ini adalah salah satu pertanyaan paling praktis.

Masalah besar dapat membuat kita merasa lumpuh.

Karena terlalu banyak hal yang harus diselesaikan, kita tidak melakukan apa-apa.

Maka jangan bertanya:

“Bagaimana saya menyelesaikan seluruh hidup saya hari ini?”

Tanyakan:

“Apa satu langkah kecil berikutnya?”

Mungkin langkah itu adalah bangun dan mandi.

Mungkin menyelesaikan satu pekerjaan yang tertunda.

Mungkin menelepon seseorang.

Mungkin membuat janji untuk meminta bantuan.

Mungkin berdoa sepuluh menit.

Mungkin meminta maaf.

Mungkin memaafkan.

Mungkin beristirahat.

Mungkin berkata:

“Hari ini saya tidak akan menyerah.”

Langkah kecil bukan hal sepele.

Banyak perubahan besar dimulai dari keputusan kecil.

Jangan Menunggu Semangat Besar

Kadang kita berkata:

“Saya akan mulai ketika sudah merasa lebih kuat.”

Tetapi kekuatan sering datang setelah kita mulai bergerak.

Kita tidak selalu harus merasa termotivasi untuk melakukan hal yang benar.

Disiplin membantu kita bergerak ketika motivasi lemah.

Galatia 6:9 mengingatkan agar kita tidak jemu berbuat baik.

Mungkin kita tidak mampu melakukan seratus hal.

Lakukan satu.

Besok lakukan satu lagi.

Kemajuan kecil yang konsisten sering lebih kuat daripada semangat besar yang hanya berlangsung sebentar.

Tanyakan: Apa yang Paling Membutuhkan Perhatian Hari Ini?

Bukan semua hal mempunyai tingkat kepentingan yang sama.

Ketika hidup berat, kita perlu menentukan prioritas.

Apakah tubuh membutuhkan istirahat?

Apakah keluarga membutuhkan percakapan?

Apakah pekerjaan tertentu mempunyai batas waktu?

Apakah ada konflik yang perlu diselesaikan?

Apakah hati membutuhkan waktu untuk berdoa dan tenang?

Menentukan satu prioritas utama dapat mengurangi rasa kewalahan.

Siapa yang Dapat Saya Kuatkan Ketika Saya Sendiri Sedang Belajar untuk Tetap Kuat?

Pertanyaan ini mungkin terasa aneh.

“Bagaimana saya bisa menguatkan orang lain kalau saya sendiri sedang lemah?”

Namun justru orang yang pernah mengalami kesulitan sering mempunyai empati yang lebih dalam.

Kita tidak harus sudah menyelesaikan semua masalah untuk menjadi berkat.

Kadang kita dapat berkata kepada seseorang:

“Saya juga sedang berjuang, tetapi mari kita berjalan bersama.”

Itu sangat manusiawi dan kuat.

Paulus berkata dalam 2 Korintus 1:4 bahwa Tuhan menghibur kita supaya kita dapat menghibur orang lain dengan penghiburan yang kita terima.

Kita Tidak Harus Menjadi Sempurna untuk Menolong

Sering kali kita menunggu sampai merasa sepenuhnya kuat sebelum membantu orang lain.

Padahal mungkin yang orang lain butuhkan adalah seseorang yang memahami.

Jika kita pernah merasa sendiri, kita dapat lebih peka kepada orang yang sedang kesepian.

Jika pernah gagal, kita dapat menguatkan seseorang yang baru gagal.

Jika pernah menunggu lama, kita dapat memahami mereka yang sedang menanti jawaban.

Kita tidak perlu berkata:

“Aku punya semua jawaban.”

Cukup berkata:

“Aku bersedia mendengarkan.”

Menolong Orang Lain Juga Dapat Menolong Kita Melihat Hidup dengan Perspektif Baru

Kadang ketika terlalu berfokus pada penderitaan sendiri, hidup terasa semakin sempit.

Bukan berarti kita harus mengabaikan kebutuhan diri.

Namun melakukan kebaikan kecil kepada orang lain dapat mengingatkan bahwa hidup kita masih mempunyai makna.

Sebuah pesan penguatan.

Doa untuk seseorang.

Membantu rekan.

Menanyakan kabar orang tua.

Mengunjungi seseorang yang sakit.

Hal-hal kecil seperti ini dapat membuat kita kembali menyadari:

“Saya masih dapat menjadi berkat.”

Masalah kita belum selesai, tetapi hidup kita belum kehilangan tujuan.

Namun Jangan Menolong Orang Lain sebagai Cara Menghindari Masalah Sendiri

Ada keseimbangan yang penting.

Menjadi berkat bagi orang lain itu baik.

Tetapi jangan menggunakan pelayanan sebagai cara melarikan diri dari luka pribadi.

Ada orang yang sangat sibuk menolong semua orang karena takut berhadapan dengan dirinya sendiri.

Kita tetap perlu merawat diri.

Istirahat.

Berdoa.

Menerima pertolongan.

Menjadi penolong dan menerima pertolongan dapat berjalan bersama.

Refleksi Harian yang Sederhana

Pembaca dapat menyediakan beberapa menit pada pagi atau malam hari dan bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang kurasakan hari ini?

Apa yang paling membebaniku?

Apa yang dapat kukendalikan?

Apa yang perlu kuserahkan kepada Tuhan?

Apa satu hal yang masih dapat kulakukan?

Apa satu berkat yang dapat kusyukuri?

Siapa satu orang yang dapat kukuatkan?

Refleksi sederhana seperti ini dapat membantu kita menjalani hidup dengan lebih sadar.

Jangan Hanya Mencari Jawaban, Carilah Kehadiran Tuhan

Kadang kita terlalu terobsesi menemukan alasan di balik semua kesulitan.

“Tuhan, mengapa?”

“Tuhan, kapan?”

“Tuhan, bagaimana?”

Pertanyaan itu wajar.

Tetapi ada masa ketika kita belum mendapatkan jawaban.

Pada saat itu, mungkin doa kita perlu berubah:

“Tuhan, jika aku belum mendapatkan jawaban, biarlah aku mendapatkan kekuatan dari kehadiran-Mu.”

Musa berkata dalam Keluaran 33:15 bahwa jika Tuhan sendiri tidak membimbing, mereka tidak ingin pergi.

Kehadiran Tuhan lebih penting daripada kepastian tentang semua detail.

Belajar Berbicara kepada Diri Sendiri dengan Kebenaran

Mazmur 42 menunjukkan pemazmur berbicara kepada dirinya sendiri:

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku…? Berharaplah kepada Allah!”

Kita juga perlu belajar melakukan hal ini.

Ketika pikiran berkata:

“Tidak ada harapan.”

Jawab:

“Aku belum melihat jalannya, tetapi Tuhan masih bekerja.”

Ketika pikiran berkata:

“Aku gagal.”

Jawab:

“Aku mengalami kegagalan, tetapi kegagalan bukan identitasku.”

Ketika pikiran berkata:

“Aku sendirian.”

Jawab:

“Aku dapat meminta pertolongan dan Tuhan menyertai.”

Ini bukan menyangkal realitas.

Ini adalah mengoreksi pikiran dengan kebenaran.

Catat Apa yang Tuhan Kerjakan

Kadang kita lupa pertolongan Tuhan karena tidak pernah mencatatnya.

Pembaca dapat membuat jurnal sederhana.

Tuliskan:

doa yang sedang dinaikkan,

hal-hal yang sedang dipelajari,

jawaban yang mulai terlihat,

pertolongan kecil,

ayat yang menguatkan,

dan hal-hal yang disyukuri.

Beberapa bulan kemudian, baca kembali.

Mungkin kita akan melihat pola yang sebelumnya tidak kita sadari.

Kita mungkin berkata:

“Ternyata Tuhan sudah membawaku sejauh ini.”

Ukur Pertumbuhan, Bukan Hanya Perubahan Keadaan

Kita sering menilai kemajuan hanya dengan pertanyaan:

“Apakah masalah sudah selesai?”

Tambahkan pertanyaan lain:

“Apakah aku menjadi lebih sabar?”

“Apakah aku semakin mampu berdoa?”

“Apakah aku lebih tenang?”

“Apakah aku lebih mudah menerima pertolongan?”

“Apakah aku lebih peka kepada orang lain?”

Jika jawabannya ya, berarti ada pertumbuhan, meskipun masalah belum sepenuhnya selesai.

Beri Ruang bagi Kesedihan dan Harapan Sekaligus

Refleksi yang sehat tidak memaksa kita memilih antara:

sedih atau percaya.

Keduanya dapat ada bersama.

Kita dapat berkata:

“Aku sangat sedih, tetapi aku tetap percaya.”

“Aku kecewa, tetapi aku masih berharap.”

“Aku lelah, tetapi aku belum menyerah.”

Inilah kehidupan iman yang jujur.

Roma 12:12 berkata:

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”

Ada pengharapan dan kesesakan dalam ayat yang sama.

Lima Pertanyaan Refleksi yang Diperdalam

1. Apa yang sedang membuat hidup saya terasa berat hari ini?

Jangan jawab terlalu cepat.

Diam sejenak.

Tanyakan:

Apakah yang terasa berat berasal dari keadaan luar?

Atau dari ketakutan di dalam diri?

Apakah saya sedang memikul tanggung jawab terlalu banyak?

Apakah saya mencoba menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya bukan tanggung jawab saya?

Apakah ada luka lama yang kembali muncul?

Kemudian bawa jawabannya kepada Tuhan.

2. Apakah saya mulai menyimpulkan bahwa Tuhan tidak bekerja hanya karena saya belum melihat jawabannya?

Tanyakan:

Apakah saya sedang menyamakan penundaan dengan penolakan?

Apakah saya hanya mau percaya jika Tuhan bekerja dengan cara yang saya harapkan?

Adakah tanda-tanda kecil pemeliharaan Tuhan yang selama ini tidak saya lihat?

Kemudian berdoa:

“Tuhan, buka mataku terhadap karya-Mu yang mungkin belum kupahami.”

3. Pelajaran apa yang mungkin sedang Tuhan bentuk melalui pergumulan ini?

Tanyakan:

Apakah saya sedang belajar sabar?

Mengampuni?

Lebih rendah hati?

Mengatur prioritas?

Mengakui keterbatasan?

Meminta pertolongan?

Tidak semua jawaban harus ditemukan hari ini.

Namun bersedialah dibentuk.

4. Apa satu langkah kecil yang masih dapat saya lakukan hari ini?

Jangan membuat daftar terlalu panjang.

Pilih satu.

Satu telepon.

Satu doa.

Satu pekerjaan.

Satu keputusan.

Satu tindakan kasih.

Lakukan itu dengan setia.

5. Siapa yang dapat saya kuatkan ketika saya sendiri sedang belajar untuk tetap kuat?

Pikirkan satu nama.

Mungkin keluarga.

Sahabat.

Rekan kerja.

Anggota jemaat.

Orang yang sedang berduka.

Kirim pesan sederhana.

Doakan.

Dengarkan.

Kadang ketika dua orang yang sedang berjuang saling menguatkan, keduanya menjadi lebih kuat.

Doa Refleksi

“Tuhan, hari ini aku datang kepada-Mu apa adanya. Engkau mengetahui apa yang membuat hatiku berat, bahkan ketika aku sendiri sulit menjelaskannya. Tolong aku melihat keadaan dengan jujur tanpa kehilangan pengharapan. Jika aku terlalu cepat menyimpulkan bahwa Engkau tidak bekerja, bukalah mataku. Jika ada pelajaran yang sedang Engkau bentuk, berikan aku hati yang mau belajar. Tunjukkan satu langkah kecil yang dapat kulakukan hari ini. Dan meskipun aku sendiri sedang belajar bertahan, pakailah hidupku untuk menguatkan seseorang yang membutuhkan. Selidikilah hatiku dan tuntunlah aku.”

Berhenti Sejenak, Lihat Kembali, lalu Melangkah

Refleksi bukan tanda kita berhenti menjalani kehidupan.

Refleksi adalah berhenti sejenak supaya kita dapat melangkah dengan lebih sadar.

Tanyakan:

Apa yang kurasakan?

Apa yang sedang kupikirkan tentang Tuhan?

Apa yang sedang Tuhan bentuk?

Apa satu langkah berikutnya?

Siapa yang dapat kuberkati?

Mungkin kita tidak menemukan semua jawaban.

Tidak apa-apa.

Tujuan refleksi bukan mendapatkan jawaban atas seluruh misteri kehidupan.

Tujuannya adalah membawa hati kembali kepada Tuhan dan menemukan arah untuk langkah berikutnya.

Hari ini mungkin berat. Tetapi kita masih dapat berhenti sejenak, memeriksa hati, menyerahkan yang tidak dapat kita kendalikan, melakukan satu hal yang masih dapat kita lakukan, dan menjadi berkat bagi seseorang di sekitar kita.

Jangan hanya bertanya:

“Kapan keadaan ini berubah?”

Beranilah juga bertanya:

“Tuhan, siapa aku sedang Engkau bentuk menjadi melalui semua ini?”

Dan ketika jawaban belum lengkap, tetaplah melangkah.

Tuhan belum selesai berkarya dalam keadaan kita, dan Tuhan juga belum selesai berkarya di dalam diri kita.

16. Komitmen Iman: Tetap Setia di Tengah Proses

Komitmen iman tidak hanya terlihat ketika hidup berjalan baik. Justru kualitas iman sering terlihat ketika keadaan belum berubah, jawaban belum datang, dan jalan di depan masih belum jelas. Pada masa seperti itulah kita belajar bahwa iman bukan sekadar perasaan, tetapi keputusan untuk tetap berjalan bersama Tuhan.

Komitmen berarti berkata:

“Aku tetap memilih Tuhan, sekalipun keadaan belum sesuai harapanku.”

Ini bukan sikap pasrah tanpa usaha. Bukan pula usaha menutupi rasa sedih. Komitmen iman adalah pilihan sadar untuk tetap berdoa, tetap percaya, tetap bersyukur, tetap berbuat baik, tetap melangkah, dan tetap berharap meskipun hidup sedang berada dalam proses yang tidak mudah.

Tetap Berdoa Walaupun Belum Melihat Jawaban

Ada masa ketika doa terasa mudah karena kita segera melihat hasilnya. Namun ada juga masa ketika kita sudah berdoa berkali-kali tetapi keadaan masih sama.

Di sinilah ketekunan diuji.

Apakah kita hanya berdoa ketika jawaban cepat datang?

Atau kita tetap datang kepada Tuhan walaupun belum melihat perubahan?

1 Tesalonika 5:17 berkata:

“Tetaplah berdoa.”

Kata “tetap” menunjukkan kesinambungan.

Doa bukan hanya untuk masa darurat.

Doa adalah hubungan.

Ketika jawaban belum datang, kita tetap berdoa karena kita percaya Tuhan mendengar.

Ketika tidak tahu harus berkata apa, kita tetap datang.

Ketika hati lelah, mungkin doa kita hanya sederhana:

“Tuhan, aku masih di sini.”

“Tuhan, tolong aku menjalani hari ini.”

“Tuhan, aku belum mengerti, tetapi aku tetap datang kepada-Mu.”

Kadang ketekunan dalam doa bukan terlihat dari doa yang panjang, tetapi dari keputusan untuk tidak berhenti berhubungan dengan Tuhan.

Doa Juga Mengubah Diri Kita

Sering kali kita datang dalam doa dengan keinginan agar Tuhan mengubah keadaan.

Namun dalam proses berdoa, Tuhan juga mengubah kita.

Kita datang dengan kegelisahan dan pulang dengan damai.

Kita datang dengan kemarahan dan perlahan belajar mengampuni.

Kita datang dengan kebingungan dan menerima hikmat.

Kita datang ingin memaksakan kehendak sendiri, lalu belajar berkata:

“Jadilah kehendak-Mu.”

Karena itu, ketika doa belum mengubah keadaan, jangan langsung menganggap doa tidak bekerja.

Mungkin Tuhan sedang lebih dahulu mengubah hati.

Tetap Percaya Walaupun Belum Memahami Jalan Tuhan

Percaya kepada Tuhan tidak selalu berarti memahami semua alasan di balik kejadian.

Ada pertanyaan yang belum terjawab.

Ada peristiwa yang sulit dimengerti.

Ada rencana yang berubah.

Ada kehilangan yang masih menyisakan tanda tanya.

Dalam situasi seperti ini, iman berkata:

“Aku belum mengerti, tetapi aku tetap percaya kepada-Mu.”

Amsal 3:5 berkata:

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Ayat ini bukan melarang kita berpikir.

Sebaliknya, kita tetap menggunakan akal, hikmat, pengalaman, dan nasihat.

Namun kita mengakui bahwa pemahaman manusia terbatas.

Kita tidak selalu dapat melihat seluruh gambar.

Tuhan melihat keseluruhan perjalanan.

Percaya pada Karakter Tuhan ketika Tidak Memahami Cara-Nya

Ketika kita tidak memahami jalan Tuhan, kita dapat kembali kepada apa yang sudah kita ketahui tentang karakter-Nya.

Tuhan setia.

Tuhan mengasihi.

Tuhan adil.

Tuhan tidak berubah.

Tuhan tidak kehilangan kendali.

Kita mungkin tidak mengetahui apa yang sedang Dia lakukan.

Tetapi kita mengetahui siapa Dia.

Inilah dasar kepercayaan.

Seorang anak kecil mungkin tidak memahami seluruh keputusan orang tuanya. Namun jika ia mengenal kasih orang tuanya, ia dapat tetap merasa aman.

Demikian juga kehidupan iman.

Tidak semua misteri harus selesai sebelum kita dapat percaya.

Tetap Bersyukur Sekalipun Keadaan Belum Sempurna

Bersyukur ketika semua kebutuhan terpenuhi memang mudah.

Namun bagaimana ketika masih ada masalah?

Bersyukur dalam keadaan belum sempurna membutuhkan kedewasaan.

1 Tesalonika 5:18 berkata:

“Mengucap syukurlah dalam segala hal.”

Bersyukur tidak berarti menyangkal masalah.

Kita tidak perlu berkata:

“Semuanya baik,”

jika memang tidak demikian.

Tetapi kita dapat berkata:

“Di tengah masalah ini masih ada hal yang dapat kusyukuri.”

Kita masih bernapas.

Masih ada kesempatan.

Masih ada orang yang peduli.

Masih ada kekuatan untuk menjalani hari.

Masih ada Tuhan yang dapat kita datangi.

Syukur menolong hati tidak tenggelam sepenuhnya dalam apa yang tidak kita miliki.

Bersyukur Bukan Menunggu Hidup Menjadi Sempurna

Jika kita menunggu semua masalah selesai baru bersyukur, mungkin kita akan terus menunda rasa syukur.

Setelah satu masalah selesai, biasanya ada tantangan lain.

Karena itu rasa syukur perlu menjadi cara hidup.

Kita dapat mempunyai harapan besar untuk masa depan sambil tetap menghargai anugerah hari ini.

Kita dapat berkata:

“Aku masih berharap keadaan berubah, tetapi aku tidak ingin kehilangan kemampuan mensyukuri apa yang sudah ada.”

Tetap Berbuat Baik Walaupun Hati Sedang Lelah

Ketika hati lelah, kita mudah menjadi sangat fokus pada diri sendiri.

Itu dapat dimengerti.

Namun ada bahaya jika kelelahan membuat kita berhenti berbuat baik sama sekali.

Galatia 6:9 berkata:

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik.”

Berbuat baik tidak selalu membutuhkan tindakan besar.

Satu pesan penguatan.

Satu tindakan pertolongan.

Satu doa bagi orang lain.

Satu keputusan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Satu sikap sabar kepada keluarga.

Semua itu adalah kebaikan.

Bahkan ketika hati sedang lelah, kita masih dapat memilih untuk tidak menjadi sumber luka bagi orang lain.

Berbuat Baik Tidak Berarti Mengabaikan Diri Sendiri

Kita perlu menyeimbangkan hal ini.

Tetap berbuat baik bukan berarti memaksakan diri melayani semua orang hingga diri sendiri hancur.

Ada waktu membantu.

Ada waktu beristirahat.

Ada waktu menerima pertolongan.

Yesus sendiri pernah menjauh dari kerumunan untuk beristirahat dan berdoa.

Karena itu, kebaikan juga termasuk belajar menjaga kesehatan tubuh, pikiran, dan batas diri.

Kita dapat berkata:

“Aku ingin tetap menjadi berkat, tetapi aku juga harus memulihkan kekuatanku.”

Jangan Biarkan Luka Mengubah Kita Menjadi Pribadi yang Tidak Kita Inginkan

Ketika disakiti, kita dapat tergoda membalas.

Ketika dikhianati, kita dapat menjadi pahit.

Ketika tidak dihargai, kita dapat berhenti peduli.

Namun komitmen iman berkata:

“Aku tidak akan membiarkan kesalahan orang lain menentukan siapa aku menjadi.”

Kita tetap memilih kebaikan.

Bukan karena orang lain selalu layak.

Tetapi karena kita ingin hidup sesuai dengan karakter Kristus.

Roma 12:21 berkata:

“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”

Tetap Melangkah Meskipun Perlahan

Ada musim ketika kita mampu berlari.

Tetapi ada musim ketika satu langkah kecil sudah merupakan pencapaian besar.

Komitmen iman bukan berkata:

“Aku harus selalu bergerak cepat.”

Komitmen iman berkata:

“Aku tidak akan berhenti.”

Mungkin hari ini langkah kita hanya:

bangun,

berdoa,

menyelesaikan satu pekerjaan,

meminta pertolongan,

atau mengambil satu keputusan yang benar.

Itu tetaplah langkah.

Jangan meremehkannya.

Mazmur 37:23–24 mengingatkan bahwa langkah orang diteguhkan Tuhan dan sekalipun jatuh, ia tidak dibiarkan tergeletak.

Kemajuan Tidak Selalu Terlihat Besar

Kadang perubahan terjadi perlahan.

Dahulu kita mudah marah, sekarang sedikit lebih sabar.

Dahulu kita langsung putus asa, sekarang kita mulai mampu bertahan.

Dahulu kita menanggung semuanya sendiri, sekarang berani meminta bantuan.

Dahulu kita sangat takut, sekarang mulai belajar menyerahkan.

Perubahan-perubahan seperti ini mungkin tidak terlihat dramatis.

Tetapi itulah pertumbuhan.

Jangan hanya melihat seberapa jauh lagi perjalanan.

Lihat juga seberapa jauh Tuhan sudah membawa kita.

Tetap Berharap karena Tuhan Masih Bekerja

Harapan adalah kekuatan yang membuat kita terus melangkah.

Ketika seseorang kehilangan harapan, ia mulai bertanya:

“Untuk apa berusaha?”

Namun orang percaya mempunyai alasan untuk tetap berharap.

Filipi 1:6 berkata bahwa Dia yang memulai pekerjaan yang baik akan meneruskannya sampai selesai.

Artinya Tuhan belum meninggalkan karya-Nya.

Mungkin proses belum selesai.

Mungkin hasil belum terlihat.

Namun Tuhan masih bekerja.

Harapan Bukan Berarti Semua Akan Terjadi Sesuai Keinginan

Ini perlu ditegaskan.

Berharap kepada Tuhan bukan berarti kita yakin semua rencana pribadi akan terwujud.

Harapan Kristen lebih dalam.

Kita berkata:

“Sekalipun hasilnya berbeda dari keinginanku, Tuhan tetap dapat memimpin hidupku.”

Harapan bukan keyakinan bahwa hidup selalu berjalan mudah.

Harapan adalah keyakinan bahwa kasih Tuhan tetap ada di tengah keadaan apa pun.

Komitmen Iman Dijalani Setiap Hari

Komitmen iman bukan hanya keputusan besar satu kali.

Ia harus diperbarui setiap hari.

Pagi ini:

“Aku memilih berdoa.”

Besok:

“Aku memilih percaya.”

Ketika kecewa:

“Aku memilih tidak pahit.”

Ketika lelah:

“Aku memilih beristirahat lalu melangkah kembali.”

Ketika diberkati:

“Aku memilih bersyukur.”

Ketika melihat orang lain menderita:

“Aku memilih menjadi berkat.”

Iman dibentuk melalui keputusan-keputusan kecil seperti ini.

Komitmen Tidak Sama dengan Perasaan

Ada hari ketika kita merasa sangat dekat dengan Tuhan.

Ada hari ketika kita tidak merasakan sesuatu yang istimewa.

Jika komitmen hanya bergantung pada perasaan, ia akan mudah berubah.

Komitmen berkata:

“Walaupun perasaanku naik turun, aku tetap memilih Tuhan.”

Seperti pasangan yang setia tidak hanya mengasihi ketika suasana hati baik, hubungan dengan Tuhan pun bertumbuh melalui kesetiaan.

Perasaan penting.

Tetapi kesetiaan lebih dalam daripada perasaan.

Ketika Gagal Menjalankan Komitmen, Mulailah Lagi

Ada hari ketika kita tidak berhasil.

Kita marah.

Kita mengeluh.

Kita tidak berdoa.

Kita membuat keputusan yang salah.

Jangan menjadikan kegagalan sebagai alasan meninggalkan seluruh perjalanan.

Akui.

Minta pengampunan.

Perbaiki.

Mulai lagi.

Ratapan 3:23 mengingatkan bahwa rahmat Tuhan baru setiap pagi.

Komitmen bukan hidup tanpa kegagalan.

Komitmen adalah terus kembali kepada Tuhan.

Enam Sikap Komitmen Iman

1. Tetap Berdoa

Ketika jawaban belum datang, katakan:

“Aku tetap datang kepada Tuhan.”

Doa bukan pilihan terakhir.

Doa adalah napas kehidupan rohani.

2. Tetap Percaya

Ketika jalan belum jelas, katakan:

“Aku tidak memahami semuanya, tetapi aku mengenal Tuhan yang memegang hidupku.”

3. Tetap Bersyukur

Ketika keadaan belum sempurna, katakan:

“Masalah ini nyata, tetapi kebaikan Tuhan juga nyata.”

4. Tetap Berbuat Baik

Ketika hati lelah, katakan:

“Aku tidak akan membiarkan luka mengubahku menjadi pahit.”

5. Tetap Melangkah

Ketika perjalanan panjang, katakan:

“Aku mungkin berjalan perlahan, tetapi aku tidak berhenti.”

6. Tetap Berharap

Ketika masa depan belum jelas, katakan:

“Tuhan masih bekerja. Cerita ini belum selesai.”

Komitmen Iman dalam Bentuk Pernyataan Pribadi

Pembaca dapat menjadikan pernyataan ini sebagai refleksi:

Hari ini aku memilih untuk tetap berdoa, meskipun jawaban belum terlihat.

Aku memilih tetap percaya, meskipun belum memahami seluruh jalan Tuhan.

Aku memilih tetap bersyukur, sekalipun hidup belum berjalan seperti yang kuharapkan.

Aku memilih tetap berbuat baik, meskipun hatiku sedang lelah.

Aku memilih tetap melangkah, walaupun langkahku kecil dan perlahan.

Aku memilih tetap berharap, karena aku percaya Tuhan masih bekerja.

Jangan Menjalani Komitmen dengan Kekuatan Sendiri

Ada satu bahaya.

Setelah membaca tentang komitmen, seseorang dapat berpikir:

“Saya harus menjadi lebih kuat.”

Tetapi iman Kristen bukan sekadar usaha manusia untuk menjadi kuat.

Kita membutuhkan kasih karunia Tuhan.

Paulus berkata dalam Filipi 4:13:

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Sumber kekuatan bukan diri sendiri.

Kita berkomitmen sambil terus meminta pertolongan Tuhan.

“Tuhan, aku ingin setia, tetapi aku membutuhkan kekuatan-Mu.”

Komitmen di Tengah Ketidakpastian

Kita tidak dapat berkomitmen berdasarkan hasil.

Kita tidak berkata:

“Aku akan tetap setia kalau Tuhan menjawab minggu depan.”

Komitmen sejati tidak membuat kontrak seperti itu.

Komitmen berkata:

“Aku tetap mengikuti Tuhan karena Dia adalah Tuhan, bukan hanya karena apa yang dapat Dia berikan kepadaku.”

Ini adalah tingkat iman yang lebih matang.

Komitmen Membawa Stabilitas Rohani

Keadaan bisa berubah.

Namun ketika memiliki komitmen yang jelas, kita tidak mudah terbawa oleh setiap perubahan.

Hari baik:

kita bersyukur.

Hari buruk:

kita tetap percaya.

Pujian:

kita rendah hati.

Kritik:

kita belajar.

Keberhasilan:

kita bersyukur.

Kegagalan:

kita bangkit.

Komitmen memberikan arah ketika emosi berubah.

Apa yang Perlu Dilepaskan agar Komitmen Dapat Dijalani?

Kadang ada sesuatu yang menghalangi kesetiaan.

Kepahitan.

Ketakutan.

Keinginan mengendalikan semuanya.

Perbandingan.

Kekecewaan.

Kesombongan.

Mungkin bagian dari komitmen adalah berkata:

“Tuhan, aku ingin melepaskan hal ini.”

Tidak semua perubahan terjadi dalam satu hari.

Tetapi pengakuan adalah langkah awal.

Siapa yang Dapat Menolong Kita Menjaga Komitmen?

Komitmen tidak harus dijalani sendiri.

Kita membutuhkan komunitas.

Sahabat.

Keluarga.

Gereja.

Orang yang dapat mengingatkan ketika kita lemah.

Ibrani 10:24–25 mengajak orang percaya saling memperhatikan dan saling mendorong dalam kasih dan perbuatan baik.

Kadang kita membutuhkan seseorang berkata:

“Jangan menyerah. Aku akan berjalan bersamamu.”

Pertanyaan Refleksi

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah saya tetap berdoa ketika jawaban belum datang?
  • Apakah saya hanya percaya kepada Tuhan ketika memahami rencana-Nya?
  • Apakah kesulitan membuat saya lupa bersyukur?
  • Apakah kelelahan membuat saya berhenti berbuat baik?
  • Apakah saya sedang berhenti hanya karena kemajuan terasa lambat?
  • Apakah saya masih memiliki harapan bahwa Tuhan bekerja?
  • Sikap mana dari enam komitmen ini yang paling sulit saya jalani?
  • Apa satu tindakan konkret yang dapat saya lakukan hari ini?
  • Siapa yang dapat saya ajak berjalan bersama agar tetap kuat dalam iman?

Doa Komitmen

“Tuhan, aku menyerahkan kembali hidupku kepada-Mu. Ketika jawaban belum terlihat, ajar aku tetap berdoa. Ketika aku tidak memahami jalan-Mu, ajar aku tetap percaya. Ketika keadaan belum sempurna, bukalah mataku untuk tetap bersyukur. Ketika hatiku lelah, jangan biarkan aku berhenti berbuat baik. Ketika langkahku terasa lambat, berikan kekuatan untuk terus bergerak. Ketika masa depan belum jelas, ingatkan aku bahwa Engkau masih bekerja. Aku tidak ingin bergantung pada kekuatanku sendiri. Berikan aku kasih karunia untuk tetap setia sampai akhir.”

Tetaplah

Ada satu kata yang terus muncul dalam komitmen ini:

Tetap.

Tetap berdoa.

Tetap percaya.

Tetap bersyukur.

Tetap berbuat baik.

Tetap melangkah.

Tetap berharap.

Kata “tetap” tidak berarti hidup selalu mudah.

Justru kata itu mempunyai arti karena ada alasan untuk berhenti.

Kita tetap berdoa karena ada masa ketika doa terasa berat.

Kita tetap percaya karena ada masa ketika jalan tidak jelas.

Kita tetap bersyukur karena ada masa ketika hati kecewa.

Kita tetap berbuat baik karena ada masa ketika kita terluka.

Kita tetap melangkah karena ada masa ketika tubuh dan jiwa lelah.

Kita tetap berharap karena ada masa ketika masa depan terlihat gelap.

Di situlah komitmen iman menjadi nyata.

Hari ini mungkin berat, tetapi kita tidak harus menyerah kepada beratnya hari ini.

Kita dapat mengambil keputusan:

“Aku akan tetap bersama Tuhan.”

Mungkin tidak dengan kekuatan besar.

Mungkin dengan air mata.

Mungkin dengan langkah kecil.

Namun tetap berjalan.

Dan ketika kita merasa tidak sanggup, kita kembali kepada sumber kekuatan kita.

Tuhan belum selesai berkarya. Karena itu, selama Dia masih memberi kita hari ini, kita akan tetap berdoa, tetap percaya, tetap bersyukur, tetap berbuat baik, tetap melangkah, dan tetap berharap.

17. Penutup: Tuhan Belum Selesai

Setelah melewati seluruh pembahasan tentang hari-hari yang berat, doa yang belum terjawab, jalan yang belum terlihat, proses yang panjang, kegagalan, penantian, pertolongan melalui sesama, dan pengharapan di dalam Kristus, kita sampai pada satu kesimpulan penting:

Tuhan belum selesai.

Kalimat ini bukan sekadar kata-kata penghiburan. Ini adalah pengakuan iman.

Kita percaya bahwa keadaan hari ini bukan keseluruhan cerita. Kita percaya bahwa kegagalan bukan akhir dari kehidupan. Kita percaya bahwa penundaan tidak selalu berarti penolakan. Kita percaya bahwa air mata tidak selalu menjadi penutup cerita. Dan kita percaya bahwa Tuhan masih sanggup bekerja bahkan melalui bagian hidup yang belum kita pahami.

Filipi 1:6 berkata:

“Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”

Ayat ini mengingatkan bahwa Tuhan bukan hanya memulai pekerjaan-Nya dalam kehidupan kita. Dia juga setia meneruskannya.

Kita mungkin belum selesai.

Proses kita belum selesai.

Pemulihan belum selesai.

Jawaban doa belum terlihat.

Tetapi Tuhan juga belum selesai berkarya.

Jangan Jadikan Keadaan Hari Ini sebagai Kesimpulan Akhir Kehidupan

Salah satu kesalahan yang mudah dilakukan ketika sedang berada dalam masa sulit adalah membuat kesimpulan terlalu cepat.

Hari ini kita gagal, lalu berkata:

“Masa depanku selesai.”

Hari ini kita kehilangan sesuatu, lalu berkata:

“Tidak ada lagi yang dapat kuharapkan.”

Hari ini doa belum terjawab, lalu berkata:

“Tuhan tidak bekerja.”

Hari ini satu pintu tertutup, lalu berkata:

“Tidak ada jalan lain.”

Padahal kehidupan jauh lebih panjang daripada satu hari.

Satu hari buruk tidak menentukan seluruh hidup.

Satu musim sulit tidak berarti semua musim berikutnya akan sama.

Satu keputusan yang salah tidak harus menguasai seluruh masa depan.

Satu kehilangan tidak menghapus semua kemungkinan yang masih ada.

Karena itu, jangan memberi titik ketika cerita sebenarnya masih berjalan.

Kita Hanya Sedang Berada pada Satu Halaman

Bayangkan kehidupan seperti sebuah buku.

Hari ini hanyalah satu halaman.

Mungkin halaman itu penuh air mata.

Mungkin ada konflik.

Mungkin ada kegagalan.

Mungkin ada pertanyaan yang belum terjawab.

Tetapi kita belum membaca halaman berikutnya.

Kadang kita membuat kesalahan dengan menutup buku pada halaman yang menyedihkan lalu menyimpulkan seluruh cerita buruk.

Padahal penulis belum selesai.

Demikian pula perjalanan hidup.

Kita belum mengetahui semua bab yang akan datang.

Karena itu iman berkata:

“Aku tidak akan menilai seluruh cerita hanya dari halaman yang sedang kubaca.”

Tuhan Masih Menulis Perjalanan Kita

Ungkapan “Tuhan masih menulis perjalanan kita” tidak berarti kita pasif dan tidak mempunyai tanggung jawab.

Kita tetap membuat pilihan.

Kita tetap bekerja.

Kita tetap harus bertanggung jawab terhadap keputusan.

Namun di atas keterbatasan manusia, kita percaya bahwa Tuhan tetap dapat memimpin, menebus, mengarahkan, dan memakai perjalanan hidup untuk maksud-Nya.

Amsal 16:9 berkata:

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.”

Kita merencanakan.

Tuhan menuntun.

Kita membuat keputusan.

Tuhan dapat mengoreksi arah.

Kita mungkin tersesat.

Tuhan dapat membawa kita kembali.

Kita mungkin gagal.

Tuhan dapat mengajar kita melalui kegagalan.

Tuhan Dapat Menulis Bab Baru dari Halaman yang Berantakan

Ada bagian kehidupan yang kita harap tidak pernah terjadi.

Kesalahan.

Kegagalan.

Pengkhianatan.

Kehilangan.

Keputusan yang salah.

Kita mungkin melihat semua itu dan berpikir:

“Bagaimana mungkin sesuatu yang baik masih dapat muncul dari sini?”

Namun Alkitab menunjukkan berulang kali bahwa Tuhan mampu bekerja melalui kehidupan yang berantakan.

Petrus menyangkal Yesus tiga kali.

Jika kita berhenti pada malam itu, kisah Petrus adalah kisah kegagalan.

Namun Yesus memulihkannya.

Kemudian Petrus menjadi salah satu pemimpin gereja mula-mula.

Masa lalu Petrus tidak dihapus.

Tetapi masa lalu itu tidak lagi mempunyai kata terakhir.

Inilah anugerah.

Apa yang Sekarang Menjadi Air Mata Dapat Menjadi Kesaksian

Ada pengalaman yang hari ini hanya mampu kita ceritakan sambil menangis.

Kita belum melihat maknanya.

Kita hanya mengetahui bahwa itu menyakitkan.

Namun waktu, pemulihan, dan karya Tuhan dapat mengubah cara kita melihat pengalaman tersebut.

Suatu hari mungkin kita berkata:

“Aku pernah melewati masa itu.”

“Aku pernah merasa tidak sanggup.”

“Aku pernah berpikir tidak ada jalan.”

“Tetapi Tuhan menolongku.”

Inilah kesaksian.

Kesaksian tidak berarti kita lupa rasa sakit.

Kesaksian adalah kemampuan melihat bahwa rasa sakit tidak berhasil menghancurkan seluruh kehidupan.

Kesaksian Tidak Selalu Berarti Masalah Berakhir Secara Dramatis

Kadang kita membayangkan kesaksian harus selalu berbentuk:

“Saya sakit, lalu langsung sembuh.”

“Saya miskin, lalu menjadi kaya.”

“Saya kehilangan pekerjaan, lalu mendapatkan pekerjaan jauh lebih besar.”

Tuhan memang dapat bekerja demikian.

Tetapi kesaksian juga dapat berbentuk:

“Masalahku belum sepenuhnya selesai, tetapi Tuhan memberiku kekuatan untuk terus hidup.”

“Aku masih berduka, tetapi aku tidak lagi dikuasai keputusasaan.”

“Aku masih menghadapi keterbatasan, tetapi aku menemukan damai.”

“Aku tidak mendapatkan semua yang kuinginkan, tetapi aku menemukan Tuhan lebih dalam.”

Itu pun kesaksian.

Air Mata Tidak Pernah Tidak Terlihat oleh Tuhan

Mazmur 56:9 menggambarkan pemazmur percaya bahwa air matanya diperhatikan Tuhan.

Ini mengingatkan bahwa penderitaan kita bukan sesuatu yang tidak terlihat.

Ada air mata yang tidak diketahui orang lain.

Ada malam ketika kita menangis sendirian.

Ada doa yang hanya Tuhan dengar.

Ada luka yang tidak kita ceritakan kepada siapa pun.

Namun Tuhan mengetahui semuanya.

Mazmur 34:19 berkata bahwa Tuhan dekat kepada orang yang patah hati.

Karena itu air mata bukan bukti bahwa Tuhan meninggalkan kita.

Kadang justru di tengah air mata kita mengenal kehadiran-Nya lebih dalam.

Penundaan Mungkin Merupakan Bagian dari Persiapan

Salah satu hal yang paling sulit diterima manusia adalah penundaan.

Kita sudah siap menurut perasaan kita.

Kita sudah berdoa.

Kita sudah berusaha.

Tetapi sesuatu belum terjadi.

Kemudian kita bertanya:

“Mengapa Tuhan belum membuka jalan?”

Kita perlu berhati-hati untuk tidak selalu menafsirkan penundaan dengan cara yang sama.

Kadang penundaan muncul karena berbagai faktor manusia.

Namun ada kalanya masa menunggu menjadi ruang pembentukan dan persiapan.

Daud diurapi sebagai raja ketika masih muda.

Tetapi ia tidak langsung duduk di takhta.

Ada perjalanan panjang di antara pengurapan dan penggenapan.

Persiapan Sering Tidak Terlihat seperti Persiapan

Inilah bagian yang menarik.

Kita membayangkan persiapan sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Pelatihan.

Kesempatan.

Kemajuan.

Tetapi dalam kehidupan Daud, persiapan juga berbentuk padang gurun, pelarian, dan tekanan.

Dalam kehidupan Yusuf, persiapan berbentuk rumah Potifar dan penjara.

Kita mungkin tidak langsung menyebut pengalaman seperti itu sebagai persiapan.

Namun melalui semuanya, karakter dibentuk.

Kemampuan berkembang.

Ketahanan bertumbuh.

Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap masa menunggu sebagai waktu yang terbuang.

Tuhan Dapat Sedang Mempersiapkan Kita, Bukan Hanya Kesempatannya

Sering kita berdoa:

“Tuhan, buka pintunya.”

Tetapi mungkin Tuhan juga bertanya:

“Apakah kamu siap ketika pintu itu terbuka?”

Tanggung jawab besar membutuhkan karakter.

Kesempatan besar membutuhkan hikmat.

Pelayanan besar membutuhkan kerendahan hati.

Karena itu masa menunggu dapat menjadi masa pembentukan.

Kita belajar.

Kita bertumbuh.

Kita memperbaiki kelemahan.

Kita menata motivasi.

Kita belajar bertanggung jawab pada perkara kecil.

Lukas 16:10 berkata:

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”

Jangan Menjadi Begitu Terobsesi dengan Tujuan sampai Membenci Proses

Kadang kita sangat ingin sampai sehingga tidak menikmati apa pun di perjalanan.

Kita berkata:

“Nanti kalau sudah berhasil saya akan bersyukur.”

“Nanti kalau masalah selesai saya akan bahagia.”

“Nanti kalau pintu terbuka saya akan merasa Tuhan baik.”

Padahal mungkin Tuhan juga hadir dalam proses.

Dia hadir dalam latihan.

Dalam penantian.

Dalam langkah kecil.

Dalam orang-orang yang berjalan bersama.

Dalam pelajaran yang kita terima.

Jangan membenci seluruh perjalanan hanya karena belum sampai tujuan.

Apa yang Hari Ini Kita Anggap Kehancuran Dapat Menjadi Awal yang Baru

Ada pengalaman yang terasa seperti akhir.

Hubungan berakhir.

Pekerjaan berakhir.

Rencana gagal.

Sebuah fase kehidupan selesai.

Kita melihatnya sebagai kehancuran.

Namun akhir dari satu bab dapat menjadi awal bab lain.

Kita perlu berhati-hati: bukan berarti semua kehilangan terjadi supaya sesuatu yang lebih baik pasti datang dengan bentuk yang kita inginkan.

Tetapi kita dapat percaya bahwa Tuhan masih dapat bekerja setelah kehilangan itu.

Kehidupan tetap dapat dilanjutkan.

Makna baru dapat ditemukan.

Pelayanan baru dapat lahir.

Relasi baru dapat dibangun.

Salib adalah Bukti Terbesar Bahwa Akhir yang Terlihat Bukan Selalu Akhir Sebenarnya

Jika ada satu peristiwa yang paling kuat menunjukkan hal ini, itu adalah salib.

Pada hari Jumat, Yesus mati.

Para murid melihat Guru mereka dikuburkan.

Harapan mereka tampaknya berakhir.

Tetapi hari Minggu datang.

Kebangkitan mengubah makna salib.

Salib yang tampak sebagai simbol kekalahan menjadi pusat kemenangan Allah atas dosa dan maut.

Karena itu iman Kristen pada dasarnya adalah iman yang berkata:

“Kubur bukan kata terakhir.”

Kegelapan bukan kata terakhir.

Kegagalan bukan kata terakhir.

Dosa bukan kata terakhir.

Kematian bahkan bukan kata terakhir.

Kristus adalah kata terakhir.

Kebangkitan Memberi Kita Keberanian untuk Memulai Lagi

Karena Kristus bangkit, orang percaya mempunyai alasan untuk percaya pada pembaruan.

Mungkin kita perlu memulai lagi.

Mungkin bukan dari tempat yang kita inginkan.

Mungkin dengan sumber daya yang lebih sedikit.

Mungkin dengan hati yang masih dalam proses pemulihan.

Tetapi kita masih dapat memulai.

Yesaya 43:19 berkata:

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru.”

Hal baru tidak selalu berarti keadaan kembali seperti dahulu.

Kadang sesuatu yang baru berarti kita belajar menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda.

Memulai Lagi Bukan Berarti Kembali ke Nol

Ketika mengalami kegagalan, kita sering merasa:

“Saya kembali ke awal.”

Tetapi sebenarnya kita jarang kembali benar-benar ke nol.

Kita membawa pengalaman.

Pelajaran.

Kebijaksanaan.

Ketahanan.

Pengetahuan tentang kesalahan yang harus dihindari.

Kita mungkin memulai kembali, tetapi sebagai pribadi yang berbeda.

Karena itu kegagalan tidak selalu menghapus semua kemajuan.

Jangan Terlalu Takut pada Akhir Suatu Musim

Ada musim yang memang harus berakhir.

Kita kadang terlalu takut melepaskannya.

Padahal Pengkhotbah 3 mengingatkan bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya.

Ada waktu memulai.

Ada waktu mengakhiri.

Ada waktu menanam.

Ada waktu mencabut.

Kedewasaan juga berarti mampu menerima bahwa beberapa bagian hidup mempunyai waktunya sendiri.

Kita bersyukur atas apa yang pernah ada.

Mengambil pelajaran.

Lalu bersedia melangkah menuju bab baru.

Apa yang Harus Kita Lakukan ketika Tuhan Belum Selesai?

Jika Tuhan belum selesai, tugas kita bukan duduk pasif.

Kita tetap melakukan bagian kita.

Berdoa.

Belajar.

Bekerja.

Beristirahat ketika perlu.

Meminta bantuan.

Mengampuni.

Mencoba kembali.

Menunggu dengan sabar.

Kita tidak mengetahui seluruh cerita.

Tetapi kita dapat setia pada halaman hari ini.

Jangan Menuntut Diri untuk Mengetahui Seluruh Masa Depan

Banyak kelelahan muncul karena kita ingin mengetahui segalanya sekaligus.

“Bagaimana lima tahun lagi?”

“Bagaimana kalau ini gagal?”

“Bagaimana kalau sesuatu terjadi?”

Padahal Tuhan tidak selalu menunjukkan seluruh peta.

Mazmur 119:105 berkata:

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku.”

Pelita menerangi langkah dekat.

Kadang cukup mengetahui:

“Apa yang harus kulakukan hari ini?”

Besok mempunyai langkahnya sendiri.

Percaya bahwa Tuhan Bekerja Tidak Berarti Kita Menyangkal Realitas

Kita tetap harus realistis.

Jika ada kegagalan, evaluasi.

Jika ada kesalahan, perbaiki.

Jika membutuhkan bantuan profesional, carilah.

Jika ada pintu yang benar-benar sudah berakhir, terimalah.

Kepercayaan kepada Tuhan tidak mengajak kita hidup dalam ilusi.

Sebaliknya, iman memberi keberanian menghadapi kenyataan tanpa kehilangan pengharapan.

Mungkin Kita Tidak Akan Mengerti Semuanya

Ada bagian hidup yang mungkin tidak pernah dapat dijelaskan sepenuhnya.

Tidak semua kehilangan akan memiliki jawaban yang memuaskan.

Tidak setiap luka memiliki alasan yang jelas.

Dalam keadaan seperti itu, kita belajar berkata:

“Aku tidak mengerti semuanya, tetapi aku tetap mempercayai Tuhan.”

Yohanes 13:7 mengingatkan bahwa ada hal yang tidak kita ketahui sekarang.

Ada yang mungkin dipahami kemudian.

Ada juga misteri yang mungkin tetap kita serahkan kepada Tuhan.

Iman tidak membutuhkan semua jawaban untuk tetap hidup.

Jangan Hanya Melihat Apa yang Hilang—Lihat Siapa yang Masih Ada

Ketika banyak hal berubah, kita mudah hanya melihat apa yang hilang.

Tetapi pertanyaan lain adalah:

“Siapa yang masih bersamaku?”

Tuhan masih ada.

Mungkin keluarga masih ada.

Sahabat masih ada.

Komunitas masih ada.

Kesempatan masih ada.

Kehidupan masih ada.

Selama ada kehidupan, masih ada kemungkinan untuk melakukan sesuatu yang bermakna.

Kadang Kemenangan Terbesar adalah Tidak Menyerah

Tidak setiap hari harus menghasilkan pencapaian luar biasa.

Ada hari ketika kemenangan kita adalah:

bangun.

Berdoa.

Bekerja.

Menjaga hati.

Tidak membalas kejahatan.

Mencoba sekali lagi.

Tetap berharap.

Jika itu yang mampu kita lakukan hari ini, jangan meremehkannya.

Kita masih berjalan.

Dan selama kita masih berjalan, cerita belum selesai.

Jangan Menunggu Semua Luka Sembuh sebelum Kembali Hidup

Pemulihan sering berlangsung bertahap.

Kita tidak harus menunggu merasa seratus persen kuat untuk melakukan langkah kecil.

Kita dapat mulai sambil masih dalam proses.

Kita dapat tersenyum sambil masih mempunyai luka.

Kita dapat melayani sambil tetap membutuhkan pertolongan.

Kita dapat berharap sambil masih mempunyai pertanyaan.

Inilah kehidupan yang nyata.

Pengharapan Kita Bukan pada Akhir yang Kita Tulis Sendiri

Kita sering mempunyai versi akhir cerita yang kita inginkan.

“Harus seperti ini.”

“Harus terjadi pada waktu ini.”

Namun iman mengajarkan keterbukaan:

“Tuhan, aku memiliki harapan, tetapi aku mempercayakan akhir cerita kepada-Mu.”

Kadang karya Tuhan berbeda dari skenario kita.

Bukan selalu lebih mudah.

Tetapi tetap dapat penuh makna.

Tuhan yang Memulai adalah Tuhan yang Setia

Kita kembali kepada Filipi 1:6.

Paulus berkata:

“Ia yang memulai pekerjaan yang baik… akan meneruskannya.”

Ada kepastian bukan pada kemampuan kita untuk selalu kuat, tetapi pada kesetiaan Tuhan.

Kita bisa lelah.

Tuhan tetap setia.

Kita bisa salah langkah.

Tuhan dapat mengoreksi.

Kita bisa jatuh.

Tuhan dapat mengangkat.

Kita bisa kehilangan arah.

Tuhan dapat memimpin kembali.

Penutup Bukan Akhir, tetapi Ajakan Melanjutkan Perjalanan

Bagian penutup artikel ini bukan dimaksudkan untuk mengatakan:

“Setelah membaca semuanya, masalah akan langsung selesai.”

Tidak.

Mungkin setelah membaca, persoalan masih sama.

Namun kita berharap satu hal berubah:

cara kita memandang perjalanan.

Kita mulai melihat bahwa hari berat bukan seluruh hidup.

Kita mulai memahami bahwa menunggu bukan selalu sia-sia.

Kita mulai percaya bahwa air mata tidak harus menjadi akhir.

Kita belajar bahwa langkah kecil tetap berarti.

Kita menyadari bahwa Tuhan dapat menolong melalui sesama.

Dan kita meneguhkan kembali bahwa pengharapan kita berakar pada Kristus.

Pertanyaan Akhir untuk Pembaca

Sebelum menutup tulisan ini, tanyakan kepada diri sendiri:

  • Apakah saya sedang memberi kesimpulan akhir pada cerita yang belum selesai?
  • Apakah saya sudah kehilangan harapan hanya karena keadaan hari ini berat?
  • Air mata apa yang sedang saya bawa kepada Tuhan?
  • Apakah masa penantian ini sedang membentuk sesuatu dalam diri saya?
  • Adakah akhir sebuah musim yang perlu saya terima?
  • Apa satu awal baru yang dapat saya mulai?
  • Apa satu langkah kecil yang dapat saya lakukan setelah membaca tulisan ini?
  • Apakah saya masih percaya bahwa Tuhan belum selesai berkarya?

Doa Penutup

“Tuhan, aku tidak mengetahui seluruh perjalanan hidupku. Ada bagian yang membuatku bersyukur dan ada bagian yang membuatku menangis. Ada doa yang sudah Engkau jawab dan ada yang masih kutunggu. Ada jalan yang terbuka dan ada pintu yang tertutup. Namun hari ini aku memilih untuk tidak menjadikan keadaan sekarang sebagai kesimpulan akhir. Aku percaya Engkau masih bekerja. Jika air mataku dapat menjadi kesaksian, kuatkan aku sampai waktunya tiba. Jika penantianku adalah bagian dari pembentukan, ajar aku sabar. Jika satu bab harus berakhir, berikan aku keberanian menerima dan melangkah menuju bab yang baru. Peganglah hidupku dan teruslah membentukku menurut kehendak-Mu.”

Tuhan Belum Selesai

Mungkin pagi ini kita masih membawa beban.

Mungkin keadaan belum menjadi lebih mudah.

Mungkin jawaban yang kita nantikan belum datang.

Tetapi jangan jadikan hari ini sebagai akhir cerita.

Tuhan belum selesai.

Jika hari ini menangis, mungkin suatu hari air mata itu menjadi bagian dari kesaksian tentang bagaimana Tuhan menopang kita.

Jika hari ini menunggu, jangan langsung menyebutnya waktu yang terbuang. Bisa jadi ada pembentukan yang sedang berlangsung.

Jika hari ini satu pintu tertutup, jangan menyimpulkan seluruh jalan tertutup.

Jika sesuatu hancur, jangan kehilangan keyakinan bahwa Tuhan masih dapat menuntun kita menuju awal yang baru.

Ingat Yusuf.

Sumur bukan akhir.

Perbudakan bukan akhir.

Penjara bukan akhir.

Ingat Petrus.

Penyangkalan bukan akhir.

Ingat para murid.

Jumat Agung bukan akhir.

Dan terutama, lihatlah Kristus.

Salib bukan akhir.

Kubur bukan akhir.

Kebangkitan adalah bukti bahwa Tuhan mampu membawa kehidupan dari tempat yang manusia sebut akhir.

Karena itu, ketika hati berkata:

“Sudah selesai,”

biarlah iman menjawab:

“Belum. Tuhan belum selesai.”

Ketika keadaan berkata:

“Tidak ada jalan,”

iman berkata:

“Aku belum melihatnya, tetapi Tuhan mengetahui jalan.”

Ketika kegagalan berkata:

“Tidak ada masa depan,”

iman berkata:

“Rahmat Tuhan baru setiap pagi.”

Ketika air mata berkata:

“Aku tidak sanggup,”

iman berkata:

“Aku tidak harus berjalan dengan kekuatanku sendiri.”

Dan ketika masa depan terasa gelap, kita kembali kepada kebenaran ini:

Tuhan yang memulai pekerjaan yang baik adalah Tuhan yang setia meneruskannya.

Maka tetaplah berdoa.

Tetaplah percaya.

Tetaplah bersyukur.

Tetaplah berbuat baik.

Tetaplah melangkah.

Tetaplah berharap.

Hari ini mungkin berat, tetapi hari ini bukan akhir. Tuhan masih menulis perjalanan kita. Tuhan masih membentuk kita. Tuhan masih dapat membuka jalan. Tuhan masih dapat memulihkan. Tuhan masih dapat menciptakan awal yang baru.

Dan sampai perjalanan itu selesai, peganglah satu keyakinan ini:

Hari Ini Mungkin Berat, tetapi Tuhan Belum Selesai Berkarya.

DAFTAR ISI

HARI INI MUNGKIN BERAT, TETAPI TUHAN BELUM SELESAI BERKARYA

Ayat Utama: Filipi 1:6

1. Pendahuluan: Ada Hari-Hari yang Tidak Mudah

  • Tidak setiap hari berjalan sesuai harapan
  • Ketika hati menjadi lelah
  • Ketika doa terasa belum terjawab
  • Kehidupan orang percaya tidak bebas dari pergumulan
  • Keadaan yang berat bukan berarti Tuhan berhenti bekerja
  • Jangan menganggap hari yang berat sebagai akhir cerita
  • Tuhan dapat menggunakan masa sulit untuk mengerjakan sesuatu dalam diri kita
  • Hari ini mungkin berat, tetapi Tuhan belum selesai berkarya

2. Mengakui Bahwa Kita Bisa Tidak Baik-Baik Saja

  • Iman bukan berarti berpura-pura kuat
  • Alkitab tidak menyembunyikan pergumulan tokoh-tokoh iman
  • Daud menangis dan mengeluh kepada Tuhan
  • Elia: seorang nabi yang pernah ingin menyerah
  • Ayub dan penderitaan yang sulit dipahami
  • Tuhan tidak menolak hati yang hancur
  • Mengakui kelemahan bukan sama dengan menyerah
  • Tidak semua luka harus disimpan sendiri
  • Jangan cepat menghakimi orang yang sedang lemah
  • Yesus sendiri pernah mengalami kesedihan
  • Belajar jujur di hadapan Tuhan
  • Tidak baik-baik saja bukan berarti tidak ada harapan

3. Kesulitan Bukan Tanda Tuhan Meninggalkan Kita

  • Ketika penderitaan membuat kita bertanya, “Di mana Tuhan?”
  • Kehadiran Tuhan tidak selalu berarti masalah langsung hilang
  • Tuhan dapat memberi kekuatan untuk melewati masalah
  • Yusuf: jalan panjang dari sumur menuju istana
  • Yusuf dikhianati oleh saudara-saudaranya
  • Yusuf difitnah walaupun melakukan yang benar
  • Penjara bukan akhir cerita Yusuf
  • Kejadian 50:20: Tuhan mampu mengubah arah kejahatan menuju kebaikan
  • Apa yang tampak buruk hari ini belum tentu menjadi akhir
  • Kesulitan dapat menjadi tempat pembentukan
  • Jangan mengukur kasih Tuhan dari mudah atau sulitnya hidup
  • Tuhan tetap menyertai sekalipun kita tidak merasakannya

4. Tuhan Tetap Bekerja Ketika Kita Belum Melihat Hasilnya

  • Tidak semua pekerjaan Tuhan langsung terlihat
  • Gambaran benih: pertumbuhan dalam keheningan
  • Masa menunggu bukan berarti Tuhan diam
  • Tuhan dapat sedang mempersiapkan jalan
  • Tuhan dapat sedang membentuk karakter
  • Tuhan dapat membuka kesempatan yang belum kita ketahui
  • Tuhan dapat sedang bekerja dalam kehidupan orang lain
  • Waktu Tuhan tidak selalu sama dengan waktu kita
  • Jangan memaksakan pintu yang belum terbuka
  • Menunggu bukan berarti tidak melakukan apa-apa
  • Jangan terus menggali benih untuk memeriksa pertumbuhannya
  • Keheningan Tuhan tidak sama dengan ketidakhadiran Tuhan
  • Ada hal yang baru dipahami setelah kita melewatinya
  • Yohanes 5:17: Tuhan masih bekerja

5. Tuhan Memakai Masa Sulit untuk Membentuk Kita

  • Kesulitan dapat melatih ketekunan
  • Ketekunan bukan berarti tidak pernah lelah
  • Pergumulan dapat membuat iman semakin dewasa
  • Iman dewasa tidak bergantung pada keadaan
  • Masa sulit mengajarkan kerendahan hati
  • Kesulitan mengajar kita bergantung kepada Tuhan
  • Kita meminta Tuhan mengubah keadaan, tetapi Tuhan juga mengubah kita
  • Tekanan menunjukkan apa yang ada di dalam hati
  • Dari kepahitan menuju kedewasaan
  • Masa sulit membuat kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain
  • Masa sulit menata kembali prioritas kehidupan
  • Tuhan dapat mempersiapkan kita untuk tanggung jawab yang lebih besar
  • Tuhan memurnikan iman seperti emas
  • Roma 5:3–5: dari kesengsaraan menuju pengharapan
  • Yakobus 1:2–4: menjadi dewasa melalui ujian

6. Jangan Menilai Seluruh Hidup dari Keadaan Hari Ini

  • Satu hari yang buruk bukan berarti seluruh kehidupan buruk
  • Jangan membuat keputusan permanen berdasarkan emosi sementara
  • Satu kegagalan bukan berarti masa depan berakhir
  • Kegagalan dapat menjadi guru
  • Satu pintu tertutup bukan berarti semua jalan tertutup
  • Jangan memaksakan diri masuk melalui pintu yang sudah tertutup
  • Kita hanya melihat sebagian kecil perjalanan
  • Yusuf tidak memahami keseluruhan cerita ketika berada di sumur
  • Yohanes 13:7: “Engkau akan mengertinya kelak”
  • Tidak semua hal akan kita mengerti dalam hidup ini
  • Keadaan sementara tidak boleh memberi identitas permanen
  • Jangan membandingkan bab hidup kita dengan bab hidup orang lain
  • Masa depan tidak hanya ditentukan oleh masa lalu
  • Hari ini adalah bagian dari proses, bukan kesimpulan

7. Belajar Tetap Percaya di Tengah Ketidakpastian

  • Percaya kepada Tuhan bukan hanya ketika keadaan baik
  • Ketidakpastian menguji dasar kepercayaan kita
  • Iman diuji ketika jawaban belum terlihat
  • Iman tidak selalu memberikan semua jawaban
  • Habakuk hidup dalam keadaan yang tidak baik-baik saja
  • Habakuk 3:17: ketika sumber kehidupan terganggu
  • “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan”
  • Sukacita Kristen bukan berarti selalu merasa senang
  • Sukacita tidak sepenuhnya bergantung kepada keadaan
  • Habakuk 3:19: Tuhan memberikan kekuatan untuk berjalan
  • Ketidakpastian tidak sama dengan ketiadaan Tuhan
  • Percaya tidak berarti berhenti membuat persiapan
  • Jangan biarkan ketidakpastian hari esok merampas kekuatan hari ini
  • “Sekalipun, namun aku tetap percaya”

8. Jangan Berhenti Berdoa

  • Ketika keadaan berat, doa sering mulai melemah
  • Doa tidak harus selalu panjang dan sempurna
  • Justru dalam masa sulit kita perlu semakin mendekat kepada Tuhan
  • Doa bukan sekadar meminta masalah selesai
  • Tuhan dapat memberi damai sebelum mengubah keadaan
  • Damai Tuhan tidak berarti tidak ada masalah
  • Doa mengubah cara kita melihat masalah
  • Doa bukan cara memaksa Tuhan
  • Doa membentuk kehendak kita
  • Tuhan mendengar doa
  • Jawaban yang tertunda bukan berarti doa diabaikan
  • 1 Tesalonika 5:17: “Tetaplah berdoa”
  • Berdoa tidak menggantikan tindakan
  • Ketika tidak tahu harus berdoa apa
  • Doa syukur di tengah kesulitan
  • Ketekunan dalam doa membentuk ketahanan rohani

9. Tetap Melangkah Meski Perlahan

  • Tidak semua kemajuan harus besar
  • Langkah kecil tetaplah kemajuan
  • Kadang keberhasilan hari ini hanyalah mampu bangun
  • Tuhan melihat kesetiaan, bukan hanya hasil besar
  • Jangan meremehkan perkara kecil
  • Jangan berhenti karena perjalanan terasa lambat
  • Panen membutuhkan waktu
  • Jangan membandingkan kecepatan dengan orang lain
  • Lambat tidak sama dengan gagal
  • Kemajuan tidak selalu berjalan lurus
  • Jika jatuh, bangkitlah satu langkah demi satu langkah
  • Kesetiaan dalam hal kecil mempersiapkan hal besar
  • Beristirahat boleh, berhenti jangan
  • Galatia 6:9 dan janji tentang waktu panen
  • Rayakan kemajuan kecil

10. Jangan Membandingkan Perjalanan Hidup dengan Orang Lain

  • Media sosial dan kecenderungan membandingkan kehidupan
  • Kita melihat keberhasilan tanpa mengetahui pergumulan
  • Setiap orang mempunyai waktu yang berbeda
  • Jangan memaksakan jadwal orang lain menjadi jadwal kita
  • Yohanes 21: Petrus juga membandingkan
  • “Engkau: ikutlah Aku”
  • Tuhan tidak menulis cerita yang sama bagi semua orang
  • Tidak semua berkat berbentuk sama
  • Perbandingan dapat melahirkan iri hati
  • Rasa syukur sebagai penawar perbandingan
  • Perjalanan orang lain dapat menjadi inspirasi, bukan ancaman
  • Panggilan Tuhan kepada setiap orang berbeda
  • Jangan menganggap yang terlihat besar selalu lebih berharga
  • Bandingkan diri dengan diri kita yang dahulu
  • Tuhan bekerja dalam waktu yang berbeda
  • Panggilan kita adalah setia, bukan menjadi salinan orang lain

11. Belajar Melihat Berkat di Tengah Kesulitan

  • Perhatian mudah terpusat pada apa yang hilang
  • Bersyukur tidak berarti menganggap masalah tidak ada
  • 1 Tesalonika 5:18: bersyukur dalam segala keadaan
  • Nafas kehidupan adalah berkat
  • Keluarga adalah berkat
  • Sahabat dan orang yang peduli adalah bentuk pemeliharaan Tuhan
  • Pekerjaan dan kesempatan sebagai berkat
  • Kesehatan sebagai anugerah
  • Pertolongan kecil dapat menjadi sangat berarti
  • Berkat tidak selalu berarti kehidupan tanpa masalah
  • Rasa syukur mengubah cara melihat kehidupan
  • Rasa syukur menjaga hati dari kepahitan
  • Mengingat pertolongan Tuhan pada masa lalu
  • Belajar menghitung berkat
  • Bersyukur tidak membuat kita berhenti berjuang
  • Berkat terbesar adalah Tuhan sendiri

12. Tuhan Dapat Membuka Jalan yang Tidak Kita Duga

  • Tuhan tidak terbatas oleh keadaan
  • Jalan buntu manusia bukan jalan buntu bagi Tuhan
  • Laut Merah: ketika tidak ada jalan di depan
  • Tuhan dapat membuat jalan melalui hambatan
  • Jangan panik hanya karena belum melihat jalan
  • Yusuf: penjara yang menjadi bagian dari jalan
  • Jangan terlalu cepat memberi nama pada keadaan
  • Tuhan dapat memakai orang yang tidak kita duga
  • Tuhan dapat membuka kesempatan dari tempat yang tidak diperhatikan
  • Yesaya 43:19: Tuhan membuat sesuatu yang baru
  • Jalan di padang gurun dan sungai di padang belantara
  • Salib: kekalahan yang tampak menjadi jalan keselamatan
  • Kebangkitan menunjukkan Tuhan dapat membalikkan cerita
  • Jangan menentukan bentuk jawaban Tuhan
  • Jalan baru kadang membutuhkan kita melepaskan jalan lama
  • Jalan Tuhan tidak selalu menjadi jalan termudah
  • Iman harus berjalan bersama hikmat
  • Tuhan masih dapat membuat jalan

13. Pertolongan Tuhan Sering Datang Melalui Sesama

  • Tuhan sering memakai manusia untuk menjawab doa
  • Alkitab penuh dengan pertolongan melalui sesama
  • Musa belajar bahwa ia tidak dapat melakukan semuanya sendiri
  • Elia tidak dibiarkan sendirian
  • Kita tidak diciptakan untuk menanggung semua beban sendiri
  • Galatia 6:2: menanggung beban bersama
  • Meminta pertolongan bukan tanda kelemahan
  • Membuka diri membutuhkan keberanian dan kebijaksanaan
  • Kadang kita hanya membutuhkan kehadiran
  • Gereja sebagai tempat memikul beban bersama
  • Keluarga sebagai saluran pertolongan
  • Sahabat sejati hadir dalam kesulitan
  • Rekan kerja pun dapat menjadi alat Tuhan
  • Kita dipanggil menjadi jawaban bagi doa orang lain
  • Pertolongan kecil dapat mengubah hari seseorang
  • Menolong harus disertai kebijaksanaan
  • Kita tidak hanya dipanggil menerima pertolongan, tetapi juga menjadi penolong

14. Harapan Orang Percaya Tidak Berakhir pada Keadaan Sekarang

  • Keadaan dunia selalu berubah
  • Masalah datang dan pergi
  • Kesetiaan Tuhan tetap
  • Kesulitan hari ini bukan identitas kita
  • Pengharapan Kristen lebih besar daripada kenyamanan
  • Roma 8:28: Allah turut bekerja dalam segala sesuatu
  • Kebaikan tidak selalu berarti kenyamanan
  • Roma 8 lahir dari konteks penderitaan
  • Roma 8:38–39: tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah
  • Pengharapan tidak sama dengan optimisme
  • Salib dan kebangkitan sebagai dasar pengharapan
  • Pengharapan yang hidup
  • Harapan orang percaya melampaui kehidupan sekarang
  • Pengharapan kekal tidak membuat kita mengabaikan dunia sekarang
  • Pengharapan membuat kita tidak mudah menyerah
  • Harapan kita berakar pada Kristus
  • Keadaan sekarang bukan akhir pengharapan

15. Refleksi Pribadi: Menemukan Makna di Tengah Hari yang Berat

  • Apa yang sedang membuat hidup saya terasa berat hari ini?
  • Belajar menamai beban dengan jujur
  • Membedakan yang dapat diubah dan yang harus diserahkan
  • Apakah saya menyimpulkan Tuhan tidak bekerja karena belum melihat jawaban?
  • Memeriksa kesimpulan-kesimpulan dalam pikiran
  • Pelajaran apa yang mungkin sedang Tuhan bentuk?
  • Apa satu langkah kecil yang dapat saya lakukan hari ini?
  • Siapa yang dapat saya kuatkan?
  • Refleksi harian yang sederhana
  • Jangan hanya mencari jawaban, carilah kehadiran Tuhan
  • Belajar berbicara kepada diri sendiri dengan kebenaran
  • Mengukur pertumbuhan, bukan hanya perubahan keadaan
  • Memberi ruang bagi kesedihan dan harapan sekaligus

16. Komitmen Iman: Tetap Setia di Tengah Proses

  • Tetap berdoa walaupun belum melihat jawaban
  • Doa juga mengubah diri kita
  • Tetap percaya walaupun belum memahami jalan Tuhan
  • Percaya pada karakter Tuhan ketika tidak memahami cara-Nya
  • Tetap bersyukur sekalipun keadaan belum sempurna
  • Tetap berbuat baik walaupun hati sedang lelah
  • Jangan biarkan luka mengubah kita menjadi pahit
  • Tetap melangkah meskipun perlahan
  • Tetap berharap karena Tuhan masih bekerja
  • Komitmen iman dijalani setiap hari
  • Komitmen tidak sama dengan perasaan
  • Ketika gagal menjalankan komitmen, mulailah lagi
  • Enam sikap komitmen iman
  • Jangan menjalani komitmen dengan kekuatan sendiri
  • Tetaplah: berdoa, percaya, bersyukur, berbuat baik, melangkah, dan berharap

17. Penutup: Tuhan Belum Selesai

  • Jangan jadikan keadaan hari ini sebagai kesimpulan akhir kehidupan
  • Kita hanya sedang berada pada satu halaman
  • Tuhan masih menulis perjalanan kita
  • Tuhan dapat menulis bab baru dari halaman yang berantakan
  • Air mata hari ini dapat menjadi kesaksian
  • Kesaksian tidak selalu berarti masalah berakhir secara dramatis
  • Air mata kita diperhatikan Tuhan
  • Penundaan mungkin menjadi bagian dari persiapan
  • Persiapan tidak selalu terlihat seperti persiapan
  • Tuhan dapat mempersiapkan kita sebelum membuka kesempatan
  • Jangan membenci proses hanya karena belum sampai tujuan
  • Kehancuran dapat menjadi awal baru
  • Salib bukan akhir
  • Kebangkitan memberi keberanian untuk memulai lagi
  • Memulai kembali bukan berarti kembali ke nol
  • Jangan takut pada akhir suatu musim
  • Tetap lakukan bagian kita ketika Tuhan belum selesai
  • Tidak semua hal harus kita pahami sekarang
  • Kadang kemenangan terbesar adalah tidak menyerah
  • Pengharapan kita berada pada kesetiaan Tuhan
  • Tuhan Belum Selesai

DAFTAR PUSTAKA

  1. Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab Terjemahan Baru/TB2.
  2. Barclay, William. Pemahaman Alkitab Setiap Hari.
  3. Keller, Timothy. Walking with God through Pain and Suffering.
  4. Lewis, C. S. The Problem of Pain.
  5. Nouwen, Henri J. M. The Wounded Healer.
  6. Peterson, Eugene H. A Long Obedience in the Same Direction.
  7. Stott, John R. W. The Cross of Christ.
  8. Yancey, Philip. Where Is God When It Hurts?
  9. Yancey, Philip. Disappointment with God.

PERNYATAAN HAK CIPTA DAN LARANGAN PENGUTIPAN TANPA IZIN

Judul:
Hari Ini Mungkin Berat, tetapi Tuhan Belum Selesai Berkarya

Penulis:
Dr. Samarel Telaumbanua, S.PAK, M.Pd

Hak Cipta Dilindungi.

Seluruh isi tulisan ini merupakan karya penulis dan dilindungi oleh ketentuan hak cipta yang berlaku.

Dilarang mengutip, menyalin, memperbanyak, mempublikasikan kembali, menyebarluaskan, mengubah, atau menggunakan sebagian maupun seluruh isi tulisan ini tanpa izin tertulis dari penulis.

Penggunaan materi untuk kepentingan akademik, pendidikan, pelayanan, publikasi, media sosial, website, buku, artikel, makalah, khotbah, maupun bentuk publikasi lainnya wajib memperoleh izin terlebih dahulu dari penulis dan tetap mencantumkan sumber secara jelas.

Pengutipan tanpa izin, penghilangan nama penulis, pengakuan karya sebagai milik sendiri, atau penggunaan isi tulisan tanpa mencantumkan sumber yang semestinya merupakan tindakan yang tidak dibenarkan secara etis dan dapat melanggar ketentuan hak cipta yang berlaku.

Hak moral atas karya ini tetap melekat pada:

Dr. Samarel Telaumbanua, S.PAK, M.Pd

Ketentuan Penggunaan

  1. Tidak diperkenankan memperbanyak sebagian maupun seluruh isi tulisan tanpa izin penulis.
  2. Tidak diperkenankan mengunggah kembali tulisan ini pada website, blog, media sosial, atau media lainnya tanpa izin.
  3. Tidak diperkenankan menggunakan tulisan ini atas nama pribadi atau pihak lain.
  4. Tidak diperkenankan mengubah isi tulisan kemudian menerbitkannya kembali tanpa persetujuan penulis.
  5. Setiap penggunaan atau pengutipan yang telah memperoleh izin wajib mencantumkan nama penulis dan sumber tulisan dengan benar.
  6. Kutipan ayat Alkitab yang terdapat dalam tulisan tetap mengikuti hak dan ketentuan penerbit atau lembaga pemegang hak atas terjemahan Alkitab yang digunakan.

© 2026 Dr. Samarel Telaumbanua, S.PAK, M.Pd  All Rights Reserved / Hak Cipta Dilindungi

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian maupun seluruh isi tulisan ini tanpa izin tertulis dari penulis.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *